Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
The Power of Love


__ADS_3

"Apa maksudmu?"


Bahu Sean terangkat. "Untuk apa yang sudah terjadi sebelumnya, tanpa sadar kau sedang menaruh harapan besar pada kehamilanmu dan berusaha menolak percaya bahwa Nino akan segera meninggalkanmu. Kau tahu? Terkadang kita lebih memilih menghindar dan menipu diri sendiri dengan harapan walaupun kita tahu bahwa itu palsu."


Sean masih berceloteh sementara aku menggeser tubuhku hingga menyandar di sofa. "Mungkin saat itu kau memang mencintainya, tapi jauh di dalam dirimu tersimpan ketakutan yang lebih besar dan tanpa kau sadari itu menjerumuskanmu. Membuatmu terikat dengan sesuatu yang kau pikir akan berakhir indah." Aku mengangguk setuju dengan ucapannya walaupun dia tak sepenuhnya benar.


Aku mengerling menatap Sean. "Sean... Aku menikah dengannya selama delapan tahun. Tak seharipun yang kulewatkan tanpa Nino di sampingku. Perasaanku padanya saat itu bukan sesuatu yang bisa di anggap main-main. Aku tulus padanya, menerima dan memafkannya bukan berarti aku wanita yang lemah atau bodoh. Kau tidak akan mengerti soal ini."


"Tapi kau benar. Aku memang sedang menyembunyikan ketakutan pada waktu itu sampai-sampai aku memaksa diriku untuk yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan... ya, aku berhasil menipu diriku sendiri. Aku begitu putus asa dan hancur. Sampai terakhir kau memberiku foto-foto itu, disitu aku baru sanggup menerima kenyataan dan membuka mataku lebar-lebar bahwa kami memang tidak bisa bersama lagi."


Sean bersedekap menatapku. "Apakah masih ada yang tersisa darinya? Maksudku, kau tahulah."


Mulutku melengkung. Dengan kedua tanganku menangkup wajahnya, mataku menatap pada matanya yang menunggu ragu, berharap jawabanku tidak membuatnya gusar atau sakit. "Lihat dan dengarkan aku baik-baik." titahku. "Setiap sudut ruangan dalam hatiku adalah milikmu. Semua yang melekat padaku tubuhku adalah milikmu dan akan selamanya menjadi milikmu. Tidak ada yang tersisa darinya selain kenyataan bahwa dia adalah ayah kandung dari anakku, hanya itu satu-satunya hal yang membuatku harus tetap berhubungan dengannya. Selebihnya, aku milikmu, Sean."


Aku mencium bibirnya dan merasakan dia tersenyum di mulutku. Setelah ciuman kami terlepas, dia mengangguk lalu tersenyum genit. "Siapa yang mengajarimu merayu?"


Aku tertawa halus. "Entahlah... aku lupa. Kupikir itu kau, eh, atau... Nino? Aku tidak tahu, tapi yang jelas pasti salah satu di antara kalian." godaku lalu tawaku bertambah keras sementara melihat Sean membuka mata lebar-lebar, namun berselang beberapa saat dia tersenyum menanggapi godaanku.

__ADS_1


Sudah kukatakan berkali-kali, bukan? Bahwa aku sangat beruntung memiliki suami seperti Sean. Dia dan segenap tubuhnya yang menyimpan kemewahan lain begitu indah sekaligus menyeramkan. Pernah sekali aku melihat dia membentak salah satu karyawannya di kantor karena salah menginput data dan menyebabkan kerugian yang cukup fantastis. Aku nyaris pingsan mendengar suaranya yang menggema di ruang meeting. Namun aku bersyukur dia tidak pernah membentakku.


Semarah dan sekesal apapun dirinya padaku, Sean tetap berbicara dengan suara yang rendah walaupun tetap membuatku gemetar. Ini salah satu nasihat penting untuk pasangan, jangan pernah meninggikan suaramu ketika sedang marah, karena itu bisa menaikkan level kemarahanmu.


Masih di sofa ruang keluarga bersama Sean, aku menatapnya resah sampai mataku pedih. Wajah tampan dan berandalnya terlalu berlebihan. Mataku turun menatap mulutnya yang kejam dan ganas saat menyapa kewanitaanku membuatku gila, membuatku ingin membenamkan wajahnya lagi di antara kedua pahaku. Dan sekarang aku merinding gemetar membayangkan semua kenikmatan yang ditawarkan oleh tubuhnya. Aku tak peduli jika orang-orang menganggapku maniak, karena Sean memang pantas untuk digilai.


