
...Sean Danial Warner POV....
Dua malam berikutnya, bunyi dentuman musik yang membahana bergema memenuhi kepalaku. Aroma alkohol bercampur di udara, serta suara bising tawa dan seruan orang-orang yang memenuhi ruangan utama klub membuat kepalaku berdenyut-denyut.
Aku melirik jam besar yang tergantung di atas meja konter. Pukul delapan empat puluh. Itu berarti sudah hampir dua jam aku berada di tempat ini dan belum mendapatkan sesuatu yang berarti. Aku mendesah frustasi dalam hati dan melirik gadis berkulit eksotis dengan catsuit mini yang duduk di sebelahku, dan kini tengah bergelayut di lenganku.
Paula Eddie.
Dia tidak banyak berubah. Caranya bergerak, berbicara, dan menatap orang lain seakan dirinya adalah seorang diva. Aku mengenyahkan semua pemikiran selain rencana yang sudah kubuat di kepalaku. Sudah cukup buruk bagiku seharian ini menghindari Franda dengan berbagai macam alasan gara-gara fokus pada masalah ini. Jadi, semakin cepat semuanya selesai maka semakin baik.
Erick mengatakan aku hanya perlu mencari tahu apa yang dilakukan oleh Paula dan Syaiful disini, dan siapa saja orang yang akan ditemuinya. Menurutnya cara ini lebih efektif dari pada main kucing-kucingan dengan Syaiful dan juga ini berpotensi menurunkan kewaspadaannya. Dia tidak akan menaruh curiga kalau aku bekerja sama dengan interpol, semoga saja.
Tapi yang dikatakan Paula sedari tadi hanyalah daftar mobil barunya, koleksi tas, atau liburannya ke Maladewa. Aku tidak tahan lagi. Aku sudah hendak beranjak dari sofa ketika tiba-tiba Zee-zee, teman Paula, yang duduk di seberangku mencondongkan tubuhnya ke arahku. "Sean, arah jam dua, dia sedang memelototimu." serunya padaku mengatasi suara musik yang membahana.
Aku menggerakkan kepala mengikuti arah pandangannya dan melihat Franda, berdiri di depan pintu masuk ruangan klub. Wajahnya sangat emosional dan matanya tampak berkaca-kaca saat menatapku. Sial!
Tak mau membuang waktu sedetikpun, aku melompat dan mengejar Franda yang berjalan keluar dari ruangan klub. Dia kelihatan sangat marah. Bagaimanapun dia punya alasan untuk bersikap begitu. Ada banyak hal yang kusembunyikan akhir-akhir ini dan semuanya hanya masalah waktu sampai dia mengetahuinya.
Franda menghentikan langkahnya di koridor sepi yang dekat dengan lobby. Dia melipat kedua tangannya di depan dada. Raut wajahnya tampak gusar dan dia bahkan tak mau memandangku. Aku bisa bayangkan dia pasti syok melihat Paula menempel seperti itu padaku. Terutama karena tempo hari aku sempat meyakinkannya dengan mengatakan bahwa semua baik-baik saja ketika dia bertanya.
Aku merahasiakan ini darinya karena tak ingin membuatnya cemas. Tapi sekarang setelah dia menangkap basah aku tengah bersama seorang gadis di klub, dia pasti merasa aku membohonginya.
"Kukira kau masih berada di kantor, Sayang. Tapi melihatmu disini sekarang, kau pasti benar-benar merindukanku."
Aku mengatakan hal pertama yang terlintas di otakku begitu saja. Aku tahu dalam situasi seperti ini kalimatku barusan akan terdengar mengolok-olok, tapi saat ini aku sedang tak bisa memikirkan hal yang tepat untuk diucapkan kepadanya.
"Berhenti bermain-main denganku, Sean." hardiknya. "Kenapa kau tidak mengangkat teleponmu? Aku menghubungimu berkali-kali dan ketakutan setengah mati karena Selena mengatakan kau tidak berada dikantor seharian ini." Dia terlihat sangat emosional.
Aku mendesah dalam hati. Ada banyak hal yang kusembunyikan darinya selain soal pekerjaan dan masalah keluarga. Segala hal yang berkaitan dengan interpol dan juga Dave. Singkatnya, hidupku akhir-akhir ini kacau sekali. Benar-benar berantakan dan aku sedang berusaha membuatnya kembali di jalur yang semestinya.
__ADS_1
Dan hal terakhir yang tidak kuinginkan adalah Franda terlibat dalam semua kekacauan ini. Aku hanya ingin dia merasa aman. Tapi apakah dengan membuatnya tidak tahu apa-apa sungguh dapat melindunginya? Bahkan saat ini aku tak punya alasan apapun untuk menenangkannya.
Aku tahu seharusnya aku minta maaf saja dan menjelaskan semuanya, tapi sebaliknya aku malah berucap. "Inilah kenapa aku tidak pernah bilang padamu, Franda. Karena kau pasti akan bersikap dramatis begini. Dan aku tidak memberitahumu karena hal itu tak ada gunanya. Tidak ada yang bisa kau lakukan untukku sekalipun kau tahu, Franda. Jadi, tinggalkan saja masalah ini, oke?"
