
...Sean Danial Warner POV....
Aku menghela napas seraya menyandarkan tubuhku pada kursi yang berada di samping hospital bed, duduk memandangnya dengan perasaan sakit sekaligus putus asa. Aku menyadari tidak banyak pilihan yang kumiliki, dan yang bisa kulakukan adalah menunggu saat dimana dia membuka mata lalu menyambutnya dengan sukacita.
Aku menatap keluar jendela tapi tidak bisa melihat apapun. Disana gelap, angin bertiup mendera dahan di pohon yang menjulang tinggi di sekitar rumah sakit, menimbulkan suara berderak pelan seperti ranting yang di patahkan, dan aku berharap ranting itu benar-benar patah lalu pohon utama akan menderita, seperti diriku saat ini. Setidaknya dia bisa menemaniku.
Tapi aku tahu itu tidak mungkin terjadi. Jika ranting itu benar-benar patah, maka pohon akan bersorak gembira karena bisa menumbuhkan tunas yang baru, sementara aku tidak menginginkan yang lain tumbuh di hatiku selain Franda.
Ini hari ke empat Franda terbaring dalam keadaan koma. Dia terlalu keras kepala sampai tak mau membuka matanya untuk melihatku, menyiksaku dengan keadaannya yang diam tak bergerak. Franda mengabaikan semua yang kuucapkan padanya, semua tangisanku untuknya, semua umpatan yang kutujukan padanya agar dia bangun dan balas mengumpatku, tapi Franda tetap beku.
Lalu tiba-tiba aku teringat dengan ucapannya di malam terakhir sebelum kejadian dia bunuh diri. "Franda, sayang... dua hari lagi adalah hari natal, bisakah kau bangun hari itu dan kita akan merayakan natal sebagai suami-istri untuk pertama kalinya. Aku ingin merayakannya bersamamu, Franda. Tidak masalah jika kau tidur lagi setelahnya, tapi temani aku dulu hari itu." gumamku penuh harapan.
Aku menghela napas lagi, kini mataku terasa panas dan bibirku gemetar, lalu aku melanjutkan kalimatku walau aku tahu takkan ada balasan darinya. "Franda, kau tahu? Tadi Ben menangis menanyakanmu, dia tidak mau diam meski aku memberinya lolipop, Ben mencarimu, sayang. Dia hanya mau kau yang memberinya lolipop. Tapi aku tak kehabisan ide. Aku meminta Dave mencarikan janggut palsu, lalu aku memanggil seorang perias untuk merias wajahku agar terlihat seperti kakek-kakek...." Aku tertawa sebentar, mengingat kejadian tadi siang ketika aku membujuk Ben.
"Dan bahkan aku harus mewarnai rambutku dengan warna abu-abu agar lebih meyakinkan. Lihatlah... rambutku belum berubah." Aku tertawa lagi. "Kemudian aku meminta Daisy membawanya keluar sementara aku menyusup ke kamarnya dan ketika dia masuk kembali, aku membungkuk di tepi crib lalu berpura-pura batuk seperti seorang kakek benaran. Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya? Ben tertawa riang, bahagia karena mimpinya yang dulu menjadi kenyataan. Aku memberinya sekantong lolipop warna-warni yang di beli oleh Dave bersamaan dengan janggut palsu itu."
"Bangunlah, Franda... Aku akan menuruti semua permintaanmu, apapun itu. Bukankah kita harus merayakan ulang tahunku? Kau mau aku bersenang-senang, kan? Ayo membuat pesta penuh kekacauan seperti yang kau bayangkan, kita akan mengundang banyak sekali orang, dan menghabiskan malam bersama mereka. Berpesta gila-gilaan sampai matahari terbit lalu tidur seharian, dan kita akan melanjutkan pesta itu ketika langit menggelap lagi. Bukankah itu menyenangkan?"
"Ah, kau payah, Franda. Tidak seru." Aku pura-pura merajuk. "Aku malas berbicara denganmu jika kau terus mendiamkanku, tidak asik sama sekali."
__ADS_1
Aku menjulurkan tangan untuk mencubit pipinya dengan harapan dia akan merasakan sakit lalu membuka mata dan mengomeliku habis-habisan. "Hei, bangunlah! Aku bisa mati kebosanan. Oh... kau tahu?" Aku mencoba serius dan antusias dengan ucapanku. "Aku membawa laptop ke kamar, bahkan aku bekerja di ranjang sambil memeluk bantalmu."
"Kau tidak marah, Franda? Aku merubah kamar kita menjadi ruang kerjaku saat di rumah, dan sekarang kertas-kertas bertebaran di mana-mana. Dan... Ya Tuhan, aku bahkan lupa membersihkan kamar beberapa hari ini."
Aku tertawa, membayangkan dia sedang mengomel dan menggerutu sambil merapikan kamar yang terkadang sengaja kubuat berantakan agar bisa menyaksikan dia merajuk, lalu aku akan menggodanya sampai dia tersenyu lagi. Sungguh, aku merindukan hari-hari penuh emosi seperti itu.
Tanganku maju untuk meraih tangannya, menciumnya beberapa kali, lalu menahannya di pipiku. Mataku menatap wajahnya yang tertidur. Dia terlihat sangat tenang, membuatku berpikir sekilas mungkin ini lebih baik untuknya, dari pada harus terbangun dan hidup bersama orang-orang yang kejam.