Sean menjulurkan tangan menyentuh wajahku. Sentuhannya yang selalu hangat sukses membuatku bertambah gemetar, bibirku kering dan lidahku kelu. Aku mungkin akan menelanjanginya jika tidak ingat kalau kami sedang berada di ruang keluarga sekarang.


Aku baru saja ingin menerjang bibirnya yang penuh ketika suara ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk. Sean bergeser untuk meraih ponselnya dari atas meja, dan ketika dia melihat pesan itu, dia menatapku ragu-ragu. "Mmm..." gumamnya. "Abraham sudah mendapatkan sedikit informasi tentang tantemu."


"Itu sudah cukup membuatku tenang. Setidaknya aku masih bisa melihat keluargaku yang lain. Terimakasih, Sean." kataku dengan mata memburam, berkaca-kaca menatapnya.


Sean menarikku ke dalam pelukannya. Tangannya yang hangat membelai punggungku dan bibirnya yang manis menciumi kepalaku. Ini berita paling menyenangkan yang kudengar beberapa bulan terakhir. Dari dulu aku ingin sekali bertemu dengan satu-satunya keluarga yang kuketahui selain keluargaku yang sekarang tentunya. Aku sudah membayangkan bagaimana pertemuan haru sekaligus canggung itu akan terjadi nanti. Tante Lucy pasti mengenalku mengingat Ibu sering mengatakan bahwa wajahku sangat mirip dengan Mama. Atau bisa jadi memiliki kesamaan juga dengan tanteku.


Membayangkan kembali masa kecilku yang sulit dan menyakitkan, aku menangis di pelukan Sean. Lenganku memeluk tubuhnya erat, wajahku terbenam membasahi bajunya Tangannya mengangkat wajahku, menatapnya yang juga merasa sakit karena melihatku menangis, aku terisak dan tersedu-sedu. Aku menarik telapak tangannya lalu kembali memeluknya. "Ini sakit." rintihku. "Menyakitkan sekali."


"Menangislah." katanya pelan dan hangat. "Aku juga merasakan hal yang sama saat kehilangan orangtuaku."

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Sean menangkup wajahku, mengangkat daguku, dan mengusap kedua pipiku dengan ibu jari. Aku merasa hancur dan tertegun bertatapan dengannya karena saat ini dia tetap terlihat tampan. Selalu tampan dan mendebarkan. Aku melihat tekad yang mengeras di matanya dan dia menarik napas dalam-dalam.


"Franda," desisnya, napasnya yang panas menyelinap di sela-sela bibir dan gigi. "Kau tak perlu menanggungnya sendiri. Aku selalu bersamamu dan akan selamanya menemanimu. Menangislah selama yang kau inginkan, tapi selalu ingat bahwa kau masih memiliki aku dan keluargamu. Sudah cukup lama kau tersiksa akibat kepergian orangtuamu, kini waktunya merelakan dan membebaskan dirimu dari bayang-bayang masa lalu."


Aku menghembuskan napas putus asa, dalam beberapa saat sempat ingin menutup mulutnya agar dia berhenti berbicara. Namun ikatan matanya membuatku tenggorokanku tercekat. Tangannya mengencang di wajahku, kepalanya semakin condong ke pipiku, hidungnya menyapa helaian rambutku. Dan pada saat menegangkan itu, dia berbisik sangat gelap. Sangat gelap sampai rasanya aku nyaris sesak napas.


"Franda," ujung hidungnya mengelus pipiku, napasnya menyerbu indraku. "Kau boleh merasa sedih," tubuhnya bergetar samar menahan semua perasaan yang berkelebat dalam dirinya. "tapi, jangan berlarut-larut. Aku tak sangggup jika harus melihatmu menderita terus-menerus. Bangkitlah, sayang. Lupakan semuanya. Kau harus benar-benar melupakannya."


Dia menarik mundur kepalanya dan mengernyit tegas padaku. "Kau mengerti?"


Aku bernapas terengah-engah, aku tidak bisa berbicara lagi, yang pasti aku merasa amat dicintainya. Dia mencintaiku, dan merasakan penderitaanku sampai sedalam dan sejauh itu. Aku memejamkan mata dan menyerahkan bibirku untuk direnggut.


Sean mencicipiku dengan rakus, aku menerimanya dengan tulus. "Jangan menderita lagi, Franda. Kau tidak tahu bagaimana putus asanya diriku melihatmu menangis."


Aku menggangguk patuh. "Aku mencintaimu, Sean."


Dengan senyum yang berbinar dia menjawabku. "Aku lebih mencintaimu."

__ADS_1


__ADS_2