Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Sugar Daddy!


__ADS_3

Suamiku yang tampan, aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan rasa syukur atas dirinya. Sebulan hidup bersamanya, perlahan aku mengetahui kehidupannya yang rumit. Entah bagaimana cara dia menghadapi semua masalah yang datang padanya, Sean tetap terlihat santai dihadapanku, tidak sekalipun mengeluh atau terlihat lelah. Berbagai macam kejutan yang diberikannya membuatku mengerti Sean benar-benar tulus dengan perkataannya.


Aku menatap Sean, bibirnya yang manis itu tersenyum padaku, "Kenapa, Sayang?" katanya dengan genit, membuatku ingin menciumnya lagi. Tapi segera kutahan, karena teringat nanti malam aku harus membalas semua perlakuannya.


Tiba-tiba aku teringat dengan Ben, bagaimana keadaannya nanti jika aku berbulan madu. Sean membawaku tanpa mengatakan apa-apa, aku bahkan tidak berpamitan dengan Ibu tadi, "Sean, aku belum berpamitan dengan Ibu. Aku khawatir dengan Ben." cetusku.


Sean tersenyum, sangat lembut dan menawan, "Tenang saja, aku sudah mengatakan pada Ibu tadi. Ibu tidak masalah menjaga Ben sementara kita menghabiskan waktu sebentar."


"Tapi, tetap saja..." Sean menggeleng, jarinya terulur menyentuh bibirku.


"Ibu yang memintaku membawamu, Ibu ingin kau menikmati kehidupanmu tanpa merasa bersalah pada siapapun. Jangan khawatir, aku sudah menambah dua nanny untuk membantu Ibu menjaga Ben. Kita bisa fokus dengan Ben setelah beberapa hari berdua, hanya sebentar, Sayang. Aku pastikan Ben akan baik-baik saja." Sean terdengar benar-benar yakin dengan ucapannya.


Astaga, menerima pria setampan dan sebijak Sean berada diduniaku sungguh tidak mudah, dia bisa saja mendapatkan wanita lain yang lebih layak untuknya, tapi dia memilih janda yang kacau sepertiku. Aku benar-benar harus menjaganya dengan baik. Aku sangat menghargai ketulusannya dan akan memberikannya apapun untuk membuatnya bahagia dan bertahan disisiku. Kalau dia ingin menusuk jantungku, aku akan membiarkannya. Tapi aku tahu yang didambakannya, Sean ingin meledakkan jantungku sampai berkeping-keping dengan cara yang paling nikmat. Yang kutahu, adalah cara paling gila hingga membuatku meneriakkan namanya berulang-ulang dan tak berujung.


Dengan perasaan yang tenang aku tersenyum, "Terimakasih, Sean." ucapku tulus. Benar-benar tulus.

__ADS_1


Sean menarikku turun begitu pesawat yang kami tumpangi mendarat dengan sempurna, aku menyukai langkah-langkah kecil yang dibuatnya untuk mengimbangiku. Aku bisa membayangkan setiap permukaan kamar yang kami tempati akan menjadi saksi malam-malam kami yang panjang dan panas. Aku tidak mungkin akan bertahan lebih lama untuk tidak menghambur padanya.


"Dimana ini?" tanyaku, sejak tadi Sean tidak mengatakan apapun tentang tujuan bulan madu kami. Seingatku, kami menghabiskan hampir 6 jam didalam pesawat. Kami tiba saat jam ditanganku menunjukkan pukul 10 malam. Membuatku semakin gugup menghadapi malam panas yang sebentar lagi terjadi.


Sean tetap tidak mengatakan apapun, hanya senyum manisnya yang bertahan disudut bibirnya yang jauh lebih manis, "Kau akan segera mengetahuinya." aku diam, terpaksa menahan rasa penasaranku lebih lama lagi. Namun mataku sempat menangkap tulisan 'Hamilton Airport', aku menyadari kami sudah sangat jauh dari rumah.


Berselang 20 menit, Sean mengajakku turun dari mobil. Aku terpana dengan pemandangan dihadapanku, sejauh yang dapat kulihat, keindahan begitu terpampang. Terdengar deburan ombak yang keras, cukup membuatku tahu bahwa kami sedang berada disebuah pulau di Australia, tepatnya di Hamilton.


