Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
The guest


__ADS_3

Kadang orang tidak bisa mengendalikan realita sesuai dengan kehendaknya. Mereka hanya menerima seutuhnya, ketika kebaikan dan keburukan datang secara bersamaan.


Beberapa orang menyebutnya takdir.


-Unknown-


***


"Lihat, Panda, itu seekor kunang-kunang."


Aku buru-buru beranjak dari sofa dan menempelkan hidungku pada kaca jendela, sebaris senyum muncul di bibirku. Mataku berbinar penuh kagum ketika menyaksikan serangga bercahaya itu terbang melintasi rerumputan, lalu bertengger di ranting pohon sycamore yang melandai di dekat jendela.


"Bagaimana dia bisa bersinar seperti itu, Ayah?"


"Well, mereka unik. Bagian tubuhnya bisa menciptakan cahaya... seperti sihir." Ayahku tersenyum penuh arti padaku. "Sebuah kisah jaman dulu mengatakan seekor kunang-kunang adalah jelmaan jiwa orang terkasih yang sedang menjaga keluarganya. Coba perhatikan..."


Ayahku menempelkan ujung jarinya pada kaca jendela ketika serangga itu tiba-tiba mendarat pada permukaan kusen, tepat di hadapan kami.


Aku tersenyum lebar lalu mendongak menatap wajah ayahku penuh harap. "Kalau begitu, itu pasti papa atau mamaku. Salah satu dari mereka berada disini untukku."


Ayahku menyunggingkan senyum lembut padaku sembari mengusap puncak kepalaku. "Mungkin saja... tapi biar kuberitahu kau satu rahasia Panda-pie, aku selalu melihat kedua orang tuamu di dalam dirimu. Jadi, tidak perlu serangga dengan cahaya ajaibnya untuk mengingatkanku tentang mereka."


***


Itu adalah salah satu dari sekian banyak memori indah yang kulewatkan bersama ayahku, pada suatu malam saat mentalku sedang dalam keadaan tenang. Dan masih banyak momen indah lainnya semacam itu. Tapi aku tidak akan menceritakannya disini. Tidak kali ini.


Memori indah tidak mudah untuk dilupakan, sebagian dari kenangan akan tetap hidup dan tersimpan dalam hati. Tapi terkadang kenangan adalah hal yang berbahaya. Meski kau telah membalikkannya berulang-ulang, bahkan menghapal setiap sudut serta sentuhannya, tetap saja kau akan menemukan tepian yang bisa melukaimu. Dan itu menyakitkan. Salah satunya adalah yang terjadi dalam hidupku.


"Apa kau sudah tidur?" Aku bertanya pada Sean yang berbaring di sampingku. Matanya terpejam dan irama jantungnya yang teratur terasa menangkan di telingaku yang menempel di dadanya, terdengar seperti sebuah nyanyian pengantar tidur. Heartbeat lullaby?


"Hm, sudah."


Bibirku tersenyum geli dan aku mendongak "Pembohong."


Sean memiringkan tubuhnya, memelukku lebih erat sambil menarik selimut lebih tinggi menutupi tubuh kami yang menempel. "Apa yang mengganggumu, Franda?" Dia bertanya seraya mengusap punggungku.


Aku menarik napas sejenak, mengingat kembali pertemuanku dengan ibu kandungku tadi siang. "Aku bertemu dan berbicara dengannya di rumah Ed." dengkurku berat, seketika Sean memundurkan kepalanya untuk menatapku. Dia tampak terkejut.


"Kenapa baru mengatakannya?" Aku melihat seberkas kekhawatiran di mata Sean, namun ada juga setitik kelegaan yang terpancar disana.


Alih-alih menjawab pertanyaannya, aku justru bertanya balik. "Apakah aku terlalu jahat padanya, Sean? Apakah aku anak yang kejam karena tidak memaafkannya?"


Sean terdiam selama beberapa saat sebelum membuka mulutnya. Dia tersenyum padaku. "Kau tidak jahat, sayang. Aku yakin kau hanya membutuhkan waktu dan suatu hari nanti kau akan menerimanya. Aku tidak mengatakan dia salah atau benar, tapi jika melihat dari posisinya saat itu, mungkin meninggalkanmu adalah keputusan yang paling bijak. Untuk kebaikanmu. Tapi, hei, kau juga berhak marah karena dia terlalu lama bersembunyi."

__ADS_1


Aku berusaha mencerna kata-katanya sementara Sean masih berbicara. "Terkadang hidup memang tidak adil bagi sebagian orang, tapi tidak seharusnya itu menjadi penghalang untuk impian-impian baik di masa depan. Sembuhkan luka hatimu terlebih dahulu, maka kau akan melupakan kenyataan pahit itu, baru mungkin kau bisa menerimanya. Aku tahu itu tidak mudah tapi kau tangguh, Franda. Aku bahkan tidak menyangka kau akan setenang ini setelah bertemu dengannya."


