Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
A new life


__ADS_3

"Sudah selesai semuanya?" tanyaku pada Denise, asisten baruku yang menggantikan Dhea sejak setahun lalu. Ya, aku memutuskan untuk memecat Dhea karena berani menipuku dan bekerja sama dengan Sean. Huh, Sean! Pria itu benar-benar menyebalkan!


Kalian pasti bertanya-tanya apa yang terjadi padaku selama setahun ini, kan? Baiklah akan ku jelaskan.


Aku resmi berpisah dengan suamiku, Nino. Aku yakin kalian pasti bahagia mendengarnya, ku tebak kalian sedang tersenyum saat ini karena mengetahui akhirnya aku benar-benar bercerai dengannya. Tapi, ku beritahu satu hal, aku tidak sebahagia kalian. Tentu saja ada sedikit rasa kecewa yang kusimpan, terutama pada diriku sendiri.


Bagaimana dengan Ben? Hmm, tenang saja, putraku tumbuh dan berkembang dengan baik. Dia tidak kekurangan apapun, termasuk kasih sayang dari Daddynya. Nino hampir setiap hari mengunjungi kami di apartemen. Ya, apartemen. Sebenarnya aku bisa saja tetap tinggal dirumah lama yang ku tempati bersama Nino dulu, karena dia memberikannya padaku, tapi aku tidak mau, aku bisa gila jika harus terus disana.


Aku menjual rumah itu dan membeli sebuah apartemen di tengah kota, dari hasil penjualan rumah itu ditambah harta bagianku dari Nino, aku mendapatkan apartemen dua lantai yang sudah seperti penthouse, atau memang penthouse? I don't care! Yang penting aku nyaman disana.


Ibu, Mia, Edward bagaimana? Mia dan Ibu tinggal bersamaku, aku juga membawa Miss Diana untuk tetap bekerja denganku karena dia yang terbaik ketika nenyangkut Ben, janda centil itu benar-benar berhasil memikat bayiku, sementara Mbak Ika bekerja dirumah yang ditempati Edward, dan Sora ikut dengan kedua orangtua Nino.


Nino tinggal dimana? Pria ini lebih menyebalkan lagi! Dia mengikutiku pindah ke gedung apartemen yang sama, bahkan unitnya tepat disebelah milikku. Alasannya agar dia lebih mudah menemui Ben, tapi yang selalu dilakukannya adalah menggangguku dengan segala bujuk rayunya agar aku kembali bersamanya, tentu saja aku tidak mau. Memangnya aku sudah gila, aku tidak akan menjilat ludahku sendiri, seperti yang dilakukannya dulu. No way!


Jenny? Stop! Jangan bertanya apapun tentang wanita itu, aku tidak akan mengatakan apapun disini. Aku berharap hidupnya tetap baik-baik saja meskipun dia yang mengacaukan pernikahanku dulu. Aku tidak ingin menyakiti hatiku dengan menyimpan dendam yang terlalu lama.


"Sudah, bos!" jawab Denise. Ah, Denise! Wanita ini tak kalah hebat dari Dhea, aku mengagumi kecerdasannya dalam bekerja. Dia bisa melakukan apapun yang aku perintahkan, dan selalu menyelesaikannya dengan baik. Mia yang mengenalkannya padaku, katanya mereka berteman baik saat kuliah dulu.


Aku mengangguk sembari merapikan meja kerjaku, kulirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul delapan malam, lagi-lagi aku bekerja seperti orang gila. Hampir setiap hari aku pulang larut, bukan untuk mencari uang karena aku tidak pernah kekurangan, aku hanya mencari kesenangan agar bisa melupakan perceraianku dengan Nino sejak setahun lalu.


Ku tatap Denise yang berdiri, memperhatikanku yang sibuk dengan meja kerjaku, "Kau bisa pulang sekarang." kataku memberinya ijin.


"Kau masih ingin disini, bos? Aku akan menemanimu kalau begitu!" Denise langsung duduk di kursi di hadapanku, gadis ini benar-benar baik, ini salah satu hal yang membuatku menyukainya, dia tidak akan pulang sebelum aku pulang. Sungguh setia!


Aku tersenyum melihat tingkahnya yang santai menghempaskan bokongnya di kursi, "Kau tidak berkencan hari ini? Aku tidak mau kekasihmu memusuhiku karena berpikir aku membuatmu lembur setiap hari."


"Biarkan saja, aku sedang kesal dengannya!" katanya, wajahnya benar-benar menggemaskan saat menggerutu. Denise cukup terbuka denganku, mulut cerewetnya tidak akan berhenti mengoceh ketika kami tidak sedang bekerja seperti ini.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" tanyaku penasaran, kisahnya dengan Carlo cukup menarik bagiku. Mereka seperti anak kecil saat bertengkar, namun sangat romantis saat sedang baik-baik saja. Menggemaskan!


Denise sepertinya benar-benar kesal pada Carlo, "Kau tahu, bos, dia mengabaikanku seharian ini. Tidak satupun pesanku dibalasnya, padahal dia sudah membacanya. Aku sungguh kesal padanya!" katanya.