Aku belum mengucapkan apapun, mataku terlalu sibuk menikmati keindahan yang tak tertutupi oleh gelapnya malam. Sean membawaku masuk kesebuah resort, yang dikelilingi tembok kaca. Hampir seluruh temboknya terbuat dari kaca, menunjukkan pemandangan laut dan pantai yang indah.


Tak ingin membuang waktu lebih lama, kulempar shopper bag Dior-ku begitu saja kelantai, seolah barang itu tak ada harganya. Aku menghambur ke pelukan Sean, menciuminya bertubi-tubi. Terakhir, kulumat bibirnya yang manis, aku menciumnya dengan rakus dan panas, mengucapkan rasa terimakasihku untuk kejutannya. Aku melepas ciumanku saat napasku hampir habis, "Terimakasih, Daddy!" aku benar-benar berterimakasih padanya. Berikutnya hanya terdengar tawa riang diantara kami.


Aku menyadari Sean sudah memenangkan semuanya. Dia memenangkan hatiku, hidupku, dan keluargaku. Aku tidak tahu bagaimana lagi harus kagum padanya, tetapi kegigihannya memang sangat mengesankan. Kalau dia tidak punya tekad, Sean tidak akan menungguku begitu lama dan bekerja mati-matian untuk memantaskan diri agar aku menerimanya. Kalau dia tidak punya tekad, Sean tidak akan mati-matian ingin menjadi pendamping hidupku. Karena dia punya tekad, Sean melakukan segalanya untuk mendapatkanku.


Ya, Tuhan... Aku tidak tahu hadiah apa yang bisa kuberikan untuk usaha sebesar itu. Ciumanku saja mungkin tidak cukup, berlutut didepan kakinya saja mungkin tidak cukup. Hatiku harus sepenuhnya milik Sean, aku tidak boleh lagi meragukannya. Sean pantas dan layak memiliki diriku seutuhnya.

__ADS_1


Aku sudah kepanasan sejak sepanjang perjalanan kami tadi. Sean mendekatkan tanganku ke bibirnya, "Hmm... Tanganmu gemetar." ucapnya lirih.


Perasaan gembira, haru, waswas, gugup, dan canggung berpadu lalu menyebar cepat ke seluruh tubuhku. Bagaimana tidak, membayangkan bulan madu yang panas dan gila-gilaan dalam beberapa hari membuatku gugup setengah mati tapi juga menginginkannya, "Itu karena kau sangat luar biasa, Sean!"


Sean hanya mendengus geli, matanya yang sebiru lautan itu menatapku dengan liar, "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan, Sayang. Menikahimu, mendapatkanmu, lalu merayakannya dengan meriah."


Sekujur tubuhku meremang, setengah gugup, setengah tertawa, "Oh, aku tidak sabar untuk merayakannya. Dasar penculik!"


Bibirnya melengkung kecil, "Aku memang penculik. Dan kau adalah target pertama dan terakhirku." Aku menghembuskan napas gemetar sementara dadaku berdesir hebat.


Aku baru saja ingin mengeringkan rambut saat Sean mendekat. Satu tangannya memegang botol berisi sampanye, sementara satu tangannya yang lain membawa gelas panjang bertangkai kecil. Dengan alisnya, dia menawarkan minuman itu padaku.


Aku mengangguk setuju, dengan gerakan pelan namun percaya diri, Sean melangkah ke arahku. Aku tidak berhenti menatap Sean meski dadaku berdebar keras dan kakiku gemetar saat dia berhenti didepanku dan menuang sampanye ke dalam gelas. Aku yang saat itu berdiri, langsung memilih duduk di sofa single dibelakangku sebelum aku terjatuh karena melawan daya tariknya yang kuat itu.


Aku menelan minumanku dan membuat suhu tubuhku bertambah panas. Kakiku bertambah gemetar. Hembusan napas keras terdengar dari mulutnya, "Sayang, bersikap manislah, kecuali kau ingin aku menerjangmu sekarang juga."

__ADS_1


Dengan genit, aku menggigit telunjukku sambil mengedipkan mata dan Sean langsung menyambar gelas ditanganku dan meminum sisa sampanye sampai habis. Sean mengerang saat sampanye tertelan habis. Tanpa mengalihkan tatapannya, Sean melangkah pelan dengan kakinya yang panjang ke nakas di samping ranjang. Botol sampanye yang dibawanya dan gelas yang dibawanya ditarunya disana lalu kembali mendekat padaku.


__ADS_2