
Nino terdiam mendengar kata-kata Franda. Ia tidak tahu harus mengatakan apa, kesalahannya sangat besar kali ini. Diawal pernikahan mereka berjanji tidak boleh ada pengkhiatan diantara mereka berdua, dan kini Ia melakukannya. Nino sangat menyesali perbuatannya sekarang.
"Sayang, aku tidak tahu. Tolong maafkan aku, Sayang. Aku tidak mencintai Jenny, dia hanya teman bagiku." Kata Nino.
"Well, teman berbagi ranjang, berbagi pekerjaan, berbagi kasih, kau juga memberikan apartment, mobil, bahkan rumah untuk orangtuanya. Hahaha, kau hebat sekali!" Franda berhenti sebentar, lalu melanjutkan.
"Aku mungkin bisa memaafkanmu jika kau hanya memberikan hartamu padanya, tapi kau bahkan memberikan tubuhmu yang harusnya hanya kau berikan padaku. Aku bisa memaafkan yang lain karena aku juga bisa mendapatkannya tanpa meminta padamu, Nino. Aku bisa membeli apapun yang ku inginkan, tapi kau memberinya sesuatu yang paling berharga untuku. Kau menghiburnya dengan tubuhmu, lalu kau pulang dan memberiku sisanya. Huh! So funny!" Franda kemudian tertawa sambil menghapus air matanya.
"Sayang, bukan begitu..." kata Nino yang kemudian terdiam lagi saat Franda memotongnya.
"Bukan begitu apanya?! Itu yang aku lihat dan rasakan. Bahkan kau masih ingin menyangkalnya setelah aku melihatmu disana dengan j'alangmu yang setengah tel*njang itu? Seriously? Oh, I'm such an idiot now!" kata Franda.
"Sayang, tolong maafkan aku. Aku sangat sadar akan kesalahanku. Please, Sayang?" kata Nino, kini Ia mendekati Franda, berusaha memegang tangan istrinya, yang kemudian ditepis oleh Franda.
"Don't touch me!" Franda menolak. Ia sangat jijik melihat suaminya sekarang.
"Sayang..." Nino kembali berusaha, meskipun Ia tahu akan sia-sia.
"Ok, kita akan melihat apakah aku harus memaafkanmu atau tidak..." Franda berhenti sejenak, Ia berjalan ke ranjang dan duduk disana, memejamkan mata sebentar kemudian melanjutkan.
"Apakah kau bercerita padanya tentang hasil tes palsumu itu?" Franda berkata sambil menatap Nino yang terlihat sangat terkejut.
__ADS_1
"A... Apa maksudmu, Sayang?" tanya Nino terbata-bata. Dadanya terasa sesak saat mendengar pertanyaan istrinya. Nino tidak menyadari bahwa Franda sudah mengetahui hasil tes itu.
"Jangan berpura-pura bodoh atau menganggapku orang bodoh! Aku mengetahui semuanya tentang suamiku, kau lupa aku siapa? Aku istrimu, Nino! I'm your f*ckin wife! So, please... Stop playing with this thing!" Franda menjawab dengan suara yang menggetarkan setiap sudut kamar mereka.
"Sekarang jawab aku! Did you tell her?" Franda mengulangi.
"Yes." kata Nino lirih, lebih kepada berbisik daripada bicara.
"See? How can I forgive you now? You tell her! You f*ucking tell her! You choose her over me! You don't need an apologize, all you need is that b*tch! Kau tidak membutuhkanku lagi." katanya. Franda kini tertunduk lemas. Ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa.
Hatinya sangat sakit sekarang. Franda merasa seperti Nino mendorongnya kejurang dan hancur berkeping-keping. Ia berharap Nino tidak memberitahu tentang hasil tes itu kepada siapapun selain Mama Rossa yang Franda yakini berubah karena Nino mengatakannya pada Mamanya. Namun Ia benar-benar kehilangan kepercayaannya sekarang, dibohongi tentang hasil tes palsu, lalu diselingkuhi, ternyata tidak cukup untuknya, bahkan suaminya sudah memberitahu selingkuhannya tentang hal yang harus dijaganya, karena bagaimanapun itu adalah aib suaminya.
Harusnya Franda lebih berhak tau mengenai hal itu, dan Nino memilih menceritakannya pada orang asing tanpa berniat akan memberitahu Franda. Ia sangat tidak percaya pada apa yang dialaminya saat ini.
"Lalu kau berharap apa darinya? Apa yang kau dapatkan setelah berbagi kisahmu? Apa kau tidak memikirkanku? Tidak berpikir aku akan menerimamu? Kenapa kau terlalu meremehkan cintaku selama ini? Kau menganggapku apa setelah semuanya? Aku yang berhak akan melakukan apa, Nino! Kau tidak punya hak untuk menentukan apakah aku harus pergi atau menerima keadaanmu! Kau tidak perlu menebak kemana aku akan melangkah." Franda memejamkan mata kembali, menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia juga menghapus air matanya yang sudah mengalir sejak tadi.
