
Ketika aku terbangun, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda. Cahaya matahari tidak terlalu menyilaukan seperti biasanya, atau kehangatan dari selimut tebal di kamarku yang selalu kugunakan.
Ini jauh lebih nyaman dari pada itu.
Rasanya seakan aku sedang berada di dalam mesin penghangat paling nyaman di dunia. Hidungku bahkan mencium aroma aroma citrus yang sangat kukenali. Sangat menenangkan. Hanya ini yang paling kubutuhkan dalam hidupku, berada disekitarnya dan merasakan kehangatannya, dan aku berharap semoga ini bukan mimpi. Aku ingin selamanya berada dalam kedamaian seperti ini.
Aku mendorong tubuhku agar lebih dekat dengannya, agar aku bisa lebih percaya bahwa ini bukanlah mimpi. Kemudian aku merasakan ujung jemarinya yang lembut mengusap rambutku, lalu suaranya yang serak dan tenang terdengar menyapaku.
"Tidurlah, Franda. Aku akan menjagamu."
Suara itu. Suara yang selalu menghantui malam-malamku, yang berdengung setiap saat di kepalaku. Suara yang hanya untuk mendengarnya saja aku rela melakukan apapun. Hatiku diliputi rasa rindu dan haru pada saat yang bersamaan. Aku menarik napas dalam, mencoba mengendalikan diri, lalu perlahan membuka mata.
Aku melihatnya dan aku tidak bermimpi. Dia benar-benar nyata, pria itu ada di dekatku. Dia sedang menunduk memandangku, senyum paling menawan yang selalu kugilai mengembang di sudut bibirnya, wajahnya sangat tampan, membuatku merasa seakan aku sedang bermimpi lagi, tapi aku tahu ini bukan mimpi.
Ya Tuhan, aku merindukannya setengah mati.
Pandanganku mulai kabur oleh genangan air mata. Aku mengerjap, berusaha menghilangkannya, namun itu sama sekali tidak mau menyingkir.
"Apakah aku membangunkanmu?" Dia berbicara kembali.
Aku terpejam untuk meresapi semua keindahan dari suaranya. Aku ingin dia berbicara seperti ini untuk selamanya, meyakinkanku bahwa sekali lagi ini bukan mimpi. Aku menyadaru bahwa aku tidak akan pernah siap kehilangan dia sampai kapanpun. Tidak akan pernah.
"Franda?"
Jantungku mulai berdegup kencang ketika dia memanggil namaku, lalu tanpa kusadari sekujur tubuhku tiba-tiba gemetar. Aku sudah sering mendengar dia memanggilku, namun ini berbeda. Untuk pertama kalinya setelah aku yakin bahwa dia masih hidup. Suamiku yang tampan benar-benar masih hidup.
Perlahan aku memberanikan diri membuka mata, dan langsung mendapati kedua matanya yang sebiru lautan sedang memandangiku. "Kau baik-baik saja?" Nadanya terdengar cemas dan khawatir. Lalu dia mengulurkan sebelah tangan menangkup wajahku.
__ADS_1
Aku menelan ludah, mengatur napas sebelum berbicara padanya. "Apa kau tahu? Aku sering membayangkan hal ini." gumamku dengan suara serak, nyaris berbisik. "Aku selalu berharap bisa melihat wajahmu ketika aku membuka mata, tepat seperti ini." Sekarang suaraku bergetar.
Mendadak sorot matanya menggelap saat dia mendengar ucapanku. "Franda, maafkan aku..."
Aku menggeleng keras. "Tidak," balasku cepat seraya menatap lurus ke dalam matanya. "Kau ada disini, Sean. Kau ada bersamaku, hanya itu yang kubutuhkan." Aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat, seakan itu adalah harta paling berharga yang pernah kumiliki.
Kemudian dia tersenyum lagi padaku. "Kau tidak marah padaku?" tanyanya, dan aku menggeleng. "Aku membuatmu berada dalam bahaya, Franda. Apa kau tahu itu?"
"Tidak, kau tidak akan pernah melakukan itu. Kau menyelamatkanku, Sean."
Dia terkekeh pelan sambil menggoyangkan kepalanya. Aku senang melihat dia sesantai itu dan jauh di dalam hatiku aku berharap semoga dia akan setenang itu selamanya.
Sean menarik tangan dari genggamanku, mengarahkannya ke wajahku sementara matanya memperhatikanku lekat-lekat. "Kau tidak akan tahu betapa cemasnya aku ketika mendengar ada orang yang ingin melukaimu, Franda." gumamnya lembut.
