
Teman-teman, aku sudah buat akun instagram untuk informasi update dan bakal ada giveaway dalam waktu dekat sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada kalian yang selalu setia mengikuti ceritaku. Silahkan di pantau akun instagram @penulis.dignity dan kita bisa ngobrol disana. I love you, guys😘
***
...Liliana Warner...
"Apa sudah keluar?" Dad bertanya mungkin sudah yang ke seratus kalinya dalam satu jam belakangan.
Aku membuang napas frustasi. Jika dia saja tak sabar, lalu bagaimana denganku? Aku cemas setengah mati menunggu email sialan yang sangat kami nantikan selama ini. "Belum, dad."
Aku menggerakkan mouse dan me-refresh halaman email masuk di laptopku. Kami sudah duduk di ruang keluarga selama sejam terakhir. Dengan perasaan was-was menantikan kabar yang entah bahagia atau justru sebuah mimpi buruk.
Ini menyangkut masa depanku. Jika aku gagal kali ini, maka aku tidak tahu harus melakukan apa lagi. Aku sudah berjuang setengah mati agar berhasil mencapai titik ini, semua kemampuanku sudah kukerahkan dan aku belajar dengan sungguh-sungguh hingga berat badanku turun drastis.
Dad dan mom mengomel berkali-kali karena aku terlalu fokus mengejar keinginanku yang satu ini, tanpa mereka ketahui, merekalah alasanku melakukannya. Latar belakang mom yang rumit membuatku merasa tertantang untuk mempelajari pola pikir manusia. Aku ingin mengetahui lebih banyak perilaku orang-orang di sekitarku, dan mungkin bisa membantu salah satu dari mereka suatu hari nanti.
"Aku akan membuat teh lagi." Mom berdiri, menepuk pundak dad beberapa kali sebelum melangkah menuju dapur. Ini yang ketiga kalinya dia membuat teh. Kegiatan yang sengaja dilakukannya berulang kali untuk mengatasi kegugupannya.
Saat aku me-refresh halaman lagi, tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara bel pintu yang berdering kencang. Dad dan aku terlonjak kaget, nyaris melompat. Kemudian aku berdiri dan berjalan menuju pintu depan.
Ketika aku membuka pintu, aku mendapati uncle Taylor dan istrinya berdiri di depan pintu masuk. "My love, Lily..." uncle Taylor memelukku. "Apa hasilnya sudah keluar?" Raut penasaran tergambar jelas di wajahnya.
Aku menggeleng. "Kami masih menunggu." Aku beralih memeluk aunty Sam, wanita yang banyak membantuku dalam mencapai misi ini. "I miss you, guys. Masuklah, dad dan mom sudah menunggu."
Keduanya melangkah lebih dulu sementara aku mengikuti dari belakang. Aku mengagumi sahabat kedua orang tuaku itu, mereka orang yang sangat menyenangkan, terutama aunty Sam. Perannya sangat banyak dalam membantu upayaku. Dia tidak segan-segan meluangkan waktu sampai rela menginap di rumah kami dan meninggalkan suaminya.
"Man, wajahmu kusut sekali. Santai sedikit kenapa, sih! Aku yakin Lily kita yang hebat pasti berhasil. Aku sendiri yang sudah mengajarinya, bukan begitu, keponakan tersayangku?"
Aku terkekeh mendengar celotehan uncle Taylor dan mengangguk. "Ya, kau sangat membantuku, Sir. Terima kasih." balasku menyindir. Mengajari yang dimaksudnya adalah membaca buku-buku milikku dan menjelaskan apa yang sudah kupelajari. Sama sekali tidak berguna.
Aku memandang ke arah laptop, sekali lagi me-refresh halaman email masuk, namun belum menghasilkan apapun. Ya Tuhan, bagaimana jika aku benar-benar gagal? Dad dan mom pasti akan sangat kecewa.
__ADS_1
"Dimana anak-anak yang lain?"
"Aku disini." Karen, si mulut pedang menjawab selagi dia menghampiri kami sambil memegang sebungkus lays di tangannya. "Hai, Taylor... Hai, Sam!"
Kali ini kedatangan Karen cukup membantu. Setidaknya mulutnya akan mengurangi ketegangan dan sedikit menyegarkan pikiran kami.
"Apa hasilnya belum keluar?" tanya Karen begitu dia duduk disampingku, matanya memandang laptop sementara mulutnya menguyah makanan, menghasilkan bunyi yang amat mengganggu kenyamanan telingaku.
"Hm. Aku tidak percaya ini. Kami sudah menunggu selama satu jam lebih dan tidak ada satupun email yang masuk." Aku menggerutu kesal.
Karen menyipitkan mata, tampak sedang memikirkan sesuatu. Biar kuberitahu, selain mulutnya yang tajam, otak yang dimiliki Karen juga lumayan tajam. Tak jarang dia mengatakan sesuatu yang tidak kami duga sebelumnya dan kebanyakan dia benar. "Apa kau sudah memeriksa folder spam?"
Oh, astaga... kenapa aku tidak memikirkan itu? Liliana Warner, kau baru saja dikalahkan oleh anak umur dua belas tahun!
