
Waktu berlalu cepat, perlahan tapi pasti semua orang sudah kembali pada kehidupan yang seharusnya mereka jalani. Franda sudah kembali bekerja di butiknya setelah beberapa waktu menikmati kesedihan akan kepergian sang Ayah. Kecelakaan yang menimpa Ayahnya merupakan kejadian tabrak lari, namun tidak ada seorangpun yang melihat saat itu karena masih terlalu pagi untuk orang beraktifitas. Edward, Mia, dan Ibu juga sudah mulai bisa menerima musibah yang menimpa mereka. Melepaskan dengan ikhlas merupakan satu-satunya cara agar bisa tetap berdiri dan tidak kembali menjalankan hidup.
Rumah Franda dan Nino sekarang lebih ramai karena sejak Ayahnya meninggal Franda meminta Ibu dan Mia untuk tinggal bersamanya, sementara Edward tetap dirumah lama. Sebenarnya Ia juga meminta Edward untuk tinggal dirumahnya, namun kakaknya itu menolak dengan alasan tidak ada yang akan menjaga rumah mereka jika Ia juga pindah.
Mama Rossa yang tadinya jarang berkunjung, sekarang semakin sering datang untuk menghabiskan waktu bersama besannya itu, dan bahkan terkadang menginap disana yang tentu saja membuat keduanya semakin dekat. Hubungan Nino dengan Papa tirinya yang saat ini sedang berada diluar negeri untuk urusan pekerjaan juga sudah mulai membaik karena dorongan Franda. Semua orang yang tadinya sibuk dengan urusan masing-masing sekarang menjadi lebih perduli satu sama lain. Keadaan rumah yang semakin ramai juga membuat Franda dan Nino harus menambah asisten rumah tangga.
Kalau sebelumnya hanya ada Mbak Ika dan Adi yang membantu mereka berdua, sekarang ada Miss Diana dan Sora yang membantu keduanya. Miss Diana sebenarnya sudah cukup tua, umurnya sudah menginjak kepala empat, namun sikap riang dan centilnya membuat janda tanpa anak itu tampak lebih muda. Panggilan Miss Diana berasal dari nama aslinya, Misdiana. Ia menolak dipanggil 'Mbak' dan mengatakan akan terlihat lebih moderen jika dipanggil Miss, membuat semua orang tertawa saat dirinya mengucapkan itu.
Sementara Sora adalah gadis 19 tahun yang pemalu dan tidak banyak bicara, sedikit lambat dalam menangkap sesuatu namun selalu cekatan saat bekerja. Dirinya akan sulit mengerti jika diajak berbicara hal lain diluar pekerjaannya.
.
Franda bangun dan menatap suaminya yang tertidur pulas sambil memeluknya. Tanpa sadar Ia tersenyum, dirinya begitu beruntung memiliki suami seperti Nino. Terlepas dari kekurangannya, Nino adalah pria idaman semua wanita, wajah tampan dan kepribadian yang baik merupakan hal yang paling diincar setiap wanita, meskipun tak jarang yang mencari kekayaan, dan Franda beruntung Nino memiliki semua itu.
Setelah puas memandang suaminya, Franda bergeser pelan dan melepaskan pelukan Nino agar tidak membangunkan pria 32 tahun itu. Ia berjalan ke kamar mandi dengan tubuh polosnya sambil memunguti pakaian mereka yang berserakan dilantai akibat aktifitas panas mereka tadi malam. Well, setiap malam lebih tepatnya.
Franda keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe dan handuk yang menggulung rambutnya, mendekat ke ranjang dan membangunkan suaminya, "Honey, wake up!" katanya sambil menepuk pelan pipi Nino.
Nino menggeliat, "Hmmm... Sudah jam berapa?" tanya Nino dengan suara serak khas bangun tidur, matanya masih terpejam.
"Jam 6.40" jawab Franda setelah melihat jam yang menggantung di dinding.
__ADS_1
Nino membuka mata dan menarik istrinya mendekat lalu mendaratkan ciuman dibibir Franda, "Good morning!" katanya setelah melepas ciumannya.
Franda tersenyum, "Morning! Mandilah, aku akan menyiapkan pakaianmu." ucap Franda sambil mengambil ponselnya untuk melihat apakah ada pesan masuk atau tidak.
Nino bangun dan langsung berjalan ke kamar mandi. Ia keluar setelah kurang lebih setengah jam menghabiskan waktu didalam, membersihkan diri sambil menikmati air hangat dan berendam sebentar di bathtub.
"Sayang, kemarin aku meminta Erika mengirim uang ke rekeningmu, sudah masuk?" tanya Nino pada istrinya.
Franda yang sedang mengeringkan rambutnya dengan hairdryer melirik sekejap, "Aku belum mengeceknya, untuk apa?" tanyanya.
