Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Car conversation


__ADS_3

"Denise, apa kau sudah memeriksa sampel katalog bulan depan yang di kirim WE Fashion's?" Aku bertanya pada Denise dari ambang pintu ruanganku. Dia sedang sibuk menyusun ulang tumpukan kertas gambar yang menggunung di mejanya.


"Belum, tapi itu sudah masuk dalam daftar rencanaku besok. Aku akan melihatnya nanti malam." katanya tanpa menatapku. Kemudian dia berdiri dan meraih kertas baru dari meja di seberangnya. "Aku harus memeriksa laporan keuangan terlebih dahulu."


Aku mengangguk meskipun dia tidak melihatku. "Kirim laporannya kepadaku." Aku berbalik setelah Denise mengangkat ibu jarinya.


Aku baru saja duduk di kursiku dan pada saat yang bersamaan ponselku berbunyi. Aku melirik sekilas dan mendapati pesan masuk dari Sean.


From: Husband❤️: Apa kau sudah selesai, sayang?


To: Husband❤️: Sebentar lagi. Kau?


From: Husband❤️: Sudah. Aku akan menjemputmu.


To: Husband❤️: Okay, I'm waiting.


Aku meletakkan ponsel di atas meja dan buru-buru menyelesaikan pekerjaanku karena hari ini kami akan masuk ke rumah baru, yang kuharap akan menjadi tempat yang luar biasa untuk keluarga kami. Belakangan kehidupanku terasa sangat menyenangkan. Disamping perdebatan kecil yang muncul saat aku dan Sean membahas masalah anak-anak tentunya.


Tapi, masih ada satu hal lain yang mengganggu pikiranku. Ibu kandungku. Sekeras apapun keinginanku untuk melupakannya, aku tetap tidak bisa menyingkirkan semua hal tentang dia dari pikiranku. Ada saat-saat dimana aku merasa bersalah, apakah aku terlalu keras padanya? Apakah dia tidak berhak untuk dimaafkan? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu selalu terlintas di benakku.


Tapi kemudian ada jawaban bertentangan yang dengan cepat mematahkan semangatku. Aku masih belum bisa menerima alasannya berbuat sekejam itu padaku. Sungguh, aku sangat ingin melihat wajahnya seperti yang selalu kuharapkan selama ini, tapi setelah mengetahui kenyataan pahit tentang masa lalunya bersama ayah kandungku dan semua kebohongan yang dia lakukan, kurasa aku pantas marah.


Well, aku memang belum mengetahui cerita yang sebenarnya tapi apa yang kudengar hari itu kupikir sudah cukup jelas. Dia membunuh suaminya karena sudah berselingkuh, dan dia meninggalkanku. Itu poinnya.


Aku menarik napas beberapa kali, lalu melanjutkan pekerjaan yang masih menumpuk di mejaku. Aku harus menyelesaikan semuanya sebelum Sean datang. Lalu mendadak sesuatu melintas di kepalaku.


Dua minggu lagi adalah chrismast eve dan kami belum menyiapkan apa-apa untuk menyambut hari itu. Dan juga, tiga hari setelah natal adalah hari ulang tahun Sean! Oh, ya ampun... aku nyaris melupakannya. Tahun lalu kami sudah melewatkan dua hari spesial itu, there is no way kami akan melewatkannya lagi tahun ini. Momen itu harus dirayakan.


Aku memikirkan apa yang harus kuberikan sebagai hadiah ulang tahun tahun Sean. Dia sudah memiliki semuanya, memberikan barang sebagai hadiah ulang tahun rasanya akan percuma. Aku ingin memberikan sesuatu yang lain, tapi apa?


Setelah hampir satu jam berhadapan dengan kertas-kertas desain, akhirnya aku menyelesaikan semuanya, lalu dengan segera mengumpulkannya kembali dan menyerahkan kepada Denise. Kemudian aku langsung keluar dari gedung kantorku.

__ADS_1


"Hei, perfect timing." Sean menyapaku tepat saat aku membuka pintu. Dia terlihat tampan, ah... Sean memang selalu tampan.


Aku membalas senyumnya dan mencium pipinya sekilas. "Hm, kita memang sejiwa." balasku menggodanya, yang membuat senyumnya semakin melebar. Dengan sebelah tanganku yang melingkar di lengannya, dia menuntunku ke dalam mobil.


"Aku tidak percaya kau masih ingin bekerja, Franda." Sean menggerutu sambil menyetir. Pandangannya fokus pada jalanan di hadapannya.


