
Aku melangkah dengan gugup, sikap Sean yang terus mendominasi sungguh membuatku goyah, dia begitu perhatian dan lembut. Terkadang aku merasa bersalah karena belum membalas rasa cintanya yang dalam, Nino masih memenuhi ruang terbesar di hatiku. Perceraian yang terjadi tidak serta merta membuatku kehilangan rasa cintaku padanya. Aku bersyukur bisa bertahan dengan sikapku yang menolak untuk menerimanya kembali dan memutuskan untuk menikah dengan Sean, setidaknya aku berhasil melawan kebodohanku sendiri.
"Ini kamar kita." Sean melangkah masuk kedalam kamar yang dimaksudnya, aku mengamati pria yang tadi pagi sudah resmi menjadi suamiku, langkahnya begitu tegap, otot-otot tubuhnya tercetak dengan jelas pada t-shirt putih yang pas dibadannya, sangat mendukung sikap mendominasinya. Sungguh pemandangan yang sempurna.
Perlahan aku mengikuti langkahnya, melihat seluruh kamar yang katanya milik kami, ukurannya dua kali lebih luas daripada kamarku di apartemen, namun terlihat kosong dan hampa. Tidak banyak perabotan, hanya ranjang king size yang tertutupi sprei berwarna abu-abu, dua meja kecil disisi kanan dan kiri ranjang, dan satu sofa malas berwarna putih, satu-satunya hal yang membuat kamar ini hidup adalah pria yang saat ini berada disini.
"Sean, aku ingin membahas beberapa hal terlebih dahulu." aku bersuara sambil menatapnya.
Sean terlihat sudah paham maksudku, dia berjalan mendekat dan menarikku duduk disisi ranjang. Tangannya menggenggam tanganku, tetap tersenyum manis, "Katakanlah, aku mendengarkan." katanya sambil menaikkan sebelah kakinya ke atas ranjang.
Aku menunduk, sejenak aku takut mengutarakan apa yang mengganggu isi pikiranku, aku takut Sean akan tersakiti dan kecewa padaku, "Sean, aku minta maaf kalau kata-kataku menyakitimu, tapi kurasa aku harus mengatakannya. Aku tidak ingin membohongimu dan berpura-pura bahagia bersamamu," aku menarik napas dalam, meraup sebanyak mungkin oksigen agar memenuhi rongga dadaku, "Aku belum bisa menerimamu sepenuhnya, beri aku waktu untuk membalas perasaanmu. Aku tidak tahu akan berapa lama, masa lalu membuatku sulit membuka diri untuk orang lain. Aku minta maaf..."
Sean terdiam dan tertunduk dalam hingga dagunya bersentuhan dengan dadanya, aku tahu dia pasti merasa kecewa dengan ucapanku, Sean pasti sakit mendengar penolakan yang begitu jelas, namun aku tidak bisa berpura-pura karena itu akan membuatnya lebih sakit lagi nanti, aku harus mengatakannya sekarang.
__ADS_1
"Sean, aku tahu kau mencintaiku, aku bersyukur kau memiliki cinta yang begitu dalam padaku, kau bahkan tidak berpaling meski aku menolakmu berkali-kali, sungguh, aku berterimakasih untuk itu. Aku ingin membalas semua yang kau berikan, rasa cintamu, penantianmu, kesetiaanmu, semuanya, aku ingin melakukan hal yang sama padamu. Bisakah kau membantuku menata perasaanku?"
Sean masih terdiam dan menunduk.
"Sean, terlalu banyak hal yang membuatku sulit membuka diri, rasa takut masih menghantuiku hingga saat ini. Aku percaya kau pria yang berbeda, aku percaya perasaanmu tulus, aku percaya kau tidak akan mengkhianatiku, hanya saja aku belum mampu menerimanya. Aku sulit menerima sesuatu yang berkaitan dengan perasaan, itu salahku karena tidak bisa mengatasi diriku sendiri, salahku karena menyimpan rasa yang terlalu dalam untuk Nino, salahku karena menolak menerima kehadiran orang lain. Kumohon, bisakah kau membantuku?"
Ku eratkan genggaman tanganku, memberi sinyal agar dia menjawab ucapanku. Entah kenapa aku tidak bisa menerima kebekuannya, hatiku memohon sepatah kata apapun darinya, aku ingin dia menjawab ucapanku, aku bahkan ingin dia membentakku, sekeras apapun aku akan menerimanya.
"Sean..." lirihku saat dia masih bertahan dengan kebekuannya. Sean tetap bergeming, aku yakin dia sangat kecewa dengan kado pernikahan yang kuberikan, bukannya menikmati malam pertama seperti pengantin lainnya, aku justru menolaknya mentah-mentah.
