
Franda menemui Mia dikamarnya setelah selesai mengobati luka Nino dan memastikan pria itu tidur dikamar. Nino yang tadinya keras kepala dan ingin menyelesaikan masalah mereka, saat itu juga langsung terdiam ketika Franda marah dan membentaknya. Dengan terpaksa dirinya mengikuti perintah istrinya yang menyuruhnya tidur.
"What happen?" tanya Mia begitu melihat Franda masuk kekamar.
"Suamiku menggila akibat kelakukan kita semalam." jawab Franda lemas sambil duduk bersender di kepala ranjang. Ia memijit pelipisnya untuk menghilangkan sedikit rasa pusing yang menyerangnya sedari tadi.
"Apa yang dia lakukan padamu? Dia memukulmu?" tanya Mia cemas.
"Ckk! Nino tidak sejahat itu." ucap Franda dengan malas. Pertanyaan Mia sama sekali tidak masuk akal baginya.
"Lalu, apa yang terjadi? Kenapa kamarmu bisa hancur seperti itu?" serang Mia lagi dengan pertanyaannya.
"Dia marah karena aku mabuk semalam dan pulang bersama Sean. Aku merasa baru mengenalnya sekarang, kau tahu aku sangat ketakutan melihatnya marah seperti itu, bahkan tadi aku tidak yakin akan selamat dari amukannya." jawab Franda.
"Kenapa memangnya? Ceritakan yang benar, jangan membuatku bingung..." ucap Mia tak sabar.
"I'm terrible, Mia!... He was an alcoholic, and I don't even know that he totally stop when we're married. Crazy, right?" Franda menghela napas.
"Kami hidup bersama selama 7 tahun ini, tidur diranjang yang sama, berbagi banyak hal, tapi aku bahkan tidak mengetahui dia pernah menderita akibat sulit menghilangkan kecanduannya dengan alkohol, dan dia berhenti demi aku!" lanjut Franda.
Mia diam menyimak, jawaban Franda belum memuaskannya.
"Sebenarnya Nino marah bukan karena aku mabuk, tapi karena Sean. Kau ingat saat Sean mengatakan aku memintanya untuk menemaniku minum?" tanya Franda yang dibalas anggukan oleh Mia.
"Malam itu aku menginap dirumahnya, aku ribut besar dengan Nino saat pulang kerumah keesokan harinya. Aku mengatakan dengan jujur pada Nino kalau aku pergi bersama seorang pria, tapi dia tidak bisa marah karena waktu itu kesalahannya yang membuatku melakukan itu. Lalu, kau ingat saat aku menginap dirumah dan pergi makan siang namun tidak kembali lagi kerumah?" Mia mengangguk lagi.
"Aku makan siang bersama Sean, dan Nino melihat kami. Dari situ dia tidak suka jika aku berhubungan dengan Sean, dia bilang Sean menatapku seperti menginginkan sesuatu, padahal tidak seperti itu. Kami hanya berteman." kata Franda menjelaskan, Mia mulai mengerti permasalahannya dan Ia setuju dengan kakak iparnya.
"Aku setuju dengan suamimu dalam urusan pria itu, aku tidak tahu kalian sedekat apa tapi aku melihat hal yang sama dengan kakak ipar. Pria itu menginginkanmu!" kata Mia dengan yakin.
"Oh, ya? Dari mana kau mengetahuinya?" tanya Franda penasaran, kenapa Nino dan Mia bisa mengatakan itu padahal dirinya sendiri tidak merasakan ada sesuatu yang berbeda pada sikap Sean.
"Kau polos atau bodoh? Jelas-jelas sangat kelihatan kalau dia menyukaimu. Aku sempat beberapa kali melihatnya memperhatikanmu cukup lama kemarin." jawab Mia ketus. Kesal pada kakaknya yang terlalu cuek itu.
__ADS_1
"Ah, entahlah! Aku malas memikirkannya, Nino lebih penting saat ini." Franda berbaring telentang memandangi langit-langit kamar.
"Hm, kau benar. How was him? Is he okay?"
Franda mengangguk. "Dia sedang tidur, semoga tidak terjadi apa-apa pada kakinya nanti." Franda melipat sebelah tangannya dan menjadikannya bantal.
"Ya, semoga saja... Hey, aku penasaran!" kata Mia dengan antusias.
"Dari mana dia mendapatkan Dalmore itu?" tanyanya.
"Dia bilang acara lelang." jawab Franda singkat.
"Wah, ternyata kakak ipar punya selera yang tinggi ya." ucap Mia dengan sorot mata kagum, Ia tidak menyangka Nino bisa memiliki minuman limited edition itu.
"Hm, aku juga baru tahu." ujar Franda sembari bangun dari posisinya.
"Aku mau ke kamar, kau masih lama disini?" tanya Franda.
"Aku pulang sebentar lagi, tadi Ibu sudah mengomel karena menginap tanpa memberitahu." jawab Mia yang juga bangun.
"Aku akan kesana dengan taksi dan mengambilnya, aku bisa mati kalau pulang tanpa membawa mobilku." Mia bergidik ngeri membayangkan wajah marah Ayah dan Edward jika melihatnya pulang tanpa mobil, dua orang itu pasti akan mengulitinya.
"Baiklah, aku ke kamar. Beritahu aku kalau kau mau pulang." Franda langsung berjalan keluar dan kembali ke kamarnya.
Hati Franda tak bisa tenang sejak tadi, Ia sangat khawatir dengan keadaan suaminya belum lagi kemarahan pria yang dicintainya itu.
