Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Mouth Game.


__ADS_3

No comment \= No update!🔥


Liarkan jari kalian, buat komentar sebanyak mungkin😘


***


Pernikahanku kali ini sungguh istimewa. Well, bukan berarti aku menyangkal kebahagiaanku bersama mantan suamiku dulu. Tapi kali ini berbeda. Suamiku yang saat ini sedang merapikan rambutnya didepan cermin adalah pria yang hadir dalam mimpi setiap wanita. Pria yang diharapkan mampu memberikan kepuasan dalam hidup. Kepuasan jiwa dan raga.


Aku menatapnya. Pria sempurna dan menawan yang membangkitkan semangatku. Dia memang lembut dan penuh cinta, dan keluargaku begitu bajingan sudah menyakiti hatinya hinggan membuatnya tenggelam dalam kesedihan bertahun-tahun. Kalau sekarang dia masih ada di sisiku dan menghiasi tempat tidurku, itu karena keajaiban yang dimilikinya. Sean punya hati yang besar dan kuat, sekuat gairah yang tersembunyi dibalik celananya. Mulai detik ini, aku bersumpah akan menjaga suasana hatinya. Menjaga hatinya agar selalu semangat dan bergairah, gembira dan bersyukur hidup denganku. Kalau aku menyakitinya lagi, mungkin aku akan kehilangannya selamanya.


"Apakah kau ingin aku membantumu?" godaku, saat dia meraih dasi dari tepi ranjang sementara aku mengeringkan rambutku dengan handuk.


Aku tahu dia sedang bahagia. Itu sudah menjadi bagian dari dirinya selama menjadi suamiku dan aku menyukainya. Api didalam darahku selalu berkobar karena itu. Ingin menbuatnya lebih bahagia lagi saat dia menguasai diriku. Suamiku bersiul, aku tak dapat menahan senyumku membayangkan matanya melotot padaku.


"Hmm..." gumamnya lembut dan lirih. "Dasar genit. Aku tak menyangka wanita hebat bisa tergila-gila parah seperti ini padaku."


Aku tertawa. Tak bisa menahan diri untuk menyaksikan langsung mata suamiku yang cerah dan suasana hatinya yang bagus, "Bagaimana? Kedua tanganku cukup ahli untuk melilitkan dasi itu di lehermu."


Suamiku menyerbu ke arahku. Dia menunduk dan mencium pipiku. "Kau sudah mandi dan sangat cantik. Aku tidak mau membuatmu berkeringat lagi dengan rambut acak-acakan mengingat sebentar lagi kau harus mengurus bisnismu, Mam."


Dadaku terasa hangat saat kedua lengannya mendekapku. "Hm... Jadi bisa kuperjelas, bahwa tidak ada acara smackdown dengan Samson-ku saat aku akan bekerja?" aku melempar handuk dan merebut dasi dari tangannya, lalu melilitkan pada kerah kemejanya.


Geraman lirih keluar dari bibirnya saat aku sengaja menyentuh nadi tebal yang menghiasi lehernya. Suamiku selalu tergoda padaku, dan aku yang selalu tergoda padanya, "Astaga, Franda." Aku tersenyum lebar usai tertawa melihatnya gugup, bergairah, dan canggung. "Kau akan berakhir di ranjang itu lagi nanti."

__ADS_1


Aku melompat, melingkarkan kakiku di pinggangnya lalu mendaratkan ciuman bertubi-tubi di bibir dan seluruh bagian tulang rahangnya. Dia tahu maksudku. Dengan suaranya yang seksi, dia membalasku. "Aku juga sangat mencintaimu, Sayang." katanya padaku.


Dia adalah suamiku. Suami yang sangat kucintai dan juga mencintaiku. Aku hanya tahu bahwa dia adalah satu-satunya pria yang memanaskan darahku, yang setia padaku, yang bertahan dan menerima semua kekurangan dalam diriku. Aku hanya perlu tahu bahwa dia sangat menyayangiku.


Aku terpukul mendengar bahwa dia adalah anak dari korban kesalahan Ayahku. Akalku berpikir singkat bahwa Sean akan menganggapku bayang-bayang pahit atas kepergian Ibunya. Tapi dia tetaplah Sean Danial Warner saat aku menyadari segalanya. Pria pemaaf yang rela melupakan semua sakit hati yang dimilikinya dimasa lalu hanya untuk hidup bersamaku.


"Terimakasih, Sean." kataku padanya saat dia menurunkanku dari tubuhnya. "Kalau aku bukan duniamu, mungkin kau sudah jauh meninggalkanku dibelakangmu. Kau tidak mungkin membutuhkan wanita menyedihkan yang masih larut dengan perceraian." Dengan napas tersekat dan dada menghimpit, aku mengambil napas. "Sekali lagi terimakasih karena sudah menungguku, Sean. Aku sangat mencintaimu."


Sean membelai dadanya sendiri yang terbungkus kemeja putih. Kata-kataku mungkin terlalu kuat dan menghujam hatinya, tapi itu benar. Aku sangat menyesal karena menolaknya berkali-kali namun aku sendiri sadar bahwa aku tak akan pernah berhenti tergila-gila padanya. "Tutup mulutmu, Sayang. Atau aku akan menidurimu sampai kau pingsan lagi."


Aku tertawa, menghapus air mata yang mungkin ada di ujung mataku sementara Sean mengusap rambutku. "Aku bersedia menerimanya kalau memang itu hukumannya." Aku meremas bokongnya sekilas, membiarkan suamiku terbengong lalu mengerjapkan mata.


