
...Sean Danial Warner POV....
Aku buru-buru berdiri saat melihat seorang dokter wanita yang menangani Franda keluar dari ruang operasi, dia berjalan beberapa langkah menghampiri kami sembari membuka maskernya. "Bagaimana, dokter? Apakah istri dan anakku baik-baik saja? Tidak ada masalah, bukan?"
"Istri anda masih belum akan sadar selama beberapa waktu sebelum pengaruh obat biusnya hilang, sir, sementara bayi anda sudah lahir, perempuan dan sangat cantik. Tapi, karena usia kelahirannya lebih cepat dari pada yang kita harapkan, kami harus memantau perkembangan organ vitalnya untuk melihat apakah ada komplikasi lanjutan atau tidak. Dan ya, aku yakin mereka akan baik-baik saja."
Aku menghembuskan napas lega, satu beban berat baru saja perangkat dari pundakku. "Berapa lama lagi sampai istriku sadar?"
"Aku tidak bisa memastikannya, efek obat bius bisa berbeda pada setiap orang. Kita harus menunggu."
Kuhembuskan lagi napas panjang sambil menyusurkan telapak tangan mengusap kedua mataku yang berdenyut-denyut. "Bisakah aku melihat istriku sekarang?"
Dokter itu tersenyum dan mengangguk padaku. "Tentu, setelah dia selesai di pindahkan ke kamar perawatannya. Aku harus pergi sekarang, perawat akan memberitahu kalau istri anda sudah bisa dijenguk. Dan kuharap dia akan segera sadar." Dia menepuk sekilas lenganku lalu tersenyum sekali lagi untuk menyemangati sebelum melangkah pergi.
Aku menghempaskan diri ke kursi ruang tunggu, memejamkan mata sambil menyandarkan kepala pada kedua telapak tanganku. Kemudian suara seseorang berbicara membuatku tersentak. Aku tidak menyadari bahwa keluarga Franda masih berada disini sejak tadi.
Pikiranku yang kacau membuatku nyaris melupakan semuanya, aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku melihat mereka, padahal sudah hampir dua jam kami berkumpul di tempat ini.
"Tenanglah, dia akan baik-baik saja." kata ibu mertuaku padaku. Dia menepuk-nepuk lenganku dengan lembut.
Aku memiringkan kepala menatapnya, dan tersenyum. Merasa bersyukur karena dia begitu kuat dan tegar. "Ini terbalik, mom. Harusnya aku yang menguatkanmu." selorohku, dan dia tersenyum.
Sebelah tangannya terangkat untuk mengusap sisa air mata di pipinya. "Panda bukan wanita biasa, aku yang sudah merawatnya sejak kecil dan aku tahu sekuat apa putriku yang satu itu." katanya dengan suara bergetar, menahan tangis. "Dia bukan orang mudah menyerah, tekadnya sangat keras terutama jika dia merasa benar. Kau sudah pernah mengalaminya, bukan?"
__ADS_1
Aku menganggukkan kepala, lalu ibu mertuaku melanjutkan perkataannya. "Aku menyanginya lebih dari anak-anakku sendiri dan aku sangat mengenalnya. Satu hal yang perlu kusampaikan padamu adalah, jika saat sadar nanti dia tidak ingin berbicara, maka ikuti kemauannya. Jangan mengatakan apapun sampai dia bersedia mengeluarkan suara."
Aku mengangguk lagi, tidak bisa menemukan kalimat untuk kuucapkan. Aku terlalu lemah untuk melakukan apapun, bahkan untuk berpikir pun rasanya aku tidak sanggup.
"Ini salahku, mom." Tiba-tiba kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.
"Jangan berbicara seperti itu, kau bahkan tidak tahu bahwa Panda akan datang." gumam ibu mertuaku lembut.
Aku menoleh ibu kandung Franda yang masih terisak. "Itu tidak mengubah kenyataan bahwa Franda mengalami ini karena aku memaksa wanita itu untuk datang." kataku sambil menunjuk dengan dagu.
Ibu mertuaku menggeleng. "Kita yang ingin dia bertemu dengan Panda. Jangan menyalahkan dirimu." Ibu mertuaku berusaha membantahku, tapi kalimatnya sama sekali tidak bisa membenarkan apapun.
"Mr. Warner?" Seorang perawat wanita muncul dari koridor yang mengarah ke ruang perawatan memanggilku. "Pasien bisa menerima kunjungan selama dua pulu menit ke depan sebelum kami kembali untuk memeriksanya."
Aku mengangguk padanya, lalu menoleh ibu mertuaku. "Ayo, mom. Kita harus melihatnya."
Perlahan aku dan ibu mertuaku masuk ke dalam ruang perawatan Franda, sementara Edward menemani ibu kandung Franda di luar. Bau obat-obatan yang familiar menyergap hidungku seketika pintu terbuka.
