
...Sean Danial Warner POV....
"The best love is the kind that awakens the soul and make us reach for more, that plants a fire in our hearts and bring peace to our minds. And that's what you've given me. That's what I'd hope to give you forever."
~Noah Calhoun~ The Notebook.
***
Berapa banyak waktu yang telah kulewatkan sejak pertama kali kami bertemu? Aku tak pernah memikirkan ini sebelumnya. Tapi setelah segala yang terjadi dalam hidupku, aku menyadari satu hal. Bahwa setiap orang memiliki satu momen khusus dalam hidupnya yang takkan pernah terulang kembali.
Jika kau melewatkannya, maka itu hanya akan menjadi kepingan masa lalu yang telepas dari hidupmu, yang entah bagaimana, tak akan ada sesuatu yang bisa menggantikan tempatnya.
Aku pernah kehilangan dia. Dan aku bahkan tidak menyadarinya sampai aku melihat dia kembali dalam foto yang diberikan Dhea padaku. Aku ingin mempercayai bahwa saat itu adalah momenku, dan aku tidak ingin melepaskannya. Terbukti, setelah sekian tahun perjuangan menantikannya, aku berhasil mendapatkannya. Jadi, apakah aku harus menyerah sekarang? Tentu saja tidak.
"Ini semua idemu?" Franda mengerutkan keningnya melihatku berjalan mendekat ke bangku taman tempatnya berada. Dia tampak marah.
Tapi setidaknya dia tidak beranjak, atau lari dariku.
Aku menghela napas panjang lalu menurunkan tubuhku berjongkok di depannya sehingga wajah kami sejajar, kemudian menjulurkan tanganku untuk menggenggam tangannya yang terkepal di atas pangkuannya. "Diluar dingin, kau bisa kena flu, Franda."
Ada secercah kilatan di matanya saat mendengar perkataanku, tapi langsung menghilang secepat dia datang. "Apa pedulimu?" Franda menarik tangannya dariku.
Aku merasa jantungku mengkerut di rongga dadaku saat menatap ke dalam matanya dan menangkap kesedihan itu masih ada disana. Dia tidak bicara padaku selama berhari-hari, itu menyiksaku. Jadi, mendengarkannya saat ini saat dia sedang menumpahkan semua kemarahannya, bagaimanapun, membuatku sedikit terhibur.
"Aku merindukanmu, Sayang." gumamku lembut seraya tersenyum.
Kulihat kilatan itu kembali di matanya sebelum dia buru-buru mengerjap dan mengalihkan pandangannya dariku. "Kenapa? Kau merasa kehilangan karena sekarang kita tidak bicara lagi satu sama lain? Jangan khawatir, kuyakin kau akan segera terbiasa. Lagi pula, kau punya begitu banyak teman, belum termasuk gadis cantik yang menempel seperti perangko padamu waktu itu..."
Baiklah, ini sudah cukup. Semakin dia menyebutkan tentang gadis lain, dia terdengar semakin marah. Aku tak bisa menjelaskan alasanku bersama Paula malam itu, tapi dia harus tahu perasaanku yang sebenarnya.
Aku menundukkan kepala sejenak sebelum menatapnya lagi. "Kukira menjauhkanmu dari semua masalahku adalah yang terbaik. Aku tak ingin membuatmu cemas, karena itu aku tidak mengatakannya padamu."
Dia menggerakkan kepalanya dan untuk pertama kalinya, dia menatap mataku. Kini aku bisa merasakan bahwa kami sudah terhubung satu sama lain, dan aku tahu inilah saatnya.
"Aku mencintaimu, Franda. Jangan bilang aku tak peduli padamu, kaulah satu-satunya yang paling kupedulikan."
Perlahan kulihat sinar matanya melembut ketika dia melihatku, itu membuat satu beban berat seolah terangkat dari hatiku. Aku meraih tangannya kembali, kali ini dia membiarkan jemarinya berada dalam genggamanku. "Kadang aku mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak kukatakan seperti malam itu. Caraku bicara padamu..." Aku berhenti sejenak dan mengamati wajahnya lekat-lekat. "Aku minta maaf, Franda."
Untuk beberapa saat hanya terdengar suara gemericik dari air mancur di seberang taman, serta ranting dan dedaunan pohon spathodea yang tertiup angin di sekitar kami.
Kedua mata cokelat-nya menatapku intens dan raut wajahnya tampak emosional, seakan ada pergolakan disana. Terasa sangat lama menunggunya bicara, dan meskipun sorot matanya mengungkapkan semua hal yang ingin kuketahui, tapi aku perlu mendengar dia mengatakannya sendiri.