Franda sadar kenapa Nino sangat kecewa padanya, kelalaiannya dalam menjaga diri sebagai seorang istri tidak bisa dilupakan begitu saja, sikap cerobohnya yang mabuk dan pulang bersama pria lain bukan hal yang bisa dianggap enteng meskipun tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Sudah seharusnya Ia bisa menjaga kehormatan dirinya dan suaminya.
Franda masuk ke kamar dan melihat Nino masih tertidur. Ia berjalan mendekat dan duduk ditepi ranjang. Dipandangnya wajah pucat laki-laki yang sudah 7 tahun ini hidup bersamanya, wajah yang selalu mewarnai hidupnya, yang selalu rela melakukan apapun padanya, mengutamakan dirinya dibandingkan apapun. Tanpa sadar Franda menangis, air matanya keluar begitu saja tanpa diminta. Ia menyesal karena sudah menyakiti hati Nino.
Franda teringat dulu suaminya pernah mengatakan 'belum pernah aku jatuh cinta sekeras ini, seperti padamu. Terimakasih sudah datang dan menjadikanku raja saat aku baru saja kehilangan singgasanaku'. Kata-kata yang diucapkan Nino saat malam pria itu melamarnya, dan kini Franda mengerti arti ucapan itu. Kehidupan suaminya yang pernah buruk membuatnya sedih karena tidak mengetahuinya selama ini.
"Kenapa kau tidak menceritakannya padaku? Aku bisa menjadi pendengar yang baik untukmu, kau tidak harus merasakannya sendiri." ucap Franda pilu disela-sela tangisnya. Ia menyentuh pipi Nino pelan, mengelusnya dengan lembut sembari mengagumi ketampanan suaminya yang tidak hilang meskipun wajahnya masih pucat.
__ADS_1
"Maaf karena aku tidak tahu kalau kau sangat menderita, maafkan sikapku yang membuatmu kecewa. Tidak pernah terlintas sedikitpun dibenakku untuk berkhianat apalagi membalas dendam padamu, Sayang... Aku sungguh tidak tahu kalau dia disana..." lanjut Franda, tangisnya semakin kencang.
"Aku tidak ingin kehilanganmu, tolong percaya padaku... Aku mengakui bersalah karena sikapku yang kekanakan, harusnya aku sadar bahwa hidupku sepenuhnya milikmu dan hanya untukmu... Jangan menyembunyikan apapun lagi dariku, Sayang..." Franda terdiam saat melihat Nino menggeliat, dengan cepat dihapusnya air matanya.
Sebenarnya Nino tidak tidur sejak tadi, Ia hanya berpura-pura menuruti istrinya. Bahkan air matanya juga sempat keluar saat mendengar semua kata-kata istrinya tanpa disadari oleh Franda. Nino memang tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya, namun pengakuan Franda yang baru saja Ia dengar membuatnya sedikit tenang, setidaknya istrinya benar-benar menyesal telah melakukannya.
Nino membuka mata. "Kau menangis?" tanyanya, bertingkah seolah tidak mendengar istrinya.
Franda menggeleng. "Tidak, bagaimana kakimu?" kata Franda mengalihkan pembicaraan mereka, padahal sangat jelas terlihat Ia sedang menangis.
"Sudah ku bilang baik-baik saja." jawab Nino santai sambil tersenyum.
"Tidak mungkin baik-baik saja, lukanya sangat dalam. Kenapa kau menahannya seperti itu? Bagaimana kalau kau kehabisan darah? Kau mau aku menjadi seorang janda yang menyedihkan?" ujar Franda bertubi-tubi, raut wajahnya yang kesal tak bisa ditahannya.
"Aku memang baik-baik saja, buktinya aku masih hidup sekarang." ucap Nino sambil tersenyum.
"Iya, kau beruntung aku melihatnya, kalau tidak kau pasti sudah mati sekarang!" Franda memandang sinis pada suaminya dan memukul pelan dada pria itu.
"Kau terlalu berlebihan! Aku tidak akan mati dan membiarkanmu hidup bahagia bersama suami barumu, hahaha..." Nino tertawa pelan, ucapannya membuat istrinya semakin kesal.
"Kau gila!!! Memangnya siapa yang mau menikah lagi? Ck!!"
"Banyak yang menunggu kematianku diluar sana dan berharap bisa mendapatkan jandaku yang manis ini." kata Nino sambil sambil tertawa lalu mencubit pipi Franda dengan gemas, Ia begitu bahagia bisa menggoda istrinya.
Franda ikut tertawa. Jawaban konyol suaminya membuat Franda merasa terhibur, Ini bukan pertama kalinya Nino melemparkan kalimat seperti itu, namun tetap saja Franda merasa lucu mendengarnya.
Franda meraih tangan Nino. "Sayang, aku minta maaf..." kata Franda pelan, kepalanya menunduk.
"Sudahlah, jangan melakukannya lagi, hm?" Ucap Nino dengan mengeratkan genggamannya.
Franda mengangguk. "Percayalah, aku..."
"Sssttt! Aku percaya padamu, yang penting kau sudah tahu harus bagaimana kedepannya." ucap Nino memotong, Ia menatap Franda sambil tersenyum.
__ADS_1
Franda mengangguk dan membalas senyum suaminya. Nino menarik Franda agar berbaring disebelahnya dan memeluk erat istri kesayangannya itu, memilih untuk berdamai dan menyelesaikan pertengkaran mereka.