
Untuk kedua kalinya pagi ini, aku kembali ke kamar. Aku membiarkan suamiku tidur lebih lama sementara aku memandikan dan menemani anakku bermain selama satu jam lebih. Sebelum membuka pintu, aku meraup udara sebanyak mungkin sampai memenuhi setiap rongga dadaku. Mengumpulkan kekuatan untuk menerima kemarahan Sean yang mungkin kini sedang menunggu untuk memakiku habis-habisan.
Merasa cukup kuat untuk menemuinya, aku menggerakkan tangan menyentuh gagang pintu dan membukanya. Hal pertama yang kulihat adalah suamiku sedang berdiri membelakangiku di walk in closet. Handuk yang melilit pinggangnya, rambutnya yang basah dan butir-butir air di punggungnya menjelaskan bahwa dia baru saja mandi.
Napasku tercekat menatap otot-otot tubuhnya. Tubuh yang begitu kurindukan. Tubuh yang sangat ingin kupeluk saat ini. Tak ingin berlama-lama membuang waktu, aku berjalan cepat dan melingkarkan kedua tanganku dari belakang tubuhnya hingga membelit dadanya yang hangat dan keras. Aku bisa merasakan dia terkejut dan hendak melepaskan pelukanku.
"Jangan bergerak." lirihku. "Aku merindukanmu, Sean. Kumohon biarkan aku memelukmu selama lima menit. Kau bisa melanjutkan kemarahanmu nanti, tapi biarkan aku mengisi tenaga untuk menerima amarahmu." Dia menurut. Aku menggerakkan hidungku perlahan untuk mengendus aroma lavender yang melekat di kulitnya yang halus sementara kedua tanganku meraba liar otot dada dan perutnya.
Bibirku tersenyum senang ketika telingaku menangkap geraman pelan dan tertahan di mulutnya. Suamiku sedang menahan diri agar tidak menyerangku. Bisa kurasakan napasnya memburu dan dadanya berdebar keras dibawah telapak tanganku. Aku mengeratkan pelukanku, kemudian memberanikan diri bersuara setelah beberapa saat terdiam.
"Jangan berbalik dan dengarkan apa yang kukatakan." Aku menarik napas sekali lagi dan dia sepertinya bersedia mendengarkanku. "Sean, kau tentu tahu aku mencintaimu. Sangat mencintaimu." Aku berhenti sejenak merasakan kulit halusnya di pucuk hidungku.
"Kemarin aku sempat pingsan." Aku mengencangkan pelukanku saat kurasakan dia ingin berbalik. Dia pasti terkejut mendengar kalimatku. Tapi aku tidak ingin berhenti sebelum mengatakan semuanya. Sean harus mendengarkan penjelasanku agar dia bisa memutuskan apakah akan tetap marah atau memaafkanku nanti.
"Aku, Denise, dan Pritta baru saja kembali dari klinik dan tepat saat kami tiba di butik, Nino datang. Dia meminta waktu untuk berbicara. Aku memang salah menyuruhnya masuk karena kupikir dia tidak akan berani menyentuhku. Saat itu aku merasa perlu mengingatkannya sekali lagi tentang hubungan kami."
__ADS_1
"Dia mengatakan Mamanya sedang sakit dan memintaku untuk menemuinya. Aku tidak menolak, tapi aku mengatakan kalau aku akan datang bersamamu. Aku tahu kau tidak akan mengijinkanku menemui Mamanya seorang diri. Aku tahu itu."
Sean mendesis. Aku menurunkan tangan untuk memegang tangannya yang terkepal. Perlahan aku membuka kepalan tangannya dan menautkan jemariku disana dengan posisi aku masih dibelakangnya. Wajahku yang panas menahan air mata menempel di punggungnya.
"Tak lama setelah itu, dia berdiri. Aku mengira dia hanya akan pamit lalu keluar dari ruanganku. Tapi, tiba-tiba saja dia memelukku. Aku sudah berusaha mendorongnya agar melepaskanku, dan sialnya kau datang sebelum aku terlepas darinya." Air mataku terjatuh ketika aku memejamkan mata. Aku menggigit bibir bawahku kencang untuk menahan tangis sampai aku bisa merasakan asin darah di mulutku.
Aku menjilat bibir, menyeka darah yang keluar lalu melanjutkan ucapanku. "Sean." desisku. "Aku tahu bagaimana sakitnya di khianati. Aku pernah merasakannya berkali-kali, dan saat itu terjadi rasanya aku ingin mati detik itu juga. Aku sempat menolak kehadiran pria di hidupku karena aku tidak ingin di khianati lagi, sampai kau membuatku percaya bahwa aku layak untuk bahagia. Aku layak menerima kehidupan yang menyenangkan. Jadi, bagaimana mungkin aku menyakitimu dengan cara seperti itu, Sean? Aku sungguh-sungguh mencintaimu."
