
"Apakah ini pertama kalinya kau kesini?" Sam bertanya padaku sembari mengeluarkan daging ayam dari kulkas.
Aku, Sam, dan Maggie tengah memasak untuk makan malam, lebih tepatnya Sam dan Maggie yang memasak sementara aku hanya ikut ke dapur dan menemani mereka. Sam memutuskan untuk memasak chicken parmigiana. Aku belum pernah memakannya tetapi dari namanya tidak terdengar aneh dan sepertinya makanan itu akan cocok dengan lidahku.
"Brisbane?" Sam mengangguk. "Tidak. Aku dan Sean pernah kesini sekali pada saat awal-awal kami menikah." sahutku.
Sam menoleh lagi padaku dari arah wastafel. "Honeymoon?"
Aku tersenyum pahit padanya, tidak tahu harus menjawab apa. "Aku tidak yakin apakah itu masuk dalam kategori honeymoon atau bukan, soalnya kami hanya menginap semalam."
"Sean sedang bingung bagaimana cara menghabiskan uangnya lebih cepat." tuduh Maggie bergurau, dia baru saja selesai mengupas kentang yang nantinya akan di jadikan mashed potato oleh Sam.
Aku hanya tertawa menanggapi ucapannya. Barusan adalah kalimat pertama yang terdengar nyaring dari mulutnya, sejak tadi di halaman belakang dia hanya membalas datar semua ucapan kami.
"Berapa lama kalian menikah? Kau tahu, kau sangat beruntung mendapatkannya, girl." ujar Sam lagi.
"Hm. Delapan bulan? Sembilan? Tujuh? Aku tidak ingat, sekitar itu pokoknya." jawabku santai. Aku memang tidak ingat, dan juga terlalu malas untuk menghitung.
Sam dan Maggie terkekeh mendengar jawabanku. "Kau memang bermasalah, sist." komentar Maggie. Sam yang saat itu sedang mencuci daging ayam langsung menghentikan kegiatannya dan menatap tajam pada Maggie.
"Maggie," desahnya, membuat Maggie mendadak terkejut, seperti baru teringat akan sesuatu. Kemudian Maggie menoleh padaku dan matanya tampak cemas.
"Ada apa?" Aku bertanya sambil menatap mereka berdua bergantian. Sam masih sinis pada Maggie, sementara Maggie tersenyum kikuk padaku.
Maggie tampak menggigit bibir bawahnya sebelum menjawabku, seolah sedang memikirkan kata yang tepat untuk menjelaskan padaku.
"Oh, aku minta maaf kalau menyinggungmu, hanya saja aku melupakan sesuatu," ujarnya ragu. Kepalau termundur sedikit dan mataku menyipit. "Maksudku... PTSD-mu." lanjut Maggie.
__ADS_1
Aku baru mengerti arah pembicaraannya, sejujurnya aku tidak berpikir sejauh itu, dan aku sontak tertawa melihat wajahnya yang jenaka. Sekarang tawaku semakin kencang seiring wajah Sam dan Maggie yang keheranan menatapku. Mereka mungkin mengira aku benar-benar wanita yang gila, tapi itu tidak masalah selama aku merasa terhibur dengan ekspresi mereka.
Sebelum bersuara, aku mengusap setitik air mata yang muncul di ujung mataku sambil mengatur napas. "Tenang saja, Maggie. Aku tidak masalah dengan PTSD sialan itu." kataku seraya mengibaskan tangan ke udara.
Mereka tampak lega. Sam kembali mengurus daging ayamnya sementara Maggie membereskan kulit kentang dan membuangnya ke dalam tong sampah kecil di bawah wastafel.
Sambil mengamati Sam melumuri daging ayam dengan bumbu tepung yang sudah disiapkannya sebelumnya, aku berkata-kata lagi. "Bagaimana kalian mengenal Sean?"
Sam melirikku dengan kedua alis yang terangkat. "Aku belum terlalu mengenalnya, namun Taylor sering menceritakan tentang Sean padaku, dan itu membuatku merasa dekat dengannya." gumamnya seraya memasukkan ayam ke dalam air fryer.
Kami tidak memiliki wajan yang cukup besar untuk menggorengnya dengan minyak, jadi Sam dengan bijak memanfaatkan apa yang ada dalam gubuk kami. Aku sendiri tidak paham dengan urusan dapur. Tak pernah secara serius berniat terjun ke dalamnya, bahkan saat sudah menikah pun aku tidak peduli dengan barang-barang dapur.
Aku beralih pada Maggie, dia tampak sedang merapikan bagian lengan kausnya. Menggulung sampai beberapa lipatan di kedua sisinya. "Aku mengenalnya sejak pertama kali dia pindah ke Winton bersama orangtuanya. Kami cukup sering menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak lain, termasuk Matt, Taylor, dan Jason."
Aku menganggukkan kepala beberapa kali, lalu lanjut bertanya. "Kau dan Matt, apakah kalian sudah lama menikah?"
Aku baru saja ingin bertanya, namun suara Sam sudah menjawab rasa penasaranku. "Bersabarlah, girl. Kalian masih muda dan masih banyak kesempatan untuk mendapatkan anak. Lagi pula, anak bukan satu-satunya alasan untuk menikah. Aku yakin kalian menikah bukan karena ingin memiliki anak, kan?"
