
Aku sudah pernah merasakan bagaimana rasanya begitu dekat dengan kematian. Namun tetap saja semua yang terjadi dalam proses itu masih terasa sangat menakutkan. Saat semua yang ada dalam dirimu seakan meluap keluar, lalu segala yang pernah kau alami sepanjang hidupmu, akan terlintas kembali dalam satu kilatan pendek di benakmu, sebelum kau benar-benar kehilangan kesadaran.
Tapi ada satu momen yang paling kuingat lebih dari yang lainnya. Satu wajah. Seseorang yang paling kucintai. Sekalipun semua ingatanku melebur menjadi satu, aku tidak akan pernah melupakan wajah itu. Selamanya.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Aku memutar kepala dan melihatnya melangkah masuk ke dalam ruang perawatan tempatku berada. Dia melepaskan jaketnya lalu menggantungnya di standhanger yang ada di sisi pintu. Butiran air hujan menetes dari rambut hitamnya. Dia tersenyum manis begitu beradu pandang denganku, dan secara spontan bibirku melengkung ke atas tanpa bisa kukendalikan.
Sebagian orang mengatakan senyum itu menular, tapi kurasa dalam kasus ini aku hanya... bahagia.
"Dia terus saja membaca berita peristiwa penembakannya." kudengar suara ibuku berkomentar dari kursinya di seberang ruangan.
"Benarkah? Kau harus banyak istirahat, seperti kata dokter."
Aku terkekeh pelan. "Apakah hujannya deras? Rambutmu basah, jaketmu juga." Aku meletakkan koran di tanganku ke atas nakas, mencoba bergeser dan membalikkan tubuhku menghadapnya, tapi seketika rasa nyeri yang menusuk dengan cepat menyebar di punggungku, membuatku terpejam dan meringis.
"Kau bisa bicara, sayang. Aku akan membantumu." Aku merasakan tangannya yang kuat memegang lenganku. Dia dengan sigap menyusupkan sebelah tangannya ke belakang lututku, kemudian mengangkat tubuhku, dan membaringkanku dengan hati-hati menghadap ke arahnya.
Aku tersenyum padanya. "Terima kasih."
"Kau tahu? Kau seharusnya istirahat, Franda." Sean menggelengkan kepala, namun senyum masih tampak di sudut bibirnya. "Kau benar-benar keras kepala." Dia mengusap sisi wajahku, menyisipkan sejumput rambut yang menjuntai ke belakang telingaku.
"Ya, kuharap kau bisa memberitahunya. Sangat keras kepala." Ibuku menggerutu lagi. Perlahan terdengar suara kursi bergeser dan langkahnya berjalan keluar. "Mommy akan makan siang dengan Ed."
Sean mengangguk. "Ya, mom." gumamnya sambil memandangi ibuku hingga menghilang di balik pintu sebelum berpaling menatapku lagi. "Apa yang kukatakan soal istirahat total, Franda?"
Aku tersenyum dan samar-samar tawa pelan keluar dari mulutku. "Aku baik-baik saja, Warner." Aku meraih tangannya dari wajahku dan membawanya ke pelukanku. "Kau tahu? Kurasa aku bisa menjadi James Bond versi wanita, bukankah itu keren?" Aku memainkan alisku padanya.
Dia mengerutkan kening. "Berhenti bercanda. Itu tidak lucu sama sekali. Kau dan anakku hampir mati, Franda." Sean menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa melihat sesuatu yang keren dari situ."
Aku bergeser sedikit agar dia bisa naik ke ranjang dan duduk di sampingku. "Hei, santailah, kami baik-baik saja sekarang. Tidak ada yang perlu di khawatirkan." Aku mengarahkan tangannya ke perutku yang masih rata. "Dia anak yang kuat, persis seperti dirimu." kataku dengan nada riang.
Dia mendengus pelan, bersandar pada headbed seraya melingkarkan kedua lengannya di pinggangku, berusaha tidak menyentuh punggungku yang terluka. Kemudian dengan hati-hati dia menarikku lebih dekat, menyandarkan tubuhku kepadanya. "Aku benar-benat tidak ingin berdebat denganmu, Franda."
