Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Another Hole.


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV...


"So, kita harus mulai dari mana, Sir?" Aku mengangkat wajah untuk menatap Franda yang sedang berbicara di hadapanku.


Hari ini kami melakukan pertemuan bisnis secara resmi pertama kalinya untuk membahas rencana kerja sama Warner Enterprise Fashion Life dengan Femme Boutique milik Franda. Aku memaksanya bukan karena dia istriku, tetapi memang karena aku sangat menyukai hasil kerjanya yang luar biasa. Franda sangat jenius dalam menciptakan sesuatu yang berhubungan dengan pakaian. Dia benar-benar tahu cara membuat sesuatu menjadi lebih indah dengan tangannya yang kecil dan aktif.


Aku melipat tangan di dada dan menatap lekat ke arahnya. Senyumku terbit sebelum aku membalas ucapannya. "Bagaimana jika kita melakukan kunjungan ke butikmu, Nyonya? Kurasa aku perlu memastikan sekali lagi bahwa aku tidak salah mengambil keputusan." kataku berusaha menggodanya. Aku nyaris tertawa saat melihat matanya yang membuka lebar.


"Kau sudah melihatnya berkali-kali, Sir. Bisakah kita melanjutkan dengan sesuatu yang lebih penting dibandingkan membuang waktu untuk melihat butikku?"


Aku tersenyum lagi sebelum membalas ucapannya. Tanganku berpindah pada pegangan kursi sementara aku melipat kaki. "Baiklah. Aku akan mendengarkanmu lebih dulu kalau begitu. Apa yang kau inginkan dengan kerja sama ini?" tanyaku memancing.


Franda mulai antusias. Dia ikut melipat kaki dan menautkan jemarinya di atas meja. "Pertama, aku tidak mau kau menghilangkan nama butikku. Kedua... jangan mengatur cara kerjaku apalagi ikut campur dalam menentukan desain. Aku ingin tetap bebas bekerja, Sir."


Aku mengangguk. "Tidak masalah." gumamku.


"Ketiga... aku ingin," Aku menoleh ke arah pintu karena seseorang baru saja masuk dan mengganggu pertemuan kami.


Seketika aku terbelalak mendapati gadis berambut pirang yang begitu kukenal tengah berdiri di depan pintu yang terbuka. Jantungku berdegup kencang. Tubuhku mendadak membeku dan perutku melilit dingin. Gadis itu berjalan anggun dan nakal ke arahku, dan langsung menghambur ke tubuhku. Lengannya merangkul bahuku dan telapak tangannya menempel di dadaku.


Dia menangkap wajahku lalu mencium bibirku yang kering dan berkerut keras. Kepalaku spontan terayun ke belakang, tapi aku kurang beruntung. Bibirnya sempat menyapu bibirku. Aku sontak berdiri dan mendorongnya menjauh dengan sopan.


Mata gadis itu berkabut gairah, pipinya berubah merah. Rahangku mengertak, menghindari gairah yang di pancarkan gadis itu padaku.

__ADS_1


"Kak, aku merindukanmu. Apakah kau sedang sibuk?" gumamnya sambil menggigit bibir yang tadi menciumku.


Aku tak menjawab, dan kini sibuk memperhatikan raut Franda yang berubah murung dan marah. Senyumnya memudar, gairahnya yang cantik dan menggebu untukku ikut pula memudar. Hal tadi sudah pasti menyentak kepercayaannya kepadaku. Mencabik-cabik hatinya karena aku sudah membiarkan wanita lain menyentuhku. Demi Tuhan... aku hanya menginginkan Franda.


Aku menatap tajam pada Selena yang gugup dan baru saja masuk kedalam ruanganku. Lalu mataku kembali menatap Franda.


"Ya, Tuan sedang melakukan pertemuan bisnis, Nona." Aku mendengar Selena menjawab pertanyaan yang di ajukan Yolanda Riyadi. Aku menelan ludah, berharap Yola secepatnya menyingkir dari hadapanku agar aku bisa mengamankan Franda darinya.


Tetapi Yola selalu bertahan hingga aku kerap diserang panik ketika menghadapinya. Suaranya saat ini bahkan terlalu nakal, terlalu serak. "Wow, kalau begitu aku akan menunggu di sofa."


