Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 56


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 7.27 pada malam hari saat seorang perawat masuk ke ruangan Franda, membawa bayi mungil yang tertidur di kereta dorong.


"Selamat malam... Ini ruangan Ibu Franda Atmaja Wirawan, benar?" tanya perawat tersebut memastikan.


Ibu, Mama, dan Mia, serta Franda mengangguk.


"Ya, Sus!" jawab Mia.


Sang perawat berjalan mendekat sambil tersenyum, "Saya mau mengantar adik bayinya, Bu."


Ibu dan Mama langsung menyambut sang bayi dengan tatapan haru, keduanya tak henti menyunggingkan senyum dengan mata berkaca-kaca kala melihat wajah mungil cucu mereka.


"Oh, baby... You're so handsome!" kata Mama Rossa, menarik tangannya untuk menyentuh pipi cucunya.


"Ya, dia tampan sekali... Persis seperti Daddynya," kata Ibu menimpali.


"Ya, Tuhan! Dia kecil sekali! Bagaimana bisa ada manusia sekecil ini?" pekik Mia, ini merupakan pengalaman pertamanya melihat bayi yang baru dilahirkan, membuatnya merasa heran dengan ukurannya yang begitu mungil.


Edward yang sudah berdiri disampingnya langsung melayangkan pukulan kecil ke kepala adiknya,


Plakk!!!


"Bodoh! Memangnya kau berharap bayi akan sebesar apa saat dilahirkan?" semprot Edward.


Mia menatap tajam pada kakak laki-lakinya sembari mengelus kepalanya yang lumayan sakit akibat pukulan Edward, "Mana ku tahu! Aku 'kan belum pernah melahirkan! Lagipula, ini bayi pertama di keluarga kita." balasnya sinis, mengangkat ujung bibir atasnya sebelah.


"Kau bahkan lebih kecil darinya saat lahir, beratmu hanya 2.75 kg!" ejek Edward.


Mia kesal dengan jawaban kakaknya namun Ia tidak ingin menanggapi, matanya kembali menatap keponakannya, senyum di bibirnya kembali mengembang.

__ADS_1


"Babynya menyusu dulu ya, Bu." kata sang perawat, kemudian mengangkat tubuh mungil dari kereta dorong dan meletakkannya di dada Franda. "Ibu sudah tahu caranya?" lanjutnya. Sontak Franda bingung bagaimana cara menyusuinya, tatapannya melihat Ibu dan Mama bergantian.


Kedua wanita tua itu tersenyum penuh arti.


"Terimakasih, Sus! Saya yang akan mengajari anak saya." kata Ibu dengan lembut.


Perawat itu tersenyum dan mengangguk paham, senang pekerjaannya berkurang. "Baiklah, kalau begitu saya permisi. Jika membutuhkan sesuatu, Ibu bisa menekan tombol nurse call." ucapnya, lalu melangkah keluar ruang perawatan.


***


Setelah mendapatkan perawatan selama 2 hari pasca melahirkan dirumah sakit, hari ini Franda sudah diijinkan pulang oleh dokter Clara. Dengan catatan tidak boleh kelelahan atau mengangkat beban yang terlalu berat karena lukanya masih basah. Franda juga masih kesulitan berjalan, bahkan untuk meluruskan tubuhnya saat berdiri pun Ia tidak kuat, alhasil jadilah Ia berjalan dengan sedikit membungkuk.


"Sayang, tolong bantu aku ke kamar mandi." pinta Franda pada suaminya. Dengan sigap Nino memapah istrinya berjalan ke kamar mandi dengan perlahan.


"Kau bisa mandi sendiri?" tanya Nino, Ia tidak tega melihat istrinya yang kesulitan bergerak karena luka bekas operasi yang masih sakit.


Franda mengangguk.


"Tidak usah, aku masih bisa melakukannya." tolak Franda sambil tersenyum.