"Kalau begitu kau harus tenang." gumamku sambil menyusurkan ujung jemariku pada tepian lengan kemejanya. Aku tidak mendengar apapun selama beberapa saat hingga suaranya kembali memecah keheningan.
"Kau tahu, beberapa hari terakhir ini terasa seperti neraka bagiku, melihat kondisimu dan semuanya..." ucapannya tiba-tiba terhenti. "Aku tidak bisa menghadapi kenyataan itu, Franda. Tolong jangan melakukan hal seperti itu lagi padaku. Apapun yang terjadi padamu akan melukaiku juga, apa kau pernah memikirkannya sejauh itu? Bagaimana aku menjalani hidupku jika sesuatu terjadi padamu?"
"Kurasa aku tidak bisa membantahnya," gumamku pelan sambil memeluknya lebih erat. "Karena dalam hal ini kita memiliki pikiran yang sama."
Aku merasakan dia mengangguk ketika dagunya menyentuh kepalaku. "Bagus, kalau begitu setelah keluar dari rumah sakit, kau tidak boleh kemana-mana. Diam dirumah, dan jaga anak-anakku."
__ADS_1
Aku melepaskan diri lalu mendongak menatapnya. "Apa? Tidak. Kau tidak bisa mengurungku di rumah sementara aku punya pekerjaan."
Dia menatapku sejenak, sorot matanya menyatakan dia sedang mempertimbangkan sesuatu. Lalu bibirnya menyunggingkan senyum miring yang sangat kusukai. Dia menunduk, mencium keningku sekilas. "Well, kita lihat saja nanti."
Aku tersenyum lebar dan memeluknya lagi. Rasanya begitu nyaman dan tenang. Aku bersyukur kami sudah berhasil melewati hari yang sangat menyakitkan. Yang terjadi belakangan ini benar-benar gila dan melelahkan, namun aku senang semuanya sudah berakhir, dan aku berharap semoga hari-hari kami berikutnya lebih tenang lagi.
"Hei, bagaimana dengan Dave?" tanyaku pada Sean.
Dia menghembuskan napas berat, aku tahu Sean juga merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Bagaimanapun Dave adalah keluarganya, dan tidak seharusnya dia bertindak bodoh dengan menipu Sean seperti itu.
"Setiap perbuatan ada konsekuensinya, dia harus bertanggung jawab." katanya pelan. "Aku sudah menghubungi pamanku dan Julie, mengatakan apa yang terjadi, dan mereka akan datang kesini dalam waktu dekat."
"Aku tidak bisa membayangkan reaksi ayahnya saat mendengar kabar itu." Aku mengedikkan bahu, merasa ngeri. "Dia pasti sangat terkejut."
"Tentu saja. Aku sendiri juga tidak mengira Dave akan terjerumus dalam bisnis seperti itu, dan yang paling kusesalkan adalah, aku sama sekali tidak mengetahuinya padahal kami bertemu setiap hari. Maksudku, dia bekerja dengan baik, uang yang dia hasilkan dari perusahaan tidak sedikit, seharusnya dia tidak perlu masuk ke dalam bisnis hitam seperti itu."
Aku baru saja akan menanggapi ucapan Sean, namun ponselku tiba-tiba berdering di atas nakas. Sean meraihnya dan kami mendapati nama Mia yang menelepon.
"Ya." ucapku setelah mengaktifkan pengeras suara, lalu meletakkan ponsel di pangkuan Sean.
"Bagaimana keadaanmu?" katanya dari seberang, suaranya terdengar seperti baru bangun tidur.
"Hm, aku baik. Omong omong, bagaimana rasanya menjadi tenar dalam sekejap? Kau tahu? Anak-anak disini histeris saat aku mengatakan bahwa kau tertembak."
Aku tersenyum mendengarnya, teringat pada teman-teman kami yang menyenangkan selama berada disana. Ah, aku merindukan mereka dan tempat itu. "Tidak terlalu buruk, karena beritaku bukan tentang skandal perselingkuhan." ucapku, menyindirnya.
Dia mengumpat. "Aku tidak berhubungan lagi dengannya. Lagi pula..." suaranya terpotong, dan samar-samar aku mendengar suara pria berbicara padanya.
"Siapa itu?"
