
...Sean Danial Warner POV....
Aku melangkah keluar dari kamar setelah puas memandangi wajah istriku yang terlelap damai. Aku tidak yakin apakah dia ingat apa yang terjadi semalam setelah dia meneleponku. Malam tadi aku tiba di Jakarta jam dua lewat dan langsung bergegas menemui Franda yang masih berada di klub bersama beberapa orang yang tidak kukenali.
Franda sangat mabuk, dan begitu melihatku dia langsung menerjang bibirku dengan rakus sambil menggurutu putus asa. Aku bahagia menerima perasaan cintanya yang begitu dalam padaku, dan aku sendiri pun sangat mencintainya. Kami tidak akan bisa dipisahkan oleh apapun selain kematian. Tuhan sudah menyatukan kami dengan cara yang sangat mengagumkan.
Terlepas dari apa yang sudah terjadi belakangan ini, satu-satunya hal yang patut untuk kusyukuri adalah kondisi mentalnya yang tampak sama sekali tidak terganggu. Setidaknya aku bisa merasa lega karena kejiwaannya benar-benar sudah stabil, dan Sam sangat membantu dalam hal ini.
Aku kembali ke dalam kamar dengan membawa segelas air jeruk dan pil penghilang pengar untuk Franda. Dia masih terbaring menelungkup di ranjang, terlihat kelelahan. Punggung dan sebagian bokongnya yang terbuka seketika membuatku menggeram dan bagian tubuhku yang lain kembali merasa lapar. Aku ingin mendesaknya lagi, meluapkan kerinduan yang sudah kutahan selama dua bulan ini, tapi kutahan perasaan itu semata-mata aku ingin dia beristirahat lebih lama.
Semalam aku sudah menggempurnya habis-habisan, sampai dia menangis dan menjerit merasakan nikmat saat aku mendesak tubuhnya yang berdenyut indah. Bukan salahku, dia sendiri yang memintaku datang dan menemuinya, dan tidak ada alasan bagiku untuk menolak mencicipi tubuhnya yang molek dan lembut itu.
Aku baru saja ingin keluar dari kamar dan bermaksud membiarkannya tidur lebih lama, tapi malaikatku itu menggeliat. Menyembunyikan kepalanya di atas bantal sebelum dia menyadari kehadiranku.
"Sean?" katanya dengan suara serak, terkejut melihatku. Wajahnya melongo menatapku. "Apa... apa yang kau lakukan disini?"
Mulutku melengkung tinggi melihat rautnya yang menggemaskan dan aku mengedikkan bahu. "Ini rumahku. Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan disini, Franda?" kataku menggodanya.
Franda terkesiap, mulutnya terbuka lebar. Kemudian dia mengamati sekeliling ruangan dan baru menyadari dimana dia berada, dan saat pandangannya turun ke arah tubuhnya... "Oh, God! Apa yang terjadi? Apa kau menculikku?"
Sontak tawaku terlepas begitu saja mendengar pertanyaannya yang tidak masuk akal. "Franda, kau istriku. Untuk apa aku menculikmu, sayang?" Aku menggelengkan kepala tak percaya sementara dia masih melemparkan tatapan bingung padaku.
Franda terdiam selama beberapa saat sambil memandangiku, ada kilatan senang yang kutangkap sekilas dari matanya. Kemudian dia perlahan menggerakkan tubuhnya yang indah hingga bersandar pada kepala ranjang. Franda menggoyangkan kepala beberapa kali sambil menahan selimut yang menutupi dadanya. Dia masih bingung "Kenapa aku bisa berada disini? Semalam..." Dia berhenti sejenak, dan tiba-tiba matanya melotot menatapku. Sementara aku tertawa keras, tidak bisa melewatkan momen lucu dan menggelikan menyaksikan wajahnya yang memerah.