Nino meraih kemeja yang disiapkan Franda diatas ranjang, "Pakailah untuk membeli sesuatu, bukan untukku tapi untukmu." kata Nino, Ia sengaja mengatakan itu karena istrinya itu selalu saja menghabiskan uangnya untuk membelikan Nino sesuatu, padahal berulang kali dirinya memberi tahu Franda untuk menghabiskan uangnya dan membeli sesuatu yang dibutuhkannya, namun tetap saja istrinya itu mengatakan bahwa Ia tidak membutuhkan sesuatu.
Franda mengernyit, "Aku tidak membutuhkan apapun." jawabnya sambil terus mengeringkan rambut.
"Aku juga memiliki uang dari butik, kalau aku menggunakan uangmu bagaimana dengan pemasukan butikku? Aku ingin menikmati hasil kerjaku sendiri." jawab Franda, Ia mematikan hairdryer dan memasukkannya kembali ke dalam laci.
Nino menarik napas, istrinya sangat sulit diajak berbicara soal ini. Berkali-kali Nino mengatakan agar Franda memakai uangnya, namun selalu ditolak oleh wanita itu, "Sayang, tolong ingat posisiku sebagai suamimu. Apa gunanya aku bekerja jika kau tidak mau menikmatinya? Aku harus melakukan apa dengan tabunganku yang menggunung itu? Pakailah, atau mintalah sesuatu padaku saat kau menginginkan sesuatu." kata Nino memohon.
Franda menatap suaminya, Ia tersenyum dan mendekat untuk membantu Nino memakaikan dasinya, "Okay, I'll tell you if I need something. Jangan terus memaksaku menghabiskan uangmu, aku tidak tahu harus membeli apa dengan itu, tapi kedepannya aku akan meminta padamu." katanya sambil memasang dasi suaminya.
Nino sangat senang mendengar jawaban istrinya, "Are you?" tanyanya dengan senyum sumringah seperti baru saja memenangkan tender miliaran rupiah.
__ADS_1
Franda mengangguk, "Ya, aku tidak mau suamiku terus-menerus merajuk hanya karena aku tidak mau memakai uangnya dan memilih memberikannya pada wanita lain, hahaha" jawab Franda sambil tertawa.
Nino merasa tersindir dengan ucapan istrinya, wajahnya menjadi sedih teringat kejadian saat Ia berselingkuh dengan Jenny beberapa bulan lalu, dirinya memberi banyak sekali barang pada Jenny waktu itu. Franda yang melihat perubahan ekspresi suaminya itu langsung menyadari ucapannya sudah membuat pria itu teringat akan kesalahannya dimasa lalu, "Sayang, maaf aku hanya bercanda." katanya sambil memegang pipi Nino.
"Tidak apa-apa, aku hanya menyesali kebodohanku dulu, entah kenapa aku melakukan itu padamu." Nino berusaha tersenyum.
Franda melingkarkan tangannya dileher Nino dan mencium bibir suaminya, "Jangan dibahas lagi, aku sudah melupakannya." katanya setelah menarik lepas bibirnya. Keduanya tersenyum.
Obrolan ringan menemani keduanya yang tengah bersiap dikamar, Franda melanjutkan kegiatannya memoles make-up yang terlihat natural diwajahnya sementara Nino memeriksa ponsel untuk melihat beberapa email yang dikirim oleh Erika. Setelah selesai mereka turun dan bergabung dengan Ibu Marissa, Mama Rossa, dan Mia yang sudah lebih dulu duduk di meja makan.
Tiga perempuan beda usia dimeja makan menatap Nino yang menggandeng tangan Franda saat menuruni tangga seolah-olah istrinya itu akan menggelinding jika Ia tidak memegangnya.
"Good morning!" katanya menyapa mereka sambil tersenyum, Ia menarik kursi untuk Franda duduk.
Franda yang baru akan duduk merasa mual saat mencium aroma nasi goreng ayam masakan Miss Diana yang begitu menusuk hidungnya. Ia langsung menutup mulutnya dengan tangan dan berlari ke arah wastafel sambil diiringi tatapan heran semua orang.
Nino yang mengikuti istrinya juga terlihat bingung, "Sayang, kau baik-baik saja?" tanyanya setelah Franda memuntahkan isi perutnya sisa makan malam kemarin.
Franda mencuci mulut dan memegang perutnya yang terasa masih sedikit mual, "Ya, aku baik-baik saja." jawabnya lemas, membuat Nino khawatir karena wajah istrinya terlihat sangat pucat. Make-up yang tadi digunakan Franda juga tidak mampu menutupi kulit pucatnya.
Nino menuntun Franda yang lemas untuk kembali ke meja makan, namun lagi-lagi Franda merasa ingin mengeluarkan isi perutnya saat mendekat dan mencium aroma nasi goreng itu. Franda kembali menutup mulutnya dan kembali ke arah wastafel, Ia terus muntah sampai tidak ada lagi yang harus dikeluarkan dari perutnya.
__ADS_1
Ibu dan Mama yang melihat itu merasa curiga dengan mual yang dialami Franda, dua wanita tua itu saling berpandangan lalu tersenyum seperti mengerti isi hati masing-masing. Sementara Mia hanya memasang wajah jijik saat melihat Franda muntah di wastafel, selera makannya hilang seketika.