"Aku tahu kesulitanmu, kita akan melewatinya bersama. Jangan sungkan mengungkapkan apapun yang kau rasakan, sudah kukatakan berbagilah denganku, sesulit apapun aku akan menemanimu, jangan pedulikan perasaanku, buatlah dirimu nyaman dengan pernikahan kita. Aku tidak akan memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan, aku percaya kau akan membalasku suatu hari nanti. Kita bisa memulainya sebagai teman."
Pipiku terasa panas, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, aku tidak mengira dia akan memberi jawaban yang begitu bijak, begitu tulus sekaligus pasrah pada penolakan yang kuhadiahkan. Sean adalah bentuk lain dari kesempurnaan sementara aku adalah kebodohan. Jika saat ini kami adalah perpaduan antara minyak dan air, aku berharap suatu saat nanti kami akan melebur menjadi air dan api, Sean akan memenangkanku yang menyala liar dengan sikap lembutnya. Sungguh aku berharap Sean akan melakukan itu padaku.
__ADS_1
Sean memberikan kecupan dalam di keningku, kehangatannya menjalar padaku, memberiku ketenangan untuk beberapa saat. Aku mengangkat tangan untuk memeluknya, berharap pelukanku bisa mengobati sedikit rasa sakit dihatinya. Luka yang kutorehkan pasti sangat menyesakkan, aku bukan saja meninggalkannya saat pernikahan kami tadi, kini aku juga mengatakan hal yang tidak seharusnya kukatakan pada malam pertama.
Sean melepaskan pelukan dan mengusap pangkal lenganku, lagi-lagi senyumnya tak lekang, dia seakan tidak terganggu dengan rentetan ucapanku tadi, "Aku ingin mandi, kau bisa beristirahat kalau sudah mengantuk." Sean berdiri, beranjak dari ranjang, meninggalkanku yang masih terdiam dan masuk ke kamar mandi.
Saat ini, dadaku begitu sesak, aku menangis kencang saat dia menghilang dibalik pintu kamar mandi. Aku pernah merasa kecewa saat kehilangan seseorang, tapi aku tidak pernah merasakan rasa sakit yang asing, menggungcang dan mendamba saat Sean lenyap dari hadapanku. Ya, Tuhan, ada apa dengan perasaanku kepadamu, Sean...
Aku buru-buru menghapus air mataku saat kudengar langkah kaki Sean keluar dari kamar mandi, aku terpana pada penampilannya yang menggoda, dia berjalan menggunakan handuk yang hanya menutupi sebagian dari bagian tubuhnya, membiarkan bagian atas tubuhnya yang berotot terpampang nyata dihadapanku.
"I'm sorry, aku tidak akan melakukannya lagi jika ini mengganggumu." ucapannya membuyarkan lamunanku, aku gugup, gelisah, dan kagum pada saat yang sama.
Aku mengulas senyum dengan susah payah, lalu mengangguk, "I-It's okay, we're kind of married. So, tidak masalah..." kataku dengan gugup. Sungguh, aku menyadari Sean pria yang baik dan beradab, namun daya tariknya sangat berbahaya, kini akulah yang harus mengantisipasi diri untuk tidak menggodanya. Astaga... Kau benar-benar membuatku gila, Sean!
Aku beranjak ke walk in closet untuk mengganti pakaian, Sean mengatakan sebelumnya kalau pakaianku sudah tersedia disana. Tanganku mengambil sepasang piyama pendek berwarna navy dan langsung mengenakannya, menggantikan pakaian yang ku gunakan tadi. Kakiku berderap kembali ke ranjang, berbaring di salah satu sisi, menarik selimut hingga sebatas dada.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Sean menyusulku disisi lain, lalu mendekat dan menarikku ke dalam pelukannya. Gugupku kembali datang, namun menguap dengan cepat begitu lengan kekarnya mendekapku, refleks aku menyembunyikan wajahku didadanya, menghirup aroma Citrus yang segar dan lembut, Sean mengikuti kata-kataku yang menyuruhnya mengganti aroma woody saat pertemuan resmi pertama kami. Lagi-lagi, dia memukauku dengan hal kecil.
"Aku ingin tidur denganmu, maksudku, tanpa bercinta. Hanya tidur bersama, dibawah selimut yang sama, diranjang yang sama, dengan kedua tanganku memelukmu dan kepalamu menumpang didadaku. Tidak ada suara, hanya dengkuran napas yang perlahan teratur saat kita tertidur. Ah, sangat menenangkan! Terimakasih sudah menerimaku sebagai suamimu."