
...Sean Danial Warner POV....
"Katakan padaku kenapa tadi kau menghilang begitu saja? Tidak satu pun panggilan telepon? Ini gila, Franda! Apa yang kau lakukan sebenarnya?" Aku bertanya pada Franda begitu kami duduk di ranjang di dalam kamar kami. Rambutnya masih basah karena dia baru saja selesai mandi sementara aku baru masuk ke kamar setelah melihat Ben sebentar. Sebenarnya aku mengajaknya mandi bersama tadi, tetapi Dave tiba-tiba menghubungiku untuk bertanya beberapa hal yang menyangkut pekerjaan.
Franda meletakkan ponsel di atas nakas lalu menatapku sambil tersenyum. "Seperti katamu, aku bersenang-senang." katanya bercanda. Dia memiringkan tubuh untuk meraih gelas berisi air minum di nakas lalu meneguk isinya. "Aku tidak menghilang, Sean. Aku mengunjungi orangtuaku."
Aku menghela napas panjang sambil mengamati wajahnya, rasa sesak kembali menyerang dadaku saat memandang kedua mata cokelatnya.
"Hentikan." Dia berkata tajam.
Aku mengerjap bingung. "Aku tidak mengatakan apapun."
"Kau akan mengatakannya," Franda menaruh gelas kembali ke nakas lalu beringsut menghadapku. "Dengar, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu merasa cemas atau khawatir."
"Tapi..."
"Alasanku kesana karena aku merindukan mereka, Sean. Ini sudah hampir setahun sejak kunjugan terakhirku."
Aku meraih kedua tangannya dan menggenggamnya erat-erat. "Kau seharusnya memberitahuku, jadi aku bisa menemanimu. Dan juga, kau belum mengenalkanku pada mereka."
Franda tersenyum sambil mengangguk sekilas. "Aku tahu, tapi aku tidak mau menangis di kuburan sementara kau melihatku, karena kau akan terlihat lebih menyedihkan,"
"Itu memang benar." ucapku memotong.
"Itu kenapa aku tidak mengajakmu. Aku membutuhkan waktu untuk berbicara dengan papa dan mamaku."
"Franda," Tiba-tiba dia mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya lalu menciumku sekilas.
__ADS_1
"Terimakasih," bisiknya sambil menarik diri perlahan. "Aku sangat beruntung memilikimu, Sean. Tak bisa kubayangkan bagaimana jadinya hidupku jika kau tidak bersamaku sekarang."
Kini giliranku yang menarik kepalanya lalu menciumnya. Rakus dan keras. Dalam dan lama. Aku baru melepaskan bibirku saat napas kami hampir habis. "Aku lebih beruntung bisa mendapatkan wanita sekeren dirimu, Franda."
Franda mendengus. "Aku mengetahui sepak terjangmu ya, Playboy!" gumamnya sinis, namun langsung tersenyum setelahnya.
"Sial!" Aku pura-pura tertangkap basah, membuat Franda tergelak mendengarnya dan dia pun tertawa.
Raut wajah Franda berubah serius. Dia menunduk sebentar lalu menatapku lagi. "Kuharap kita bisa seperti ini selamanya sampai salah satu dari kita berhenti bernapas." ucapnya sungguh-sungguh.
"Aku sudah berhenti bernapas setiap kali kita berciuman." balasku bercanda. Franda tertawa lagi, kali ini tawanya lebih lama dan lebih lepas.
"Sebentar lagi ulang tahunmu, Sean. Apa yang kau inginkan?" Dia menggenggam tanganku.
Pertanyaannya memunculkan kilasan memori dalam benakku. Jika ada hari dimana aku berharap bisa melupakannya, itu adalah hari ulang tahunku. Dulunya aku menyukai ulang tahun, banyak tawa, hadiah, kue. Sampai aku berumur tiga belas tahun. Aku tidak pernah bisa melupakannya, kuharap bisa.
Aku sangat senang waktu itu, karena sudah lama sekali dari yang bisa kuingat, sejak kami menghabiskan waktu bersama. Dia selalu terlihat murung nyaris setiap waktu, dan bersikap bagaikan seolah aku tak terlihat. Setelah kami pulang, waktu itu sudah malam. Dia baru saja mengirim pesan pada Ibuku yang kebetulan sedang berada di kalimantan mengunjungi kakaknya, Ayah Dhea dan Dean, lalu mengantarku tidur. Aku melihat kesedihan di matanya saat dia menatapku, seolah dia sedang kesakitan atau semacamnya.
