
Aku berderap menuruni satu per satu anak tangga dengan sebelah tangan berpengangan pada railing. Tiba di bawah, aku mendapati Miss Darla dan Daisy sedang duduk di ruang keluarga. Mereka sedang mengobrol sambil menikmati sekotak pizza.
"Apa Lily masih tidur, Miss?" Aku meraih sepotong pizza dari kotak dan langsung menggigitnya selagi mendaratkan bokongku di sofa. Miss Darla mengangguk. "Dimana Miss Diana?" tanyaku lagi, dengan mulut mengunyah pizza. Aku belum melihat wanita itu sejak tadi.
"Dia sedang les bersama Darren." kata Daisy cuek, pandangannya mengarah ke televisi, tak sanggup melewatkan kesempatan menyaksikan aktor korea favoritnya. Aku tidak tahu siapa nama aktor itu.
Tepat saat aku ingin berbicara lagi, suara tangisan Lily terdengar dari kamarnya. Miss Darla bangkit dari duduknya dan hendak melangkah ke kamar anakku tapi aku menghentikannya. "Biar aku saja, Miss." kataku sambil meletakkan kembali sisa pizza-ku ke bagian pinggir kotak pizza, lalu kakiku berderap menghampiri anakku.
Aku tersenyum begitu melihat Lily sedang menggeliat dengan ibu jari terbenam di mulutnya yang mungil. "Hei, baby..." gumamku seraya mengangkat tubuh kecilnya dari baby crib, kemudian menurunkannya di atas meja ganti popok. "Uuh, sudah penuh rupanya. Wait a sec, sweetheart."
Kulangkahkan kakiku ke arah pintu dan mengatakan pada Miss Darla agar menyiapkan susu, lalu aku kembali untuk mengganti popok Lily. Ya, anakku memang tidak meminum asi karena malasah yang terjadi belakangan membuatku stres dan itu berpengaruh terhadap asi yang kukeluarkan.
Aku menciumi pipinya yang lembut selagi menunggu Miss Darla datang. Dia protes dengan suara rengekan kecil tapi itu justru membuatku semakin bersemangat menggodanya, dan aku tertawa. "Kau sangat pemarah ya, little lady." gumamku halus. Seakan mengerti apa yang kukatakan, dia menggeliat dan mulutnya tersenyum sekilas.
Aku menemani Lily menghabiskan susunya dan bermain bersamanya sebelum aku kembali ke kamar, namun saat hendak membuka pintu kamarku, aku mendengar suara Ben memanggilku dari depan pintu ruang Seni Sean. Ruangan yang penuh dengan lukisan wajahku. "Mom, come here." seru Ben bersemangat.
Aku menyipitkan mata sambil berderap mendekatinya. "Ada apa?" tanyaku penasaran.
Ben tidak menjawab, dia malah mendorongku masuk ke dalam ruangan yang gelap itu. Sejenak aku teringat pada hari pertama kali Sean membawaku kesini, aroma dan suasana di dalamnya persis seperti hari itu. Gelap dan penuh dengan aroma cat. Lalu saat lampu menyala terang, disitulah aku terperangah.
Jika dulu ruangan ini penuh dengan lukisan wajahku, sekarang tidak lagi. Lukisan-lukisan itu sudah tersusun rapi di salah satu sudut dinding sementara Sean duduk di tengah-tengah ruangan. Punggungnya yang keras dan terpahat sempurna tampak menggiurkan. Percikan cat terlihat begitu menggoda di celana jins dan lantai granit di sekitarnya. Di depannya terdapat sebuah lukisan sebesar pintu ruangan yang kuyakin baru saja selesai dikerjakannya.
Itu aku. Wajahku. Belum pernah aku sekagum ini pada diriku sendiri, dan entah bagaimana Sean bisa membuatku terlihat indah disitu.
"Apa kau menyukainya?" Aku terkesiap dan mengerjap saat mendengar Sean berbicara padaku, tanpa kusadari dia sudah berada di sampingku.
__ADS_1
Mataku masih menatap lukisan itu tapi kepalaku mengangguk cepat. "That's... amazing!" kataku menahan napas. Merasa takjub dan terpesona.
Sean memelukku dari belakang, membuat sekujur tubuhku gemetar mendamba. "Itu wanitaku, Franda. Dia sangat luar biasa dan aku sangat bersyukur bisa memilikinya."
Ya Tuhan, Sean... kenapa kau bisa semanis ini?
Aku belum mampu mengalihkan pandangan dari lukisan itu. Aku seakan terseret masuk dan tenggelam di dalamnya. Kemudian aku mendengar suara Ben berbicara padaku. "We made it, mom. I help him." celotehnya membanggakan diri. Dan aku bangga padanya.
Aku menurunkan pandangan menatap wajah anakku yang menggemaskan. Percikan cat juga memenuhi pakaian dan wajahnya, membuat tampangnya terlihat semakin lucu. "Oh, thank you, Ben." Kuraih kepalanya dan aku menciumnya beberapa kali. Lalu aku beralih pada pria jantan dan berbahaya yang sedang merangkul pinggangku.
