Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Painfully.


__ADS_3

Aku terbangun dari tidurku ketika mendengar suara berderit rel tirai jendela yang digeser terbuka dengan cepat. Seketika sinar matahari pagi yang terang benderang masuk menembus kaca jendela menimpa wajahku. Kuangkat sebelah tangan untuk melindungi mata dari cahayanya yang menyilaukan dan membuat kedua mataku berdenyut-denyut.


Aroma obat-obatan dan desinfektan yang tajam perlahan menusuk hidungku. Aku menggenggam tepian selimut yang menutupi separuh tubuhku, berusaha mengerjap beberapa kali untuk menghalau pikiranku yang berkabut.


"Selamat pagi,"


Aku menoleh dan mendapati seorang perawat wanita yang berpakaian hijau tengah berdiri di samping tirai jendela kamar tempatku berada. Dia berjalan melintasi ruangan, derap langkahnya menyuarakan bunyi ketukan halus di permukaan lantai sepanjang dia mendekat ke arahku.


Perawat wanita itu mengulurkan tangan untuk memeriksa selang infus yang menancap di tangan kiriku, lalu mengamati tetesan cairan dari dalam ampul kemudian menulis sesuatu dalam buku catatan yang dibawanya.


"Ini pertanda bagus, sepertinya anda sudah bisa pulang hari ini, ma'am." katanya ringan. Aku bisa menangkap nada senang dalam suaranya.


Tanpa bisa kucegah, pikiranku mulai berkelana. Memutar ulang semua kegiatan sebelum aku terbaring di tempat ini. Aku menelan ludah dengan susah payah ketika kesadaran perlahan-lahan mulai meresap ke dalam benakku. Sedikit demi sedikit, seperti kepingan puzzle yang disatukan, aku bisa mengingat hal terakhir yang kusaksikan pada berita malam itu, sebelum aku kehilangan kesadaran.


..."Para petugas menarik mobil itu dari dasar jurang, membebaskan mayat yang nyaris tak bisa dikenali dari dalam rangka mobilnya yang rusak parah."...


Waktu kudengar mereka nama pengemudinya, saat itulah aku merasakan duniaku jungkir balik, lalu semuanya menggelap.


"Apa kau baik-baik saja, ma'am?" suara perawat itu mengalihkan pikiranku.


Bukan diriku yang kukhawatirkan, kataku dalam hati.


Rasa nyeri tiba-tiba menghujam dadaku, membuat sekujur tubuhku menegang dan menggigil. Sakitnya tidak bisa kugambarkan lagi, sampai rasanya aku bisa mati detik itu juga. Sebagian dari otakku mencoba untuk menolaknya, berusaha berpikir bahwa mungkin ingatanku sedang kacau karena kondisiku saat ini.


Seperti yang sering dikatakan orang-orang, saat kau tidak dalam kondisi yang baik pikiranmu mungkin akan menciptakan kesadaran lain yang menyesatkan. Sebagai bentuk gambaran dari suatu hal yang paling kau takutkan.


"Ma'am, apa kau ingat apa yang terjadi?" suara perawat itu bergema di kepalaku, memantul seperti seolah aku sedang berada di terowongan. "Mereka bilang seseorang menemukanmu pingsan di restoran, kemudian membawamu ke rumah sakit."


Aku menggoyangkan kepala, berusaha mengusir bayangan-bayangan menyakitkan itu.


"Tidak?" gumam perawat itu lagi, salah mengartikan gerakan kepalaku. "Jangan khawatir, itu wajar, apalagi setelah berjam-jam tak sadarkan diri, tapi kau akan segera mengingatnya begitu obat yang baru kuberikan mulai bekerja."

__ADS_1


Hentikan. Kumohon, hentikan. Berhenti berbicara. Aku ingin berteriak padanya.


Bayangan-bayangan yang kulihat kini tampak semakin jelas dalam benakku. Aku memejamkan mata kuat-kuat.


"Kita akan menunggu dokter jaga pagi ini untuk memastikan kondisimu. Diagnosis awal tidak ada trauma atau cedera otak di kepalamu, dan itu sangat bagus." Aku mendengar dia menghela napas, kemudian kurasakan jemari tanganku diremas dengan lembut.


"Ini pasti berat untukmu. Aku mendengar beritanya di TV dan itu sangat mengerikan." Aku ingin menepis tangannya, menyuruhnya untuk berhenti bicara padaku, atau menghilang dari hadapanku, tapi aku terlalu lemah untuk melakukan apapun. "Aku turut berduka cita, tak bisa kubayangkan bagaimana perasaanmu saat ini. Rekanku bilang kecelakaan itu..." ucapannya terputus saat suara pintu ruangan bergeser membuka.


Aku membuka mata dan melihat ibuku dan Edward melangkah masuk ke dalam ruangan. Wajah keduanya tampak cemas dan letih. Mata ibuku melebar saat beradu pandang denganku, lalu dia bergegas menghampiriku.


"Dia baik-baik saja, hanya sedikit kebingungan." kata perawat itu, menjelaskan tanpa diminta. Dia melepaskan tanganku lalu mundur selangkah untuk memberi tempat agar ibuku bisa mendekat di sisi ranjang. "Aku harus memeriksa pasien lain, hubungi saja perawat jika... well, mungkin kalian memerlukan bantuan."


