
...Sean Danial Warner POV....
Dari: Wife❤️: Apa kau sibuk? Aku rindu x
Kepada: Wife❤️: Baru selesai meeting, Sayang.
Dari: Wife❤️: Hm... Aku rindu xx
Kepada: Wife❤️: Kau dimana?
Dari: Wife❤️: Masih di rumah Ed. Aku rindu xxx
Kepada: Wife❤️: Sabar.
Dari: Wife❤️: Rindu has been cancelled!
Aku tidak bisa menahan tawa ketika membaca pesan terakhir yang dikirimkan Franda untukku. Belakangan emosinya sangat tidak terkendali, membuatku nyaris putus asa menghadapinya. Aku yakin jika aku berdiri dihadapannya sekarang, nyanyian paling merdu ala ibu-ibu rumah tangga akan mengalun dari mulutnya manis itu, namun dengan irama yang tidak manis sama sekali.
Aku sempat bercerita kepada ibu mertuaku, berharap dia bisa memberiku saran untuk memperbaiki emosi Franda, namun yang tidak banyak yang bisa kudapatkan. Ibu mertuaku mengatakan bahwa yang di alami Franda adalah sesuatu yang biasa terjadi pada Ibu hamil.
"Sir, seseorang bernama Joseph Watt ingin bertemu dengan Anda."
Suara Selena membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan mendapati dia sedang berdiri di ambang pintu ruanganku, menunggu jawabanku.
Aku mengangguk. "Ya, biarkan dia masuk." balasku.
Beberapa detik kemudian, pria yang di maksud Selena memasuki ruanganku dengan raut antusias. Aku yakin dia baru saja mendapatkan jackpot dalam pekerjaan yang kuberikan padanya, membuatku semakin bersemangat untuk segera mendengar kabar itu.
"Joe!" sapaku sambil melangkah dan membuka tangan. "Apa kabarmu, man?"
Joe tersenyum lebar, semangatnya semakin terasa saat dia memelukku. "Sangat luar biasa baik, sir." sahutnya ceria.
__ADS_1
Aku menggiringnya duduk di sofa yang ada di sudut ruangan, dan kami bertukar kabar sementara menunggu Selena membawakan minuman. Untuk sejenak aku menahan rasa penasaranku atas berita yang akan disampaikamnya, hingga Selena masuk kembali ke ruanganku dengan dua gelas kopi.
"Selena, jangan ijinkan siapapun masuk ke dalam ruanganku sampai aku selesai berbicara dengan Joe." kataku tegas dengan menatap ke arah matanya.
"Yes, sir." sahutnya sambil menganggukkan kepala, lalu berbalik dan melangkah keluar ruangan.
Aku memandanginya hingga dia menghilang dan pintu ruanganku tertutup sebelum mengembalikan pandanganku kepada Joe. "Jadi, apa yang kau dapatkan, Joe?" tanyaku tanpa membuang waktu.
Joe terdiam sejenak, tampak agak cemas namun semangat masih terlihat jelas dari matanya. "Sir, aku tidak tahu apakah ini berita yang baik atau tidak, tapi aku yakin ini akan sedikit mengejutkan." katanya memulai, lalu dia mengeluarkan sebuah map dari dalam tas yang di bawanya dan meletakkan beberapa foto di atas meja.
Aku memandangi foto-foto yang dikeluarkan oleh Joe, semuanya tampak sama, hanya pada tempat dan waktu yang berbeda.
Joe berdeham. "Aku sudah menyelidiki semua tentang wanita yang bernama Lucia Kailolo, dan bisa kupastikan tidak ada yang salah dengan hasil penyelidikanku."
Aku mengangguk. "Lanjutkan."
Joe mendorong sebuah foto seorang wanita ke hadapanku. "Wanita ini bernama Lucia Kailolo, dia tidak tinggal di Jepang seperti yang kita ketahui selama ini, melainkan di Jerman. Aku baru mengetahuinya seminggu setelah aku mengirim fotonya sewaktu kau berada di Queensland." kata Joe menjelaskan, aku hanya mengangguk dan membiarkan dia melanjutkan ucapannya.
Aku melirik Joe sekilas, rautnya tampak ragu-ragu. Setelah beberapa detik akhirnya dia mendorong satu foto lagi ke hadapanku. Foto seorang wanita paruh baya dengan penampilan yang lebih baik. Aku mengamatinya lekat-lekat, dan disitulah aku baru menyadari kejutan yang di maksud oleh Joe. "Kenapa wanita ini sangat mirip dengan..."
"Istrimu, sir." gumam Joe memotong ucapanku.
Aku tersentak saat mengetahui kemana arah pembicaraan kami, entah kenapa apa aku merasa ada sesuatu yang salah yang terjadi di keluarga Franda. Tak mau menebak-nebak, aku meminta Joe melanjutkan dengan lirikan.