Aku menahan emosi yang berderak dalam dadaku sampai rahangku mengertak. Aku ingin Yola segera menutup mulutnya dan berhenti dengan omong-kosongnya. Akan ada waktu baginya untuk berbicara denganku dan bahkan menggodaku, namun itu bukan di hadapan Franda.


Dengan berani, Yola malah melingkarkan lengannya. "Aku akan menunggumu, kak. Kita harus ke rumah sakit untuk bertemu Papa."


Yola mengernyit, matanya melirik ke bawah, ke tanganku yang menyelimuti tangan Franda. Aku sudah menunjukkan bahwa aku sedang bersama seseorang yang berharga bagiku, tetapi Yola tetap saja bertanya. "Kenapa?"


"Aku sudah menikah." balasku cepat. Aku harus segera membawa Franda menjauh darinya, lalu menjelaskan padanya bahwa yang semata-mata kubutuhkan adalah dirinya.


Tak terpengaruh oleh jawabanku, Yola menyunggingkan senyum. Demi Tuhan, aku selalu mengutuk pertemuanku dengan Yola. Aku sudah berjuang untuk menolaknya. Tapi kenapa dia selalu menyiksaku seperti ini?


"Hmm..." lirihnya lembut padaku. "Kau seharusnya mengatakan padaku kalau kau sedang sibuk, Kak. Tidak perlu mengarang cerita dengan pernikahan."


Aku mendengar Franda berdecih pelan, dan aku meremas tangannya lagi. Memintanya untuk tetap diam disampingku. "Aku memang sudah menikah, Yola."

__ADS_1


Yola diam sejenak. Kemudian dia mengerang dan mengalah. Tetapi raut dan gerak-geriknya bertambah lembut untuk tetap memberikan godaan kepadaku. "Baiklah, aku pergi, Kak. Tapi kau sudah berjanji akan menemui Papa. Aku akan menunggumu disana."


"Tidak usah menungguku." sergahku. Genggaman tanganku semakin erat di tangan Franda.


Yola menggerutu tak percaya. "Kak... kau sudah berjanji."


"Ya, tapi aku akan menemuinya sendiri dan mengatakan tentang pernikahanku." tukasku untuk terakhir kalinya. Karena setelah itu, aku langsung menarik Franda keluar dari ruanganku dan meninggalkan Yola bersama Selena disana. Aku membawa Franda kembali ke rumah di lantai 46.


Sampai di kamar, Franda masih murung, kaku dan menatap kosong. Aku ingin sekali menegurnya, tetapi lebih baik meredam keinginanku untuk berbicara dengannya karena dia masih marah, dan bisa bertambah marah.


Pada akhirnya, aku tak tahan lagi untuk mendengar suaranya yang halus dan penuh cinta untukku, yang mengentak-entak jantungku. "Franda... kau ingin makan apa? Kita belum makan siang." kataku sambil menatapnya yang terdiam di tepi ranjang.


Franda bersuara serak, dan rasanya sangat melegakan bisa mendengar suaranya yang lembut lagi. "Aku tidak ingin makan apapun."


"Franda," desahku lembut menyebut namanya. Kepalaku tertunduk beberapa saat karena malu sudah merusak suasana hatinya. Lagi dan lagi sebuah kenyataan menyentakku. Franda merupakan wanita yang sempurna, tetapi aku terus saja membuatnya memberikan alasan untuk membuatnya kecewa. Aku memang bajingan suram dan mengerikan, yang tengah menculik malaikat ke dalam hidupku. Tapi aku tidak menjaganya, justru merusak sayapnya satu per satu.


"Aku ingin sendiri," ucap Franda tiba-tiba sampai aku langsung mengangkat kepala menatapnya dari sofa malas yang kududuki. Sekujur tubuhku tegang dan air mata begitu ingin keluar dari mataku. Aku tak sanggup untuk bertengkar lagi.


"Franda, komohon." pintaku padanya.


Franda berbicara dengan gemetar. "Kau baru saja berciuman di depan mataku, pria tampan sialan! Apakah kau tahu itu?"


Aku tertunduk lagi, kedua tanganku mencengkeram pinggiran sofa seakan ingin menghancurkannya. Tetapi suaraku lembut dan membujuk pada Franda. Aku paham pada amarahnya, dan sekarang aku harus membuktikan bahwa ciuman Yola tak berarti apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2