Entah kenapa aku merasa tersindir dengan perkataan Sam. Dia benar sepenuhnya, anak memang bukan alasan ketika dua orang memutuskan untuk menikah. Tapi aku pernah agak gila karena kehilangan bayi dalam kandunganku. Saat itu aku menyalahkan diriku sendiri sampai Sean sendiri nyaris putus asa menghadapiku.
Aku mendekati Maggie, menepuk pundaknya beberapa kali. "Tuhan masih memberikan kalian kesempatan untuk bermesraan lebih lama, Maggie." selorohku. Maggie menoleh dan tersenyum, namun raut kesedihan belum sepenuhnya hilang dari wajahnya.
"Hei, aku belum tahu pekerjaan kalian." ucapku mengalihkan pembicaraan. Obrolan tidak akan asik jika salah satu dari kami tidak menikmati.
Aku kembali melangkah ke kursiku. Duduk disana dengan siku bertumpu di atas meja dan menopang dagu. Sementara Sam juga menadaratkan bokongnya di sebelah Maggie.
Sam yang lebih bersemangat menjawab lebih dulu. "Aku bekerja di klinik milik pamanku. Menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari bersama pasien yang beraneka macam tingkahnya, sampai terkadang aku merasa geram dan ingin berhenti saja." Sam menghela napas. "Tapi aku terlalu mencintai pekerjaan itu, makanya aku bertahan sampai sekarang dan mungkin akan selamanya bekerja disana."
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan disana?" tanyaku penasaran.
Sam tidak langsung menjawab, dia menatapku sebentar sambil memilin bibirnya. Tampak ragu dengan jawaban yang akan keluar dari mulutnya. Menyaksikannya begitu, membuatku juga agak waswas. Entah kenapa aku melihat sorot kekhawatiran di matanya saat menatapku.
Aku menaikkan sebelah alis, menyatakan bahwa aku menunggu jawabannya. Setelah beberapa saat Sam akhirnya menjawabku. "Membantu orang-orang sepertimu."
Aku terkesiap. Pikiranku mulai melayang pada tujuan Sean membawaku kesini, jangan-jangan dia ingin Sam membantuku menghilangkan trauma. Sebenarnya aku tidak terlalu mempermasalahkan itu, tapi jika memang benar itu alasannya membawaku kemari, bukankah seharusnya dia mengatakannya padaku?
Mendadak aku merasa tidak nyaman dengan suasana ini, dan aku tahu sesuatu di dalam diriku sedang memberontak. Aku lagi-lagi di hadapkan dengan situasi yang membuatku merasa tiba-tiba kacau. Aku ingin marah, dan mengumpat siapa saja yang ada di depanku saat ini. Namun aku berusaha menahan semua perasaan itu sekarang, dan sebagai gantinya aku pamit pada Sam dan Maggie.
"Maaf, aku ke kamar sebentar." kataku, lalu berderap meninggalkan mereka tanpa berniat menunggu mereka membalas ucapanku.
Begitu masuk ke dalam kamar, aku langsung menutup pintu dan bersandar disana selama beberapa saat. Mataku terpejam sementara aku berusaha mengatur napas yang kini terasa tersangkut di tenggorokan.
Sam dan Maggie mungkin mengira bahwa aku sedang dalam masalah besar dan langsung memanggil Sean, karena saat ini aku mendengar suaranya memanggilku dari balik pintu. "Franda,"
Aku belum menjawab. Sekarang dia mengetuk pintu dengan keras dan berulang-ulang seraya terus memanggilku. "Franda, apa kau baik-baik saja?"
Tiba-tiba kepalaku berdenyut, dan dadaku sesak seakan terhimpit oleh dua buah batu besar. Tanpa sadar aku menangis, kemudian berubah histeris ketika mataku menangkap sesuatu yang berada di nakas. "Tidak!" Aku menggeleng keras-keras, mengusir pikiran setan yang saat ini menghuni kepalaku.
Namun itu tidak semudah yang kubayangkan. Aku sangat ingin membuka pintu, tetapi tubuhku malah mendekat ke arah nakas. Kakiku tak mau berhenti melangkah meski aku sekuat tenaga menahan gerakanku. Sesuatu memang sedang mengendalikan pikiranku, dan aku tidak sanggup melawannya.
"Tidak! Tolong... jangan." Aku berteriak seperti orang gila, berupaya membuat pikiranku kembali fokus agar tidak terpengaruh untuk mengambil benda itu. Tapi lagi-lagi aku tidak mampu menghadapinya. Dia terlalu kuat merasukiku, memaksaku melakukan sesuatu yang aku sendiri tidak pernah menginginkan itu.
Tanganku terjulur ke depan, nyaris menyentuh gunting saat pintu di belakangku tiba-tiba terbuka, dengan cepat aku berbalik dan berlari menghambur ke dalam pelukan Sean. "Tolong aku, Sean. Please... aku tidak mau melakukannya, dia yang menyuruhku, Sean. Tolong aku... Selamatkan aku, Sean. Selamatkan aku."
Aku bisa merasakan Sean memelukku erat-erat. Dia mencium kepalaku berkali-kali sambil menggumam. "Tenanglah, Franda. Kau akan baik-baik saja. Aku disini bersamamu."
__ADS_1