
Telingaku samar-samar menangkap suara orang berbicara. Perlahan suara itu semakin jelas terdengar. Dan ketika aku berhasil membuka mata, hal pertama yang kulihat adalah sesuatu yang putih dan buram. Aku belum tahu apa yang terjadi sampai aku merasakan sakit di sekujur tubuhku saar aku berusaha bergerak. Mulutku menggeram menahan sakit yang teramat sangat terutama pada bagian perut dan kakiku.
Pelan-pelan aku mengingat kejadian terakhir sebelum aku tertidur dan seketika mataku melebar. Aku berusaha memutar kepala untuk melihat siapa yang sedang berbicara namun sesuatu menahan leherku, dan aku kembali merasakan sakit ketika memaksa mengangkat kepalaku.
Aku berdeham pelan dan beberapa detik kemudian aku melihat wajah Sean yang kusut. Rambutnya berantakan dan kemeja putih yang di kenakannya tak terkancing sempurna. Matanya yang selalu teduh dan menenangkan kini berubah gelap dengan genangan air disana. Sean menangis. Suamiku sedang menangis. Dan aku ikut menangis mendapati dirinya yang terlihat begitu hancur.
Dia menggenggam tanganku dan menciumi punggung tanganku beberapa kali sambil matanya menatap dalam ke mataku. Untuk beberapa saat kami tidak berbicara, hanya beradu pandang dengan pikiran yang kalut.
Dengan susah payah aku berusaha mengangkat tanganku untuk menyentuh wajahnya lalu membuka mulutku. "The baby?" tanyaku dengan berbisik. Dia tertunduk lesu dan tak menjawab. Air matanya jatuh sementara tangannya meremas tanganku lebih kuat. Aku menolak percaya pada reaksinya yang jelas-jelas sudah kupahami. Kini mataku berpaling pada perutku sementara tanganku juga ikut mendarat disana. Aku terpejam dan menarik napas dalam.
"Sean... how was the baby?" kataku mengulangi.
Seketika jantungku terasa berhenti berdetak saat dia menggeleng. Tubuhku melemas, tulang-tulangku seakan baru saja di istirahatkan. Aku di hempas oleh kesadaran akan kebodohanku. Aku menangis sembari mengutuk diriku sendiri karena sudah menghancurkan impiannya. "Maafkan aku."
Hanya dua kata itu yang keluar dari mulutku. Duniaku runtuh detik itu juga. Hatiku benar-benar remuk. Aku sudah membayangkan betapa menyenangkan kehidupanku nanti dengan kehadiran anakku bersama Sean, dan kini aku jatuh tersungkur pada impian yang kurusak sendiri.
Sekarang, aku tidak tahu harus melakukan apa. Sean terlihat begitu terpukul. Aku bisa merasakan jiwanya yang terguncang meskipun dia berusaha tersenyum padaku. Matanya yang menggelap membuktikan bahwa saat ini Sean sedang menahan diri agar tidak marah padaku. Entah apa yang akan dilakukannya jika aku tidak terbaring dengan keadaan yang mengenaskan seperti sekarang.
__ADS_1
Sean memegang tanganku yang berada di perut lalu menatapku. Masih dengan senyum yang tersimpul di bibirnya yang gemetar, dia berbicara. "Tidak apa-apa, sayang. Kita bisa mendapatkannya lagi nanti." gumamnya lembut membuatku semakin merasa bersalah karena telah menyakiti hatinya yang tulus.
Air mataku terus mengalir meskipun tak ada suara yang keluar dari mulutku. Kenyataan pahit sedang menerpa kehidupanku yang baru saja terasa indah kemarin. Setelah kehilangan bayi di dalam kandunganku, kini aku juga harus berjuang menyembuhkan tulang-tulangku yang patah. Rasanya aku tidak sanggup menjalani kehidupan yang pasti akan membuatku gila. Apalagi harus menerima tatapan iba dari setiap orang yang memandangku. Aku sungguh-sungguh benci dengan diriku sendiri.
Aku memikirkan bagaimana Sean akan menganggapku setelah ini. Ketakutanku semakin menjadi saat ingatanku berputar tentang gadis cantik yang keluar dari ruang kerjanya. Aku takut dia akan berpaling dan meninggalkanku. Aku tidak siap jika harus kehilangan pria sebaik Sean. Tidak akan pernah siap.
***
Ketakutan dan kesedihan terus menggerogoti kepalaku sampai akhirnya tanpa kusadari sikapku mulai berubah pada semua orang. Aku memusuhi siapapun karena tak sanggup menghadapi diriku sendiri. Hanya anakku dan Sean yang kuijinkan berada di sampingku sampai hari ini. Aku menolak, Ibu, Mia, dan Edward meskipun berkali-kali mereka berusaha menghiburku sejak hari pertama aku terbangun di rumah sakit sebulan lalu.
