Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Sorry.


__ADS_3

'No comment, no update!' masih berlaku😁


Kalau penasaran, komen yang banyak, supaya aku makin semangat😘


***


Aku mungkin takkan pernah tahu apa arti kebahagiaan dalam hidupku, sampai aku terbaring lemas dan puas di ranjang di kamar tertinggi di tengah kota. Mengetahui bahwa pria yang bersamaku adalah suamiku, belahan jiwaku. Aku selalu dibuat sadar dengan sikapnya yang jantan, tetapi sebesar apapun sentuhannya di dalam tubuhku, dia selalu memberikannya dengan tepat, berlebihan namun sangat nikmat sehingga kulitku meremang. Tidak peduli air mataku mengalir dan tubuhku terguncang, aku merasa gembira. Aku beruntung memilikinya sekarang. Terimakasih, Tuhan.


Dan pria itu masih tertidur lengah di sampingku. Sebagian betisnya terlilit selimut, sementara bagian tubuhnya yang lain terpampang seksi dan nyata. Ya ampun... suamiku yang sedang terluka.


Aku ingin sekali memeluknya. Ingin meredam amarah dalam dirinya. Tapi kuurungkan karena dia terlihat sangat lelah. Ada kerutan disekitar keningnya. Ada lembab air mata dan keringat dari pelipis hingga ke kulit lehernya. Walaupun napasnya tenang, aku bisa merasakan masih ada sisa-sisa kehancuran yang bergetar samar ditubuhnya.


Aku meremas seprai disamping pahaku, sangat ingin memeluk suamiku yang sedang menahan luka di kedua tangan dan hatinya. Tapi dia lebih membutuhkan tidur daripada pelukanku pagi ini. Aku menegarkan hatiku sambil terus mengamatinya. Wajahnya yang luar biasa tampan serta tubuhnya yang kuat dan sempurna. Serta setiap tarikan napasnya yang hangat dan menggoda.


Kemudian suami yang kucintai itu membuka mata. Ketika dia menemukanku duduk di atas tumitku disampingnya, dia tersentak dan ingin bangkit. Tangannya sudah siap meraihku. Namun aku menahanya dengan meletakkan telapak tanganku di dadanya yang berdebar. Demi Tuhan... aku merasa lebih bahagia lagi.


Ada perasaan yang mendesakku untuk menangis, tapi kutahan karena semata-mata aku ingin suamiku menyaksikan senyumku. Ingin menunjukkan betapa aku sangat bersyukur berada di dekatnya. "Aku baru saja berpikir kalau kau lebih membutuhkan tidurmu daripada pelukanku pagi ini. Lalu dengan ajaib kau tiba-tiba bangun dan ingin menarikku ke sisimu. Aku merasa kau bisa mendengar suara hatiku bahkan ketika kau sedang tertidur. Atau memang jiwa kita memang benar-benar sudah menyatu. Atau mungkin kau memang benar-benar pria yang luar biasa. Aku tidak tahu. Yang kutahu, bahwa aku sangat menyayangimu, Sean."


"Tuhan tahu betapa aku membutuhkan pelukanmu untuk menghadapi segalanya, Franda." gumam suamiku, dengan suaranya yang masih serak dan malas. Tapi matanya yang biru sudah sangat membara dan dia mengulurkan tangan kepadaku, "Kemarilah. Peluk aku bersamamu, Sayang."


Aku tidak menunggu satu detik lagi, aku menyerbu ke tubuhnya yang hangat dan beraroma maskulin. Kepalaku berbaring di dadanya sementara tanganku memeluknya dan sepasang kakiku membelit betisnya. Aku memeluknya sangat kencang. Berharap tidak ada yang memisahkan kami.

__ADS_1


"Tidak ada yang memisahkan kita, Franda. Bahkan emosi dalam diriku sekalipun." tukas Sean, yang membuatku menengadah dan menatapnya dengan takjub.


"Terbuat dari apa kau, brengsek? Sekali lagi kau bisa mendengar suara dalam hatiku." gerutuku dengan nada menggoda dan berurai air mata.


Bibir suamiku yang tampan melengkung indah. Matanya ikut tersenyum. Tapi jemarinya bergerak resah di sekitar pipiku yang basah. "Entahlah, Franda. Asal aku selamanya bisa menggenggam tanganmu maka aku akan berubah menjadi apapun yang kau harapkan. Tapi sikapku yang brengsek memang sangat tidak bisa di terima. Kau tidak pantas menerimanya. Aku merasa sangat malu padamu, Franda."