Tanpa sadar aku menangis membayangkan semua rentetan peristiwa yang menerjang kami. Tidak bolehkah kami hidup bahagia? Kenapa selalu saja ada yang menyakitinya? Kenapa aku dan Franda harus hidup seperti ini?
Aku terkesiap dalam lamunanku lalu menoleh ke pintu dan mendapati Edward berdiri disana. Buru-buru aku menghapus air mataku.
Aku menggeleng. "Masuklah." balasku.
Edward menutup pintu lalu melenggang mendekat dan menghempaskan bokongnya di sisi ranjang yang lain. Matanya menatap Franda, dan dia terlihat sedih. Aku tahu Edward menyayangi Franda, kejadian kemarin pasti membuatnya tersiksa juga.
Kami diam untuk beberapa saat, sampai akhirnya dia bersuara. "Aku minta maaf untuk semuanya." dengkurnya, tanpa mengalihkan mata dari Franda lalu menghela napas. "Aku menyanyanginya, Sean." katanya menambahkan.
"Ya, tentu saja. Kau kakaknya, siapa lagi yang akan menyayanginya kalau bukan kau." Aku mencoba terdengar santai, tapi aku tahu nadaku penuh dengan sindiran. Aku tak peduli jika dia tersinggung, karena yang kukatakan memang benar adanya.
__ADS_1
Aku mendengarnya menghela napas lagi. Kubayangkan dia sedang berpikir saat ini. Dengan tatapan yang masih tertuju pada Franda, dia berbicara lagi. "Kami memang pernah iri padanya karena Ayah dan Ibu sangat menyayanginya. Saat kami kecil, Panda adalah inti dari keluarga kami. Keadaannya saat itu sangat kacau, membuat kedua orangtua kami fokus menyembuhkannya. Perlahan-lahan dia mulai membaik, namun itu tidak berlangsung lama karena Panda akan kacau kembali ketika melihat atau mendengar sesuatu yang berkaitan dengan orangtuanya."
Aku menyimak setiap kalimat yang keluar dari Edward. Semuanya sudah pernah kudengar dari Franda namun tetap saja, aku merasa sakit.
"Waktu itu aku bisa kehadirannya, serta tahu harus melakukan apa. Aku membantu Ayah dan Ibu dengan caraku sendiri, yaitu dengan membiarkan mereka mendahulukan Panda. Aku rela mengantri di belakangnya dalam segala hal, sampai akhirnya Mia lahir."
Edward tertunduk. Menarik napas dalam-dalam lalu lanjut bercerita. "Jika aku bisa menerima Panda, itu karena aku sudah cukup puas menghabiskan waktu dengan kedua orangtuaku. Tapi tidak dengan Mia, sejak lahir dia harus rela mengalah. Ayah dan Ibu memaksanya mengerti keadaan, dan tak jarang membuatnya menangis sendirian di dalam kamar karena mereka lebih mengutamakan Panda. Mia cemburu dengannya, Sean."
"Aku yang selalu menghiburnya diam-diam, berusaha membuatnya mengerti bahwa Ayah dan Ibu juga menyayanginya. Berkali-kali mengatakan padanya jika suatu hari Panda akan sembuh dan dia akan mendapatkan perhatian lagi. Namun, kau sendiri tahu, Panda tidak pernah benar-benar sembuh. Bahkan sampai sekarang dia masih kesakitan."
"Aku tidak tahu harus memilih siapa, Sean. Mereka adikku, dua-duanya sama pentingnya bagiku. Aku tidak bermaksud membela Mia, tapi mengertilah keadaannya, dia juga sedang terpuruk. Kondisinya sama buruknya dengan Panda."
Aku menghela napas, mencoba untuk mengerti posisi Edward saat ini. Dia memang serba salah, keadaan sangat sulit untuk kami semua. Tentu saja lebih sulit baginya, mengingat Mia dan Franda saat ini sedang bermasalah, belum lagi dia harus menjaga ini dari Ibu. Aku tidak bisa membayangkan jika aku berada di posisinya. Aku pasti gila.
"Apa yang kau lihat di ponsel Mia pada saat itu?" tanyanya tiba-tiba.
Aku terkesiap, mataku terpejam dan aku menelan ludah. Aku berdeham sekali sebelum menjawabnya. "Well, Mia mengatakan dia berharap Franda mati ketika dia kecil dulu, lalu... Franda bertanya apakah Mia akan senang jika dia mati sekarang, dan Mia menjawab itu lebih baik."
Aku beralih menatap Edward, dia masih menunduk dan sebelah tangannya terlihat menghapus air mata yang mungkin menetes disana. "Sebenarnya pertengkaran biasa jika kita yang mengalaminya, tapi berbeda bagi Franda." Aku menoleh pada Franda lagi. "Itu sangat mempengaruhinya, John. Aku menyesalkan sikap Mia yang tidak bisa mengontrol dirinya. Kita semua tahu bagaimana kondisi kejiwaan Franda dan tidak sepantasnya Mia mengatakan itu padanya."
__ADS_1
Ruangan mendadak hening untuk beberapa waktu. Hanya terdengar helaan napas yang keluar dari hidung kami. Kami larut dalam suasana yang kalut, sibuk dengan isi pikiran masing-masing. Aku memikirkan Franda, sementara Edward, mungkin sedang memikirkannya juga.