Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Husband


__ADS_3

Franda kembali kekamarnya setelah beberapa saat mengobrol dengan Mia dan Edward, Ia langsung disambut oleh dering ponselnya. Ia langsung menyambar benda yang terletak disofa itu dan melihat Sean yang menhubunginya.


"what's up?" katanya tanpa basa-basi.


"Do you have time?" tanya Sean diujung sana.


"I'm not sure, ada apa?" Franda menjawab malas, Ia masih kesal dengan Sean.


"Aku ingin mengajakmu makan siang." kata Sean langsung mengutarakan niatnya.


"Aku tidak bisa, banyak hal yang lebih penting untuk kulakukan selain makan siang bersamamu!" kata Franda ketus.


"Ayolah, Franda! Hanya sebentar, aku benar-benar ingin meminta maaf padamu" Sean berusaha membujuk Franda.


"Maafmu diterima! Sudah, kan?" jawab Franda, tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Sean.


"Aku ingin bertemu denganmu, please... Aku janji tidak akan lama, hanya makan dan setelah itu kau bisa langsung pulang" kata Sean berusaha lagi.


"30 menit, tidak lebih! Kirimkan padaku alamatnya." Franda langsung mematikan telepon tanpa memperdulikan Sean yang bingung ditempatnya.


.


Franda sedang melaju dengan mobilnya menuju ke sebuah restoran yang dimaksud oleh Sean, perjalanannya tidak memakan waktu terlalu lama karena jalanan hari ini memang sedikit lengang.


Franda memarkirkan mobilnya dan langsung masuk kedalam restoran tersebut, dari pintu masuk Ia dapat melihat Sean yang menunggunya disudut ruangan.


"Apakah aku terlambat?" tanyanya mengejutkan Sean yang sedang asik dengan ponselnya.


Sean menatap Franda, Ia kagum dengan kecantikan wanita yang berbalut dress selutut tanpa lengan berwarna peach itu.


"Hey?" Franda menggoyangkan telapak tangannya didepan wajah pria itu yang melamun itu, membuyarkan lamunannya seketika.


"Oh, hey! Maaf... Kau sendiri?" tanya Sean yang malu-malu karena kedapatan melamun.


"Kau mau aku membawa siapa? Kupikir kau mau makan siang denganku." jawab Franda ketus, lalu menghempaskan bokongnya ke kursi dihadapan Sean.


"Ah, iya... Kau mau makan apa?" kata Sean sambil melihat-lihat menu.


"Samakan saja denganmu, kurasa selera makanmu tidak terlalu buruk." Franda menjawab sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.


Sean langsung memesan makanan mereka saat seorang pramusaji mendekat.


"Kau baik-baik saja?" tanyanya ketika sang pelayan sudah menjauh.


"Ya, setidaknya sudah lebih baik sekarang" jawab Franda.


"I'm sorry about the last day we met, I didn't mean it..." Sean menatap Franda, berusaha menunjukkan ketulusan dengan kata-katanya.


"Forget it, aku juga mau berterimakasih sudah membantuku saat itu." Franda tersenyum yang kemudian dibalas oleh Sean.

__ADS_1


"Bagaimana dengan suamimu?" tanya Sean.


"Aku tidak tahu, aku belum menemuinya dua hari ini." Franda menjawab santai.


"Kami belum berhubungan sejak aku meninggalkannya dua hari lalu." kata Franda melanjutkan.


"Oh, ya? Kau tinggal dimana?" Sean yang baru mengetahui itu sedikit terkejut.


"Dirumah orangtuaku, mungkin aku akan disana selama beberapa waktu..." ucap Franda.


"Oh, baiklah. Boleh aku mengunjungimu disana?"


"Tentu saja tidak! Aku tidak mau memperburuk keadaan, apa yang akan mereka katakan jika melihat seorang pria mengunjungiku disaat aku masih memiliki suami yang bahkan belum mendatangiku sama sekali." Franda menolak tegas.