"Wanita ini adalah Bianka Kailolo, kakak kandung Lucia Kailolo, dia yang tinggal di Jepang dan menggunakan identitas adiknya, sementara Lucia hidup dengan identitas orang lain. Keduanya terlibat dalam kecelakaan yang menewaskan ayah kandung istrimu. Bianka dan Lucia bekerja sama memalsukan kematiannya."
"Tapi, bagaimana bisa? Bukankah polisi sudah memastikan bahwa kedua korban dalam kecelakaan itu adalah orang tua istriku? Lagi pula, hasil penyelidikan mengatakan bahwa itu adalah murni kecelakaan."
"Ya, itu dia. Aku juga sudah memastikan bahwa pria di dalam mobil itu adalah ayah kandung istrimu, tapi wanitanya adalah sekretarisnya. Bianca yang mengatur kecelakaan itu karena dia mengetahui bahwa suaminya telah menghianatinya. Itu sebabnya Lucia menghilang setelah kakaknya dinyatakan meninggal."
Aku terdiam. Aku berusaha mencerna semua yang baru disampaikan oleh Joe, dan pikiranku mulai melayang kepada Franda. Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana reaksinya jika dia mengetahui ini. Selama berpuluh-puluh tahun dia hidup menderita atas kematian kedua orang tuanya, hingga menyebabkan trauma yang tidak bisa dihilangkannya sampai saat ini.
__ADS_1
Aku membuang napas berat sebelum berbicara. "Bagaimana kehidupan ibu kandung istriku di Jepang, Joe?"
"Well, kami agak kesulitan mencaritahu tentangnya karena kehidupannya terlalu tertutup. Dia tinggal bersama suaminya, orang Jepang asli, pemilik pabrik tekstil yang cukup besar. Tidak ada informasi apapun yang mengatakan bahwa mereka mempunyai anak."
Aku terdiam lagi. Kenyataan ini akan menghantam Franda dengan sangat keras, dan tidak diragukan lagi kejiwaannya akan kembali terguncang jika dia mengetahui ini. Tapi aku tidak mungkin menutupi kenyataan ini lebih lama mengingat Franda terus menerus bertanya padaku tentang tantenya.
"Apa lagi yang kau dapatkan selain ini, Joe?" tanyaku memecah keheningan. Joe baru akan menjawab, namun buru-buru menahan ucapannya saat kami mendengar suara pintu ruanganku terbuka.
"Selena, sudah kubilang..." Aku terdiam, menelan ludah saat mendapati yang masuk ke dalam ruanganku bukan Selena, tapi Franda.
Dia berjalan melintasi ruangan dengan wajah memberengut, dengan sebelah tangan berada di perut sementara sebelah tangan yang lain memegang tas. "Aku rindu." katanya dengan suara bergetar.
Buru-buru aku melirik Joe, dan beruntung dia dengan sigap mengumpulkan semua foto yang ada di atas meja lalu memasukkannya kembali ke dalam tasnya. Tepat saat dia menyelesaikan itu, Franda duduk di sebelahku dan langsung memelukku. "Kenapa kau tidak membalas pesanku?" Sekarang dia menangis sambil menyurukkan wajahnya ke leherku.
Aku memeluknya lebih erat, mengusap pelan punggungnya untuk menenangkannya. "Ada apa, Franda?" kataku seraya mengatur napas, berusaha menghilangkan perasaan gugup dalam nadaku, dan aku bersyukur dia tidak menyadari itu.
Aku beralih kepada Joe, menyuruhnya keluar melalui anggukan kepala, kemudian menoleh kembali ke arah Franda. "Hei, ada apa?" tanyaku sekali lagi.
"Sudah kubilang, aku merindukanmu." sahutnya terputus-putus, menahan tangis.
Aku terkekeh pelan, ini bukan pertama kalinya dia menangis seperti ini sejak kehamilannya, sampai aku merasa terbiasa mendengarnya menangis hanya karena hal-hal kecil. Bahkan dia pernah menangis saat aku bermain dengan Ben dan mengatakan aku tidak memperhatikannya.
"Hei, tenanglah." gumamku pelan, mengusap pipinya dengan lembut, lalu meraih sebotol air dari atas meja dan membuka penutupnya. "Ayo, minum dulu."
Dia menggeleng. "Aku kesini karena ingin memelukmu, bukan untuk meminta air." balasnya sinis.
Seketika tawaku meledak, dan aku tidak sanggup menahan diri untuk tidak mencium pipinya. "Kau tahu? Kurasa kau benar-benar akan mengikatku di ranjang setelah ini."
Tiba-tiba dia terdiam, lalu menarik diri dariku. Dia menatapku sambil tersenyum riang, seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya. "Apa sekarang kau mau aku mengikatmu?" tanya dengan semangat.
Aku menggeleng cepat. "No way."
__ADS_1