
Sean Danial Warner!
Huh! Kenapa aku menerimanya begitu saja? Setahun aku mengabaikannya dan tidak peduli sedikitpun, lalu dia membalikkan keadaan hanya dengan satu pertemuan. Bermodal keyakinan penuh dan sikap gentle yang ditunjukannya, aku luluh. Mengiyakan begitu saja lamaran tiba-tibanya, lupa pada keangkuhanku sebelumnya yang menguap entah kemana. Haruskah aku bahagia saat ini, harusnya iya. Tapi entah kenapa aku tidak yakin dengan keputusanku, Sean terlalu misterius.
Aku tidak mengetahui kehidupan pribadinya sama sekali, bagaimana masa lalunya, keluarganya, pekerjaannya, apakah dia pernah menikah atau tidak sebelumnya. Begitu banyak hal yang mengganggu pikiranku sekarang, aku takut salah dalam mengambil keputusan, jangan sampai kegagalan kembali terjadi dalam pernikahanku, aku tidak akan sanggup melewatinya untuk kedua kali.
Pernikahan bukan hal remeh untuk dilakukan, persis seperti yang dikatakan Denise. Tidak bisa memutuskan menikah hanya karena satu hal saja, perlu pertimbangan yang baik, dan aku belum mempertimbangkannya. Dulu, aku sangat yakin akan menghabiskan sisa hidupku bersama Nino, namun yang terjadi justru sebaliknya, kami berakhir dengan perceraian saat usia pernikahan kami menginjak 9 tahun.
Saat aku menikah dengan Nino dulu, aku sudah mengenalnya dengan baik. Sangat mengenalnya. Dari sisiku, aku yakin Nino tidak akan mengkhianatiku, Nino pasti akan menjaga dan melindungiku selamanya, tapi itu tidak terjadi. Lalu, bagaimana dengan Sean? Bukankah tidak adil jika aku tidak mengenal pria yang akan menjadi suamiku, sementara dia mengetahui semua hal tentangku.
"Ahhh, aku bisa gila memikirkan ini!" aku mengacak-acak rambutku yang masih setengah basah, Sean benar-benar berhasil mengacaukan otakku.
Pandanganku teralih pada ponsel yang berdering diranjang, "Ya?" jawabku cepat setelah menggeser tanda hijau.
"Kau sudah bangun?" suara serak Sean terdengar disana, begitu seksi. Hah, Seksi?
"Ya." aku menjawab singkat.
"Baiklah, aku akan mandi sebentar dan menjemputmu. Bersiaplah!"
"Hm."
"Hei, kenapa tidak bersemangat? Apa kau mencemaskan mantan suamimu?" nadanya tersengar seperti protes sekaligus menyindir.
"Kau tahu bukan itu yang kupikirkan." sanggahku, aku tidak ingin dia salah paham, Nino bukan hal yang harus ku khawatirkan.
"Baiklah, tunggu aku datang. Kita akan membahasnya nanti."
__ADS_1
Ku lemparkan ponselku kembali keranjang, aku harus bersiap karena kami akan menemui Nino hari ini untuk mengatakan pernikahan dadakan yang akan dilaksanakan 4 hari lagi. Sean tidak mengijinkanku ikut campur dalam mengurus pernikahan, katanya aku hanya perlu duduk dan mempersiapkan diri, dia yang akan mengatur semuanya. Aku menurut, lagipula untuk apa repot-repot membuang waktu pada hal begitu.
Belum ada yang mengetahui rencana pernikahan kami, termasuk keluargaku. Rencananya setelah memberitahu Nino, baru Sean akan menemui Ibu dan Edward untuk melamarku secara resmi. Melamar? Kenapa kata itu terdengar menggelikan sekarang? Harusnya aku bersemangat karena akan menikah, bukan ragu begini.
Aku menggeleng keras berkali-kali, mengusir segala pikiran buruk yang menghantuiku. Ini sudah terjadi, Sean sudah melamarku secara pribadi dan aku juga sudah mengiyakan, tidak ada alasan untuk ragu padanya. Bukankah dia sudah setia menungguku selama 16 tahun? Ya, aku harus yakin padanya. Setidaknya dia mencintaiku, aku bisa mengatasi perasaanku nanti. Jika memang dia pintar dan mengerti diriku, dia pasti akan memperlakukanku dengan baik dan aku akan membalas rasa cintanya suatu hari nanti. Aku bukan anak remaja yang harus dibuat berbunga-bunga untuk menerima seseorang, cinta atau tidak, aku membutuhkan seorang pria untuk mendampingiku.