Mulutnya melengkung indah, menunjukkan barisan giginya yang juga indah, sementara mata samudranya menembus ke dalam mataku. Dan ketika aku melihat bibirnya yang seksi, aku tidak bisa menahan untuk tidak menciumnya. Aku menciumnya dengan lembut, menyatakan terima kasihku yang mendalam atas cinta dan perhatiannya. "Terima kasih, Sean..." bisikku di sela-sela ciuman kami. Tidak ada hasrat yang menggebu-gebu selama kami berciuman, kegiatan itu murni untuk menyatakan hati kami yang tertaut satu sama lain.
Sean menangkup wajahku. "Kau berharga, Franda. Tidak akan ada yang mampu menjauhkanmu dariku, bahkan dirimu sendiri. Aku akan mengurungmu dalam hidupku, kau tidak akan bisa melarikan diri dariku, Franda." katanya dengan suara serak dan dalam.
Aku menganggukkan kepala, bibirku tidak berhenti tersenyum selagi aku menikmati tatapan matanya. "Aku mencintaimu, Warner."
"Mom, Dad, aku masih disini. Kalian melupakanku."
Ben mengibaskan tangannya ke udara dengan cara yang amat lucu. "Aku yang membuat ini, mom." balasnya sombong, membuatku dan Sean tertawa lagi.
Membiarkan Ben sibuk dengan kegiatannya, aku kembali menatap suamiku yang jantan. Mataku pedih setiap kali aku melihatnya pada jarak sedekat ini. Selama hampir dua tahun pernikahan kami, aku mempelajari begitu banyak hal baru.
Tapi dari sekian banyak hal itu, hanya satu yang paling kupahami. Tepat seperti yang dia katakan, aku tidak akan bisa melarikan diri darinya meskipun aku sangat ingin, tapi aku tidak mungkin mau terpisah darinya. Aku sudah mendapatkan berlian, jadi tidak perlu repot-repot menggali lebih dalam untuk mencari perak. Harta paling berharga sudah ada di genggamanku dan aku hanya perlu menjaganya saja.
"Apa kau bahagia, Franda?" tanyanya lembut.
Tidak ada jawaban lain yang bisa kukatakan selain... "Ya, aku sangat bahagia, Sean."
__ADS_1
"Kenapa mudah sekali mendapatkan hatimu, Franda? Kau membuatku khawatir."
Alisku terangkat naik. "Siapa bilang? Nino saja tidak bisa meluluhkanku, padahal aku pernah mencintainya." sahutku santai, membuatnya terkekeh.
"Ah, kau benar." katanya dengan ekspresi yang membuatku terpesona. "Aku minta maaf karena melupakan fakta itu. Kurasa suatu hari nanti aku perlu menemuinya dan mengucapkan terima kasih karena dia telah melakukan kesalahan dan membiarkanku menggantikan tempatnya."
"Sean," sergahku, menggelengkan kepala. "Jangan terlalu keras padanya. Nino pria yang baik jika kau mengenalnya, apa yang dia lakukan Padaku sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Itu masa lalu kami. Nino mungkin bukan suami yang tepat untukku, tapi dia Ayah yang sempurna untuk Ben. Dia sayang dan peduli pada anaknya, bukankah itu yang harus kusyukuri?"
Sean terdiam, sementara aku melanjutkan. "Aku sudah memilihmu, Sean... apa kau lupa Nino juga sempat berusaha membujukku kembali padanya? Tapi aku memilihmu." Aku memutar kepala melihat Ben. "Nino bukan siapa-siapa lagi bagiku namun aku tetap harus menjaga hubungan baik dengannya. Ada Ben di antara kami, Sean... dan aku tidak mau anakku kehilangan kasih sayang dari orangtuanya. Aku tahu kau mungkin bisa menggantikan posisi Nino, tapi tetap saja kau bukan Ayah kandungnya. Apa kau mengerti maksudku?"
Sean terdiam selama beberapa saat sebelum menganggukkan kepala. "Ya, aku mengerti."
"Terima kasih." Aku tersenyum dan memajukan wajahku, mencium bibirnya sekilas. "Kau tampan kalau sedang cemberut." gumamku menggodanya, mencium bibirnya lagi.
Dia tertawa halus. "Franda, apa yang harus kulakukan padamu, hm? Kau benar-benar genit." Aku mengangkat bahu, lalu menggigit bibir bawahku dengan cara yang amat nakal.
Geraman halus bergetar di dadanya yang keras. "Franda,"
"Ya?" kataku menantangnya sambil meraba otot-otot punggungnya. Seketika wajahnya memerah, dan aku tidak bisa menahan tawaku. "Ya ampun, Sean... kau perlu mengendalikan hormonmu."
"Franda,"
"Ada apa, sugar daddy-ku?" balasku tanpa malu-malu mencium dadanya sementara mataku tetap melihat ke mata birunya.
"Kau... sialan!"
"Dad, apa kau baru saja mengumpat?"
__ADS_1
Oops! Kembali ke kenyataan, ada anak yang akan selalu meniupkan peluit panjang, menandakan permainan sudah berakhir.
Bye!