Seketika aku tersadar saat mendengar kalimat terakhir Sean. Ya, reaksiku berbeda hari ini. Aku bisa mengendalikan diriku dan itu merupakan sesuatu yang ajaib.


"Sean, apa kau tahu apa yang kupikirkan sekarang?"


Sean tersenyum penuh arti. Aku tahu dia memikirkan hal yang sama denganku. "Kau sudah lebih baik, Franda. Itu yang kutahu." gumamnya setenang riak di permukaan danau, dan aku pun tersenyum dan mengangguk riang menyetujui ucapannya.


Omong-omong soal danau, aku jadi teringat rumah hutan di Queensland. Ah, aku rindu tempat itu. "Sean, bisakah kita merayakan natal di rumah hutan?" tanyaku dengan nada memohon.


Ini akan jadi natal paling indah dan damai jika kami merayakannya disana. Tidak ada kehebohan, hanya ketenangan di bawah pohon-pohon yang menjulang tinggi, disertai kicau burung-burung yang keberadaannya tak pernah bisa kutemukan.


Sean tertawa pelan sambil menggelengkan kepala. "Bagaimana aku bisa menolak jika wajahmu seperti ini?" gumamnya sambil mencubit pucuk hidungku. "Beri aku waktu tiga hari untuk menyelesaikan urusan kantor, dan kita akan berangkat setelah semuanya beres."


Aku mencium wajahnya bertubi-tubi sebagai pernyataan terima kasih untuk kebaikan dan pengetiannya yang luar biasa, untuk setiap kata 'Ya' yang dia berikan padaku, untuk setiap ketulusan yang dimilikinya. Sampai hari ini aku masih tidak menyangka Tuhan akan mempertemukanku dengan sosok yang magis seperti Sean.


"I love you, husband."


"I love you, wife."


Malam itu kami tidur dengan perasaan tenang dan bahagia. Kurasa aku sudah melepaskan beban rasa bersalah atas kematian orang tuaku, tapi bukan berarti aku bersorak gembira dengan cara yang berlebihan. Bagaimanapun tetap ada kesedihan di hatiku setiap kali mengingat ibu kandungku yang melakukan perbuatan keji itu.


Semoga... suatu saat aku bisa memaafkannya.


***


Aku membuka mata dan mendapati suamiku yang masih pulas. Tangannya memelukku sementara kakinya melilit kakiku di dalam selimut. Ya ampun, betapa indahnya pemandangan ini.


Setelah puas memandangi wajahnya yang tampan sebagai asupan untuk jiwaku pagi ini, perlahan aku beringsut turun dari ranjang dan menyempatkan diri memunguti pakaian kami yang berserakan di lantai sebelum masuk ke kamar mandi.


Aku berendam selama lima belas menit sambil membayangkan natal kami akan menjadi sangat spesial di rumah hutan. Aku tahu rumah kayu itu mungkin agak aneh jika aku membawa seluruh keluargaku untuk merayakan natal disana, tapi aku yakin mereka akan menyukai suasananya. Siapapun akan tenang jika berada disana.


Aku membiarkan Sean tidur lebih lama sementara aku melihat anak-anakku di kamar mereka. "Hei, good morning, handsome!" kataku sambil mendekati ranjang anakku. Dia sedang minum air dari botol air miliknya. Rambutnya kusut dan matanya masih setengah terpejam. Menggemaskan. "Tidurlah lagi kalau masih mengantuk."


Ben menggeleng. "Where's dad, mom? Pagi ini kami akan berenang, kemarin dia sudah berjanji akan menemaniku."


"Benarkah? Dia masih tidur. Should I wake him up?" Aku bertanya sebelum mencium keningnya.


"Oh, thank's, mom. Tapi tidak usah, aku akan menunggunya."


"Okay, kalau begitu pergi sikat gigimu, mommy akan menyiapkan sarapan. Cereal or bread?"


"Bread with nutella and few slice of banana may be good." balas Ben tanpa pikir panjang. Bennett Alan Wirawan, The Nutella Boy!

__ADS_1


"Okay, breakfast will be on table in five." Aku langsung turun untuk menyiapkan sarapan Ben setelah dia masuk ke kamar mandi.


Saat melewati kamar Lily, aku mengintip ke dalam dan melihat dia masih tidur, jadi aku membiarkannya. Daisy sudah disana menemaninya. Kemudian kulanjutkan langkahku menuju dapur dan langsung membuatkan sarapan untuk Ben, Sean, dan aku.


Kuputuskan tidak ke kantor hari ini dan sebagai gantinya aku mungkin akan ke rumah ibuku untuk memberitahu rencana keberangkatan kami ke Queensland. Dia pasti akan senang saat mendengar berita ini. Sudah lama ibuku merengek meminta kami membawanya kesana, tapi selalu saja ada halangan. Tapi kurasa kali ini impiannya itu akan terwujud.


