
Hampir sejam aku memastikan Ben tenang dan tidak ketakutan lagi ketika aku meninggalkannya bersama Mrs. Darla, nanny yang ku percaya menjaganya. Sean mempekerjakan Mrs. Darla melalui salah satu yayasan khusus penyalur jasa pengasuh anak yang bisa berbahasa inggris dan indonesia. Aku salut pada keinginannya agar Ben bisa berbicara dengan dua bahasa sekaligus, dan tentu saja bahasa inggris yang diutamakan. Ben bisa berbicara menggunakan bahasa indonesia nanti, tidak akan sulit baginya beradaptasi dengan bahasa indonesia karena kami tinggal disini.
Oke, kembali pada inti permasalahan. Aku melupakan niatku ke butik hari ini. Pikiranku belum sepenuhnya tenang, aku masih kesal dengan ucapan Mia yang seenaknya mengatakan aku bodoh. Dari dulu aku tidak suka memanfaatkan orang lain untuk menyenangkan diriku, sekalipun dia suamiku. Aku lebih suka bekerja dan membeli sesuatu dengan hasil kerjaku, karena aku tidak perlu merasa bersalah ketika menghabiskan uang sebanyak yang ku inginkan.
Aku keluar dari kamar Ben dan kembali ke meja makan untuk menemui Mia, namun tidak ada siapapun disana. Mataku menangkap Miss Diana yang sedang membersihkan dapur, "Miss, dimana Mia?" tanyaku datar, aku tidak ingin menyembunyikan kekesalanku sekarang.
Miss Diana berbalik begitu mendengar suaraku, "Tadi sudah kembali ke kamarnya, Nyonya." aku langsung melangkah pergi meninggalkannya tanpa mengatakan apapun. Ku acuhkan sapaan Nyonya yang tidak kusuka itu, selama aku pindah kesini Sean mengatakan harus ada batasan antara pekerja dan majikan agar mereka tahu posisi mereka dan tidak seenaknya. Itulah kenapa para asisten rumah tangga dan pekerja lain memanggilku Nyonya, panggilan yang sama juga berlaku untuk Ibu dan Mia.
Aku melangkah masuk ke kamar Mia, kulihat dia sedang berbaring sambil memainkan ponselnya, "Mia, tolong jelaskan maksud ucapanmu tadi." kataku tanpa membuang waktu, aku berkacak pinggang, menunjukkan bahwa aku serius dengan ucapanku.
Mia masih santai, dia tersenyum padaku sambil menggeser posis duduknya agar menghadap padaku, kedua tangannya bertumpu pada bantal dan menopang dagu, "Ucapanku yang mana?" Anak ini santai sekali, aku pastikan kau habis kali ini!
"Apa maksudmu mengatakan aku bodoh? Aku sungguh tidak suka dengan kelancanganmu, Mia! Sean memang suamiku, tapi bukan berarti kau bisa memanfaatkannya sesuka hatimu. Kau bisa meminta padaku atau Edward kalau kau menginginkan sesuatu."
"Lalu untuk apa kau menikah dengannya? Kenapa kau harus repot-repot bekerja di butik sementara kau memiliki mesin pencetak uang?"
Astaga! Aku benar-benar tidak tahan lagi mendengar ucapannya, mulutnya sungguh luar biasa kurang ajar. "Jangan samakan aku denganmu! Aku bukan wanita malas yang hanya duduk diam dirumah dan menghambur-hamburkan uang sepertimu, aku tidak bisa menikmati sesuatu tanpa bekerja. Tidak masalah bagiku kalau kau tidak mau bekerja dan hanya menghabiskan uang tanpa perlu susah payah mencarinya, tapi jangan merengek pada suamiku. Minta padaku atau Ed, kami akan memberimu kehidupan mewah yang kau mau. Bukankah selama ini kami sudah menuruti semua kemauanmu? Jangan mempermalukanku didepan Sean dengan terus menjual statusku sebagai istrinya!"
__ADS_1
Aku meluapkan semua kekesalanku padanya, selama ini aku berusaha menahan diri karena teringat dulu Ayah memanjakannya, aku selalu diam dan menuruti kemauannya agar dia tidak terlalu merasa kehilangan saat Ayah meninggalkan kami beberapa tahun lalu, kepergian Ayah sangat berat baginya, apalagi jika teringat kadang Ayah lebih mengutamakanku dibanding dia yang merupakan putri kandungnya.