Gadis ini benar-benar lucu, aku tidak bisa menahan tawa melihat wajahnya, "Hahaha, Denise sepertinya aku bisa menggoreng telur diwajahmu sekarang," godaku, wajahnya semakin memerah saat mendengarku.


"Bos, aku butuh hiburan sekarang! Tolong hibur aku!"


Lagi-lagi aku tertawa, "Well, apa yang bisa ku lakukan untukmu?" tanyaku pada akhirnya, tidak tega melihatnya menahan emosi seperti itu.


"Aku sangat ingin minum sekarang!" jawabnya asal. Minum yang dimaksudnya tentu saja alkohol.


Aku menunduk, berpikir apakah aku harus menemaninya atau tidak. Kalian tahu, aku masih memiliki panic attack yang terus mengikutiku sampai sekarang yang membuatku tidak boleh berurusan dengan alkohol. Entah kenapa gangguan sialan itu tidak mau hilang dariku.


"Baiklah, ayo! Aku akan menemanimu, tapi tidak boleh banyak. Kita masih harus bekerja besok, aku tidak mau kau sampai tidak sadarkan diri dan bolos besok, aku akan memecatmu!" kataku pada akhirnya, ku sematkan sedikit ancaman agar dia berjaga-jaga. Urusan panic attack nanti saja, aku sudah terbiasa mengalaminya.


Denise langsung semangat, wajahnya berubah seketika, "Kau yakin, bos? Kau mau menemaniku? Ahhh, kau yang terbaik bos!" Denis langsung mendekati dan memelukku, dia benar-benar senang.


"Aku janji, tidak mabuk!" dengan secepat kilat dia keluar dan mengambil tasnya di mejanya, aku menyusul setelah mematikan lampu ruanganku.


Kami memutuskan menuju salah satu bar ditengah kota dengan mobilku, mobil hasil ngidamku dulu saat hamil Ben masih setia menemaniku hingga sekarang.


"Denise, tolong keluarkan ponselku, sambungkan dengan Mia," aku teringat belum mengabari mereka, aku tidak ingin mereka menungguku pulang.


"Mia, aku akan pulang terlambat. Katakan pada Ibu jangan menunggu, Ben sudah tidur?" kataku setelah tersambung, Denise sengaja mengaktifkan speaker agar dia tidak perlu menempelkan ponselku ke telinga.


"Ya, dia sudah tidur. Kau mau kemana?" tanya Mia.

__ADS_1


"Denise sedang kacau, aku akan menghiburnya sebentar." mataku tetap fokus ke jalanan yang mulai sepi, rush hour sudah berlalu dari tadi sepertinya. Meskipun tidak benar-benar sepi.


"Apa masalah kekasihnya lagi? Jangan percaya padanya, gadis itu hanya mencari alasan agar bisa minum dan akan berakhir merepotkanmu!"


Denise yang mendengar jawaban Mia langsung menjawab, "I can hear you!" katanya santai.


"Jangan meracuni kakakku, aku tidak ingin kau mengacaukannya, apalagi membuatnya menjadi santapan para pria hidung belang saat bersamamu!"


"Hei, apa maksudmu?" sahut Denise tidak senang.


"Aku mengenalmu, Denise! Jangan lupa dengan kejadian saat kau menjebakku dan berakhir dengan seorang pria di hotel!"


Tunggu, hotel? Apakah maksudnya Mia pernah tidur di hotel dengan seorang pria? Ini mengejutkan! Dengan cepat aku langsung menepikan mobil dan merebut ponselku dari tangan Denise.


"Kau tidur dengan seorang pria?" tanyaku, aku menatap tajam pada Denise, dan dia tersenyum padaku. "Mia, kau tidur dengan seorang pria?" tanyaku lagi. Aku sungguh tidak suka mendengar ini, **** bebas bukan hal yang biasa bagiku. Edward bisa membunuh kami berdua jika dia mengetahuinya.


"Tanyakan saja pada asistenmu itu!" Mia langsung memutuskan panggilan sepihak.


Aku kembali menatap Denise, menuntut penjelasan. Gadis itu tersenyum manis, aku sungguh ingin menamparnya sekarang!


"Tenang saja, bos! Tidak terjadi apa-apa padanya, aku hanya mengerjainya saat itu. Aku ingin memberinya kejutan saat ulangtahunnya, dan aku juga disana, tapi Mia tidak menyadarinya." jawabnya santai. Aku mengerutkan kening, tidak mengerti dengan jawabannya.


Denise justru tertawa melihatku yang kebingungan, "Ya, Tuhan, bos! Kau sungguh percaya adikmu tidur dengan seorang pria? Aku dan teman-teman kami yang lain hanya menjahilinya, tapi kami tidak memberitahunya, dan dia percaya hal itu sampai sekarang."


"Kau yakin? Aku akan membunuhmu jika kau berani berbohong padaku,"


***

__ADS_1


bonus visual Frand



__ADS_2