"Ah, ya! Kau benar, tapi kau bisa menghubungiku kapanpun kau membutuhkan" kata Sean tersenyum.


"Kau menawarkan dirimu?" tanya Franda, yang tak sempat dijawab Sean karena pesanan mereka datang disaat yang sama.


Mereka makan sambil sesekali mengobrol, Sean senang melihat Franda menyukai makanan yang dipesannya di restoran Jepang itu. Saat asik mengobrol dengan suara seseorang yang sangat dikenali oleh Franda, membuatnya berhenti mengunyah dan menjatuhkan sumpit ditangannya.


"Kau bersenang-senang rupanya, Sayang!" kata pria tersebut yang ternyata adalah Nino.


"Nino..." ucap Franda lirih


"Tadinya aku mengira kau akan menghabiskan waktu dengan menangis tanpa henti dikamar dan mengutukku karena menyakitimu, tidak menyangka aku bisa melihatmu disini bersama seorang pria..." kata Nino, Ia berusaha tersenyum. Melirik Sean sebentar.


"Ya!" Franda menjawab singkat.


"Well, kurasa sekarang kita impas, aku juga tidak harus selalu merasa bersalah padamu bukan?" Nino berkata sinis, matanya jelas sekali menunjukkan kemarahan.


"Apa maksudmu?" tanya Franda tak suka. Ucapan suaminya seolah-olah menuding bahwa Ia juga berselingkuh sengan Sean.


"Sayang, kau pasti tahu maksudku" kata Nino, lalu menatap Sean.


"Bisa aku berbicara dengan istriku?" lanjutnya mengusir Sean.


"Aku pergi dulu, aku akan menghubungimu nanti." kata Sean tanpa menjawab Nino. Ia berdiri dan tersenyum pada Franda, lalu meninggalkan sepasang suami istri itu disana.


"Siapa dia?" ucap Nino, bertanya dengan ketus.


"Temanku!" jawab Franda singkat.


"Sayang, aku mengetahui siapa saja temanmu, dan aku yakin dia bukan salah satunya. Apakah kau ingin membalasku?" kata Nino, lagi-lagi menuduh.


"Kau pikir aku wanita seperti apa?" Franda membentak Nino. Suaranya mengundang perhatian pengunjung lain di restoran tersebut.


"Aku tidak tahu, menurutmu wanita seperti apa yang pergi dari rumah tanpa menghubungi suaminya sekalipun, lalu dengan santainya makan dan tertawa bersama pria lain? Aku tidak tahu apa istilah yang tepat, Sayang!"


"Kau jangan sembarangan menuduhku, apa kau pikir aku akan melakukan hal yang sama seperti kau dan j'alangmu itu? Hah! Otakku bahkan tidak sampai kesana." Franda mendengus, kesal dengan kata-kata suaminya.

__ADS_1


"Aku tidak mau membahasnya disini, ayo pulang kerumah." kata Nino langsung berdiri dan menarik lengan Franda, tapi istrinya menolak.


"Aku tidak mau, aku akan pulang ke rumahku!" katanya.


"Rumahmu adalah aku, kau masih istriku sampai saat ini. Ayo pulang!" Nino kembali menarik tangan Franda. Istrinya tidak bisa menolak ketika melihat tatapan tajan dari pengunjung lain yang merasa terganggu dengan mereka.


"Lepaskan tanganku, aku bisa berjalan sendiri!" Franda menghempaskan tangan suaminya, mengambil tas lalu berjalan cepat meninggalkan Nino.


Franda berjalan menuju mobilnya dan langsung dihentikan oleh Nino saat Ia akan masuk, Nino kembali menutup pintu mobil Franda dengan kencang.


"Get in my car!" kata Nino datar.


"No! I have mine!" balas Franda, kembali membuka pintu mobil namun ditahan oleh Nino.


"Kau mau melakukannya sendiri atau aku akan memaksamu?" kata Nino mengancam.


