
Aku bergerak-gerak gelisah di ranjang. Memandang suamiku yang sedang memamerkan keindahan lekuk tubuhnya. Keindahan yang terpampang dari otot-ototnya yang terpahat sempurna bagaikan karya hasil kolaborasi pematung terbaik di dunia. Memang seindah itu bentuk tubuhnya. Sekali lagi, aku tidak akan pernah membiarkan tubuh itu di sentuh oleh para ulat nangka yang berusaha menggodanya. Aku akan mendorong mundur bahkan sebelum mereka melangkah.
Aku menelan liur yang membanjiri mulutku saat suamiku mendekat. Kedua tangannya bertumpu pada masing-masing sisi tubuhku sementara pinggulnya bergoyang agar aku membuka paha dan memberinya ruang diantara kedua kakiku. Dengan tubuh mengeras menggoda kulit pahaku, jemarinya membelai lembut dadaku dan melemparkan pertanyaan serak sampai membuat bahuku gemetar. "Apakah kau tidak merasakannya, Sayang? Apakah kau tidak merasakan bahwa aku tergila-gila padamu saat aku berada begitu jauh di dalam tubuhmu?"
Seluruh rambut tipis di kulitku berdiri seketika. Dengan suara bergetar, aku pun menjawab. "Aku merasakannya, Sean. Demi Tuhan, aku merasakan cintamu yang besar untukku."
Sean menggeram dan menyerbu tubuhku. Lengannya membelit punggungku sementara lengannya yang lain berusaha menurunkan pakaian yang menutup tubuh bagian bawahku. Aku memeluk tengkuknya saat dia sudah berhasil melepaskannya. Dua lapis pakaian itu meluncur melewati kakiku dan mendarat di lantai. "Franda..." erangnya di tulang pipiku.
"Katakan padaku siapa yang yang berada di atasmu sekarang?"
Aku bernapas dengan susah payah, tanganku yang gemetaran membelai dadanya. "Kau, Sean."
Sean menangkup tanganku di dadanya kemudian menekannya dengan kasar di sisi wajahku seraya menggeram lapar padaku. "Katakan padaku lagi, siapa yang akan menidurimu sekarang?"
"Kau, Sean." desahku setengah berbisik.
Kemudian aku tak bisa bicara lagi karena mulutnya sudah menutup mulutku. Mulutnya yang tak kenal ampun menggerayangi lekukan leherku kemudian mendarat di bahuku yang halus hingga dia memberi gigitan ringan disana dan membuatku mendesah. "Ah... Sean..."
Sean mengangkat wajah dan menatapku. Di sela-sela giginya yang gemeretak ingin kembali menancap di lekukan leherku, dia bertanya sekali lagi padaku. "Franda," dengkurnya. "Katakan padaku siapa yang kau butuhkan untuk menghiburmu? Katakan padaku, Franda. Katakan siapa yang kau inginkan untuk menghangatkan tubuhmu?"
Aku meremas kedua lengannya yang memerangkap tubuhku seraya menjerit serak. "Ya ampun, Sean. Kaulah orangnya. Demi Tuhan, kaulah orangnya."
__ADS_1
Aku menangis dan dia tak peduli. Sean melepas paksa pembungkus dadaku dan tak akan mungkin bisa kugunakan lagi besok lalu menenggelamkan wajahnya di dadaku yang membusung. "Ya, akulah gairahmu, Franda. Akulah orangnya."
Aku menangis menerima serbuan cintanya yang nikmat dan tak tertahankan. Tubuhku melengkung saat Sean menenggelamkan puncak dadaku dimulutnya. Aku merintih ketika dia menggigitku, namun kembali mendesah menerima sapuan lidahnya yang ahli dan handal. Sean memberiku sentuhan yang begitu kurindukan seminggu ini. Menyuapiku dengan tubuhnya yang lezat dan menggiurkan.
Aku mengangkat tangan untuk membelai rambutnya. Kutarik wajahnya mendekat agar aku bisa mencium bibirnya yang manis dan magis. Aku ingin membalas Sean dengan bayaran setimpal, aku ingin menyenangkannya dengan cara paling nikmat yang disukainya. Aku menciumnya sembari mendesah dimulutnya, tangannya yang liar terus menggoda dadaku. "Sean..." desisku. Detik berikutnya tubuhku melengkung gemetar dibawahnya. Kepalaku mendongak dengan mata dan mulut membuka lebar. Aku mencapai puncakku yang pertama.
Masih tersengal-sengal, aku menatapnya dan tertawa halus. "Kau memang handal, Warner." Dia balas tersenyum.
Sean menegakkan tubuh dan berlutut di antara kedua pahaku. Matanya menatap lapar padaku, mengamati tubuh polosku dari ujung rambut sampai ujung kakiku. Mulutnya berdecak sementara tangannya mengusap kulit pahaku. "Itu karena tubuhmu yang indah ini, Franda. Kau membuatku liar dan terkendali. Tubuhmu membangkitkan gairahku, Sayang."
