Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Jenny.


__ADS_3

Pagi itu mereka mengahabiskan waktu seperti biasanya, duduk dimeja makan, mengobrol tentang jadwal masing-masing sambil menghabiskan sarapan yang disiapkan Mbak Ika, sang asisten rumah tangga.


Franda berusaha sangat keras untuk menahan amarahnya, dia ingin Nino yang memceritakan sendiri tentang hasil tes kesuburan yang dilihatnya saat dikamar.


Berbagai macam pertanyaan terus muncul dikepalanya. Kenapa Nino tidak bercerita padanya? Kenapa Nino memalsukan hasil tes itu? Kenapa Nino menyimpannya selama ini? Apakah hasil tes itu asli? Dan banyak pertanyaan lain dikepalanya. Franda tidak menemukan alasan tepat untuk memaafkan Nino jika memang hasil tes mereka selama ini benar-benar telah dipalsukan.


Franda tidak melakukan apapun sepanjang pagi itu dibutiknya. Saat tiba Ia hanya memeriksa sejauh apa pengerjaan beberapa pesanan klien-nya dan tidak melakukan apapun setelahnya. Duduk dikursi, menyenderkan tubuhnya, menutup mata sambil sesekali memijat kepala. Memikirkan tentang Nino membuatnya pusing setengah mati. Lamunannya terhenti saat Dhea, salah satu karyawannya menanyakan tentang makan siang.


"Maaf, Bu. Mau makan siang apa?" tanya Dhea seperti biasanya. Dibutik memang Dhea yang selalu menyiapkan makan siang untuk Franda.


"Hmm, tidak usah. Saya akan makan diluar hari ini. Kamu makanlah, setelah makan siang saya akan pergi." jawab Franda. Ia berniat akan ke kantor suaminya setelah makan siang.


"Baik, Bu". Dhea pun pergi.


.


Franda sedang berjalan ke ruangan Nino, bertanya kepada Jenny, sekretaris suaminya apakah Nino ada diruangan. Sebenarnya bisa saja Ia masuk tanpa harus bertanya terlebih dahulu, tapi Franda tidak ingin mengganggu karena mungkin saja suaminya sedang bersama klien dan Ia akan terlihat seperti wanita tidak tahu aturan.


Franda membuka pintu dan melihat Nino sedang fokus dengan berkas-berkas yang menumpuk dihadapannya.


"Sayang!" Franda memanggil dan berjalan manja, lalu duduk di pangkuan suaminya.


"Hei! Kenapa datang tanpa memberitahu? Aku bisa menyambutmu dibawah, Sayang." kata Nino yang tidak mengetahui kedatangan istrinya.


"Aku bosan dibutik, tidak terlalu banyak yang harus ku kerjakan, dan aku juga merindukanmu." Franda langsung mencium pipi Nino sambil menyisir rambut suaminya dengan tangan.

__ADS_1


"Kau sudah makan siang?" tanya Nino.


"Sudah, aku makan siang dibutik sebelum kesini" jawab Franda berbohong. ***** makannya hilang karena memikirkan Nino.


"Oke. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat. Kau bisa menunggu?" Nino menggoda dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Aku tidak yakin, Sayang!. I need you down there!" jawab Franda berbisik, menggoda balik dengan memainkan dasi suaminya dan menggigit ujung bibir bagian bawahnya.


"Hahaha! Kenapa kau menggoda sekali, Sayang? Harus ku apakan kau nanti?" Nino terbahak-bahak mendengar kata-kata istrinya.


"Up to you, Sweety! I'm yours!" balas Franda sambil meremas pangkal paha Nino lalu berjalan ke sofa dan duduk disana.


Nino tidak sanggup melihat kelakuan Franda, ingin rasanya menerkam dan memakan istri seksinya itu. Jika tidak mengingat banyak file yang harus diperiksa, mungkin Ia sudah menerkam Franda saat itu juga.


