
"Franda kita, seperti biasanya, berpenampilan layaknya malaikat." kata Matthew saat aku bergabung bersama mereka. Taylor mengangguk setuju.
Mendadak gugup kembali menyerangku. Taylor, chef gila itu, tadi pagi tiba-tiba membuat kami semua terkejut dengan mengatakan band kami yang baru berumur tiga hari akan mengisi acara pernikahan anak bosnya di Malam Tahun Baru. Malam ini!
Band yang seharusnya mengisi acara itu mendapat musibah. Salah satu personilnya meninggal dunia kemarin. Lalu Taylor, dengan sikap sok pahlawannya menawarkan band ecek-ecek kami sebagai pengganti, dan si bos yang kebingungan mendadak bersemangat mendengar usulannya. Karena tidak mungkin mencari band lain yang siap tampil mendadak, apalagi pada Malam Tahun Baru.
Dia benar-benar sinting! Entah apa yang ada dipikirannya saat mengusulkan itu. Kami bahkan baru dua kali latihan, dan aku tidak siap sama sekali. Awalnya aku menolak dengan tegas, tapi ketika Taylor mengatakan bosnya akan membayar $1500 AUD, aku melihat antusias teman-temanku yang lain.
Aku dan Sean mungkin tidak membutuhkan uang itu sama sekali tapi bagi mereka ini kesempatan besar untuk mendapatkan uang tambahan secara tidak terduga. Semacam jackpot. Karena tak tega melihat ekspresi memohon mereka, akhirnya aku setuju. Setidaknya inilah yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikan mereka.
Aku berputar sedikit selalu tersenyum. "Kau juga kelihatan keren." balasku pada Matthew.
"Tuh, kan! Dia tahu penampilan berkelas saat melihatnya. Kalian para cewek sudah siap?"
Sam mengangguk. "Pukul berapa kita tampil?"
Jason melihat jam tangannya. "Menurutku kita mulai kira-kira pukul 20.15. Ada istirahat untuk makan pukul 21.15, lalu DJ akan bermain sampai pukul sebelas. Kemudian kita tampil lagi sampai detik-detik pergantian tahun dan DJ akan kembali mengambil alih sampai sekitar pukul dua."
Matthew memberengut. "Ini akan jadi malam yang panjang, teman-teman. Sepertinya kita tidak bisa berkemas selagi DJ beraksi? Tadinya kukira kita bisa mengemas alat-alat setelah selesai."
Taylor menggeleng. "Maaf. Aku sudah bicara pada Garry, penanggung jawab acaranya, tapi sayangnya tidak ada kabar baik. Dia bilang itu akan merusak estetika suasana."
"Amit-amit kalau kita sampai merusak estetika orang." kataku bergidik.
Tirai terbuka dan Garry melongok ke dalam. "Semua sudah siap, teman-teman?"
Di panggung, pembawa acara sedang menyambut para tamu dan memanggil mereka ke lantai dansa. Sensasi menunggu yang semakin tinggi memicu derasnya adrenalin yang kutahu dialami kami semua malam ini. Jason menarik pemukul drumnya dari saku lalu melompat menaiki anak tangga menuju panggung. Sean meraih map lagunya, menunggu Taylor menaiki anak tangga di depannya. Sam dan aku memasang monitor telinga kami lalu menyalakan baterai sambil berjalan ke atas panggung.
"Hadirin sekalian, kita sambut dengan meriah band kita malam ini... The Price!"
Ada perubahan suasana hatiku yang kentara ketika kami mulai beraksi. Aku dapat merasakan denyut nadiku bertambah cepat dan gejolak aneh yang biasa muncul di perutku. Aku menyenandungkan tangga nada beberapa kali lalu mengibaskan ketegangan dari tanganku. Dua ritual sebelum tampil yang dulu selalu kulakukan untuk membantu menenangkan sarafku.
Aku tidak pernah tahu bagaimana penampilan panggung di pernikahan akan berlangsung, dan malam ini aku baru merasakannya. Atmosfer-nya benar-benar berbeda. Dibalik dekorasi yang indah, pakaian keluarga pengantin yang luar biasa, dan tamu-tamu yang sama anggunnya, suasananya jelas melempem. Dan yang lebih buruk lagi, lantai dansa tetap saja kosong setelah sesi pertama.
