
No comment, no update!😂
Jadi, jangan lupa komen ya😘
***
Dengan langkah malas dan lemas aku kembali ke rumah. Perasaan takut dan cemas kututupi dengan senyum palsu yang kupaksakan setelah Dave berpamitan dan berbalik melangkah. Aku membuka pintu dan mendapati Ibu sedang duduk sendiri di sofa ruang tamu, menungguku dengan raut wajah cemas. Sekali lagi kutarik napas dalam sebelum aku melangkah.
Tanganku melepas high heels di kakiku dan membiarkannya begitu saja ditengah-tengah ruangan. "Mom," sapaku, berusaha terdengar biasa. Jangan sampai Ibu mengetahui permasalahanku dengan Sean. Biar aku yang menyelesaikannya. Aku tidak ingin Ibu khawatir dan ikut merasa bersalah pada suamiku. Dia terlalu tua untuk beban seberat ini.
Ibu menatapku yang berjalan mendekat, lalu berdiri menyambutku, "Panda," gumamnya lembut. Ibu bergerak maju dengan ekspresi cemas, "Sudah lebih baik?" tanyanya, kedua tangannya menyentuh pangkal lenganku dan mengusap halus. Aku bisa melihat raut kekhawatiran di wajahnya yang tua dan keriput.
Aku mengangguk, kuangkat kedua sudut bibirku agar dia tenang, "Ya, much better." ucap tanpa ragu.
Menangkap wajah Ibu yang tersenyum, aku tenang karena dia percaya dengan jawabanku. "Istirahatlah, kau pasti belum tidur dengan baik sejak semalam."
Aku mengangguk, namun sedetik kemudian pikiranku melayang pada suamiku yang entah dimana, aku khawatir sekaligus merindukannya. Apa yang dilakukannya sekarang, bagaimana dengan luka ditangannya, apakah dia sedang menangis, apakah dia sudah makan, apakah dia memikirkanku sekarang? Demi Tuhan, aku merindukannya.
"Dia pasti baik-baik saja." aku tersentak dengan ucapan Ibu yang membuyarkan lamunanku. Kedua tangannya memelukku. Tanpa sadar aku terisak dan balas memeluknya erat.
"Mom, aku takut..." ucapku lirih, aku tidak sanggup harus menutupi perasaanku. Aku terlalu rapuh untuk memaksakan diri menghadapi ini sendiri. Isak tangisku semakin keras hingga tubuhku berguncang hebat dipelukan Ibu.
"It's okay, honey. It's okay..."
Ibu berusaha menenangkanku dengan tepukan berulang-ulang di punggungku. "Aku takut, Mom. Aku takut dia membenciku, aku takut dia meninggalkanku..." ucapku disela isakan tangis. Dadaku semakin sesak sampai rasanya aku ingin mati.
__ADS_1
"No, baby. Not this one. Dia sangat menyayangimu, Sean akan kembali padamu. Apapun yang terjadi dimasa lalu, itu sama sekali bukan salahmu. Ibu yakin dia pria yang bijak."
Aku terdiam lalu menarik diri dari pelukan Ibu, "Wait, you know this?" tanyaku, tatapan menyelidik ku arahkan pada Ibu.
Ibu mendesah, memalingkan wajahnya dariku. Kedua tangannya saling meremas, "Mom!" aku bersuara setengah berteriak sambil menggoyang tangannya. Aku menatapnya frustasi, sementara dia belum membuka suara. "Mom, please!" kataku lagi. Dan dia mengangguk.
Mataku terpejam, kedua tanganku mengepal disisi tubuhku. Kutarik napas dalam dan kembali bertanya, "Apakah Ed dan Mia juga mengetahui ini?" tanyaku lirih.
Ibu mengangguk lagi. "Ya, mereka tahu."
Aku lemas. Kakiku tak kuat menopang tubuhku. Aku merosot dan terduduk dilantai yang dingin. Semua perasaan yang berkecamuk dihatiku bertambah berkali-kali lipat. Sakit yang kurasa semakin menjadi saat Ibu mengucapkannya. Aku sama sekali tak mengerti kenapa orang-orang yang kusayangi membohongiku seperti ini. Kenapa lagi-lagi aku diperlakukan seperti orang bodoh, dan bahkan sekarang keluargaku sendiri menutupi masalah yang melibatkanku dan suamiku. Oh, Tuhan! Ada apa dengan hidupku?
"Panda..." Ibu berlutut dihadapanku.
Ya, Tuhan! Aku sudah sering menghadapi kenyataan pahit yang menerjang hidupku, tetapi membuatku tak setegar sebelumnya karena aku tak pernah menyangka bahwa Ibuku yang kuanggap makhluk paling berbesar hati dimuka bumi ini melakukan hal yang sama padaku. Dan kini aku membencinya karena itu artinya dia membodohiku seperti orang lain.