Aku menggeser tubuhku lebih ke atas. Menempelkan tubuhku yang polos di permukaan tubuhnya yang kencang dan hangat. Telapak tanganku merengkuh wajahnya yang memberengut gelisah. "Tidak ada yang disakiti. Kau memberiku pernikahan yang sangat nikmat dan luar biasa. Itu bukan hukuman, tapi sebuah hadiah yang mengagumkan. Aku bahkan tidak sempat memohon karena kau sudah memberinya dengan tegas padaku sampai aku nyaris mati. Tidak ada pernikahan yang seindah itu dan kau menciptakannya untukku."


"Franda," erangnya. "Kenapa kau bisa sebaik ini, dan kenapa kau bisa setulus ini?"


Kulitku merinding saat tangan Sean mengusap bahuku yang polos. Dengan mudahnya sentuhan serta aura suamiku itu membuatku merasakan hasrat yang baru walaupun sisa-sisa kenikmatan semalam masih terasa di pahaku. "Aku hanya menjadi diriku sendiri saat bersamamu, Sean. Dan kau menjad dirimu sendiri saat bersamaku.


Untuk pertama kalinya setelah nenyaksikan dia terpukul sejak kemarin sore sampai tengah malam tadi, aku bisa melihat tawa yang menawan suamiku lagi. Tawa yang menyiratkan kasih sayang. Tawa yang lepas. Tawa yang seksi. Tawa yang menampilkan susunan giginya yang rapi dan bersih. Tawa yang membuat perutku tergelitik. Tawa yang membuat hatiku diserbu cinta. Dengan senyum menggoda di mulutnya, dia merayuku. "Dan sekarang kau yang cemberut."


"Franda," bujuknya, menyelipkan helaian rambutku yang menjulai di pipi ke sela telinga. "Kau sudah menyihirku sejak pertama kali aku melihatmu. Kau ingat saat kau memintaku menemaniku pergi ke klub?"


Aku mengangguk. Memikirkan kembali momen canggung dan memalukan itu membuat pipiku panas. Aku ingat saat itu aku memaksanya ke klub dan mabuk berat sampai harus menginap di apartemennya.


"Aku sering menyesali kesempatan yang kulewatkan saat itu. Andai aku memaksamu untuk tidur denganku malam itu, kita tidak akan menunggu selama ini. Aku pasti mendengar jeritanmu setiap malam sejak hari itu."


Denyut nadiku terpacu. Aku gemetaran diatas dadanya, "Ya, Tuhan. Itu akan sangat indah."

__ADS_1


"Terimakasih, Sayang. Kau sangat menawan." sambungku.


Karena mataku terlalu cemerlang dan berkabut gairah dalam waktu bersamaan, dia menegurku dengan nada liar dan hangat, "Ada apa, Franda. Apa yang harus kulakukan untuk memenuhi permintaan matamu yang indah itu?"


Aku menunduk dengan wajah tersipu. Jemariku yang gemetar menari di dadanya, "Kau semalam tak membiarkanku menyentuhmu dengan terus mengekang pergelangan tanganmu. Padahal aku sangat ingin menyentuhmu karena yang kurasakan itu sangat menakjubkan. Tapi itu tidak mengubah apa yang terjadi semalam, ya. Aku sangat puas dan bersyukur. Tapi menyentuhmu, pria yang paling kucintai juga salah satu karunia bagiku."


"Lakukan." gumamnya, dengan nada memohon juga memerintah.


Aku mengalihkan pandangan dari dadanya yang bidang dan garis-garis otot perutnya yang indah untuk kembali menatap matanya yang sudah menyipit menggoda, "Hm... tapi jemariku gemetar."


Dia tertawa. Kemudian menampilkan senyum paling seksual dari seorang pria yang juga sangat seksual. "Sentuh aku sebisamu, Sayang. Tapi aku menyarankan jangan sedikitpun menyentuh daerah sekitar sana atau kau tahu apa yang akan terjadi nanti."


Aku menggigit bibir bawahku untuk menggodanya, "Memangnya ada apa di daerah sini?" tanyaku, menyentuh kejantanannya. "Aku penasaran apa yang akan terjadi, Sayang."


"Franda!"


***


Komen, komen, komen!😜


Like, like, like!😘

__ADS_1


__ADS_2