Aku berjalan mendekati ranjangnya. Entah untuk keberapa kalinya dalam hari ini, aku merasa jantungku terlempar keluar dari tubuhku dan secepat kilat dikembalikan lagi, dan tenggorokanku tercekat ketika melihatnya terbaring disana. Matanya terpejam rapat, tapi keningnya berkerut seolah dia sedang mengalami mimpi buruk dalam tidurnya.
Wajahnya begitu pucat, bibirnya kering, selang infus tertancap di tangan kirinya, dan aku menyadari perutnya yang agak mengecil. Membuatku teringat pada anakku. Aku akan melihatnya setelah ini.
Aku mencoba mengendalikan diri saat melangkah lebih dekat hingga ke sisinya, kemudian membungkuk dan mencium keningnya. "Maafkan aku, Franda. Aku benar-benar minta maaf." bisikku sebelum menarik wajahku darinya.
__ADS_1
Ibu mertuaku melakukan hal yang sama dari sisi ranjang yang lain, dia mencium kening Franda dan mengusap air matanya yang menetes disana. "Maafkan mommy, sweetie. Mommy menyayangimu." Dia berbicara dengan nada pelan yang penuh dengan penyesalan, seakan dia baru saja melakukan satu kesalahan terbesar yang pernah dia lakukan.
Untuk beberapa saat kami hanya diam memandangi Franda yang terbaring tak berdaya. Aku menempelkan telapak tangannya ke pipiku, merasakan kehangatannya di wajahku. Kemudian suara ibu mertuaku terdengar memecah keheningan.
"Kejadian ini," katanya memulai. "persis seperti saat pertama kali mommy melihatnya, sehari setelah kematian kedua orang tuanya. Saat itu dia terbaring dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. Tidak ada suara dari mulutnya. Dan ketika mommy menatap matanya... kau tahu? Mommy tidak bisa melihat apapun selain kepedihan."
"Dia masih terlalu kecil, umurnya baru empat tahun, tapi dia sudah disuguhkan kenyataan sepahit itu." ibu mertuaku terisak, sebelah tangannya naik mengusap air matanya sementara sebelah tangannya yang lain mengusap kepala Franda.
"Tidak ada seorangpun yang sanggup merasakan bagaimana sakitnya menjadi Panda, bahkan mommy sendiri tidak bisa, Sean. Dia ketakutan setengah mati, nyaris tiap malam mengalami mimpi buruk, lalu dia akan terbangun dan menangis selama berjam-jam. Dia tidak berani menutup mata hingga matahari benar-benar tinggi."
"Itu terjadi, Sean. Panda mengalami semua hari-hari menyakitkan itu, dan yang lebih memilukan adalah, kami ada bersamanya tapi tidak bisa melakukan apapun untuk menolongnya."
"Aku yakin masa-masa itu sangat berat untuk kalian. Aku tidak bisa membayangkan rasanya menjadi kalian, mom." ucapku seraya menggambarkan hari itu di kepalaku, dan aku bergidik ngeri.
Menghadapi emosi Franda yang sulit ditebak saja sudah membuatku nyaris putus asa, bagaimana jika aku di haruskan melakukan seperti yang dilakukan oleh keluarganya. Setiap hari berhadapan dengan masalah yang sama selama bertahun-tahun kemudian.
"Well, itulah keluarga." sahut ibu mertuaku. "Tidak peduli apapun kondisinya, kami semua menyayanginya. Lebih dari siapapun, lebih dari apapun."
"Apakah dia akan memaafkan ku setelah ini, mom?" Aku bertanya sambil memandangi wajah Franda dan menciumi punggung tangannya.
Ibu mertuaku mengangguk, tatapannya juga tertuju pada Franda. "Panda tidak akan bisa berlama-lama marah padamu. Itu sudah menjadi salah satu rahasia umum, Panda selalu bersungguh-sungguh ketika dia memilih seseorang. Kau sudah tahu bagaimana dia bertahan dengan Nino dulu. Kepercayaan yang dia berikan kepadanya tidak pernah setengah-setengah, Sean. Dan hal itu juga berlaku untukmu sekarang." Aku mengangguk paham mendengar perkataan ibu mertuaku, bisa kutangkap sorot mengancam dari matanya saat aku menatapnya sekilas.
Aku tersenyum padanya. "Aku mencintainya, mom. Aku tidak akan pernah meninggalkannya." balasku bersungguh-sungguh. Memang tidak pernah terlintas di kepalaku untuk meninggalkan Franda sedetikpun sejak dia menerimaku.
__ADS_1
Aku tidak mungkin sanggup berpisah dengan wanita seperti dia. Hanya Franda satu-satunya wanita yang bisa membuatku tergila-gila, tidak hanya karena parasnya yang cantik, tapi juga hatinya yang lembut dan tingkah lakunya yang mengagumkan.
Franda-ku yang malang.