Aku keluar setelah berpamitan pada Ibu, Mia, dan Ben. Sean memberitahu dia sudah didepan unit apartemen milikku, aku langsung menariknya ke unit sebelah begitu menutup pintu unitku. Sean terlihat heran, wajar saja karena dia belum mengetahui Nino tinggal bersebelahan denganku.
"Dia tinggal disini." kataku menjawab kebingungannya. Kulihat matanya membulat, lalu menyipit kemudian. Aku tak peduli, ku tekan bel interkom disamping pintu.
"Ini aku, ada yang ingin kubicarakan." ucapku pada Nino yang berada didalam sana.
Nino membuka pintu, jelas dia terkejut melihat kehadiran Sean, ditatapnya kami bergantian, mungkin menebak tujuanku membawa Sean kesana.
"Boleh kami masuk?" kataku memecah keheningan. Nino mengangguk, tersenyum padaku dan langsung berubah masam saat menatap Sean.
Aku duduk disofa, diikuti Sean yang menempel disebelahku. Aku tidak suka sikap kekanakannya yang pamer dan mengejek mantan suamiku dengan seringai disudut bibirnya. Kulayangkan tatapan tajam untuk memperingatinya,
"Hilangkan seringaimu, Sean!" kataku, pria ini tidak bisa diberi kode, harus dikatakan secara langsung, terbukti dia merubah seringainya menjadi senyum manis yang selalu diandalkannya. Aku mengalihkan pandangan begitu mendengar Nino mengatakan sesuatu.
"Ada apa pagi-pagi mencariku? Bukankah kau tidak pernah mau masuk kesini, dan kenapa membawanya?" tanya Nino datar, aku bisa melihatnya terus menatap tidak senang pada Sean.
Aku menunduk, menarik napas dalam, bersiap mengatakan maksud kedatanganku dan Sean.
"Kami akan menikah." kataku tanpa basa-basi. Nino membulatkan mata, tentu saja dia terkejut, tak cukup aku berkunjung untuk pertama kali dan membawa Sean sebagai hadiah, kini aku menambah lagi dengan ucapanku.
Nino berdiri, menghambur ke Sean dan memukul tepat diwajahnya. Aku gelagapan, tidak siap dengan serangan Nino yang sangat cepat, begitu juga dengan Sean yang terhimpit disofa karena Nino menindih tubuhnya.
__ADS_1
"Nino, stop!" Aku membentak agar Nino menghentikan aksinya, Nino tak peduli, dia memukul lagi Sean tepat ditempat yang sama. Tubuhku mulai gemetar melihat darah yang mengalir melalui sudut bibir Sean.
Dengan cepat aku mendorong Nino hingga terjatuh saat dia mengangkat tangan untuk memukul Sean lagi,
"Are you ok?" tanyaku pada Sean, acuh pada Nino yang kuyakin gusar melihat kami. Kutangkup pipinya dengan kedua tanganku yang gemetar, wajah Sean benar-benar kacau. Sean mengangguk dan tersenyum, Ya, Tuhan! Sungguh senyumnya begitu manis.
"Aku ingin berbicara denganmu." Aku menoleh Nino yang berjalan kearah ruang keluarga dan duduk disana.
"Bicaralah dengannya, aku akan menunggu dibawah." kata Sean sambil tersenyum, ku yakin dia berusaha menenangkanku.
"Kau yakin?" tanyaku memastikan.
"Ya, aku baik-baik saja. Selesaikan masalah kalian, setelah itu datanglah padaku."
Aku mengangguk, "Aku minta maaf," ucapku lirih. Entah kenapa aku merasa perlu mengatakannya.
"Aku tidak apa-apa. Tenanglah!"
Sean mencium keningku sebentar, lalu berdiri.
"Aku akan keluar."
Aku menatap kepergiannya dengan perasaan bersalah, Sean tidak harus mengalami ini. Ada rasa yang berkecamuk didadaku mengingat bagaimana dia tersenyum saat dia mengatakan baik-baik saja padahal aku tahu tidak. Sean tidak mungkin baik-baik saja, aku yakin dia tidak rela meninggalkanku disini bersama Nino, namun tidak ada pilihan lain yang bisa dilakukannya. Aku memang harus bicara pada Nino, sekarang atau nanti sama saja, hari ini tetap akan datang.
***
Komen, komen, komen!
__ADS_1
Like, like, like!