Maggie dan Mia, yang bertugas sebagai penyemangat hanya mengedikkan bahu dari sisi panggung tiap kali aku melirik mereka. Bahkan lebih lesu dari kami yang berdiri di panggung. Ini jelas-jelas mimpi buruk!
Taylor masih bungkam sementara Sean, Matthew, dan Jason serentak memasang raut muka kesal. Walaupun begitu, Sam dan aku tetap melakukan tugas, tersenyum dan berjoget sekuat tenaga.
"Kenapa tidak ada yang berdansa?" tanya Sean kepada Taylor, saat kami berkumpul di sisi panggung.
__ADS_1
"Aku tidak tahu," sahutnya. "Waktu aku bertemu pengantinnya tadi siang, mereka mengatakan tamu-tamu mereka akan berdansa semalaman."
"Yah, tapi ternyata tidak." kata Sam, menyindir suaminya sambil melepaskan hal tingginya lalu membungkuk untuk memijat kakinya yang pegal sementara aku bersandar di lengan Sean. "Aku merasa seperti orang bodoh di panggung, senyum-senyum seperti orang gila!"
"Wah," Taylor mengangguk ke arah mempelai pria yang sedang berjalan menghampiri kami. "Ini bakal menarik."
"Teman-teman, maafkan aku. Entah apa yang merasuki mereka. Gabby benar-benar kesal."
Matthew tersenyum ramah padanya. "Hei, jangan khawatir, Will. Ini bukan salahmu."
"Adakah yang bisa kami lakukan untuk membantu?" Sean mengusulkan.
Will mengedikkan bahu. "Kalian semua bagus. Aku tidak tahu apalagi yang bisa kalian lakukan untuk kami."
Jason mengambil kesempatan. "Mungkin daftar lagunya tidak membuat tamu-tamu kalian bersemangat? Apakah ada lagu yang kalian dan teman-teman kalian sukai?"
Will tampak berpikir selama beberapa saat. "Aku sih penggemar Bon Jovi," katanya. "Teman-temanku selalu meledekku soal itu."
Sean, Jason, Taylor dan Matthew saling berpandangan. "Menurutmu kau sanggup membawakan sedikit classic rock, Sam?" tanya Matthew.
Sam terkekeh. "Lagu-lagu lama mereka yang pertama kali kumainkan saat belajar musik. Guru bassku terobsesi pada mereka."
Sean menoleh ke arahku dengan senyum jahil yang sesaat mengejutkan. "Menurutmu kau bisa, Franda?"
Jadi itulah yang kami lakukan. Dan mendadak suasana berubah riuh. Dengan riang para tamu meninggalkan kursi-kursi tempat bokong mereka menempel, lalu berdasarkan lantai dansa dalam kerumunan tubuh berjoget penuh semangat.
Suamiku bergaya persis seperti saat kami latihan di hari pertama. Dia mendekatiku di tengah-tengah lagu Living On A Prayer untuk memamerkan keterampilannya mengendalikan gitar.
Perasaan ketika kau terhubung dengan penonton benar-benar indah dan tiada tandingnya. Ada energi tak kasat mata yang menghubungkanmu dengan mereka, suatu insting yang menggerakkan pertunjukan dan memancing respon mereka. Itulah yang terjadi malam ini dan kami semua merasakannya.
Sam dan aku mulai menikmati percakapan yang menyenangkan dengan penonton, menyemangati mereka untuk berdansa dan bernyanyi bersama kami, dan band kami kembali ke atas panggung untuk penampilan bonus pada pengujung penampilan. Setelahnya, semua orang di ruangan itu tersenyum lebar, selebar Will dan Gabby, pengantin yang tampak berseri-seri.
Pada pukul 03.45, kami sudah mengemas semua peralatan band sewaan ke dalam van milik Taylor. Sean menyandarkan diri ke sisi van sementara aku memandangi mereka semua yang nyaris koma di sekelilingku. "Selamat Tahun Baru, semuanya."
Serangkaian bisikan bernada letih membalasku.
