Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Tante Lucy.


__ADS_3

Aku terbangun dengan perasaan gembira sekaligus haru saat mataku menatap Sean yang masih pulas di sampingku. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur di dalam hati atas kehadiran pria luar biasa itu di hidupku. Astaga... apa lagi kata yang pantas kuucapkan pada-Mu selain terimakasih, ya Tuhan?


Kondisi tubuhku yang sudah baik-baik saja membuatku lebih bersyukur lagi. Aku sudah bisa berjalan dan beraktifitas seperti sebelum aku mengalami kecelakaan meskipun masih merasakan ngilu saat aku berdiri terlalu lama, tetapi setidaknya aku bisa melangkah dengan baik dan sempurna. Dan semua itu tak lepas dari dukungan Sean dan keluargaku yang amat mencintaiku.


Dengan perlahan aku menggeser tubuhku ke tepi ranjang agar tidak mengganggu tidurnya yang lelap dan mungkin saja dia sedang bermimpi indah. Aku membiarkannya tidur lebih lama karena kemarin dia begadang untuk merampungkan beberapa pekerjaannya.


Baru saja aku akan melangkah, tiba-tiba dia memanggilku. Dan ketika aku berbalik, dia tersenyum manis padaku. "Mau kemana, sayang?" tanyanya dengan suara serak dan berat.


Mulutku melengkung lebar sementara aku kembali duduk diranjang. Mataku menatap wajahnya yang selalu terlihat tampan dan menggemaskan. "Mandi." lirihku. "Mau basah-basahan denganku?" Aku menggodanya dengan menyentuh dadaku sendiri yang masih terbungkus gaun malam tipis yang kukenakan.


Telingaku bisa menangkap geraman tertahan yang keluar dari mulutnya dan dengan kilat dia bangkit lalu mengangkat tubuhku. Sean menggendongku ke kamar mandi tanpa mengalihkan pendangannya dariku, dan perhatian sekecil itu selalu membuatku tersipu sekaligus bangga karena di cintai begitu dalam.

__ADS_1


Selama mandi kami membahas mengenai beberapa hal yang membutuhkan perhatian lebih. Mulai dari Mia, Ben, sampai pengembangan butikku yang rencananya akan masuk ke dalam lingkungan Warner Enterprise. Ya, akhirnya aku menyerah dan mau bergabung dengan perusahaan Sean karena dia terus mendesakku dan aku juga berpikir mungkin ini sudah waktunya melakukan sesuatu yang lebih besar untuk bisnisku.


Aku masih mendengarkan ucapan Sean tentang kerja sama kami sementara tangannya menggosok lembut punggungku. Sentuhan tangannya yang lembut nyaris membuat tertidur di bak mandi, namun tiba-tiba mataku terbuka saat sesuatu melintas di pikiranku... Tante Lucy!


Tanganku terjulur ke pundak untuk menghentikannya dan aku segera berbalik agar berhadapan dengannya. Sean mengerutkan dahi, heran dengan gerakanku yang tiba-tiba.


Tak mau membuatnya lebih penasaran. Aku membuka mulut dan berbicara. "Sean... bisakah kau melakukan sesuatu padaku?" Aku menatap mata birunya yang menyipit.


Aku menunduk. Berpikir sejenak apakah aku harus meminta bantuannya atau tidak mengingat dia memiliki pekerjaan yang menumpuk, aku khawatir Sean tidak bisa membantuku menemukan keberadaan Tante Lucy. Apa lagi aku tidak memiliki satupun hal yang bisa memudahkan pencarian selain nama keluarga.


Aku menarik napas lalu kembali mengangkat kepalaku. Dengan suara pelan aku pun berbicara. "Aku ingin mencari tahu keberadaan Tanteku." Alis Sean terangkat, kemudian mulutnya bersuara.

__ADS_1


"Tante? Kupikir kau tidak memiliki siapa-siapa selain Ibu, Mia, dan John." Sean menatap bingung padaku karena aku memang belum pernah memberitahunya tentang ini.


Aku menarik napas sekali lagi dan langsung mulai menjelaskan. "Tante Lucy. Namanya Tante Lucy. Dia adik kandung mamaku, dan saat itu menjabat sebagai wakil direktur perusahan papa. Tidak banyak yang bisa kuingat dari masa lalu. Bahkan foto kedua orangtuaku tak ada yang tersisa karena Ayah menyingkirkan semuanya untuk membantu mengurangi traumaku dulu."


"Aku ingin bertemu dengannya karena dia satu-satunya keluargaku yang tersisa, tapi aku tidak tahu bagaimana wajahnya dan juga tidak ada satupun foto dirinya yang tersisa sejak dia pergi tak lama setelah kematian kedua orangtuaku. Aku hanya tahu namanya. Kupikir hanya itu satu-satunya informasi yang bisa kuberikan."


Sean tersenyum. Dengan kedua tangannya yang penuh sabun dia menangkup pipiku. "Itu bukan sesuatu yang sulit, sayang." katanya dengan percaya diri. "Aku akan menemukannya, tapi aku tak bisa memastikan apakah dia masih hidup atau tidak. Beri aku waktu seminggu, pasti ada sesuatu yang bisa kita dapatkan, dan semoga kita bisa menemukannya dalam keadaan sehat."


***


Maaf update sedikit. Beberapa hari belakangan saya sedang sibuk dan mungkin sampai minggu depan akan jarang update. Saya sedang curi2 waktu untuk nulis disela-sela pekarjaan yang menggunung. So, sabar yaa...

__ADS_1


__ADS_2