Aku menahan napas ketika perlahan dia mengulurkan tangannya menangkup sisi wajahku. "Jangan menyembunyikan apapun dariku lagi, itu menyakitkan mengetahui hal yang begitu penting tentangmu dari orang lain. Rasanya seperti aku berada jauh diluar hidupmu." gumamnya lembut, sangat lembut sampai aku merasa tertarik ke dalam pikirannya.
Dia mengusap sisi wajahku dengan ujung jemarinya, dan kedua matanya yang indah menatapku bergantian. "Kau adalah duniaku, Sean. Dan aku berharap kau juga merasakan hal yang sama."
Aku menariknya ke dalam pelukanku dan seketika gejolak kehidupan merayapi sepanjang tulang belakang sampai ke kepalaku. "Tentu, Sayang. Aku merasakan hal yang sama, bahkan lebih dari yang kau bayangkan."
__ADS_1
Satu masalah terlewati malam ini, tapi itu tidak menutup kemungkinan bahwa kami akan bertengkar lagi setelah ini mengingat urusanku dengan interpol belum selesai, dan juga masalah tentang Paula. Tapi untuk sekarang, aku ingin mengenyahkan segala pikiran itu. Franda baru saja berhasil kumenangkan kembali, maka harus ada perayaan untuk ini.
Aku menarik lepas pelukanku dan dengan cepat mengangkat tubuhnya ke dalam gendonganku lalu melangkah membawanya ke mobil. Dia sempat terkejut dengan gerakanku yang tiba-tiba, namun segera tersenyum dan diikuti oleh uluran tangannya melingkari leherku.
Aku meliriknya sekilas dan menadapati dia sedang tersenyum dengan wajah kemerahan. "Kau terpesona denganku, Franda?" ujarku menggodanya, membuat wajahnya semakin memerah.
"Hm." desahnya. "Kau tahu? Sebenarnya aku masih ingin marah padamu, tapi entah kenapa sulit sekali rasanya menahan diriku. Kau, dan tampang sialan-mu ini, selalu saja berhasil mengalahkanku."
Aku terkekeh. Membuka pintu mobil, lalu mendorongnya masuk dengan hati-hati, seolah dia adalah berlian rapuh yang jika terbentur sedikit saja, maka dia akan hancur berkeping-keping. Aku memasangkan sabuk pengaman tanpa menolehnya, namun bisa merasakan dia tidak mengalihkan pandangannya dari wajahku.
Ketika aku akhirnya menatapnya, aku tidak bisa menahan lebih lama untuk tidak mencicipi bibirnya yang lembut dan sangat kurindukan. Secepat kilat aku meraih wajahnya lalu membenamkan mulutku di mulutnya. Aku menciumnya dengan lembut, berupaya menyatakan terima kasih dan ucapan syukur yang mendalam untuk kebaikannya yang luar biasa dalam memahamiku.
Aku menarik bibirku setelah merasa kami nyaris terserang sesak napas, namun tetap menempelkan keningku padanya. "Kau memang wanitaku yang luar biasa. Entah dengan apa aku harus membayar kebaikanmu dalam hidupku, Franda." kataku di depan wajahnya.
Dia tersenyum sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal, lalu dengan nakal dia menyentuh bagian tubuhku yang sudah keras dan penuh, meremasnya pelan, membuatku menggeram dan terpejam. "Franda,"
Makhluk seksi itu terkikik sambil menggerakkan tangannya yang gemetar dengan liar naik sampai ke dadaku. Aku tahu dia sedang menginginkanku seperti aku menginginkannya. Jadi, seperti yang kukatakan, kami harus merayakan momen ini dengan baik.
Secepat kilat aku memundurkan tubuhku dan menutup pintu di sisinya, lalu beralih ke kursi pengemudi. Aku melaju dengan kecepatan penuh sambil menggeram beberapa kali sementara wanita di sampingku itu terus-menerus tertawa.
"Wah... kau sangat tidak sabaran ya, Samson!" katanya saat aku menggendongnya kembali naik ke rumah kami setelah meminta Darren memarkirkan mobil.
Aku berjalan dengan tergesa-gesa, seakan takut dia menghilang lagi dariku. Tak peduli pada tatapan terkejut sekaligus geli dari para asisten rumah tangga yang kebetulan sedang berkumpul di ruang keluarga sambil menonton. Mereka pasti puas bergosip habis-habisan karena tidak ada siapa-siapa dirumah ini. Ibu sedang dirumah Ed, sementara Ben sedang menginap dirumah Nino, dan Mia masih tertahan si Queensland, yang mungkin saat ini sedang bersenang-senang bersama Jason.