"Oh, f*ck you!" Franda mendorong suaminya dan membuka mobilnya, lagi-lagi Ia ditahan saat akan masuk, Nino langsung menggendong Franda yang memberontak dan membanting pintu mobil, berjalan ke mobilnya dan mendudukkan Franda didepan.


"Jangan memancingku, Sayang! Aku tidak baik-baik saja setelah melihatmu tertawa bersama seorang pria..." kata Nino setelah masuk ke mobil. Ia bersender dan memekamkan mata sambil memijat pelipisnya.


"Aku baru begitu saja kau sudah seperti ini, bagaimana jika aku melakukan hal sepertimu?" balas Franda dengan sinis, Ia melipat kesua tangannya didada dan membuang pandangan keluar.


"Jadi kau benar-benar ingin membalasku?" selidik Nino.


"Well, aku rasa tidak ada salahnya menikmati satu malam bersama pria lain... Siapa tahu aku bisa hamil dan memiliki anak darinya nanti!" kata Franda menatap Nino tajam.


"Kau tahu, aku tidak bisa terus hidup bersama dengan penipu dan pengkhianat sepertimu. Aku menginginkan anak, dan kau yang tidak bisa memberiku malah bersenang-senang dengan j'alangmu!" Franda mulai mengeluarkan amarahnya, matanya mulai berkaca-kaca.


"Sayang..."


"Stop it! Don't call me like that! Kau menjijikkan sekali, masih berani memanggilku 'Sayang' setelah apa yang kau lakukan? Jangan-jangan kau memanggil pel*cur itu juga sama, Huh?" bentak Franda.


"Franda, jaga bicaramu!" Nino balas membentak Franda.


"Why? Kenapa aku harus menjaga bicaraku? Why do I have to respect that f*cking whore?" Franda menendang dashboard mobil dengan kencang.


"Aku yang mendekatinya, Sayang... Dia tidak bersalah, aku yang datang kepadanya. Jenny perempuan baik-baik..." Franda terbelalak mendengar Nino mengatakan itu tanpa tahu malu.


"Oh, God! Aku pasti sudah gila sekarang! Hahahahha! Aku benar-benar kehilangan kata-kata, hahahhahah! Kau sangat luar biasa, Sayang! aku tidak percaya kau melindunginya, wahhh... Hahahhaha." tawa Franda terdengar sangat menakutkan ditelinga Nino.


"Sayang, jangan seperti ini, aku benar-benar menyesalinya. Aku menyadari kebodohanku yang berani melakukan semua itu, tolong maafkan aku, Sayang..." Nino memohon, wajahnya memelas menatap Franda.


"Aku tidak menemukan alasan untuk memaafkan kesalahanmu, yang kau lakukan bukan hanya menyakitiku dan keluargaku, kau juga menjatuhkan harga diriku sebagai istrimu didepan *'***** itu. Aku bisa membayangkan bagaimana dia menertawakanku saat kau memuaskannya... Oh, f*ck, f*ck, f*ck!" Franda tidak bisa menahan lagi amarahnya, Ia memukul dashboard dengan kedua tangannya dengan sekuat tenaga. Air matanya mengalir deras


"Franda, stop! Jangan menyakiti dirimu sendiri, Sayang! Please..." Nino memegang tangan Franda dan memeluk istrinya yang histeris.


"Kenapa kau melakukannya padaku, Nino? Kenapa? Apa yang kurang dariku selama ini? Apa yang sudah aku lakukan padamu sampai kau memperlakukanku seperti ini?" Franda menangis dipelukan Nino sambil memukul pelan dada suaminya...


"Ssshh, aku yang salah, Sayang... Maafkan aku, kau tidak memiliki kekurangan sedikitpun, aku yang bodoh karena berpaling darimu... Aku mohon maafkan aku..." Nino terus meminta maaf pada Franda, Ia juga menangis mengingat kesalahannya.

__ADS_1


__ADS_2