Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Confusing


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Aku masih terbayang-bayang perkataan dokter semalam yang mengatakan Franda mengalami amnesia disosiatif atau semacamnya. Ini terjadi karena Franda berusaha memblokir informasi yang berhubungan dengan trauma atau stres. Hal ini akan membuat dia tidak mampu mengingat informasi-informasi pribadi yang penting yang biasanya jarang di lupakan orang kebanyakan.


Ada setitik kelegaan yang muncul di sudut hatiku ketika dokter mengatakan ingatan Franda masih ada, tapi tersimpan sangat dalam di pikirannya dan tidak dapat di ingat. Namun memori tersebut dapat kembali muncul dengan sendirinya atau setelah di picu oleh sesuatu yang ada di sekitarnya. Bagiku itu sudah cukup baik, tak masalah jika aku harus menunggu beberapa waktu sampai dia mengingatku.


Franda juga sempat menjalani serangkaian tes untuk mengetahui apakah ada sesuatu yang salah dengan otaknya atau tidak, dan aku bersyukur dia baik-baik saja, semua hasil tes menunjukkan tidak ada masalah apapun pada otaknya.


Saat ini Franda tidak terlalu bingung seperti tadi malam namun dia tetap waswas dan menjaga jarak denganku. Aku baru saja menceritakan hubungan kami padanya dan mengenalkan semua anggota keluarga dengan menunjukkan foto keluarga yang tersimpan di ponselku, dan sekarang aku sedang menunggu dia merespon ceritaku.


"Jadi, kau suamiku?" Aku mendongak menatap Franda. Dia menyengir, menampilkan barisan giginya yang putih dan bersih sementara matanya menatapku. "Aku minta maaf, maksudku... kau tahu, aku tidak mungkin percaya begitu saja denganmu, kan?" Dia mengamati tubuhku, menelanjangiku dengan sorot mata tajam, lalu dia berdecak.


Aku mendengus kesal, tanpa berusaha terdengar ramah, aku membalasnya sinis. "Apa yang ingin kau tanyakan sebenarnya?" gumamku sambil menempelkan punggungku dengan kasar pada sandaran kursi.


"Lihatlah dirimu, boy." Franda mengamatiku lagi. "Ckckck, di lihat dari sisi manapun, tidak ada kecocokan di antara kita. Apa kau tahu animasi Marsha and the Bear?" Aku mengangguk. "Maka seperti itulah gambaran kita sekarang." Dia terlihat menahan tawa, tak berhenti memperhatikanku.


"Sekali lagi, aku minta maaf, kurasa kita harus jujur dalam hal ini." Dia berdeham. "Dengar... mungkin kita memang suami istri, tapi aku yakin ada yang salah dalam diriku ketika menerimamu. Apa kau mengingat sesuatu? Seperti, kepalaku terbentur atau semacamnya?"

__ADS_1


Astaga, apa-apan ini! Apakah dia baru saja mengatakan menyesal karena menikah denganku? Apakah amnesia bisa membuat seseorang berubah dan menyesali kehidupannya? Aku tahu Franda sedang kehilangan ingatan, tapi ini keterlaluan. Ini tidak bisa di terima dengan akal sehat.


Bagaimana aku akan bertahan menghadapinya jika kondisinya seperti ini? Demi Tuhan, bukan ini yang kuminta dalam doaku semalam. Saat ini harusnya aku bersenang-senang merayakan kesadarannya, tapi kenapa malah jadi seperti ini?


Sekarang wajahnya terang-terangan menunjukkan perubahan ekspresi dengan cara yang paling mengejutkan. "Lapar." Dia melirik nakas, matanya berbinar-binar melihat burger yang beberapa saat lalu kusantap. Aku melupakan burger itu karena Franda mendesakku untuk menceritakan tentang hubungan kami.


Secepat kilat tangannya terjulur meraih burger itu dan langsung menggigit satu gigitan besar. Aku hanya melongo menyaksikannya serakus itu. Franda bukan tipikal foodgirl, nyaris tak peduli dengan makanan meski dia sedang kelaparan sekalipun, tapi yang baru saja kulihat benar-benar berbeda. Dia tidak seperti Franda yang kukenal, lebih tepatnya dia bukan Franda.