"Hai, semuanya... Senang berjumpa lagi, kita akan mengobrol nanti, ya." Franda bersorak kegirangan pada mereka seraya mengayunkan sebelah tangannya dengan riang.
Tiba di kamar, aku menghempaskan tubuhnya ke ranjang, lalu buru-buru melepaskan pakaianku kemudian segera bergabung denganya. Semburat merah yang indah menghisasi pipinya. "Astaga, Franda..." Aku tertawa usai melihatnya gugup, bergairah dan canggung. "Apakah kau ingin mandi lebih dulu? Atau kau ingin basah-basahan denganku?"
Franda mendorongku sampai telentang di sampingnya lalu naik hingga duduk di atas perutku. Dia merunduk mendaratkan ciuman bertubi-tubi di bibir dan seluruh bagian tulang rahangku. Dengan kedua tangan bertumpu di sisi kepalaku, matanya menatap ke dalam mataku. Kilatan gairah jelas terpancar disana. "Aku sudah menantikan ini cukup lama, dan sekarang kau memintaku untuk menunda lagi? Dalam mimpimu, Warner!"
Aku terkesiap saat dia meraih mulutku dengan rakus dan membujukku dengan liar, menyapukan lidahnya terburu-buru. Aku tersenyum di mulutnya, dengan senang hati membalas bujukannya.
Yang terjadi beberapa menit berikutnya adalah dia sudah terbaring di bawahku tanpa pakaian, (aku tidak bisa mengingat bagaimana detailnya) dengan wajah dipenuhi gairah dan dada yang naik turun sementara pinggulnya bergerak gelisah menunggu saat-saat yang mendebarkan ketika aku menyerangnya.
Untuk sesaat, aku memanjakan mata dengan menikmati pemandangan indah di bawahku. Dia begitu seksi dan menggoda, begitu indah sampai rasanya aku ingin melahapnya detik itu juga. Tapi masih kutahan keinginanku itu sementara waktu aku menggodanya.
Tanganku terulur menjelajahi sekujur tubuhnya yang ramping mempesona, menyentuhnya dengan segenap perasaan memuja dan menghormati sekaligus. Semua perlakuan itu sangat pantas untuknya. Franda merupakan satu-satunya wanita yang membuatku gila dan merasa bergairah sepanjang waktu. Wanita ini, dengan bernapas saja dia sudah membangkitkan gairahku.
"Franda," Aku menggeram, menatap matanya yang berkilat-kilat sementara tanganku menjalari sekujur tubuhnya.
"Ya," desahnya, lalu menelan ludah. Napasnya gemetar dengan dada bergerak naik-turun.
"Maafkan aku." Detik itu juga tubuhnya melengkung indah, merespon gerakan liar dari jemariku yang menggoda kewanitaannya.
Kedua tangannya yang rapuh menarik leherku dan dia menciumku dengan rakus seperti orang yang kelaparan setengah mati. Aku tersenyum di mulutnya, dengan jemariku yang masih liar membujuk bagian tubuhnya yang merah berdenyut. Menyaksikan wajahnya yang mendamba adalah suatu kepuasan tersendiri bagiku, membuatku merasa begitu dibutuhkan olehnya.
Ketika gerakan bokongnya semakin gelisah di bawahku, dan ciumannya menjadi lebih kasar, aku menyadari bahwa dia akan segera mendapatkan pelepasan. Dengan cepat aku menghentikan kegiatan tanganku. Raut frustasi tampak jelas diwajahnya, namun itu hanya sebentar, karena detik berikutnya aku mendesak kejantananku yang sudah penuh dan keras ke dalam tubuhnya yang paling dalam.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, Franda menjerit dan dia bergetar hebat. Sangat hebat untuk waktu yang lumayan lama.
"Itu... benar-benar luar biasa." gumamnya di antara napasnya yang tersengal-sengal.
Aku tersenyum padanya. "Kau menyukainya, Sayang?" tanyaku sambil menggoyangkan pinggulku perlahan, membujuknya lagi hingga dia mendesah.
"Hmm.." lirihnya, seraya memejamkan mata. Kedua tangan indahnya meremas pelan masing-masing lenganku. "Kau memang handal." Dia membuka mata, menghadiahiku sebuah senyum lembut.
Dengan tubuh yang masih menyatu, aku menariknya hingga dia duduk di atas pahaku. Untuk sesaat, aku menikmati momen itu dengan mengamati wajahnya. Dia sangat cantik, sangat seksi, dan sangat bergairah, dan semua itu membuat perasaanku semakin dalam padanya.