Kenapa aku harus bicara begitu padanya? Rasa ngeri dan hawa dingin merayapi tulang belakangku saat kulihat wajah Franda berubah pucat pasi, seolah ada seseorang yang baru saja menamparnya. Kemudian aku menyadari bahwa kata-kataku telah melukainya ketika kulihat kedua mata cokelat-nya yang indah mulai digenangi air mata.
"Franda... maaf, aku tidak bermaksud," Kucoba mendekatinya tapi dia langsung melangkah mundur menjauhiku, jadi aku berhenti dan menahan diri.
"Kau tahu, Sean? Aku merasa sangat cemas saat kau tiba-tiba menghilang, dan setelah bertemu Selena aku tak bisa berhenti memikirkan bahwa mungkin telah terjadi hal yang buruk padamu. Aku mencarimu seperti orang gila karena kau tak bisa dihubungi." Dia menggoyangkan kepalanya tak percaya.
"Tapi aku menemukanmu disini. Di klub malam. Minum bersama teman-temanmu. Dan juga wanitamu." Dia menghujamkan setiap katanya seperti belati, tepat di hatiku.
Bagaimana bisa dia berpikir aku sengaja menghindarinya dan pergi bersenang-senang dengan orang lain?
"Aku benar-benar peduli padamu, Sean. Tapi sepertinya cuma salah satu di antara kita yang merasakannya."
Dengan kasar dia menghapus air mata yang menuruni sisi wajahnya, lalu berjalan melewatiku. Aku menyambar pergelangan tangannya bermaksud menahannya pergi, tapi dengan segera dia menariknya dariku. "Kau benar, Sean." ujarnya tercekat. "Mungkin kau memang tidak pernah membutuhkanku. Kembali saja pada teman-temanmu."
***
Aku mengecek ponselku lagi dan masih tak ada apapun. Ini sudah lewat jam sepuluh, dan dia masih berada di kantornya. Harusnya Denise mengabariku jika memang dia berhasil membujuknya.
Aku menghembuskan napas panjang seraya menyandarkan punggungku ke sandaran kursi mobil, lalu memejamkan mata. Tak bisa dipercaya aku sampai harus meminta bantuan pada Denise untuk menemui istriku sendiri. Tapi Franda tidak memberiku pilihan lain.
Dia sepenuhnya menghindariku selama beberapa hari setelahnya. Dikantor, atau saat aku mendatangi rumah Ed. Dia sama sekali tak mau bicara padaku. Ini pertama kalinya dia bersikap amat keras dalam menghadapi pertengkaran kami hingga membuatku merasa seperti pecundang yang putus asa.
Sekeras apapun aku berusaha, Franda tetap bertahan dengan sikapnya yang lebih keras. Saat aku memaksa menemuinya di pagi hari di rumah Ed, aku memaksa meminta dia membuatkan kopi untukku. Well, dia memang membuatnya, tapi kedua mata cokelat-nya menatapku dingin, seolah mengatakan, "Minum itu dan enyahlah dari sini."
Jadi aku menangkap isyaratnya. Kadang para wanita memang perlu dibiarkan sendiri hingga mereka benar-benar melupakan kemarahannya. Itulah yang kupikirkan hingga sekarang. Apapun yang terjadi, malam ini aku harus menemuinya. Dia perlu mendengar apa yang akan kusampaikan padanya.
__ADS_1
Bunyi getaran ponselku mengalihkan pikiranku. Aku mengerang saat melihat nomor yang tertera di layarnya.
"Kabar buruk," Suara Rudi terdengar dari seberang begitu aku menjawab telepon.
"Bisakah kau menghubungiku lain waktu? Ini bukan saat yang tepat."
"Ini tentang Dave."
Aku terlonjak, dan menegakkan tubuhku. "Kalian sudah menangkapnya?"
"Kami menemukannya, tapi dia bersama mereka. Itulah sebabnya Dave berhenti menghubungimu lagi."
Aku mengerutkan kening. "Aku tidak mengerti. Ini kan berita bagus, kalian sendiri bilang dia salah satu saksi kunci dari operasi ini."
"Benar, tapi kabar buruknya adalah Syaiful kini tahu kalau kau terlibat dalam masalah ini."
"Tunggu, jadi memang benar Syaiful adalah orang yang kalian cari?"
"Ya, itu sebabnya kita perlu..."
Aku tidak mendengarkan sisa kalimatnya saat tiba-tiba sorot lampu mobil yang menyilaukan datang dari arah seberang jalan menimpa wajahku. Mobil Denise.
"Dengar, Rud... aku benar-benar harus pergi, akan kuhubungi kau nanti." Aku menutup telepon tanpa menunggu jawabannya.
Ternyata ada pesan masuk di ponselku sejak beberapa saat lalu, dari Denise. Aku membukanya.
..."Aku akan berjalan bersama Franda ke dalam taman, dan kami akan duduk di kursi yang ada di dekat air mancur. Lalu aku akan meninggalkan kalian berdua supaya kau bisa bicara dengannya."...
Aku tersenyum lalu mengetik balasanku.
__ADS_1
..."Sempurna."...