Sean membuka pahaku semakin lebar, menggodaku dengan kejantanannya yang selalu siap menyerangku. Lalu dengan satu hentakan cepat tubuhnya terbenam di dalamku. "Sean..." desahku dengan kedua tangan meremas seprai. Aku menggerakkan bokongku perlahan agar dia segera memulai serbuannya yang mengagumkan.
Sean menunduk menatapku sementara menguasaiku tanpa ampun. "Aku memikirkanmu, Franda. Aku hanya membayangkanmu. Pikiranku hanya dipenuhi dirimu, setiap inci dirimu, tak ada tempat bagi orang lain. Aku memenuhi otak dan darahku seluruhnya dengan dirimu, Franda."
Sean memandangiku lagi dengan rasa lapar tak berkesudahan walaupun tubuhku sudah berkali-kali bergetar luar biasa. Dia mencengkeram pinggulku dan memberiku desakan lagi sampai tubuhku menegang dan kemudia bergetar lebih kuat. Aku meremas lengannya sementara kakiku melilitnya dan memohon agar dia menghujamku lebih dalam. "Sean!" Aku menjerit kencang dengan tubuh melengkung mata terpejam.
Sean tidak berhenti. Takkan pernah berhenti sampai aku memohon. Tapi aku tidak akan memohon, aku akan dengan senang hati melayaninya. Memberinya cinta yang begitu besar dihatiku, membuktikan bahwa aku sungguh-sunguh mencintainya. Dengan segenap jiwa dan ragaku.
Aku terpukau setengah mati pada kebugaran dan gairahnya yang luar biasa. Aku tidak akan pernah mengeluh, Sean akan mendapatkanku sebanyak yang dia inginkan. Dan ketika dia mendapatkanku, disaat itulah puncak kebahagiaan yang kurasakan dalam hidupku.
Sekarang makhluk jantan itu membalikkan tubuhku, membuatku memunggunginya. Kemudian menghujamku lagi dengan kuat. Dengan kedua tangan yang mencengkeram erat pinggulku, dia menggerakkan pinggulnya liar dan lihat. Membenamkan dirinya pada tubuhku yang terdalam sampai aku terdorong dan berpegangan pada kepala ranjang.
__ADS_1
Mulutku yang kecil terus merintih dan mendesah, memohon padanya untuk terus menyentuhku. Lalu saat aku hendak mencapai puncak lagi, dia mempercepat gerakan pinggulnya sampai aku berteriak sambil memegang erat kepala ranjang. Tubuhku bergetar bersamaan dengan Sean yang menggeram tertahan dengan tubuh yang juga bergetar. Detik berikutnya aku ambruk, tak kuat menahan tubuhnya yang menindihku.
Ketika dia bergeser dan berbaring disebelahku, aku membalikkan badan. "Aku akan mati muda kalau kau menghajarku seperti ini setiap hari." kataku sambil tertawa halus, membuatnya juga tertawa.
"Ya, dan kau akan mati dalam keadaan bahagia, Sayang."
Aku memalingkan wajah untuk menatapnya. "Ya, dan kau akan hidup sebagai dewa yang merana akibat ditinggal mati."
Sean tertawa lagi. "Siapa bilang? Aku hanya perlu mencari dewi baru." Aku menatapnya tajam dan langsung bergerak menindih tubuhnya. Aksiku membuat tawanya semakin kencang dan keras. Sampai tubuhku berguncang di atasnya.
Aku ingin memakinya, namun aku teringat pada kehamilanku yang belum sempat kukatakan padanya. Mataku menatap dalam mata birunya yang indah. Dengan pelan, aku mengusap rahangnya seraya membuka mulut. "Sean," panggilku lembut dan halus.
"Hm?"
"Apakah kau ingin memiliki anak dariku?" tanyaku hati-hati sembari mengamati wajahnya. Dia menyipitkan mata, lalu menjawabku.
"Tentu saja." serunya. Aku menghembuskan napas lega mendengar jawabannya. Namun pertanyaannya berikutnya membuatku gugup. "Kenapa menanyakan itu?"
"Tidak apa-apa, aku hanya penasaran." kataku pada akhirnya. Kuputuskan akan memberinya kejutan nanti. Aku bergeser di atas tubuhnya, mendekatkan wajahku ke wajahnya lalu mencium seluruh wajahnya dan berakhir dengan satu ciuman lama dan dalam di bibirnya yang manis. Selalu manis. Kemudian turun dari ranjang, dan sebelum aku benar-benar melangkah ke kamar mandi, aku membungkuk disamping pahanya. Kuusap lembut bagian tubuhnya yang penuh gairah itu, aku juga menciumnya dan berucap.
"Terimakasih, Samson. Sampai jumpa nanti malam." Aku mengerdipkan mata pada Sean menggodanya sekali lagi dengan menggoyangkan bokongku lalu berjalan cepat dan masuk ke kamar mandi tepat sebelum dia berhasil menghentikanku.
__ADS_1