Aku tertawa, tidak ingin menanggapi serius ocehannya. "Itu satu-satunya kegiatan yang membuatku bersemangat, Warner. Aku wanita mandiri, sudah seperti itu sejak dulu. Kau tidak bisa mengurungku di sangkar emasmu."


Kedua alisnya terangkat tinggi dan dia melirikku sekilas. "Sangkar emas, huh? Kita akan membahas itu nanti."


Sebagai informasi, kami sudah membahasnya berkali-kali. Tapi dia selalu saja berpura-pura lupa dan akhirnya membujukku lagi untuk berhenti bekerja. Dalam mimpimu, Sean! Aku tidak akan meninggalkan apa yang kusenangi. Seperti kata pepatah, pertahankan apa yang membuatmu bahagia. Dan bekerja membuatku bahagia.


"Hei, boleh aku bertanya sesuatu?" Mendadak dia terdengar serius.


"Sure. Tanyakan saja." balasku santai.


Sean tidak langsung berbicara, dia terdiam selama beberapa saat dan aku melihat alisnya berkerut seakan sedang memikirkan sesuatu. "Ini tentang mantan suamimu, apa kau sering berhubungan dengannya?"


"Jangan tersinggung, aku tahu isi kepala pria, Franda. Apalagi kalian pernah menikah untuk waktu yang lama."


"Sean, kau akan mengacaukan hari ini," ketusku. "Kumohon berhenti membahas masalah yang tidak penting."


Dia terkikik riang sementara aku menatapnya bingung. "Kau terlalu mudah terpancing, Franda. Kau tahu, wajahmu sangat menggemaskan saat marah, itu membuatku bersemangat." gumamnya sambil mengedipkan mata.


Aku menggelengkan kepala dan tersenyum menanggapi selera humornya yang aneh. "Kau membuatku ingin mengikatmu sekarang." cetusku dengan nada genit.


"Never again!" katanya dengan cepat. Aku tertawa menyaksikan wajahnya yang memerah. "Sial, kau membuatku ingin menggembungkan perutmu lagi." lanjutnya, mengikuti gaya bicaraku.


"Oh, Gosh... kau memerlukan rumah kayu dan pohon-pohon yang menjulang tinggi untuk itu." Mulutku melengkung lebar selagi aku bergurau merespon ucapannya.


"Sudah kubilang, kau hanya perlu membuka pakaianmu, Franda. Kemampuanku tidak akan tertinggal di rumah hutanmu."

__ADS_1


Aku tertawa lagi. "Kau benar-benar lucu, Sean. Apa kau ingat saat pertama kali aku menginap di apartemenmu?"


"Aku ingin menidurimu saat itu." balasnya cepat tanpa pikir panjang. Rautnya terlihat senang.


"Lalu, kenapa kau tidak melakukannya?" tanyaku menantang.


Dia mengangkat bahu. "Kurasa aku tidak ingin menyakitimu. Sebenarnya aku bisa saja memanfaatkan keadaan... maksudku, itu kesempatan besar, apalagi aku sudah menunggumu sangat lama. Necrofilia bukan gayaku, Franda."


Aku menantangnya lagi. "Tapi kau selalu meniduriku saat aku mabuk belakangan ini. Bukankah itu juga nekrofilia?"


Sean mendadak memutar kepalanya menghadapku sekilas, tampak tidak terima dengan kata-kataku. "Hei, kau yang menyerangku, ya!" geramnya dengan mata yang membuka lebar.


Aku tidak sanggup menahan tawaku menyaksikan wajahnya yang lagi-lagi memerah. Sebelum aku sempat mengatakan sesuatu menanggapi ucapannya, ponselku berdering dari dalam tas. Aku meraihnya dan langsung menjawab panggilan. "Hi, mom! Is everything okay? Kami hampir sampai." kataku pada ibuku, sementara Sean kembali fokus menyetir.


"Ya, Ben sedang bermain sementara Lily sedang tidur. Apa kalian bisa mampir untuk membeli pizza?"


"Sure. Ada lagi?"


"Burger and french Fries!" Suara riang Ben terdengar menyambar, membuatku dan Sean terkikik geli.


"Donuts and dark mocha!" Mia ikut berseru.


Aku memutar bola mata. "Kau bisa turun membelinya, Mia." sahutku ketus.


"Aku tidak bisa menemukan pintu keluar di rumah barumu. Kau harus membuat peta khusus, Panda." gumamnya beralasan.


"Hentikan omong kosongmu. Pizza, burger and donuts, itu saja?


"French fries dan dark mocha!" kata Sean menambahkan.


"Ah, ya, itu juga."

__ADS_1


__ADS_2