"Oh, jadi kau menyalahkanku sekarang? Kau lupa aku tidak bekerja karena siapa? Aku tidak bekerja karena mengurus anakmu, sementara kau sibuk dengan kegilaanmu dulu. Jangan lupakan itu, Panda! Seharusnya kau berterimakasih padaku karena aku menggantikan posisimu disamping Ben, bukan menyalahkanku begini."
Ya, Tuhan! Anak ini sungguh tidak mengerti maksud ucapanku, dan sekarang dia membawa Ben sebagai alasannya. Aku memang harus memberinya pelajaran kali ini. Sikapnya tidak bisa didiamkan terus-menerus, dia akan semakin kurang ajar dan tidak tahu diri jika terus dibiarkan.
"Aku tidak memintamu! Tidak sekalipun aku memaksamu untuk menjaga Ben! Jangan jadikan Ben sebagai alasan untuk menutupi sifat malasmu, kau bukan lagi anak kecil yang harus terus bergantung pada kami. Umurmu sudah 27 tahun! Sampai kapan kau akan seperti ini? Apa kau pernah berpikir tentang masa depanmu? Jangan berharap aku akan terus menghidupimu!"
Seluruh tubuhku gemetar menahan amarah, pipiku mulai panas akibat air mata yang ku yakin sebentar lagi akan tumpah. Mia berajak turun dari ranjangnya, dengan sigap aku menarik tangannya saat dia akan keluar dari kamar. Kami harus menyelesaikannya sekarang dan memastikan Mia paham dengan ucapanku, aku tidak ingin masalah ini berlarut-larut.
Aku tahu Mia sedang khawatir sekarang, dia mengusap punggungku berkali-kali, "Breath, breath, and breath... Ayo, kau bisa melakukannya."
Aku berjalan kesana-kemari tanpa tahu tujuanku melakukannya, gangguan sialan ini sungguh menyiksa. Seluruh tubuhku gemetar dan menggigil. Aku bernapas seperti orang sekarat, memaksa oksigen masuk dengan cepat dan menghembuskannya lebih cepat lagi, berharap gangguan ini pergi dan menghilang dengan segera.
"Ya, Tuhan, Mia! Ini benar-benar menyiksaku! Aku tidak tahan lagi, kenapa dia tidak mau pergi... Tolong usir gangguan sialan ini!" aku meracau, otakku sudah tidak bisa bekerja dengan baik. Panas dan sesak yang menyerang tubuhku membuatku ingin membuka baju, aku membuka ikatan bathrobe yang melilit, tidak peduli pada keadaanku yang hanya memakai pakaian dalam, aku mengibaskannya untuk menghilangkan rasa sesakku, namun tidak berhasil sama sekali.
"Mia... Can you help me, please... Tolong aku... Aku takut, Mia... Kenapa dia tidak mau pergi, sialan, aahhhh!" setengah sadar aku membenturkan kepalaku ke tembok beberapa kali, aku merasakan sakit, namun gangguan panik sialan ini lebih menyiksa.
__ADS_1
Aku tidak bisa lagi mencerna ucapan Mia yang mengarahkanku untuk bernapas, "Atur napasmu, Panda! Bernapaslah, kau bisa melakukannya. Ayo, kau bisa! Aku disini bersamamu."
Aku masih sadar saat Mia mulai kesulitan menghadapiku yang sudah seperti orang kerasukan. Penderitaanku terus berlanjut, tidak tahu sudah berapa lama aku mengalaminya dan bergerak kesana-kemari dengan tubuh yang nyaris telanjang, sampai aku melihat Sean muncul. Sangat jelas terlihat dia terkejut dengan keadaanku, aku tidak peduli padanya, otakku benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama.
"Mia... Aku takut... Tolong aku, Mia! Tolong aku!" aku mulai membentak, gangguan ini benar-benar kurang ajar! Kurasakan Sean menyelimuti tubuhku yang hanya menggunakan pakaian dalam, aku berontak, selimut bukan hal yang ku butuhkan sekarang. Aku ingin gangguan sialan ini pergi.
"Kenapa dia tidak mau pergi? Aaahhhh..." aku sampai pada puncaknya, leherku tercekik, panas, pusing, sesak dan mual menyerangku secara bersamaan, berkolaborasi menciptakan rasa yang begitu menyiksa, membuatku merasa di neraka. Tanganku tak berhenti memegang leherku yang terasa tercekik. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana keadaanku sekarang, yang jelas pasti mengerikan.
"Mia, kenapa dia tidak mau pergi? Ya, Tuhan! Kenapa dia menyiksaku begini. Tolong, bantu aku! Aku sungguh tidak tahan lagi!"
***
Komen, komen, komen!
Like, like, like!
Kasih semangat dikitlah, malam pertama otw😂
__ADS_1