Begitu selesai memasangkan dasi dan merapikan kerah serta kemejanya, Sean menangkup wajahku. Matanya yang sebiru lautan menatapku dalam. "Aku minta maaf untuk kejadian kemarin. Jangan pernah berpikir aku membencimu atau keluargamu. Kau sudah menjadi bagian dari diriku sejak belasan tahun lalu. Aku sangat mencintaimu, Franda. Sangat."


Sadar dia tidak ingin berhenti, aku menaikkan tanganku untuk menyentuh kepalanya, lalu menariknya mundur. Nasibku sungguh sial karena sebelah tangan Sean menahan tengkukku. Dia tahu aku sedang melawan gairahku. Saat aku memaksa melepaskan diri, dia mendorongku hingga menempel ke dinding. Suamiku tidak melepaskanku sedetikpun, dia menyerangku dengan ganas dan penuh cinta.


Aku menyerah, tak sanggup melawan dia yang bekerja sama dengan gairahku untuk mendesak sampai aku menyerahkan diri padanya. Jemariku bergerak liar meremas rambutnya. Aku tak peduli jika dia harus merapikannya kembali. Aku sudah gila. Benar-benar gila. Kutekan tengkuknya agar dia memperdalam ciumannya, sebelah kakiku melilit betisnya. Aku nyaris pingsan saat seluruh tubuhku bergetar hebat. Punggungku melengkung dan aku mengerang di mulutnya. Suamiku membuatku melepaskan hasrat dengan cara paling asing namun nikmat.


Eranganku masih tertahan di mulutnya. Kakiku melemah tak berdaya. Aku pasti terjatuh andai saja dia tidak menahan tubuhku. Dengan mata terpejam dan napas tersengal, aku menarik kepalaku mundur dan bersandar di dinding sementara Sean menahan pinggulku. "Sialan kau!" lirihku pelan dengan sisa-sisa tenaga, sambil berusaha mengembalikan kekuatanku.


Dan suamiku tersenyum puas. Dia begitu bangga karena berhasil mengerjaiku. Ya, dia memang pantas membanggakan diri. "Kau harus membersihkan dirimu lagi, Mam." katanya sambil mengusap bibirku dengan ibu jarinya lalu berjalan meninggalkanku yang masih menempel gemetar di dinding. Astaga, dia mengejekku dengan seringainya. Sialan!


Aku mengikuti langkahnya dengan mataku. Bibir dan mataku tersenyum mengakui kehebatannya, suamiku memang sangat ahli. Aku tidak tahu dimana dia mempelajarinya atau berapa banyak wanita yang sudah merasakan kehebatannya itu, aku tak peduli. Yang pasti, mulai hari ini dan sampai salah satu dari kami mati, hanya aku yang berhak dipuaskan olehnya dan memuaskannya. Takkan kubiarkan ulat nangka manapun mengganggu kesenanganku, terlebih suamiku.

__ADS_1


Apakah aku menyesal pernah menikah dengan Nino? Tidak. Dulu aku mencintainya. Yang kupikirkan saat memutuskan bercerai adalah, terkadang hal terbaik yang bisa kulakukan untuk orang yang kucintai adalah melepaskan. Memberinya kebebasan. Berharap dia bahagia. Lalu aku akan membuat diriku bahagia setelahnya. Dan lihat, aku bahagia sekarang.


Aku tahu yang dilakukan Nino dulu tidak baik, tapi saat itu aku yakin aku pasti akan baik-baik saja. Aku memaafkan kesalahannya untuk membuatku lebih tenang, membuat diriku terbebas dari belenggu kebencian. Dengan memaafkannya aku menyelamatkan diriku, bukan dirinya. Prinsipku dalam berhubungan: jika aku cukup kuat untuk jatuh cinta dan menyerahkan diri, maka aku juga akan kuat untuk melepasnya. Cukup kuat untuk menyembuhkan luka dihatiku dan memulai kembali semuanya.


Fakta yang kupelajari dari pernikahanku sebelumnya adalah kecantikan tidak akan menjaga pasanganku. Kejujuran, kesetiaan, pemujaan, kepedulian, atau perhatian yang kuberikan dengan segenap jiwaku tidak akan mampu menjaganya dariku. Aku tulus mencintainya, aku menerima semua kekurangannya, menuruti kemauannya, tapi itu tidak pernah cukup membuatnya bertahan denganku jika dia tidak menginginkannya. Satu-satunya yang bisa menjaganya adalah dirinya sendiri. Bukan aku, atau siapapun. Aku tidak perlu mempertahankan seseorang yang tidak ingin bersamaku. Jika begitu, bukan aku yang menyerah padanya, tapi dialah yang menyerah padaku. Aku tidak perlu membuang waktu untuk seorang pria seperti itu.


Fakta ini juga berlaku untuk suamiku yang sekarang. Tidak peduli sebesar apa cintanya padaku, ketika aku mendapatinya berkhianat, maka tidak ada yang perlu ku pertahankan. Pertahanan terbaik sudah kulakukan sejak aku menyerahkan diri padanya sebagai istrinya. Tidak kemarin, sekarang, atau besok. Kapanpun aku melihat pasanganku berkhianat, detik itu juga aku selesai dengannya.


"Hei, aku akan membalasmu nanti malam!"



Om Sean yang ganteng😘



Mrs. Warner😍


***


Panas gak?😂😂😂


Komen rame-rame😘

__ADS_1


__ADS_2