
...Mia Queen POV....
"Panda!" Aku berteriak selagi melangkah memasuki istana di atas awan milik kakakku. Tidak ada jawaban.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu. Kosong. Kemudian berjalan ke arah dapur dan tidak menemukan siapa-siapa. Tidak ada asisten rumah tangga yang biasanya sering berkumpul disana. Lalu aku berderap lagi menaiki anak tangga yang mengarah ke lantai dua. Dan disana aku baru melihat kedua keponakanku sedang bermain bersama pengasuh mereka.
"Dimana Panda?" Aku bertanya pada Miss Darla yang tengah mengumpulkan beberapa keping lego dan mendekatkannya di depan Ben, di sebelah Miss Darla tampak Daisy sedang membantu Lily meminum susu.
Miss Darla berbalik menolehku. "Di kamarnya, belum keluar sejak pulang tadi."
"Sudah lama dia pulang?" tanyaku sambil meletakkan tas dan dua kotak donat di atas meja bulat yang terbuat dari kaca.
"Sekitar dua jam yang lalu." balas Miss Darla. Aku mengerutkan kening, dan mendadak merasa cemas. Ini bukan kebiasaan kakakku.
Aku menghampiri Lily dan menciumnya sekilas, lalu beralih kepada Ben dan melakukan hal yang sama padanya. "Aku akan melihat mommy-mu sebentar, Ben. Be nice." Ben mengangguk.
Tanpa berbicara lagi, aku buru-buru berbalik menuruni tangga dan langsung menuju ke kamarnya yang terletak di ujung koridor. Kamar yang ukurannya seluas lapangan basket. Sayangnya mereka tidak menaruh ring disitu. Uuh, itu pasti akan luar biasa.
"Panda, aku..." Aku tercengang begitu membuka pintu kamar kakakku dan menyaksikan keadaan kamarnya yang mengerikan.
Seketika jantungku berdegup kencang memandangi barang-barang yang berhamburan di lantai. Apakah perang dunia ketiga baru saja terjadi? Pecahan kaca terlihat berserakan di sekitar meja rias, bergabung dengan peralatan make-up milik kakakku yang hancur lebur. Seprai dan bantal mendarat di beberapa tempat.
"Panda?" panggilku, nyaris berbisik. Aku melangkah pelan mengitari ruangan sambil menghindari pecahan kaca. Mataku menatap awas ke sekitar. "Panda?" panggilku lagi, tapi belum ada jawaban.
Kemudian aku tersentak saat samar-samar telingaku menangkap suaranya sedang menangis dari arah kamar mandi dan dengan cepat aku langsung berlari kesana.
__ADS_1
Jika tadi aku mengutip tentang perang dunia ketiga, ini lebih mengerikan dari pada itu. Di dalam kamar mandi, kakakku duduk di bilik pancuran yang terbuat dari kaca dan dia menangis. Sekujur tubuhnya menggigil, sementara bibirnya mulai membiru. Aku meraih handuk dari dalam kabinet dan langsung menghampirinya.
"Hei, ada apa?" gumamku seraya melilitkan handuk ke tubuhnya. Aku membantunya berdiri dan membawanya keluar dari kamar mandi. Dia tidak mengatakan apa-apa.
Aku berderap ke arah dressing room untuk mengambil pakaiannya lalu kembali lagi ke tepi ranjang.
"Mia... apa kau membenciku?" tanyanya tiba-tiba ketika aku selesai membantunya mengenakan pakaian. "Apakah ibu membenciku? Apakah Ed juga membenciku?" Suaranya yang bergetar membuat hatiku remuk.
Aku sudah sering melihatnya seperti ini dan aku yakin sesuatu pasti telah terjadi sebelum dia pulang. Panda sedang kacau, hanya tinggal menunggu waktu sampai dia mengamuk lagi. Apapun yang dialaminya sebelum pulang, itu pasti bukan sesuatu yang ringan. Ya Tuhan, jangan bilang dia bertemu ibu kandungnya!
Mendadak ketakutanku semakin tinggi saat melihat tatapannya yang menggelap. Air mata tidak berhenti mengalir di pipi hingga berjatuhan ke selimut. Sial, hari ini tidak akan mudah untuk dilewati, padahal aku sudah membayangkan akan bersenang-senang dengan salah satu koleksi super car kakak iparku.
Aku mencoba tersenyum untuk menyembunyikan kekhawatiranku. "Apa maksudmu? Kami menyayangimu, Panda." sahutku bersungguh-sungguh. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Apa salahku, Mia? Apa yang sudah kulakukan sebenarnya? Kehidupan siapa yang sudah kurusak hingga aku mendapatkan kehidupan seperti ini? Aku tidak..."
"Aku hanya ingin kehidupan yang... oh, God..."
Alarm tanda bahaya langsung memenuhi kepalaku ketika sekujur tubuhnya semakin gemetar, wajahnya berubah pucat sementara dia berusaha menarik napas. "Panda, hei, calm down. Breathe... take a deep breath." kataku panik sambil meraih ponsel dari saku celanaku dan menghubungi kakak iparku.