Franda sangat mudah tergoda. Pipinya akan cepat merona jika aku memberinya tatapan nakal yang sangat disukainya. Hanya sikap kerasnya yang kerap membuatku kesulitan menghadapinya, selain itu aku mengaguminya. Dia wanita paling lembut, paling mudah memaafkan, dan paling liar sekaligus. Tapi yang membuatku senang adalah dia memberikan semua itu padaku. Aku tidak bisa menghitung betapa banyak keberuntungan yang kudapatkan dari pemberiannya itu.
Aku memandanginya sambil tersenyum selagi menikmati wajahnya yang malu-malu. "Franda," dengkurku serak dan halus. "Aku suamimu, sayang. Kau tidak perlu menyesal karena sudah meneleponku semalam. Aku senang kau melakukannya." Aku mengulurkan tangan mengusap wajahnya dan bisa merasakan efek sentuhan tanganku yang membuatnya gemetar.
"Sean, aku..."
__ADS_1
"Sshhh..." Aku menyela, tidak ingin dia mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat hatiku sakit. Kemudian tanganku beralih meraih segelas air jeruk dan pil penghilang pengar lalu menyerahkannya pada Franda. Dia menerima dengan tangannya yang gemetar halus. "Minumlah, kau mabuk seperti orang sinting semalam. Apa kau begitu putus asa, Franda?"
Franda meminum pil yang kuberikan. Aku mengambil kembali gelas dari tangannya dan meletakkannya di nakas. "Terima kasih." dengkurnya lirih.
"Sama-sama, malaikatku."
Aku duduk di tepi ranjang dengan kepala menunduk. Mencoba menyusun kalimat untuk membujuknya. "Apa kau menyukai ini? Hubungan yang seperti ini?" tanyaku memulai.
Franda diam. Matanya menatap kedua telapak tangan yang berada di atas pangkuannya. Dia menarik napas gemetar dan aku tahu dia sedang menahan tangis. Hatinya yang lembut itu tidak akan pernah sanggup menerima sesuatu seperti ini. Franda kuat dan rapuh pada saat yang bersamaan.
"It's suck!" balasnya pelan. Aku mengangguk dan kami terdiam lagi selama beberapa saat.
"Maafkan aku, Franda." cetusku menyudahi keheningan. "Aku benar-benar tidak bermaksud menutupi kebenaran tentang ibu kandungmu. Kau sedang hamil waktu itu, dan aku harus memastikan kau dan anak kita baik-baik saja. Aku berencana baru akan memberitahumu setelah melahirkan, ketika fisikmu sudah pulih sepenuhnya. Aku takut terjadi sesuatu padamu."
"Aku tahu saat ini sulit bagimu untuk percaya padaku, tapi itu kebenarannya. Aku dan keluargamu... kami menyayangimu. Kami bisa merasakan apa yang kau rasakan, kami tahu sebesar apa kekecewaanmu, dan kami hanya berusaha menjagamu. Tidak ada yang berniat membohongimu sedikitpun."
Aku menatapnya. Dia masih memunduk, tapi air mata mulai membasahi wajahnya. Bibirnya gemetar sementara kedua tangannya saling meremas dengan kuat di pangkuannya. Aku mengumpat dalam hati karena ikut tersiksa menyaksikan dia menangis seperti itu. Franda tidak pernah meminta kehidupan yang rumit, dia tidak bisa memilih takdir yang harus dijalaninya, tapi entah kenapa dia selalu dihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan.
"It's okay, honey. Aku bersamamu." gumamku sambil mengusap kepalanya.
Setelah cukup lama menangis dan menumpahkan semua perasaan yang ditanggungnya, akhirnya dia menjadi sedikit lebih tenang. Aku menarik diri darinya agar bisa menatap wajahnya dan mengusap air matanya. "Apa kau baik-baik saja?"
Dia mengangguk. Terdiam sejenak, kemudian mengangkat wajahnya. Dari matanya aku bisa melihat kilatan senang yang memancar menyilaukan. "Jangan melakukannya lagi, Sean. Aku tidak suka kau berbohong padaku." pintanya tegas.
