Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Mr. Fancy-fancy Thing


__ADS_3

No comment \= No updates!


Komen yang banyak kalau mau cepat update.


***


Kakiku berderap keluar dari kamar anakku, aku bermain dengannya sebentar setelah membersihkan diri lagi akibat kejahilan suamiku. Langkahku turun menapaki anak tangga kayu satu persatu, sampai mendapati suamiku yang sedang menungguku di mini bar dapur, sibuk dengan urusan bisnis milyaran yang ada di tabletnya. Terkadang aku bingung dengan orang-orang yang bekerja gila-gilaan seperti suamiku, apa yang mereka cari sebenarnya?


Well, aku pernah melakukannya, tapi karena saat itu aku sedang melarikan diri dari masalah perceraianku dulu. Sekarang aku tidak akan melakukannya lagi. Rasanya lebih baik duduk dirumah dan menunggu suamiku pulang, dan menghabiskan waktu semalaman berada dibawah kendalinya yang jantan. Astaga, otakku benar-benar kacau!


Aku mendekati suamiku yang sedang fokus, memeluknya dari belakang dan mencium tengkuknya, lalu kurebut tablet dari tangannya. "Belum waktunya bekerja, babe. Waktumu yang sangat banyak setelah keluar dari sini." kataku, berjalan menuju kompor untuk memanaskan air. "Kopi atau teh?" tanyaku.


Suamiku tersenyum genit. Hah, rupanya dia ingin menggodaku lagi. Aku mengangkat tangan untuk melihat jam, "Masih ada 30 menit untuk sarapan, Warner." dengusku. "Jadi, kopi atau teh?" tanyaku lagi. Suamiku tersenyum. Matanya menyipit dan telunjuknya mengetuk dagunya beberapa kali.


Dia menarik napas halus. "Kupikir kau tidak bisa masak, Sayang."


Aku membulatkan mata dan menarik kepalaku mundur sedikit. "Sean." lirihku. "Memasak dan membuat kopi adalah dua hal yang berbeda. Aku menyerah dengan cooking stuff, tapi tidak dengan teko listrik. Sekali lagi, kopi atau teh, Suamiku tampanku?" aku berkacak pinggang dihadapannya. Dia terlihat menahan tawa sampai wajahnya memerah.


"Coffee sounds great, Darling!"


Aku berbalik. Sedikit berjinjit saat membuka kabinet bagian atas untuk mengeluarkan gelas kopi. Jemariku dengan anggun memasukkan takaran kopi dan gula kedalam cangkir keramik berwarna hitam. Ini pertama kalinya aku membuatkan kopi untuknya, aku tidak tahu seleranya seperti apa, tapi aku akan membuat kopi yang tidak terlalu manis.


Sambil menunggu air mendidih, aku melangkah ke meja makan untuk mengambil beberapa lembar roti dan mengoleskan selai cokelat di atasnya. Selagi berjalan kembali ke dapur, aku melirik suamiku yang bertopang dagu. Memperhatikan diriku yang menyiapkan sarapan untuknya.


Begitu selesai menuangkan air dan menyeduh kopi, aku membawanya pada suamiku yang masih sibuk menatapku dengan matanya yang sebiru lautan dan mulutnya yang penuh dengan roti. Suamiku mengerang puas menyeruput kopi yang baru saja kubuat.


"Ah, ini nikmat sekali. Kau mencampurkan apa pada kopi ini? Sihir?"

__ADS_1


Aku menarik menarik gigitan terakhir roti dari tangannya. Melemparnya ke piring lalu mendekatkan diri padanya. Aku mendorong tubuhku sampai menempel padanya agar aku bisa melahap bibirnya yang manis dan genit. Cita rasa bibirnya semanis selai cokelat karna dia baru saja menyantapnya. Tetapi ada juga rasa lain, rasa dirinya sendiri yang amat manis.


Aku menjilat setitik selai yang di ujung bibirnya, "Ya, aku akan mencampurkan sihir kalau itu memang perlu. Aku akan melakukan apa saja untuk bisa menikmati pagi seperti ini bersamamu."


Tak ingin mengganggu waktu sarapannya, aku menarik diri. Merapikan kelepak jasnya dan melesatkan ciuman singkat di pipinya sebelum beranjak ke kamar. "Nikmati sarapanmu, Sayang. Aku akan mengambil barangku dikamar. Kalau kau membutuhkan sesuatu, kau bisa memanggilku untuk membantumu. Oke?"


Sean membalasku dengan senyuman yang bisa membuat wanita mana saja menjadi gila. Akhirnya aku mengacaukan momen sarapannya lagi dengan berbalik arah dari ruang keluarga menuju dapur. Aku menangkup kedua pipinya, membiarkannya terjebak di kursi mini bar sementara aku mendongak penuh hasrat mecium bibirnya sekali lagi. "Ini yang terakhir, aku berjanji ini yang terakhir sebelum aku benar-benar ke kamar."


Suamiku tertawa lembut. Lalu menyeletuk padaku saat aku kembali melangkah menuju kamar. "Kupikir aku takkan sanggup membayangkan bagaimana kita berbulan madu untuk kedua kalinya, babe."