Saat sedang asik dengat pikirannya, ponsel Franda berbunyi menandakan ada pesan masuk, dan Ia sangat terkejut melihat pesan yang dikirim oleh Dhea, orang kepercayaannya di butik. Dhe mengirim sebuah foto suaminya sedang makan direstoran bersama seorang wanita yang tak lain adalah Jenny, sang sekretaris.


Sebenarnya makan bersama adalah hal biasa antara bos dan sekretaris, namun difoto tersebut terlihat Jenny memegang tangan Nino, dan suaminya tidak terlihat keberatan sama sekali. Lalu Franda membaca pesan yang dikirim kembali oleh Dhea.


"Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud ingin mengadu domba atau menunjukkan keburukan Pak Nino, tapi saya tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Ibu jangan terlalu terpancing, coba Ibu tanyakan kepada Pak Nino. Foto ini saya ambil sekitar 2 minggu lalu saat saya dan Akbar sedang makan di Buddy's"


Franda yang melihat itu sangat terkejut. Bagaimana mungkin suaminya melakukan hal serendah itu, berhubungan dengan sekretarisnya sendiri. Bersusah payah menarah amarah, Franda berkata kepada Nino akan ke toilet sebentar, lalu menghubungi Dhea.


"Halo, Bu?" Dhea langsung menjawab saat dering pertama.


"Dhea, apa yang baru saja kau kirim padaku?" tanya Franda, berusaha tenang meskipun napasnya terasa sesak.

__ADS_1


"Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya melihat hari ini Ibu sedikit aneh, saya pikir ada sesuatu yang terjadi, saya sudah menahannnya, Bu. Tapi saya tidak bisa lagi, saya rasa Ibu berhak mengetahuinya. Saya minta maaf, Bu." Dhea merasa sedikit bersalah pada bosnya itu.


"Tidak apa-apa. Berapa lama mereka disitu? Apa saja yang kamu lihat?"


"Saya tidak tahu, Bu. Sewaktu saya dan Akbar masuk mereka sudah disana, lalu keluar sekitar 20 menit kemudian, dan..." Dhea berhenti sebentar, menimbang apakah Ia harus mengatakan yang selanjutnya atau tidak. Namun Franda mendesak.


"Dan apa, Dhea? Apa yang kau lihat? Cepat katakan padaku semuanya! Jangan coba-coba menyembunyikan sesuatu." Kata Franda sedikit mengancam.


"Maaf, Bu. Saya hanya melihat..."


"Melihat apa? Cepat katakan!" desak Franda yang sudah tidak sabar dengan apa yang akan dikatakan oleh karyawan yang menjabat sebagai asistennya itu.


"Saya melihat mereka berciuman dimobil, Bu. Saya minta maaf karena mengatakan ini, Bu." Kata Dhea dengan cepat dan merasa tidak enak pada Franda.


"Kau yakin, Dhea? Kau tidak melebih-lebihkan ceritamu, kan?" Tanya Franda yang sedikit tidak percaya.


"Tidak, Bu! Saya tidak akan berani melakukan itu. Saya mengatakan yang sebenarnya, Bu. Saya minta maaf itu bukan hal yang baik untuk Ibu ketahui, tapi saya hanya mengatakan apa yang saya lihat." jawab Dhea dengan tegas.


"Baiklah, terimakasih sudah memberitahu saya. Saya tidak akan kembali ke butik hari ini, saya minta tolong kamu urus semuanya." kata Franda.


"Baik, Bu. Jangan khawatir, saya akan mengurus semuanya disini, Ibu tidak perlu cemas. Tapi... Apakah Ibu baik-baik saja? Saya minta maaf sekali lagi, Bu." Dhea memang sangat mencemaskan Franda saat ini. Ia takut terjadi sesuatu dengan Franda meskipun Ia sangat tahu bahwa bosnya itu tidak akan melakukan hal bodoh yang akan merugikan dirinya sendiri.


"Kau tidak perlu mencemaskanku, tapi terimakasih sudah bertanya. Aku tutup sekarang."


"Baik, Bu!" jawab Dhea.

__ADS_1


__ADS_2