"Baiklah, panggil aku kalau butuh bantuan. Aku akan menyiapkan pakaian gantimu."


"Ya, tolong bawakan bathrobe-ku."


Nino keluar dari kamar mandi, masuk ke ruang ganti untuk mengambil bathrobe dan kembali menyerahkan pada istrinya.


Franda dan Nino bersantai sebentar dikamar mereka, mulai latihan mengambil kesempatan saat si kecil Ben sedang tidur di kamarnya, ditemani kedua grannynya. Kedepannya sudah dipastikan mereka pasti akan jarang memiliki waktu berdua, karena Ibu dan Mama sudah memberitahu bagaimana rewelnya bayi. Franda dan Nino belum mau menyewa pengasuh, keduanya ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan putra mereka, terlebih Franda. Ia ingin mengurus segala keperluan anaknya sendiri.


"Apakah sakit sekali, Sayang?" Nino bertanya pada istrinya yang tengah duduk menyandar di kepala ranjang, sibuk mengecek laporan butik yang dikirim Dhea melalui ponselnya.

__ADS_1


"Tentu saja! Kau mau mencobanya? Aku bisa membelah perutmu kalau kau mau!" jawab Franda ketus sambil menatap tajam Nino, pertanyaan suaminya itu sungguh bodoh dan tidak masuk akal.


Nino langsung tersenyum kikuk mendengar jawaban ketus istrinya, "Maaf..." katanya.


"Sayang, tolong ambilkan sketchbook-ku di laci paling bawah meja rias." ucap Franda, tangannya menunjuk meja rias tapi matanya tetap fokus pada ponselnya.


Nino langsung berjalan mengambil buku yang diminta istrinya, "Yang ini?" kata Nino sembari menunjukkan sebuah buku sketsa berwarna merah.


Franda menoleh, "Bukan, yang warna biru." jawabnya.


Nino kembali melihat ke dalam laci, mencari buku berwarna biru seperti yang dikatakan istrinya, lalu berjalan ke ranjang setelah menemukannya, "Ini bukan?" Nino menyerahkan buku itu ke istrinya.


"Hmm. Thank's, Sayang." ucap Franda, lagi-lagi tanpa memandang Nino. Nino yang sejak tadi merasa di acuhkan langsung protes pada istrinya.


"Sayang, bisakah kau menatapku saat berbicara?"


Franda mengerutkan keningnya, menatap mata suaminya, "Kau kenapa?" Franda bukan menjawab, melainkan balas bertanya. Heran kenapa suaminya begitu sensitif.


"Aku hanya ingin kau melihatku saat berbicara denganku."


"Aku sedang mengecek laporan butik, Sayang. Sudah, aku minta maaf." Franda tersenyum, diletakkannya ponsel dan sketchbook-nya lalu Ia menarik tangan suaminya agar duduk di sebelahnya. "Kenapa kau begitu sensitif? Wajahmu menggemaskan saat cemberut." lanjut Franda.


"Jangan terlalu fokus dengan butikmu, kau baru saja melahirkan, ada Ben juga yang membutuhkanmu."


"Sayang, aku hanya sebentar, sudah berapa hari ini aku tidak melihat laporan butik. Selagi Ben bersama kedua omanya, aku ingin memanfaatkan waktuku." jelas Franda.


Nino menghela napas, "Aku, bagaimana? Aku juga membutuhkanmu." katanya melayangkan protes, sejak melahirkan istrinya berubah menjadi acuh padanya. Tidak terlalu kelihatan, namun Nino merasakannya.


"Kenapa kau jadi manja? Kau melakukan apa, hah?" tanya Franda curiga, tidak biasanya Nino bersikap seperti ini.

__ADS_1


"Kenapa jadi bertanya padaku? Aku tidak melakukan apapun, Sayang. Aku merasa kau mengabaikanku sejak kau melahirkan." ucap Nino.


"Oh, ya?"


__ADS_2