Dengan segera aku langsung membuka folder spam. Dan benar... email itu masuk kesana! Sekarang, terima kasih kepada aunty Mia yang sudah melahirkan Karen. Kali ini aku benar-benar tulus mengatakannya.
Sebelum membuka email itu, aku berpindah ke samping dad dengan membawa serta laptopku. "Kita akan melihatnya, dad."
Dad tampak antusias, menggosokkan telapak tangannya ke celana dengan raut tak sabaran. Uncle Taylor dan aunty Sam berdiri di belakang sofa, mom yang baru muncul dari dapur sambil membawa teko teh tak sempat mengatakan apapun untuk menyapa kedua sahabatnya karena pandangan kami semua fokus ke arah laptopku.
Tapi kemudian mom tiba-tiba memutar layar laptop menghadapnya, tepat sebelum aku membuka email itu, membuat kami semua melayangkan tatapan protes padanya. Dia cuek. "Jangan sok dramatis." katanya, dengan enteng menepuk pungggung tanganku yang berada di atas mouse.
Gerakan mom yang tiba-tiba dan tak kuduga spontan membuatku menekan tombol dan email itu pasti sudah terbuka. Kami memandangi mom dengan perasaan cemas sementara dia menyipitkan mata. "Oh, aku butuh kacamata." dengkurnya seringan kapas, tak peduli pada perasaan orang-orang di hadapannya.
Kasak-kusuk geraman protes seketika memenuhi ruangan. Dad yang pertama kali bersuara. "Franda, kumohon jangan bercanda..." katanya dengan nada putus asa.
Si wanita tua yang menjabat sebagai istrinya itu menggeleng ringan. "Aku tidak bercanda, Warner." Dia menoleh Karen. "Sweetheart, tolong ambilkan kacamataku di ruang kerja."
"Aku bisa membantumu membacanya, mom." sergah Karen.
"No, ambilkan saja kacamataku. Cepat."
__ADS_1
Aku mendesah sementara Karen terpaksa melangkahkan kakinya ke ruang kerja mom.
"Bagaimana kalau kita minum teh sementara menunggu Karen yang berjalan seperti siput?" gumam uncle Taylor.
Ingin sekali rasanya aku merebut laptop itu dari tangan mom, tapi itu bukan ide bagus mengingat dia yang paling berkuasa di rumah ini. Dad saja tidak pernah bisa melawannya. Mungkin hanya sesekali dia mendapat kesempatan membungkam mulut istrinya, itupun jika dia sedang beruntung. Tapi kebanyakan dad selalu sial.
Aku menggerutu dalam hati, mengumpat Karen yang kuyakin sengaja berlama-lama mengambil kacamata mom. Dad mengusap kasar wajahnya sementara uncle Taylor dan istrinya sibuk menyesap teh. Mom masih santai bersandar di sofa sambil menahan laptop di pangkuannya.
"Karen, cepatlah!" gumam dad setengah membentak begitu Karen muncul dari arah pintu ruang kerja mom.
"Sabar sedikit kenapa sih, dad. Dilihat sekarang atau besok hasilnya tidak akan berubah." balasnya ketus.
Ya, dia benar... kenapa juga kami harus terburu-buru melihat email itu? Dan bagaimana jika isinya tidak sesuai dengan yang kuharapkan. Oh, kumohon, Tuhan... jangan sampai itu terjadi.
Mom memakai kacamatanya lalu melihat email di laptopku. Untuk beberapa saat rautnya tidak berubah hingga mendadak dia terlihat seperti terkena serangan jantung. Kedua tangannya menempel di dada dengan mulut terbuka sedikit. Kemudian dia mengangkat kepala menatapku seraya menggeleng lemah.
Aku melemas. Hilang sudah harapanku. Aku gagal. Kusembunyikan wajahku pada telapak tangan dan aku menangis. Dad berusaha menenangkan dengan mengusap punggungku tapi yang terjadi malah sebaliknya, tangisanku semakin kencang.
"Ben, bawakan kami champagne!" Mendadak mom berteriak pada kakakku.
Aku tercengang. Oh, no, tunggu... "Mom, please!"
"You made it, sweetheart. We have to celebrate." Dia memutar layar laptop ke arahku. "You're going to Stanford."
Sontak mata dan mulutku membuka lebar sementara sorak-sorai kebahagiaan mulai menggema di seluruh ruangan. Aku masih terbengong saat dad tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi. "Liliana, aku bangga padamu, 'lil lady." katany dengan mata berbinar-binar.
Aku masih syok dan terdiam membeku sementara yang lain mulai bergantian memelukku. "Apa ini nyata?" Aku bertanya seperti orang bodoh, entah pada siapa.
Aku sudah menduga kalau aku pasti berhasil karena usahaku sendiri tidak bisa dibilang main-main. Tapi tetap saja membayangkan aku akan kuliah di Stanford University merupakan hal yang paling mengejutkan. Ini... rasanya masih sulit kupercaya.
"Sudah kubilang, Lily kita pasti berhasil!"
__ADS_1
***
Ini benar-benar chapter terakhir di buku ini. Cerita tentang perjuangan Lily selama berada di Amerika akan rilis setelah Bianka dan Paul tamat. Please, tulis pendapat kalian tentang buku ini ya, guys. I love you...