Lalu dia mencium keningku, dan berbisik bahwa dia sangat menyayangiku, dan juga meminta maaf padaku, memintaku hidup dengan baik. Aku tidak tahu apa maksudnya saat itu. Sampai keesokan harinya, aku menemukan dia di dalam kamarnya. Dan tak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa mempersiapkanku menyaksikan apa yang terjadi saat itu.
Ayahku disana, tergeletak di lantai, dengan botol obat penenang yang ada dalam genggamannya. Mata yang sama yang menatapku semalam terlihat kosong. Kulitnya sepucat kapur, dan tubuhnya kaku dengan cara yang aneh. Itu adalah pemandangan yang paling mengerikan dalam hidupku. Butuh waktu bertahun-tahun untukku pulih dari trauma setiap kali aku mengingatnya.
Jadi, ulang tahunku? Tidak, aku tidak pernah lagi mengharapkannya sejak saat itu.
Aku menatap Franda, mengeratkan genggamanku. "Well, aku punya istri paling luar biasa di dunia, apalagi yang bisa kuminta." kataku berkelakar.
Dia terkesiap pelan. "Astaga, maafkan aku. Kau pasti memikirkan... Bodohnya, sangat tidak sensitif." Franda memarahi dirinya sendiri. Aku sudah menceritakan kisah ini padanya di malam sebelum dia mengalami kecelakaan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, sayang." Aku mengusap lengannya sekilas untuk menenangkannya.
Tiba-tiba Franda menarik dirinya lalu duduk tegak dan menatapku dengan mata berbinar. "Kupikir kita harus merayakannya kali ini. Kau tahu, membuat pesta yang penuh kekacauan." Dia terlihat antusias.
Aku mengangkat sebelah alis melihatnya.
"Ayolah, bukankah katamu kita pasangan serasi? Aku terjebak bersama psikiater saat kecil, sementara kau tidak pernah menikmati hari ulang tahunmu. Ya ampun, Sean. Kurasa tidak ada pasangan yang memiliki kisah lebih tragis dari kita." Franda tertawa. Menertawakan kehidupan pahit yang pernah menerjang kami yang entah kenapa saat ini memang terasa lucu, dan membuatku ikut tertawa pada akhirnya.
Setelah puas tertawa, dia pun melanjutkan lagi. "Mungkin itu bisa membantumu, membuat ingatan baru, melakukan sesuatu yang berbeda seperti, pergi ke bar untuk minum bersama teman-temanmu? Pasti menyenangkan." ucapnya dengan mata berkilat-kilat menerawang.
Aku sangat bahagia melihat Franda seperti ini. Raut wajahnya begitu tenang seakan dia tidak pernah mengalami penderitaan apapun, namun aku tahu dia sedang menyembunyikan sesuatu melalui matanya. Franda sedang memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja agar aku tidak mencemaskannya. Tapi tak apa, aku akan meladeninya untuk saat ini. Membiarkannya percaya bahwa aku tidak khawatir dengan kondisinya, bahwa aku berpikir dia memang baik-baik saja.
"Ya, kau harusnya mengatakan itu pada dirimu sendiri." balasku sarkastis.
Franda cemberut, "Aku tidak separah dirimu, Samson." sinisnya. "Setidaknya aku masih merayakan ulang tahun bersama keluarga meskipun aku harus menemui psikiater lebih dulu." Dia memasang pose elegan dengan tangannya.
"Super." komentarku menyindir.
"Bagaimana dengan Nu China Bar?" Franda baru saja menyebut klub yang sering di datangi oleh sekumpulan remaja.
"Banyak anak-anak." sahutku cepat.
"Ya, tapi tetap saja disana... oh, baiklah, bagaimana dengan Blowfish? Dragonfly? X2? Immigrant?" Dia mengerutkan kening, seperti mencoba mengingat. "Ah, pokoknya kita harus pergi ke salah satu dari klub itu, pasti seru sekali."
Aku tertawa pelan. "Kau lupa menyebutkan LV. Kau minum seperti orang gila disana dan membuatku kerepotan." gumamku bercanda.
"Aku serius, Sean. Kau perlu pengalihan, berbaurlah seperti apa yang kulakukan, itu sangat membantu."
__ADS_1
Aku menghela napas kemudian membawanya berbaring, menarik selimut, lalu memeluknya erat. "Aku akan memikirkannya. Sekarang, sebaiknya kita tidur karena besok aku ada meeting pagi-pagi sekali." Aku menciumnya beberapa kali lalu perlahan kesadaranku menghilang dan aku tertidur.