Napasnya yang panas menerpa wajahku, seketika membuatku merasakan kehangatan menjalari sekujur tubuhku. Dia memajukan wajahnya, lalu menyurukkannya ke leherku dan menciumku. Mendadak aku merasa panas saat merasakan lidahnya menyapu kulit leherku. "Aku merindukanmu, Franda." bisiknya lembut tepat dibawah telingaku.
"Sean..."
Dengan cepat aku menangkup rahangnya, menarik kepalaku mundur agar aku bisa menatap wajahnya. "Sean, aku percaya padamu. Kau tidak melakukan kesalahan apapun." kataku dengan lembut.
Dia menggeleng, lalu mengalihkan pandangannya dariku. "Aku nyaris kehilanganmu karena kebodohanku, kau bisa saja..."
Ucapannya terpotong saat aku menciumnya dengan cepat. Aku merindukannya dan tidak ingin mendengar omong kosong apapun yang keluar dari mulutnya. "Aku mencintaimu." gumamku di depan bibirnya, lalu menciumnya lagi.
Sean tidak membuang waktu untuk membalasku, dia menciumku dengan keras. Geraman halus terdengar dari mulutnya saat aku menggigit bibirnya lalu dengan cepat menyapukan lidahku.
"Franda..."
__ADS_1
Aku menggerakkan tanganku menyentuh dadanya, merasakan jantungnya yang berdebar keras, dan dia membiarkanku membuka kancing kemejanya perlahan. Sebelah tangannya menyusuri sisi tubuhku sebelum akhirnya bergerak ke belakang untuk membuka ritsleting gaunku. Dia menjauhkan wajahnya dariku, lalu dengan cepat melepaskan kemejanya dan menurunkan gaun yang membungkus tubuhku.
"Aku mencintaimu, Sean." kataku dengan pelan, berharap dia benar-benar mengerti maksud dari ucapanku. "Aku sangat bahagia bisa berada disini bersamamu."
"Sayang," Dia menciumku, menangkup wajahku dengan satu tangan sementara satu tangannya yang lain meremas pinggulku. "Katakan kalau kau memaafkanku, Franda."
Aku tertawa dan membalas ciumannya. "Kau harus meminta maaf dengan cara yang baik kalau begitu."
Dia menyeringai lebar di depan mulutku, sebelum dengan lembut membuka pengait bra milikku dan melemparnya ke sisi ranjang. Tangannya menjalar dari pundakku, kemudian dengan satu gerakan cepat dia meremas dadaku. Seketika tubuhku melengkung dan aku mendesah.
Lalu, entah sejak kapan, kami tidak mengenakan apapun lagi dan bagian tubuhnya yang mengeras sudah berada tepat di antara kedua pahaku. Dia menggodaku dengan kejantannya, menggerakkannya dengan pelan lalu tiba-tiba menghujamku.
"Oh, Jesus," Aku menahan napas gemetar merasakan bagian tubuhnya yang penuh di dalamku. "Tunggu sebentar,"
Dia mengangguk. "Yeah, oke." Matanya mengamatiku lekat-lekat sembari melengkungkan mulutnya. "Kau baik-baik saja?"
"Ya," Aku menarik napas.
Sementara menungguku, dia menurunkan kepalanya kepalanya ke leherku, lalu dengan lembut merayuku dengan lidah dan mulutnya. Ketika aku sudah merasa nyaman, aku memintanya untuk bergerak. Gerakannya yang lembut tidak hanya memuaskan tubuhku yang kelaparan, jauh dari pada itu aku merasa sempurna saat bersamanya.
Dia mendesakku pelan, menggoyangkan pinggulnya dengan lembut, sementara mulutnya menggeram di leherku. Aku mengangkat kedua tangan dan meremas rambutnya. "Faster!"
Aku mendesah seraya menahan napas saat merasakan kejantanannya yang nikmat itu menyentuh titik paling dalam ditubuhku. Membawaku semakin dekat dengan pelepasanku. "Sean, aku..."
"Ya, aku tahu, sayang." gumamnya buru-buru memoton kata-kataku. "Nikmati pelepasanmu, Franda. Aku akan memberikannya untukmu."
Sean meremas dadaku dengan sebelah tangan sementara tangannya yang lain menyentuh kewanitaanku, dan berselang beberapa detik berikutnya aku merasakan gelombang panas menyerbu sekujur tubuhku. Pahaku bergetar hebat sementara tanganku meremas seprai kuat-kuat.
__ADS_1
"Oh, God.. that's crazy." aku tertawa pelan sembari mengatur napas, lalu menarik kepalanya dan menciumnya dengan lembut. "Aku memaafkanmu,"
Dia tersenyum lebar, membalas ciumanku. "Ini belum selesai, Franda."