Aku menyahut tanpa menoleh padanya. "Itu akan sangat panas, Sayang. Aku bersumpah itu akan sangat panas."


Setelah 20 menit berlalu, kupikir kami sudah siap untuk berangkat. Aku sudah berpamitan pada Ibu dan Ben sebelum turun tadi. Sean sendiri mengatakan harus meeting untuk masalah penggelapan dana yang terjadi kemarin.


Aku baru saja meraih kunci mobilku dari laci nakas saat suamiku menyodorkan kunci mobil lain padaku, "Apa itu?" tanyaku heran.


Aku menaikkan sebelah alis. "Untuk apa? Aku lebih suka menggunakan mobilku." Mataku turun dan membuka lebar saat melihat logo Rolls Royce di kunci itu, lalu menggeleng cepat. "No. Lagi pula aku belum pernah membawanya. Aku pakai mobilku saja." sambungku.


Sean tak menjawab penolakanku, dia justru menarik tanganku agar mengikutinya keluar. Sebelah tangannya meraih ponsel dari saku bagian dalam jasnya dan menghubungi seseorang, "Pritta sudah siap?" tanyanya. Kembali bersuara berselang beberapa detik. "Oke. Istriku akan turun."


Dia memasukkan kembali ponselnya ke saku tanpa mempedulikanku yang kesal dengan sikapnya. Aku berhenti melangkah, menatap tak suka padanya saat dia berbalik. "Jangan katakan kau sedang membatasi ruang gerakku." ketusku.


Dia tersenyum dan menangkup kedua pipiku. "Aku tidak membatasimu, Sayang. Hanya memastikan kau aman dimanapun. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Bagaimana kalau panic attack-mu datang saat kau menyetir?"


"Tapi aku baik-baik saja selama ini."


"Aku tidak akan menunggu sampai kau tidak baik-baik saja. Jangan membantah, oke? Ini untuk kebaikanmu. Kau istriku, sudah menjadi tanggungjawabku memastikan keamananmu."

__ADS_1


Aku menunduk dan menarik napas dalam. Ini salah satu hal yang kukhawatirkan saat menjadi istrinya. Sean tidak akan membiarkanku menyetir, dan aku sadar suamiku bukan orang sembarangan. Kehidupanku jauh berubah saat aku menerimanya. Menikah dengannya berarti siap dengan kehidupannya yang memusingkan. Aku ingin menolak tapi percuma, Sean tidak menerima penolakan untuk masalah seperti ini.


Aku menarik napas sekali lagi, lalu mengangkat kepala. "Baiklah, aku menyerah." kataku pada akhirnya.


Dia tersenyum dan memelukku. "Kau harus aman, Sayang. Pritta, dia akan menemanimu kemanapun."


Aku mengangguk dan tersenyum di bahunya. Menolak perhatiannya berarti menolak rasa cinta yang diberikannya. Mulai hari ini aku harus menerima semua yang diberikannya, sebab apapun yang dilakukan suamiku pasti karena rasa cintanya yang dalam padaku.


Katakanlah ini hukum timbal-balik. Dia memberi, aku menerima. Begitupun sebaliknya. Pada titik ini aku menyadari, penerimaan bukan tentang apa yang diberikannya padaku. Tapi tentang bagaimana dia menghargaiku dan aku menghargainya.


Saranku pada siapa saja yang membaca ini, menikahlah dengan orang yang mengejarmu mati-matian meskipun kau mendorongnya agar menjauh. Jangan membuang kesempatan emas untuk menikahi pria yang sungguh-sungguh mencintaimu. Karena jika kau menerimanya, bukan hanya dirinya yang kau dapatkan, tapi juga kehidupan lain yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya.


Well, aku hidup bahagia sebelumnya. Aku tidak kekurangan apapun sampai saat aku bercerai dengan mantan suamiku. Aku masih bisa hidup dengan baik sampai saat itu. Satu-satunya yang membuatku menderita adalah kenyataan bahwa aku dikhianati berulangkali.


Suamiku ikut mengantarku ke basement. Mataku membulat ketika melihat deretan mobil yang terparkir disana. "Ya, Tuhan! Apakah kita sedang berada di showroom sport car?" kataku sambil memandang sekeliling. Takjub dengan puluhan mobil mewah yang mengisi hampir separuh lantai basement.


Suamiku tertawa mendengar pertanyaan yang keluar dari mulutku. Aku menggelengkan kepala beberapa kali sebelum menoleh padanya, "Ini milikmu?" tanyaku.


"Milik kita, Mrs. Warner."


Lidahku berdecak kagum padanya. Sungguh kejutan yang luar biasa. Pantas saja dia dengan mudah membelikan Mia mobil saat anak itu memintanya. "Sean..." lirihku sambil mengeleng lagi. Aku mendekat padanya, dan menarik tengkuknya, lalu mencium bibirnya yang selalu terasa manis.


"Aku ingin rumah dengan pemandangan hutan dan danau."


***


Komen woy! Ramaikan komennya dulu😜

__ADS_1


__ADS_2