Sean masih setia menemaniku, tidak beranjak dari sisiku sekalipun sikapku berubah padanya. Dia tetap menemaniku, dan bahkan dia dengan segenap hatinya yang penuh cinta membantu mengurus diriku. Membuatku semakin membenci diriku yang menyedihkan karena hanya menjadi beban untuknya. Sean bahkan tidak peduli dengan urusan perusahaannya, dia tidak pernah meninggalkanku sedetikpun. Dan sekarang, dia sedang menyuapiku yang setengah terbaring di ranjang.
"Sudah puas memandangku?" dengkurnya genit, menggodaku dengan tatapan matanya yang biru.
Aku terdiam sejenak sementara berperang melawan diriku sendiri yang ingin sekali menghambur ke pelukannya. Menikmati aroma tubuhnya yang menenangkan sembari tanganku mengusap dadanya yang berdebar keras.
Setelah menghabiskan makanan di mulutku, aku mengeluarkan suara untuk pertama kalinya setelah bungkam selama sebulan ini. "Kenapa kau masih berada disini?" tanyaku dengan suara bergetar sementara pandanganku menatap jauh keluar melalui dinding kaca.
__ADS_1
Terasa seperti ada jarum yang menusuk hatiku ketika aku mengucapkannya. Beberapa waktu ini aku menyadari keadaanku tidak akan membaik dalam waktu dekat. Kecelakaan yang kualami mengakibatkan beberapa tulangku remuk. Tulang betis di kaki kiri, tulang tempurung lutut, tulang hasta di tangan kanan dan tulang leherku. Aku sudah seperti mayat hidup, otakku bekerja tetapi tubuhku mati. Tidak ada yang lebih menyiksa daripada ketidakberdayaan.
Aku tersentak saat sebelah tangan Sean menggenggam tanganku sementara sebelah tangannya yang lain mengusap pipiku dan seketika itu tubuhku gemetar, lantas aku langsung menarik mundur kepalaku. Aku tidak mau dia mengetahui aku merindukan sentuhannya. Aku ingin dia berhenti menggodaku.
Sean tidak menyerah. Sekarang dia menurunkan wajahnya tepat didepan wajahku. Matanya yang sebiru lautan menatapku hangat sekaligus dalam. Entah kenapa aku tidak menyukai ini, Sean sangat tahu kelemahanku. Dia bagai pawang yang selalu siap kapanpun untuk mengendalikanku. Satu tatapan dari mata ditambah senyumnya yang manis, aku pasti akan luluh.
Tapi tidak untuk kali ini. Aku belum bisa memaafkan diriku sendiri sekaligus menerima kenyataan bahwa kehidupanku sudah berubah seiring ketakutanku yang bertambah setiap saat.
"Franda," lirihnya dengan nada penuh tekanan. "Aku mencintaimu. Takkan kubiarkan kau menderita dan menangis sendiri. Aku sudah mengatakannya berkali-kali, bahwa aku akan selalu menemanimu. Aku tidak marah padamu, sayang. Sama sekali tidak." sambungnya lagi.
Aku masih diam dan menyimak ucapannya. "Jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi. Itu sama sekali bukan salahmu, kau tidak memiliki kuasa untuk menolak takdir. Sekeras apapun kau menghindar, kau akan tetap mengalaminya. Kita akan tetap kehilangan."
"Sayang, kumohon... berhenti bersikap seolah hanya kau yang menderita karena aku pun sama tersiksanya saat harus melihatmu seperti ini. Kembalikan istriku, Franda... Kembalikan mommy Ben yang selalu kuat. Kembalikan wanita yang selalu bergairah untuk menggodaku. Aku tidak membutuhkan siapapun selain dirimu."
"Aku tak akan pergi kemanapun sampai kau mengatakan dengan berterus terang bahwa jiwaku adalah tujuan jiwamu, sampai kau melupakan kesedihan yang terpendam di hatimu. Karena sesungguhnya kemurnian isi hatimu tidak akan dapat kau bohongi. Kau sangat mencintaiku, sayang."
Aku menangis. Lagi-lagi ucapannya menamparku.
__ADS_1
Memang sedalam itu cintanya padaku dan aku padanya, dan kami berdua menyadari itu. Cinta kami penuh dengan kedamaian seperti damainya alam. Dia tak pernah memiliki alasan untuk menyesuaikan diri denganku, tidak pula memberikan pilihan untukku. Dia hanya melihat kenyataan seperti alam. Dia nyata dan aku juga nyata, dua kekuatan yang saling mencintai. Seharusnya itu cukup untuk membuatku tenang dan bangkit dari keterpurukan. Tapi, entah kenapa rasanya sulit sekali menerima semua yang telah terjadi.
Cinta membuatku dekat dengannya, namun kecemasan membuatku menjauhkan dirinya dariku. Seharusnya aku berhati-hati sebab yang kutahu kebimbangan di dalam cinta adalah dosa. Dan sekarang aku sedang terjebak di dalamnya.