Setelah beberapa menit berjuang di dapur dengan kemampuan paling standar dalam membuat sarapan, akhirnya aku selesai menyiapkan roti kami untuk pagi ini. Aku juga sudah menyiapkan segelas kopi untuk Sean, susu untuk Ben, dan cokelat untukku. Lalu aku berderap ke kamar untuk membangunkan Sean.


Namun langkahku terhenti saat melihat seseorang berjalan dari arah ruang tamu, dan seketika alisku berkerut. "Nino?" gumamku pelan, tapi masih terdengar di telinganya.


Nino menghampiriku dengan membawa totebag yang kutebak berisi makanan. "Hei, maaf kalau aku mengejutkanmu."


Aku menggelengkan kepala. "No, tapi ada apa pagi-pagi kesini? Kupikir hari ini belum waktunya kau menjemput Ben."


"Aku yang mengundangnya, sayang." Aku menoleh ke samping dan mendapati Sean berbicara sambil mendekati kami. "Dia akan ikut berenang bersama Ben dan aku." katanya sambil tersenyum.


Alisku terangkat tinggi-tinggi selagi melirik dua orang pria yang ada di dekatku secara bergantian. "Wow," ucapku tanpa bermaksud menyembunyikan raut terkejut pada nada suaraku. "Okay." Aku menoleh Nino yang tampak masih canggung. "Sudah sarapan? Kalau belum kau bisa bergabung bersama kami." Aku mencoba bersikap ramah, meski aku sendiri tidak yakin Sean akan setuju dengan ideku.


Nino melirik Sean sekilas sebelum akhirnya menganggukkan kepala. "Boleh, kalau tidak mengganggu." balasnya ragu-ragu.


Aku melirik Sean lagi, meminta pendapatnya dan cukup terkejut dengan responnya yang santai. "Sama sekali tidak, bung. Bersantailah sebentar, aku akan memanggil Ben." dengkur Sean, lalu mencium keningku sekilas sebelum berbalik dan melangkah ke arah kamar Ben.


"Ini... mama menitipkan sesuatu untuk kalian." kata Nino setelah Sean menghilang dari pandangan kami sambil menyerahkan totebag yang di bawanya kepadaku.


Aku menerimanya. "Oh, tidak perlu repot-repot. Tapi... terima kasih." balasku santai. "Apa dia baik-baik saja? Aku minta maaf belum sempat mengunjunginya akhir-akhir ini. Sampaikan salamku padanya." kataku selagi kami berjalan menuju meja makan.


Nino menganggukkan kepala. "Ya, dia baik-baik saja, dan akan kusampaikan salammu."


Aku meletakkan tas makanan yang dibawa Nino ke konter dapur sementara dia duduk di meja makan. Dia terlihat tenang walaupun masih agak canggung. "Aku senang kau bahagia, Franda." dengkurnya tiba-tiba. Ada perasaan bersalah yang bisa kutangkap dari nada bicaranya.


Aku terdiam selama beberapa detik. Tidak tahu harus mengatakan apa. Aku tidak mungkin menyombongkan diri dan mengatakan 'Ya, terima kasih karena sudah mencampakkanku'. Itu akan terdengar kejam. "Ya, kuharap kau juga bahagia." Akhirnya hanya itu yang keluar dari mulutku, dan aku benar-benar mengharapkannya. "Teh atau kopi?"


"Teh saja." Aku mengangguk dan langsung membuatkan teh untuknya.


Dulu orang-orang mengatakan Nino dan aku merupakan pasangan paling serasi dan tidak akan pernah terpisahkan, namun siapa sangka setelah bertahun-tahun pernikahan dan berjuang mati-matian untuk mendapatkan anak, kami justru terpisah setelah Ben lahir.


Aku pernah membaca sebuah kutipan di buku yang kubaca, seperti ini isinya...


"Setiap manusia mendambakan harapan, kebahagiaan, dan impian sepanjang hidupnya. Tapi kedamaian yang sejati terkadang tersembunyi tepat di depan mata, dan seringkali sangat dekat dari yang bisa kita bayangkan."


Mungkin kutipan itu akan cocok untuk Nino. No offense, tapi keadaannya memang persis seperti isi kutipan itu. Sewaktu Nino masih bersamaku, dia menyia-nyiakan kedamaian yang melingkupi kehidupan kami dan malah menyalakan api yang membakar rumah kami sendiri. Membuatku pada akhirnya berlari meninggalkannya.


Apakah aku egois? Tidak. Aku hanya berusaha menyelamatkan diriku sendiri. Untuk apa mempertahankan sesuatu yang hanya akan menyakitimu?

__ADS_1


Pertahankan apa saja yang membuatmu bahagia~


__ADS_2