"Ya, aku berjanji." balasku cepat. "Tidak ada kebohongan lagi."
Dia tersenyum. "Aku percaya padamu." katanya, lalu memelukku lagi.
Hatiku dipenuhi kelegaan, dan aku yakin tidak akan ada masalah lain yang mampu menerjang kami sekeras ini lagi. Semuanya sudah terselesaikan. Aku dan Franda sudah kembali. Sekarang yang tersisa hanyalah kehidupan yang menyenangkan, penuh warna, dan mendebarkan. Semuanya tampak lebih menjanjikan selain, tentu saja keberadaan ibu kandungnya yang pasti akan mengusiknya. Dan itulah satu-satunya masalah yang perlu kami selesaikan secepatnya.
__ADS_1
Entah Franda akan memaafkan dan menerima ibu kandungnya atau tidak, itu bukan urusanku. Dia yang berhak menentukannya. Aku akan menghargai apapun keputusannya.
"Mandilah, kau harus pulang. Bukankah anak-anakmu menunggu? Ibu macam apa yang tega meninggalkan anaknya dan menginap di rumah orang lain?" gumamku bercanda, merasa senang karena suasana hatinya yang membaik.
Dia mendengus, memukul pelan dadaku. "Kau yang menculikku." gerutunya, kemudian dia tertawa pelan. Tak bisa kujelaskan bagaimana perasaanku saat ini, kalimat sepanjang apapun tidak akan sanggup menggambarkan betapa hatiku diliputi kebahagiaan saat menyaksikan tawanya.
"Kau yang meneleponku, ma'am." balasku, pura-pura keberatan. "Sekarang aku meminta bayaran atas jasaku kemarin." Aku membuka kaus yang kugunakan dan seketika mata dan mulutnya terbuka lebar saat dia melihat bekas serangannya yang luar biasa memenuhi dada dan sekitar bahuku. "Kau harus mengeluarkan biaya lebih untuk cakaranmu." Aku tersenyum puas memandang wajahnya yang melongo.
"Ya Tuhan... apa kau yakin aku yang melakukannya?" Dia meringis.
"Franda!" sergahku, dan seketika tawanya terdengar keras sementara aku menggeleng tak percaya. "Kau benar-benar menghukumku semalam, Franda. Beruntung kau sedang mabuk, jika tidak aku pasti sudah terikat di ranjang sampai pagi."
Dia santai mengangkat bahu. "Aku hanya... kau tahu, aku bahkan tidak mengingatnya. Jadi, wajar kalau aku meragukan ucapanmu."
Sekarang giliranku yang membulatkan mata. "Franda..."
Aku tersentak saat dia tiba-tiba dengan satu gerakan cepat menarik wajahku dan menciumku rakus. "Aku tidak ingin mendengar apapun selain erangan yang keluar dari mulutmu. Sekarang." Dia menciumku lagi, dan kusambut dengan suka cita.
"As you wish, ma'am." balasku genit
"Good. Sekarang, aku ingin melihat apakah kejantananmu juga terluka. Cepat tunjukkan padaku."
"Franda," geramku, tapi malaikatku yang baru kembali itu langsung menarikku hingga terhempas di ranjang, lalu duduk di atasku. Dia menyeringai.
"Kau tidak tahu bagaimana aku merindukanmu, Sean, dan semalam kau bersenang-senang sendirian. Kau benar-benar curang." katanya sambil menurunkan bokongnya ke tubuhku yang mengeras dan berdenyut nikmat.
"Aku yakin kau masih..." Mendadak dia membungkam mulutku dengan mulutnya.
"Sudah kubilang aku tidak ingin mendengar apapun. Kau tidak..." Dia terdiam karena sekarang aku yang menutup mulutnya, kemudian tanganku terulur menyentuh bagian tubuhnya yang memerah dan paling nikmat itu.
__ADS_1
"Ahh..."
"Ya, mendesahlah, sayang. Aku ingin mendengarnya."