"Semoga kita lebih sering mendapatkan kesempatan seperti ini. Aku ingin segera mengucapkan selamat tinggal pada tagihan kartu kreditku." kata Maggie.
"Amin," balas Taylor sambil mengangkat botol plastik berisi air yang isinya sudah setengah kosong.
__ADS_1
"Sebaiknya kita mengembalikan peralatan ke rumah Tay dan Sam supaya kita semua bisa tidur, oke?" kata Mia tiba-tiba.
Matthew menyampirkan ranselnya ke bahu. "Terimakasih, Franda. Aku berangkat. Sampai bertemu di rumah ya, teman-teman? Aku akan memanaskan air."
"Bagus," sahut Maggie. "Mau ikut, Mia?"
Jason menyela. "Mia akan pulang bersamaku."
Wajah Mia jelas menunjukkan tidak setuju. "Siapa yang mau pulang denganmu?" tanyanya sinis, dengan raut jijik memandang Jason.
Maggie bertukar lirikan dengan Matthew lalu mengangkat tangan. "Hei, aku sih terserah saja. Semakin cepat kita bereskan ini, semakin cepat aku bisa tidur."
Jason berkeras dengan kemauannya. "Mia akan tetap bersamaku."
"Aku tidak mau!" bentak Mia.
Aku bisa merasakan gemuruh perdebatan dimulai saat dua orang yang kelelahan dan keduanya bersumbu pendek, jadi aku memotong sebelum bom meledak. "Kalian bisa melanjutkan perdebatan ini besok. Mia pulang bersama Sean dan aku." Aku meminta kunci mobil ke Sean dan menyerahkannya pada Mia. "Masuk ke mobil." Ketajaman nadaku membuat mereka semua tersentak.
Aku berdiri berhadapan dengan Jason sambil melipat tangan di dada. "Jason, aku yakin kau sudah paham kebiasaan Mia, dan kuharap lain kali kau tidak melakukan hal seperti tadi. Dengar, aku sama sekali tidak peduli pada hubungan kalian, tapi tolong... kalau mau ribut pilih-pilih waktu."
Wajahnya mendadak merah menahan malu, membuatku agak menyesali ucapanku. Dan sebagai permintaan maaf, aku memeluknya seraya melontarkan kalimat riang untuk mengembalikan semangatnya. "Selamat Tahun Baru, calon adik ipar. Kuharap kau bisa meluluhkan adikku."
Dengan begitu saja, keceriaan kembali terlihat di rautnya. "Terima kasih, kakak ipar." balasnya malu-malu.
Sam dan Maggie serentak menggumakan "ewh" sementara pasangan mereka sepakat mendorong Jason hingga nyaris terjungkal.
Saat di perjalanan pulang, aku berbicara satu arah dengan adikku. Aku yang berbicara sementara dia hanya diam mendengarkan. "Mia, tolong perbaiki sikapmu di depan orang-orang. Aku tidak suka melihatmu seperti tadi. Kau harus bisa mengendalikan ketajaman mulutmu karena tidak semua orang bisa menerimanya. Aku tahu kau lelah, dan bukan hanya kau saja yang merasakannya. Kami juga lelah."
"Oke, aku paham kau tidak suka dengan usulan Jason atau memang kau tidak menyukai Jason, tapi kau bisa mengatakannya baik-baik. Kurangi sikap ketusmu. Apa kau bisa melakukannya?" gumamku melanjutkan.
"Hm." gumamnya setengah sadar. "Aku tidak janji."
Aku melirik Sean sekilas, dia tersenyum geli merespon ucapan Mia saat pandangan kami bertemu. Kemudian kudorong kursiku mundur dan menoleh Mia. "Kemarilah..." kataku sambil membuka tangan. Mia menurut malas-malasan. "Aku menyayangimu, sissy." Aku memeluknya dan mencium pipinya.
Mia balas mencium pipiku. "Hm, aku juga."
"Kuharap kau jujur."
"Aku berbohong." sahutnya cuek sambil menyurukkan wajahnya ke leherku. "Aku mencintaimu, Panda."
__ADS_1
Aku terkekeh, seperti biasa, merasa bahagia mendengar ucapan konyol yang sering dilontarkan adikku.
***