Edward dan Mia? Astaga... keluarga apa yang kumiliki ini? Kenapa Tuhan begitu jahat mengirim mereka padaku? Dari semua orang yang hidup didunia, kenapa harus aku yang mengalami ini? Kenapa harus kehidupanku yang hancur berkali-kali? Kenapa harus aku yang selalu diperlakukan dengan kejam?
Aku tersadar, satu-satunya keluargaku hanyalah Ben. Hanya bayi kecil dan mungil itu yang tidak akan mengkhianatiku, hanya putraku yang akan menemaniku menghadapi manusia-manusia kejam dan tak berperasaan seperti mereka. Oh, Tuhan, putraku yang malang.
Aku turun dari ranjang, nyaris melompat, dengan setengah berlari aku menuju kamar putraku. Setelah masuk ke kamarnya, aku mendapati Ben tengah meringkuk diranjang bersama seorang nanny yang belum kukenal. Tak ingin basa-basi dan menyapa, aku mengangkat tubuh putraku dan membawanya kekamarku. Aku tak peduli tatapan bingung yang ditujukan nanny itu padaku.
Aku berbaring bersama putraku yang tidak terganggu sedikitpun dengan diriku yang membawanya pindah ke kamarku. Aku takjub melihat wajahnya yang pulas, wajah yang begitu menggemaskan. Memandangnya sedikit menenangkan perasaanku yang tak menentu. Entah seberapa besar masalah yang kuhadapi, pada akhirnya Ben yang selalu menenangkanku, oh, juga suamiku. Tapi sayangnya, dia tidak berada disini sekarang.
Suamiku yang tampan, yang mencintaiku, saat ini sedang kecewa dan mungkin marah padaku. Masa lalu menyatukan kami dengan cara ajaib, namun kini masa lalu juga yang membuat kami terpisah dengan cara yang teramat sangat menyakitkan. Aku tidak tahu kalimat apa yang pantas kuucapkan padanya jika kami bertemu nanti, tapi yang jelas aku tidak akan meninggalkannya sekalipun dia mendorongku dari kehidupannya karena aku mencintainya.
__ADS_1
Setelah puas memandang wajah putraku, aku beranjak dari ranjang untuk membersihkan diri. Aku baru merasakan tubuhku yang lengket dan lelah. Perlahan kakiku berderap menuju kamar mandi, sambil berjalan aku meraih ikat rambut dari meja rias dan mengikat rambutku tinggi-tinggi.
Aku berdiri di depan wastafel untuk membersihkan sisa riasan di wajahku terlebih dahulu. Kutatap pantulan wajahku dicermin. Sial, kenapa aku terlihat sangat mengerikan! Wajahku begitu menyedihkan dengan mata sembab dan merah, kantung mata yang tebal, serta lingkaran hitam dimataku, bahkan riasan yang belum kubersihkan tak sanggup menutupinya.
"Stop, Panda! Stop being ugly!"
Aku menarik napas dalam dan menghembuskan perlahan. Kuulangi beberapa kali sampai aku menyerah. Aku tidak bisa melakukannya. Aku tak berhasil menenangkan diriku yang gila karena suamiku. "Ini terlalu menyakitkan ya, Tuhan!" aku putus asa. Aku menangis menikmati sakit yang menusuk di dadaku. Sebelah tanganku meremas dada, sementara sebelah tangan yang kainnya bertumpu pada pinggiran wastafel.
"Stop, Panda!" bentakku pada diriku sendiri.
Dengan hati yang masih hancur, aku memaksa diriku untuk mandi dan membersihkan diri. Kedua tanganku menarik lepas gaunku melalui kepala, setelahnya tak sengaja aku melihat ada bagian perutku yang membiru sebesar bola golf melalui pantulan cermin. Ingatanku kembali pada kejadian di ruang kantor suamiku tadi sore, "Ya, Tuhan..." lirihku sambil menyentuh bagian yang lebam itu.Aku kembali terisak.
Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kalau boleh rasanya aku ingin mati saja daripada hidup tersiksa terus-menerus. Dunia yang kejam tidak cocok untuk diriku yang rapuh, aku sungguh tidak akan bertahan lebih lama ditempat ini.
Pikiranku terus melayang pada suamiku sepanjang aku mandi, aku bahkan lupa menikmati sabun aromaterapi yang kugunakan. Kemarahan Sean membuatku linglung sekaligus merasa bersalah. Aku dan keluargaku membuat hidupnya yang menyedihkan semakin hancur.
Setelah cukup menangis dan menghempaskan semua perasaanku di bak mandi, aku beranjak membilas tubuhku dibawah pancuran shower, lalu tanganku meraih bathrobe yang menggantung disamping wastafel.
Aku baru berjalan selangkah dari pintu kamar mandi, lalu tiba-tiba kakiku gemetar dan air mataku mengalir semakin jadi lagi. Suamiku datang, dia berdiri mematung disamping ranjang dan menatap tajam padaku. Punggung tangannya yang masih berdarah membuatku panik. Kakiku melangkah maju dan saat itu dia bersuara, "Antar Ben ke kamarnya."
***
Komen, komen, komen!😂
Like, like, like!😍
__ADS_1