"I'm sorry, what am I supposed to do now? Tolong beritahu aku harus melakukan apa untuk menebus semuanya." Kata Nino sambil menatap dan mraih tangan Franda. Kali ini Franda membiarkannya.
"Aku tidak tahu!" jawab Franda. Bahunya kini bergetar, lalu menyusul tangisan pilu dari biburnya yang semakin kencang. Franda menangis sejadi-jadinya.
Nino mengutuk dirinya sendiri ketika melihat istrinya sangat hancur karena ulahnya. Perlahan Ia memeluk Franda dan menciumi kepala istrinya sambil mengucapkan maaf berkali-kali.
__ADS_1
"Maafkan aku, Sayang. Aku mohon maafkan aku, tolong jangan seperti ini. Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini, kau boleh memukulku, lakukanlah sesuka hatimu, tapi jangan menangis seperti ini, Sayang." Nino juga terlihat menangis sambil memeluk istrinya.
Cukup lama mereka bertahan dalam posisi itu, sampai Franda tenang dan menghapus air matanya. Ia menarik napas dalam, berdiri dan berjalan ke meja rias, mengambil hair dryer yang terletak disana lalu memainkannya sebentar, raut wajahnya terlihat seperti berpikir dengan senyum getir.
"Kau tahu, Nino..." katanya, terdiam sebentar, masih memainkan hair dryer di tangannya lalu tiba-tiba melempar kuat ke arah cermin besar di meja rias itu.
Prang!!!
Cermin tersebut hancur berkeping-keping, tak berbentuk lagi, sebagian berjatuhan sementara sisanya masih menempel. Napas Franda menderu setelah melakukan itu, lalu senyum pahit kembali terlihat disudut bibirnya.
Nino benar-benar tidak mengenali istrinya saat ini, Ia sangat tidak menyangka Franda yang lembut mampu melakukan sesuatu seperti itu, Kesalahannya kali ini menciptakan sesuatu yang tak pernah terlihat sebelumnya dalam pernikahan mereka. Nino menatap ngeri pada cermin yang hancur tersebut. Lalu mendekati Franda dan menyentuh bahunya. Franda hanya melirik lengan kekar suaminya itu dengan sudut matanya.
"Aku, istrimu, aku yang selama ini bersama denganmu, aku yang selama ini kau cintai meskipun aku tidak yakin itu benar atau tidak, aku yang selalu bahagia ketika bersamamu, aku yang tetap tersenyum padamu ketika kau pulang kerumah tanpa tahu kau baru saja bersenang-senang dengan j'alangmu, aku yang selama ini berusaha menyenangkanmu..." Franda berhenti sebentar menarik napas, kemudian berkata lagi.
"Aku selalu berusaha membuatmu bahagia, aku pasti melakukan apapun yang kau sukai selama ini, aku juga merasakan hal yang sama darimu, sekalipun aku tahu itu hanya sandiwara, aku akan tetap bahagia saat kau melakukannya untukku. Sebesar itulah perasaanku padamu sebelum ini..." Franda berhenti lagi, berbalik menghadap Nino. Menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah suami yang sangat dicintainya tersebut.
Franda memandang Nino dengan lekat, Ia begitu mengagumi suaminya selama ini, terlalu percaya akan kebaikannya hingga Franda tidak menyadari bahwa suaminya sudah berpaling selama 2 tahun teakhir. Franda kembali meneteskan airmata tanpa suara.
Nino yang melihat itu membiarkan istrinya menangis, Ia sangat yakin istrinya benar-benar hancur saat ini.
"Aku sangat mencintaimu, Sayang... Aku tidak pernah melihat kekuranganmu sedikitpun, sampai terakhir aku melihatmu bersamanya. Aku bukan diriku lagi saat itu, nasibku sama dengan cermin itu sekarang. Tidak ada cara untuk memperbaikinya sama sekali. Kau mungkin bisa menyatukannya meskipun sulit, tapi kau tidak akan bisa memakainya lagi, kau tidak akan melihat dirimu dengan baik disana" Franda terdiam, melihat cermin yang hancur itu sejenak. Lalu kembali menatap suaminya.
__ADS_1
Kini Ia mendekat, menghilangkan jarak diantara mereka berdua, lalu mencium bibir suaminya dengan lembut. Benar-benar ciuman tulus, namun kali ini terasa hambar baginya. Franda tidak merasakan perasaan yang sama lagi seperti sebelumnya ketika mereka melakukan itu. Franda melepaskan bibirnya, beralih memeluk suaminya dengan tangannya melingkar di atas bahu Nino. Franda bertahan selama beberapa saat, membiarkan dirinya dan Nino merasakan kehangatan yang singgah. Lalu Franda memejamkan matanya dan berbisik tepat di telinga suaminya.
"Aku ingin kita berpisah."