Aku memandangi punggungnya hingga perawat itu menghilang keluar kamar sebelum mengalihkan pandangan ke arah ibuku.


Dia membungkuk, mengusap kepalaku. "Apa yang kau rasakan?" Matanya mengamati wajahku lekat-lekat.


"Mom..." Aku mencoba berbicara dengan suara tercekat dan air mataku mulai menggenang.


Dengan cepat ibuku meraihku dan memeluk bahuku yang gemetar. "Tidak apa-apa. Kau tidak perlu mengatakan apapun, sweetie." Ada kesedihan dalam suaranya. "It's okay." Dia terus mengulangnya seperti mantra seraya menahan tangannya yang membungkus tubuhku. "Semuanya akan baik-baik saja."


Ibuku menatapku dengan pandangan putus asa, dia menggenggam tanganku lalu menggeleng lemah. Aku memutar kepala menoleh Edward. "Ed... kumohon, katakan kalau itu tidak benar. Dia tidak mungkin..."


Edward menunjukkan ekspresi yang sama dengan ibuku. "Aku benar-benar minta maaf, Panda. Dean baru saja menghubungiku, dan dia bilang jenazahnya sudah tiba disini, dan mereka sedang mengatur pemakamannya."


"Tidak, kumohon jangan..." Aku menangis, membenamkan wajah pada kedua telapak tanganku. Rasa sakit yang menghujam dadaku kini semakin parah, seakan ada seseorang yang menancapkan belati tepat di jantungku, lalu meninggalkan luka yang dalam begitu saja.


***


"Seberapa jauh kau bisa pergi?"


Aku menatap ke dalam mata birunya yang tidak lagi bercahaya, yang tengah memandangku tanpa emosi. Wajah tampannya terpahat sempurna, layaknya sebuah lukisan yang paling indah.

__ADS_1


"Apa kau tidak terganggu dengan itu? Karena itu menyiksaku."


Aku mengulurkan tangan ke seberang ranjangku, tempat dimana seharusnya wajahnya berada, tapi tanganku tidak menyentuh apapun. Hanya udara kosong yang ada disana. Jika aku sedang bermimpi, aku ingin bangun secepatnya. Dan wajahmu adalah pemandangan pertama yang ingin kulihat. Kumohon...


"Kumohon, Sean..." bisikku tercekat.


Sekujur tubuhku sakit karena kerinduan yang menyiksa. Butiran air mata mengalir turun dari kedua sudut mataku, membasahi bantal dan meninggalkan noda gelap yang menyebar dengan cepat pada permukaannya.


Suara ketukan pelan pada pintu kamarku membuatku mengernyit. Belakangan ini, suara sekecil apapun mampu membuatku tersentak.


"Kau sudah bangun, sweetie?" Kudengar ibuku berbicara dari ambang pintu, dari balik tubuhku. Aku menghirup napas yang tersendat oleh tangisanku sambil menghapus air mata dengan telapak tanganku.


Suara langkahnya berjalan semakin dekat ke arahku. "Dean ingin bertemu denganmu."


Aku merasakan dia mengusap pelan bahuku. Kubalikkan badan dan perlahan menatapnya.


"Kau mau bertemu dengannya?" tanyanya dengan hati-hati. "Atau mommy bisa mengatakan kalau kau sedang istirahat."


Aku menggeleng pelan, bertumpu pada kedua siku lalu mencoba untuk mengangkat tubuhku dan bersandar pada headbed. "Aku tidak apa-apa." kataku dengan suara gemetar.


Ibuku menatapku sedih, namun setelahnya dia tersenyum. "Baiklah." gumamnya, lalu meremas tanganku sekilas sebelum berjalan keluar dari kamarku.


Tidak lama kemudian, aku melihat Dean melangkah melintasi kamarku. Wajahnya diliputi kecemasan.


Dean duduk di tepi ranjang. "Hai, kakak ipar." Dia tersenyum prihatin seraya meraih tanganku ke dalam genggamannya. "Aku minta maaf karena baru sempat menemuimu sekarang. Franda..." Dia berhenti sejenak, tampak berusaha menyusun kata-kata yang tepat.


"Aku turut berduka dengan kejadian ini, kuharap aku bisa melakukan sesuatu untuk membuatmu merasa lebih baik, kau tahu... untuk mengatasi hal ini."


Aku menunjukkan kepala sejenak dan menarik napas panjang. "Dean, apa kau tahu apa yang biasanya dikatakan oleh orang-orang saat kita sedang berkabung?"


Dean menatap kedua mataku bergantian, wajahnya tampak terbebani dengan pertanyaanku. "Kau tidak akan selamanya bersedih, Franda."

__ADS_1


"Benar, itulah yang dikatakan orang-orang. Aku berkabung, lalu aku akan berusaha untuk melanjutkan hidup. Tapi jauh... jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu semuanya tidak akan pernah sama lagi."


"Dean, hal ini... aku tidak akan pernah bisa pulih dari sesuatu seperti ini. Aku hanya hanya perlu melewatinya, dan berharap mungkin suatu hari nanti itu tidak lagi terasa terlalu menyakitkan. Meskipun aku tahu perasaan itu tidak akan benar-benar hilang."


__ADS_2