Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 53


__ADS_3

"Hah? Bagaimana mungkin istri saya bertahan selama itu? Dia sudah kelelahan, kalian mau membunuhnya?" protes Nino, memotong ucapan sayang dokter.


Franda meraih tangan suaminya, "Sayang..." katanya sambil menggelengkan kepala.


"Tidak bisa, Sayang! Ini sudah lebih dari delapan jam. Aku tidak akan membiarkan ini lebih lama lagi." ucap Nino.


"Hey! Aku yang menderita, tapi kenapa kau yang heboh? Lebih baik kau diam, ocehanmu membuat kepalaku semakin sakit!" bentak Franda, dihempasnya tangan Nino karena kesal mendengar celotehan suaminya yang berlebihan.


Dokter Clara tersenyum, sementara perawat yang bernama Elvira itu terlihat menahan tawa saat menyaksikan Franda yang mengomeli suaminya.


"Ibu akan baik-baik saja, Pak. Ini biasa terjadi pada seseorang yang akan melahirkan, jangan khawatir, ada perawat yang akan terus mengawasi perkembangannya. Kalau dalam 24 jam tidak ada kemajuan, kita akan melakukan operasi SC." jelas dokter Clara disertai senyum manis di bibirnya.


Nino terdiam dan mengangguk tanda mengerti, tidak menjawab lagi ucapan sang dokter.


"Kalau begitu, saya permisi. Ibu, bertahanlah..." dokter Clara mengusap pelan punggung tangan Franda, senyumnya tidak hilang sama sekali.


"Sayang, bagaimana kalau operasi saja? Aku mengkhawatirkanmu..." kata Nino setelah dokter Clara dan si perawat pergi meninggalkan mereka.


Franda menggeleng sambil menatap tajam pada suaminya, "Tidak! Aku masih sanggup melakukannya!" tolak Franda.


Nino membuang napas kasar, dirinya tidak tahu harus mengatakan apa untuk melunakkan sikap keras kepala istrinya. Wajah Franda yang pucat membuatnya semakin cemas, memiliki anak memang keinginan terbesarnya, namun Ia tidak ingin istrinya menderita selama 24 jam lagi. Delapan jam saja sudah sangat menyiksanya, dan kini harus melakukannya sampai besok? Ini gila!


Dua jam berlalu, dokter Clara kembali datang memeriksa Franda, namun keadaannya masih sama, dilatasi belum bertambah. Dokter memutuskan untuk menginduksinya untuk merangsang agar sang baby lebih cepat keluar.


"Kita akan induksi sekarang, semoga ada perkembangan nanti. Saya akan memasukkan pil ini kedalam." jelas dokter Clara sembari menunjukkan pil sebesar biji jagung ditangannya.


Nino dan Franda mengangguk, membiarkan dokter itu melakukan apa saja.


"Kontraksinya akan lebih intens setelah ini." lanjut dokter Clara mengingatkan.

__ADS_1


Franda tidak sanggup lagi merespon, kontraksi begitu menyiksanya. Berkali-kali Ia menarik napas dan membuangnya cepat, kedua tangannya menutupi wajahnya, menahan airmata yang terus turun seiring kontraksinya.


Nino hanya diam, tangannya tidak berhenti mengusap lengan istrinya, tidak ada yang bisa dilakukannya selain itu, kalau bisa Ia berharap dirinya saja yang menggantikan posisi Franda.


"Are you, ok?" tanyanya dengan bodoh, sungguh basa-basi yang tidak tepat.


"No!" jawab Franda cepat.


"Ya, ofcourse no!" Nino tersenyum mendengar jawaban istrinya, bahkan nyaris tertawa, membuat Franda menatapnya tajam, namun sedetik kemudian ikut tertawa.


"I'm sorry!" ucap Nino.


"Oh, bullshit! Stop talking, I'm not expecting this pain, and you just make it getting worse!" sembur Franda.


"Can I kiss you?" tanya Nino lagi, tanpa rasa bersalah terus menggoda istrinya yang sedang kesal.


Nino bukannya takut, dirinya justru mendekati Franda, "Thanks, baby! I love you!" katanya setelah mendaratkan ciuman dikening istrinya. Tersenyum penuh kemenangan.