Sejenak aku berpikir apakah reinkarnasi itu memang ada, maksudku, ini aneh. Benar-benar aneh. Dia mencoba bunuh diri, lalu koma selama empat hari, kemudian terbangun dan tidak mengingat apapun, bahkan sekarang tingkahnya berubah. Apakah dia mengalami pertukaran jiwa atau semacamnya? Ya ampun, jangan sampai itu terjadi.


"Kau membuatku mual, Franda." kataku dengan sorot mata frustasi, tetapi dia terlihat santai. Tidak membalas ucapanku dan fokus menghabiskan burger-nya.


Setelah dia memasukkan sisa burger di tangan ke mulutnya, Franda memajukan tangannya dan berhenti tepat di depan hidungku. "Kenapa?" tanyaku heran sambil mengernyit.


Dengan mulut yang masih penuh makanan, dia menjawabku. "...." katanya, tapi tidak satu kata pun yang bisa ku dengar karena makanan masih menyumpal mulutnya


"Aku tidak mengerti yang kau katakan."

__ADS_1


Aku menunggu sambil menelan ludah beberapa kali sampai akhirnya dia menelan makanannya. "Bersihkan tanganku." gumamnya seraya menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajahku.


Aku melotot tak percaya pada apa yang kulihat, dia dengan santainya mengusapkan tangannya yang penuh dengan saus ke pakaianku sebelum aku sempat menjawab perkataannya. Aku baru saja akan mengumpat padanya, namun dia mendahuluiku. "Kau terbilang lambat dengan tubuh sebesar ini, bear. Seharusnya kau diet agar bisa bergerak lebih cepat, atau setidaknya kau bisa olahraga sedikit."


"Tapi, jangan khawatir. Karena kau mengatakan kita suami-istri, aku akan membantumu nanti. Kau membutuhkan trainer untuk melatih otot-ototmu agar kau bisa bergerak dengan gesit, dan aku akan menjadi trainermu." Franda menepuk-nepuk tangannya di dadaku. Lalu dia mundur dan duduk menyandar pada kepala hospital bed. "Aku minta kertas basah." titahnya, dan aku tidak menyukai ini. Tidak peduli dia sedang sakit atau bahkan sedang sekarat sekalipun, dia tetap harus punya etika.


Aku menatap tajam padanya dengan kedua tangan bertengger di kedua sisi pinggulku. "Franda," panggilku dengan nada yang sengaja kutekan agar dia sedikit mengurangi sikap ajarnya. "Aku tidak tahu apakah orang amnesia juga lupa akan sopan santun, tapi biar kuberitahu kau sekarang." Wajahku mendadak berubah lebih serius. "Ketika kau membutuhkan sesuatu, dan kau ingin orang lain memberikannya padamu, katakan 'tolong'. Itu pelajaran pertama untukmu, Franda."


Dia tertawa, melemparku dengan bantal. Aku tidak tahu wajahku seperti apa sekarang, tapi yang pasti mengerikan. Aku sungguh-sungguh kesal padanya dan ingin memakinya detik ini juga, namun lagi-lagi dia menyelaku.


"Wajahmu seperti api, bear. Kurasa aku bisa mematangkan daging disitu." Franda tertawa lagi, lebih keras. "Jangan terlalu serius. Kau membuatku semakin meragukan pernikahanku denganmu kalau kau begitu. Maksudku, Ya Tuhan... Apa aku menikah dengan robot? Ini menggelikan." Dia berhenti sejenak.


"Tolong bajuku." Aku melangkah dengan kesal untuk mengambil bajunya, lalu kembali memberikan kaus miliknya. Tapi dia melemparnya kembali, mendarat tepat di wajahku. "Aku mau yang besar. Pinjami aku kausmu."


Tadinya aku ingin mengumpat begitu dia melempar kaus itu ke wajahku, tapi seketika aku merasa senang karena setidaknya dia masih ingat kebiasaannya menggunakan kaus milikku saat dirumah, dan itu membuatku cukup bangga.


Aku tidak bisa membayangkan hari-hari kami berikutnya. Mungkin akan penuh kekacauan mengingat Franda sekarang menjelma menjadi wanita lain, dia berubah dalam sekejap. Dan entah sampai kapan aku harus berhadapan dengan jiwanya yang baru ini. Namun, apapun yang terjadi, aku benar-benar bahagia karena Franda sudah sadar dari koma, dan jiwanya tidak terguncang. Itu sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


__ADS_2