"Aku mencintaimu, Franda." kataku sambil menatap matanya yang berkilat.
Bibirnya melengkung tinggi dan pipinya merona. Dengan sebelah tangan dia menyapu sejumput rambut dari wajahnya ke belakang telinga lalu mencium bibirku sekilas. "Aku juga mencintaimu, Warner." balasnya, kemudian pandangannya menelusuri wajahku sementara jemarinya meremas pelan rambutku. "Aku mencintaimu dengan atau tanpa kekayaanmu. Jangan takut aku meninggalkanmu jika nanti kau benar-benar kalah di persidangan itu. Tidak akan ada yang berubah di antara kita. You're my whole life." Matanya berkaca-kaca, sorotnya menunjukkan ketulusan dalam setiap kata-katanya.
Mendadak aku merasa lega, seakan lagi-lagi satu beban berat baru saja terangkat dari pundakku. Seiring dengan itu, perasaan bersyukur lebih banyak memenuhi rongga dadaku. Aku tidak tahu dimana lagi aku bisa menemukan wanita yang memiliki ketulusan seperti Franda. Dari sekian banyak yang sudah kutemui sepanjang hidupku, hanya dia satu-satunya di antara mereka yang memiliki sifat itu. Franda-ku.
"Ya Tuhan, Sean... kau menangis?"
Aku mengerjap. Tertunduk, lalu tersenyum simpul. Merasa senang, tenang, dan damai dengan keadaan ini. Aku mengangkat wajah dan menatapnya lagi. "Terima kasih, Franda. Terima kasih, malaikatku."
Secepat kilat suasana haru itu berganti menjadi panas lagi saat dia dengan genit menggerakkan bokongnya. Membangkitkan kembali bagain tubuhku yang sempat terbawa arus sendu untuk beberapa saat. Mataku membulat, sementara dia menyeringai jahat seperti iblis, namun dengan cara yang seksi.
"Kau bisa berterima kasih setelah ini, Samson." gumamnya nakal, lalu mendorong tubuhku hingga punggungku menyatu dengan permukaan kasur.
Aku belum sempat melontarkan apapun untuk merespon gerakannya yang mendadak saat dia kembali mengejutkanku dengan mulutnya yang kelaparan merayu kejantananku. "Ah, Franda..." geramku.
Dia melirikku, matanya tersenyum padaku. "Ya, ada apa, Sayang?" balasnya dengan genit, lalu menenggelamkan kejantananku ke dalam mulutnya.
"Franda, kau..." Aku mengerang saat tangannya ikut membantu gerakan mulutnya, menciptakan suatu konspirasi untuk menyiksaku lebih jauh. Dia dan sekujur tubuhnya yang indah dan mempesona, sedang memanjakanku sampai rasanya aku berada di atas awan.
"Aku apa, Sean?" tanyanya, menantang lewat tatapan matanya yang berkabut.
"Sialan!" umpatku. Aku langsung menegakkan tubuhku dan balik menindihnya. "Kau... aku akan menghancurkanmu malam ini, Franda. Tidak ada yang akan menyelamatkanmu selain puncakmu sendiri. Aku akan membuatmu menjerit sampai kering."
Dia terkekeh beberapa detik sebelum aku menghujamnya dengan keras dan menggerakkan punggungku hingga tubuhnya berguncang-guncang indah di bawahku. "Oh God, Sean... that was deep."
"Mm.. ya." erangku berat. "Kau menyukainya?" Aku berkata tanpa menghentikan gerakan pinggulku, mendesak tubuhku lebih jauh ke dalam dirinya yang merekah.
"Ah, Sean..." dia menjerit sambil berpegangan pada lenganku. Jemarinya meremasku kuat-kuat saat dia merasakan puncaknya yang mengalir deras.
"Sudah kukatakan, kau akan kering Franda." Aku menghujamnya lagi, lebih cepat, dan lebih dalam, tidak berniat memberinya waktu untuk beristirahat sedikitpun. "Nikmati, Sayang. Aku akan menghiburmu sampai kau puas malam ini. Aku akan membayar semua penantianmu dengan pantas. I'm going very rough to you!"
"Oh, shhhhiittt! You're damn hot."
***
Teman-teman, please leave a comment. Kasih semangat aku buat nulis. Satu komen dari kalian sangat berarti untuk memperbaiki suasana hatiku dan membuat tulisanku menjadi lebih menarik untuk dibaca. So, sempatkan mengetik sesuatu ya. Much❤️
__ADS_1