Berusaha menenangkan diri, aku mendesah dan menarik napas berat. "Sean, aku tahu tahu bagaimana kondisi hatimu sekarang dan kau berhak marah." Kedua kakiku bergerak mengitari tubuhnya dan berhenti tepat di hadapannya. Hatiku redam menyaksikan ekspresinya yang putus asa. "Demi Tuhan, Sean, itu sama sekali tidak seperti yang terlihat. Aku membiarkannya masuk karena kupikir aku harus menegaskan sekali lagi dan untuk terakhir kalinya padanya bahwa harapan-harapan yang dia kira ada itu sebenarnya tidak ada."
"Tapi dia bersikap lancang dan memelukku."
"Aku tak mungkin sanggup untuk menyakitimu. Kau adalah berlian rapuh yang harus kujaga dan aku sadar akan hal itu. Aku berusaha dengan segenap dayaku untuk menghormatimu. Aku tidak akan membiarkan diriku secara sengaja memberimu alasan untuk meragukanku. Sejak kau pulang dalam keadaan mabuk semalam, aku mengutuk diriku yang begitu bodoh, Sean. Ya Tuhan, terkutuklah aku!"
Sean bereaksi. Dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Mengusap pipiku yang basah sampai kering dan mengabaikan air matanya sendiri yang baru saja menetes. "Ya, Tuhan, Franda... bukan itu maksudku mendiamkanmu. Aku mendiamkanmu karena diriku sendiri. Aku mendiamkanmu bukan karena ragu padamu, tapi aku ragu pada diriku sendiri. Mungkin aku tidak akan sesakit ini walaupun aku menemukanmu dalam keadaan tanpa pakaian bersama pria lain karena aku percaya padamu, kau tidak mungkin mengkhianatiku. Tapi pria itu adalah mantan suamimu. Dia pria yang pernah kau cintai di masa lalu bahkan kau memiliki anak dengannya. Bagaimana aku tidak syok dan putus asa, Franda?"
__ADS_1
"Kau pernah mencintainya dan dia cinta pertamamu. Aku sama sekali tidak sanggup kalau harus bersaing dengannya apalagi melihatmu dan Ben menemuinya."
Sean menarikku kedalam pelukannya dan sedu sedannya tak terkendali. Aku menenangkannya dengan mengusap punggungnya. Lalu tiba-tiba aku tersentak saat dia mengangkatku naik ke gendongannya dan membawaku ke ranjang. Aku masih sesegukan dan tersenyum saat dia duduk di tepi ranjang sementara aku duduk di pangkuannya dengan kaki melingkar di pinggangnya.
Sean menatapku dengan mata birunya yang kini kembali cerah. Bibirnya melengkung dengan sebelah tangan merapikan anak rambut di wajahku sementara sebelah tangannya yang lain menahan tubuhku posesif. Aku memanggil namanya dengan serak, dan senyumnya berubah genit.
Dengan tatapan saling bertemu, aku mengusap dadanya yang terpampang perlahan. Lalu kedua tanganku menarik lepas kaus miliknya yang kugunakan. "Lihatlah, Sean. Lihatlah tubuhku yang bergairah. Kau pikir ini karena siapa?"
Tanganku naik meremas dadaku sementara sekujur tubuhku gemetar saat dia menangkup bokongku. "Ini karena dirimu, Sean." Pipi Sean memerah dan aku lega karena kegelisahannya mulai menguap. "Terus lihat diriku, Sean. Lihat tubuhku yang bergairah. Kau pikir ini untuk siapa?"
"Ini untukmu, Sean." kataku dengan mata yang mulai berkabut gairah menyaksikan dadanya yang berotot berdebar keras dan sepasang kakinya yang bergerak-gerak gelisah dibawahku. Dia menggeram. "Apakah kau tahu, Sean? Kau membuatku tidak bisa berhenti berpikir sedetik saja selain berpikir untuk mencapai pundak dengan tubuhmu yang keras dan penuh berada di dalam tubuhku. Dalam otakku hanya bisa mendengar suaramu, mencium aromamu, dan membayangkan gerak-gerik tubuhmu."
Aku memejamkan mata dan merasakan tubuhku semakin berdenyut. "Hanya dengan membayangkanmu tubuhku sudah terbakar, Sean." kataku kepadanya saat aku membuka mata kembali.
Dengan gerakan cepat, Sean berdiri dan menghempaskanku ke ranjang. Handuk yang melilit pinggangnya terlempar begitu saja saat dia menariknya dengan satu tangan. Napasku tercekat, mulutku penuh air, dan bagian tubuh diantara kedua pahaku semakin berdenyut ketika menatap gairahnya yang sudah sangat keras dan penuh.
__ADS_1
Dia menaikkan sebelah kakinya ke ranjang dan bertolak pinggang. "Kau tidak tahu betapa aku ingin selalu menyeretmu, Franda. Aku sudah ingin menawanmu semenjak kakimu yang lentik itu menginjak apartemenku. Kau tidak tahu betapa aku menggilai tubuhmu yang sehalus sutra itu." Sean meletakkan kedua tangan di pahanya, bergerak naik sampai menyentuh kejantanannya.
"Kau membuatku lapar setiap saat, Franda. Dan aku sangat kelaparan sekarang. Aku akan memakanmu, bahkan menelan habis tulang-tulangmu yang lembut itu."