Kontraksi semakin menyakitkan setelah di induksi, kedua tangan Franda bahkan sampai bergetar, dan berulangkali muntah. Proses terus berulang selama tiga jam lamanya. Dokter juga berkunjung setiap satu jam untuk melihat perkembangan dilatasinya. Nihil. Tidak ada kemajuan sama sekali. Wanita itu benar-benar sudah kehabisan tenaga, tubuh lemahnya membuat dokter Clara memutuskan untuk memberikan suntikan epidural supaya Franda bisa beristirahat sejenak.


Setelah mendapat suntikan epidural akhirnya Franda dapat memejamkan matanya, Ia menggunakan kesempatan itu untuk mengembalikan tenaganya. Hal yang sama di lalukan oleh Nino, terjaga sejak kemarin juga sudah pasti menguras habis energinya.


Hampir tiga jam Franda tertidur pulas, Ia terbangun saat kembali merasakan kontraksi di perutnya. Ditekannya tombol hospital bed untuk menaikkan sandaran , mengambil posisi duduk, mengatur napas sembari menikmati sensasi nikmat di pinggulnya. Ia membiarkan Nino tertidur di sofa, memberi waktu pada suaminya untuk beristirahat sebentar lagi.


Jam sudah menunjukkan pukul 10.42 pagi saat seorang perawat kembali memeriksanya, dan memberikan pil induksi yang kedua.


"Saya kasih misoprostol lagi ya, Bu!" ucap sang perawat lain yang bernama Bianka. Tangannya dengan cekatan memeriksa selang infus Franda terlebih dahulu sebelum memasukkan pil.


Franda mengangguk, Ia menatap lama pada perawat didepannya dengan mata berkaca-kaca. Tersenyum penuh arti pada sang perawat. "Boleh saya memeluk kamu?" tanya Franda tiba-tiba, ucapannya tentu saja mengagetkan perawat berwajah mungil itu.

__ADS_1


Namun tak lama perawat itu tersenyum padanya, diletakkannya baki berisi pil induksi di meja, lalu mendekat untuk memeluk Franda.


"Namamu sama seperti Mamaku, Bianka. Dia meninggal ketika aku berusia empat tahun." ucap Franda sambil memeluk, menjawab kebingungan sang perawat.


"I'm sorry..." kata perawat itu, dirinya turut merasakan sedih dari mata Franda.


"It's ok. Aku baik-baik saja sekarang, terimakasih sudah mengijinkanku memelukmu." Franda tersenyum setelah melepas pelukannya.


Perawat bernama Bianka itu mengangguk, lalu memakai sarung tangannya dan melanjutkan pekerjaannya.


Nino terbangun tak lama setelah perawat pergi meninggalkan ruang perawatan Franda, Ia menguap lalu menggeleng keras untuk menghilangkan kantuknya yang masih bertahan. Berjalan ke hospital bed, mengusap kepala istrinya yang sedang meringis.


"Maaf, aku tidur terlalu lama." ucapnya dengan raut wajah menyesal.


Franda tidak menjawab, rasa sakit yang bertambah keras menyerang membuatnya tidak mampu lagi merespon ucapan suaminya.


Keadaan tidak berubah sampai jam menunjukkan pukul dua siang, dokter Clara yang kembali berrkunjung entah sudah ke berapa kali memutuskan Franda harus di operasi karena ada yang salah dengan kandungannya. Meskipun bayinya tetap baik-baik saja, namun sepertinya tidak akan keluar melalui persalinan normal.


Franda yang awalnya menolak terpaksa mengikuti ucapan sang dokter, Ia tidak ingin egois dan membahayakan bayi yang sudah lama dinantikannya.


Beberapa perawat sibuk melakukan berbagai macam tes sebelum operasi, memastikan Franda baik-baik saja saat operasi berlangsung. Ada yang memasang kateter, ada yang memeriksa tekanan darah, ada juga yang menyuntikkan sesuatu di lengan kanannya untuk mengetahui apakah Franda akan mengalami alergi pada cairan itu.


Di ruang perawatan sudah tampak Ibu, dan Mama yang berharap cemas. Mereka yakin Franda akan baik-baik saja, namun tetap saja ada kekhawatiran disana, mengingat operasi SC juga menyakitkan, bukan saat melahirkan, melainkan setelahnya.


"You can do it, honey!" ucap Ibu sesaat sebelum Franda menuju ruang operasi, diciumnya kening putrinya.


Mama Rossa juga melakukan hal yang sama, menguatkan menantunya dengan ciuman di kening wanita 32 tahun itu.


"Here we go!"

__ADS_1


__ADS_2