"Jason, aku sedang bersamanya." sahutnya santai. "Jason, stop it! I'm calling my sister."
"Kau bersamanya? Apa itu artinya tepat seperti yang kupikirkan? Bersamanya?"
"Ya, tepat seperti itu."
"Wah, kalian memang..." Aku berhenti saat mendengar suaranya seperti mendesah. Seketika mataku membulat, nyaris melompat keluar dari tempatnya. "Mia, jangan bilang kalau kau sedang..."
"Aku akan meneleponmu lagi nanti, bye!"
Aku terdiam menatap ponselku yang tergeletak di pangkuan Sean. Kemudian beralih mengalihkan pandangan ke arahnya. Dia terlihat menahan tawa.
__ADS_1
"Kenapa wajahmu seperti itu?"
Aku mengerjap, berusaha menenangkan diri. Ini benar-benar hal paling mengejutkan yang pernah kudengar seumur hidupku.
"Ya Tuhan, anak itu benar-benar..." Aku tidak sempat menyelesaikan kalimatku, saat pintu ruangan terbuka.
Aku memutar kepala. "Ben!" Anakku berlari menghampiri ranjang, di ikuti Nino yang berjalan pelan di belakangnya.
Aku membuka tanganku, bersiap menyambutnya. Namun begitu dia memelukku, napasku seakan terputus saat merasakan sakit yang menjalari seluruh punggungku, dan aku mengerang. Sean yang duduk di sebelahku, segera menyadari itu dan langsung meraih tubuh mungil Ben ke dalam pelukannya, kemudian dia mengecek punggungku.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya cemas.
Aku menarik napas beberapa kali, sebelum akhirnya mengangguk. "Ya, aku baik-baik saja."
"Am I just hurt you, mom?" suara lembut Ben mengalihkanku.
Aku menoleh ke arahnya, dia terlihat merasa bersalah. "No, baby." gumamku pelan seraya tersenyum padanya, lalu mengulurkan tangan. "Come here," Sean melepaskan Ben dan dengan hati-hati meletakkannya di pangkuanku.
Aku menciumi seluruh permukaan wajahnya yang menggemaskan, membuatnya geli dan mendorong wajahku menjauh. "Mom, please," protesnya.
"Mommy merindukanmu, Ben." Mengabaikan protesnya, aku menciumnya lagi beberapa kali.
"Maaf baru sempat membawanya kesini." suara Nino mengalihkan perhatianku dari Ben.
Aku memalingkan wajah menatapnya, dia berdiri di tepi ranjang, berseberangan dengan Sean. Rautnya tampak khawatir. "Tidak apa-apa. Kalian hanya berdua?"
Nino mengangguk, melirik Sean sekilas sebelum menatapku lagi. "Ya," sahutnya singkat. Dia meletakkan totebag yang dibawanya di atas nakas. "Mama menitip makanan untukmu." katanya menjelaskan, melirik Sean lagi.
"Tidak perlu repot-repot. Tapi, sampaikan terima kasihku padanya." ujarku pelan.
Perlahan aku mengulurkan tangan untuk meraih tangan Sean yang terkepal di atas pangkuannya, dan menggenggamnya dengan lembut. Aku bisa merasakan dia sedang menahan marah saat melihat rahangnya yang mengeras, kejadian saat Nino mendatangiku di kantor pasti masih mengganggu pikirannya.
Lalu tiba-tiba dia berdiri. "Bisakah kita berbicara sebentar?" Dia bertanya pada Nino dengan nada datar.
"Sean," Dia menatapku dan aku menggeleng.
Sean tersenyum tipis, kemudian tatapannya menjadi lebih lembut. "Hanya berbicara, sayang." dengkurnya sambil menjulurkan tangan mengusap pipiku sebelum kembali melihat ke arah Nino.
Nino mengangguk, lalu berbalik dan melangkah keluar lebih dulu. Aku menoleh Sean, menariknya lebih dekat, lalu mencium bibirnya sekilas. "Aku tidak mau kau berkelahi dengannya." ujarku pelan.
Mulutnya melengkung tinggi, kemudian dia menganggukkan kepala. "Hanya berbicara." Dia menciumku sekali sebelum berderap melintasi ruangan menyusul Nino.
__ADS_1