"She's on trouble, come home ASAP!" Hanya itu yang kukatakan di sambungan telepon.
Aku kembali mencoba menenangkan kakakku, dia tampak sangat kesakitan seakan seseorang sedang mencekiknya. "Mia... tolong." Panda menekan dadanya kuat-kuat, matanya terpejam erat.
"Panda, tenanglah," ucapku gemetar. "Aku disini bersamamu," Aku memeluknya dan mengusap pipinya. "Kau akan baik-baik saja, tenangkan dirimu, oke?"
__ADS_1
Aku semakin panik dan nyaris kehilangan akal. Percayalah, meskipun kami sudah sering menghadapi ini, perasaan yang takut tetap tidak pernah berkurang sedikitpun. Setiap detik dalam momen seperti ini selalu terasa mencekam, seakan waktu berusaha menenggelamkan kami.
Aku menghabiskan waktu bersamanya. Sejak lahir Panda sudah menjadi kakak, teman, dan musuh sekaligus. Kami bermain sesaat sebelum bertengkar, kami berbagi sebelum saling menyembunyikan barang pribadi masing-masing, tapi itu tidak pernah bertahan lama, aku dan kakakku selalu menemukan momen yang tepat untuk memperbaiki hubungan kami.
Aku tidak bisa mengharapkan sesuatu yang lebih dari kehadirannya di keluarga kami, Panda seolah menjadi sumber energi tersendiri bagi kami. Dia kacau, tapi kekacauannya mengajarkan kami tentang banyak hal. Tentang kesabaran, cinta, dan kepedulian. Kami selalu bersatu untuk membantunya. Well, ada saat-saat dimana semuanya terasa berat dan menyakitkan, tapi lihat dimana kami sekarang. Kami berada di tempat yang baik, setidaknya sebelum Panda kembali kacau hari ini.
Aku menyayanginya, aku tidak bermaksud berlebihan dalam menunjukkan kepedulianku, tapi satu hal yang tidak diketahui olehnya adalah... aku menolak menikah karena aku mencemaskannya. Seumur hidupku sudah kuhabiskan sebagai temannya dan aku tidak bisa menghilangkan ketakutanku terhadap kondisi mentalnya.
Dia kakakku. Aku mengenalnya. Aku tidak mau sesuatu yang buruk menimpanya. Dia terlalu baik untuk menerima kehidupan seperti yang dia jalani saat ini, sungguh... Panda pantas untuk sesuatu yang lebih normal. Dia sudah menderita terlalu lama.
Selangkah pun aku tidak sanggup meninggalkannya. Aku dan Ed akan selalu berada di belakangnya, mengawasi langkahnya, mendukung setiap keputusannya. Karena kalau bukan kami, siapa lagi yang akan melakukan itu? Bahkan ibu kandungnya sendiri tega meninggalkannya.
"Mia, kumohon... sakit sekali...." Aku ikut menangis menyaksikan wajahnya yang terlihat sangat menderita, tapi tidak ada yang bisa kuupayakan untuk membantunya, dan itu menyakitkan.
"Tenanglah, Panda... tarik napas dalam-dalam dan hembuskan perlahan, lakukan seperti biasanya. Kau bisa melewati ini. Come on..." sahutku sambil menegakkan tubuhnya. Dia menggeleng.
"Mia, please... I can't!"
"Yes, you can!" Panda mencoba menarik napas seraya memejamkan mata, tapi dia masih kesulitan. "Come on! Coba lebih..." ucapanku terpotong saat tiba-tiba dia mencengkeram lenganku, membuatku meringis kesakitan. Aku bisa merasakan kukunya menusuk kulitku.
Aku tidak ingat sudah berapa lama kami berada disini hingga pintu kamar terdengar membuka dan kakak iparku berlari dari sana. "Ya Tuhan, apa yang terjadi?" tanyanya kebingungan memandangi seluruh ruangan yang hancur berantakan. Dia mendekati ranjang dan langsung menarik Panda dariku. "Sayang, aku disini. Apa kau mendengarku?"
Panda tidak menjawab, dia menatap Sean dengan ketakutan yang jelas terlihat dari sorotnya. Dan entah kenapa aku yakin yang mengganggunya kali ini adalah ibu kandungnya, yang entah bagaimana mungkin bertemu dengannya sebelum dia pulang ke rumah.
Aku berusaha melepaskan cengkeraman tangan Panda di lenganku, tapi dia terlalu kuat. Sekujur tubuhnya masih gemetar sementara dia berjuang mengatur napasnya. "Sean," gumamnya tercekat. "Help me, please..."
__ADS_1
"Aku disini, sayang. Aku akan menolongmu, tenangkan dirimu lebih dulu. Kumohon, Franda." Aku tidak tahu harus mengatakan apa, melihat dua orang yang tersiksa seperti mereka juga ikut membuatku tersiksa.
"Ya Tuhan, ini sangat sakit..."