Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Best Amusement


__ADS_3

Sehari sebelum jadwal latihan kami berikutnya adalah hari ulang tahun Maggie. Sebagai tambahan selain acara makan bersama, Sam dan aku mengatur hari cewek yang penuh dengan belanja, mengobrol, dan makan-makan, atau seperti yang diistilahkan Maggie, "Trinitas Suci Para Cewek." Dan untuk melakukan semua itu, maka pada pukul sembilan pagi kami berempat bertemu untuk sarapan di restoran yang apik di kota. Hanya para cewek.


Salah satu hal paling manis yang baru kuketahui dari Maggie yaitu betapa bersemangatnya dia menyambut hari ulang tahunnya. Sepertinya aku belum pernah kenal seseorang yang menyukai hari istimewanya sebesar itu. Tak peduli apa yang dilakukannya atau di mana dia menghabiskannya, dia memiliki kemampuan menakjubkan untuk mengubah dirinya menjadi anak kecil yang ceria, menemukan keajaiban dalam segala hal.


Ketika Maggie melihat balon-balon merah jambu dan hijau pucat yang kami ikat ke kursinya, dia bersorak kencang sampai membuat seorang lelaki tua yang duduk di dekat jendela hampir terkena serangan jantung. Sang barista, yang sudah dirayu Mia sebelumnya untuk membantu kami, membawakan kue berbentuk hati dan cappucino dengan serbuk coklat berbentuk huruf "M" di atasnya, dan barista itu mendapat ciuman di pipi dari Maggie sebagai bayaran.


Setelah melakukan perawatan tubuh, menyantap seiris kue khas Australia yang anggun sebagai teman minum teh pagi hari di toko roti, dan dua jam berbelanja, bisa dibilang suasana hati Maggie riang gembira. Saat makan siang di restoran Jepang, akhirnya dia beristirahat sejenak.


"Aku mengalami hari terbaik. Terima kasih banyak!"


Sam memeluknya. "Asal kau senang, itu yang paling penting."


"Apa dia selalu seperti ini?" Mia berbisik kepada Sam, ketika Maggie dengan seru memuji atraksi yang dilakukan peracik kopi bertubuh tegap saat sarapan tadi.


Sam tersenyum padanya. "Selalu. Ulang tahun yang membuatnya begini. Manis sekali..."


"Ini melelahkan," kata Mia. Aku memelototinya lalu dia buru-buru menambahkan. "Tapi juga manis."


Aku sudah sangat mengenal adikku, dan terkadang masih kesulitan membiasakan diri dengan kejujuran dan kemampuannya untuk melontarkan komentar menyindir pada topik apapun. Aku, Sam, dan Maggie suka mengomentari hal-hal yang kami lihat di sekeliling kami, tapi Mia membawanya ke tingkat yang lebih tinggi, tanpa ampun mengkritik apapun yang ada dalam jarak pandangnya.


Bahkan Maggie, di tengah-tengah kegembiraan ulang tahunnya yang sangat cewek, mengomentari hal itu pada sore harinya saat kami berkeliling di galeri seni, menonton orang-orang sambil menikmati seni. Ketika tiga orang ibu berusia 50-an masuk sambil mengobrol dan tertawa keras memancing perhatian kami, Sam menyikutku. "Itu aku, kau, dan Maggie dua puluh tahun lagi."


Aku tertawa. "Siapa takut. Sepertinya aku yang mengenakan baju hijau dengan warna kulit coklat hasil berjemur berhari-hari dan setelan Gucci."


"Belum lagi suara lantang memalukannya yang menggema di galeri. Benar-benar mimpi buruk." timpal Mia santai, senyumnya langsung sirna ketika Sam, Maggie, dan aku menoleh terkejut ke arahnya.


Keriangan Maggie tampak meredup. "Kau ini tidak peduli dengan perasaan orang lain, ya?"


Selamat datang di dunia adikku, teman-teman!


Mia terkekeh gelisah. "Aku hanya bilang... aku tidak bermaksud apa-apa, hanya..."


"Tidak, aku mengerti, Mia. Tapi kita disini untuk bersenang-senang, bukan melakukan pembunuhan karakter."


"Oke, aku minta maaf. Aku tidak ingin merusak ulang tahunmu."


Secepat dia hilang, senyum Maggie kembali mengembang. "Sama sekali tidak. Mari kita bersenang-senang, oke?"


Berhasil terhindar dari momen canggung, sore kami berlanjut walaupun aku sadar saat itu Mia berhati-hati dengan setiap topik pembicaraan. Aku nyaris tak sanggup menolak tertawa ketika beberapa kali dia terlihat menahan mulutnya yang sepedas cabai carolina reaper. Akhirnya... aku bisa menyaksikan adikku tersiksa.


Satu jam kemudian kami menjatuhkan diri ke atas sofa-sofa mewah suatu bar anggur tak jauh dari galeri seni untuk minum-minum menjelang akhir berbelanja sebelum pulang dan bersiap-siap untuk acara malamnya.


Maggie menumpuk kantong belanja di sebelahnya lalu tersenyum kepada kami. "Betapa menyenangkannya hari ini. Terima kasih, teman-teman, ini persis dengan yang kubutuhkan."


"Senang kau menikmatinya, dan ini belum berakhir." balasku sambil tersenyum.


Mata Maggie berbinar-binar. "Aku tahu." Dia memandang Mia. "Jadi bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Jason?"


Seluruh mata beralih kepada Mia. "Tidak ada yang spesial. Dia terlalu keras kepala dan memaksaku, dan aku tidak menyukai itu."


"Aku melihat akun Instagram-mu tempo hari dan aku tak percaya betapa banyak penggemar yang kau miliki sekarang," kata Sam sambil menyesap cocktail-nya yang semerah bibir Marilyn Monroe.


"Mereka bukan penggemar..." protes Mia.


"Ah, sayang sekali," Maggie berpura-pura kecewa dengan raut yang dibuat-buat. "Lalu bagaimana dengan walikota itu?"


Bahu Mia melemas selagi dia membuang napas kasar. "Aku tidak tahu kenapa kalian begitu penasaran dengan kisah percintaanku. Terima kasih, tapi aku tidak ingin mendengar serentetan pertanyaan yang aku sendiri tidak tahu jawabannya."

__ADS_1


Aku baru ingin bertanya 'kenapa kau tidak tahu jawabannya?' ketika Mia kembali berbicara. "Ini memusingkan! Permasalahan ini lebih dari sekedar urusan mencari kesenangan. Ini soal mengikuti kata hatiku. Aku tahu kalian akan menganggapku gila karena mengharapkannya, tapi kalau aku tidak mencoba sekali lagi sepertinya aku akan selalu bertanya-tanya apa yang akan terjadi andai saja aku memberinya kesempatan."


Mendengar penjelasan Mia yang seperti itu, ditambah rautnya yang menyedihkan, membuatku ikut merasakan kesedihannya. Aku tidak tahu sejauh apa hubungannya dengan walikota itu, tapi jika di tilik dari ekspresinya sekarang, sepertinya dia tidak main-main dengan perasaannya. Aku tahu sifat Mia, dan sudah pernah kubilang kalau Mia tidak mungkin jatuh cinta kepada sembarangan orang. Tidak semudah itu untuk mendapatkan hatinya. Bahkan Jason saja tidak mampu meluluhkannya, padahal mereka sudah bercinta gila-gilaan. Ya Tuhan... ada apa dengan adikku? Apakah kegilaanku menular padanya?


Malam harinya kami berkumpul lagi mengelilingi meja bundar restoran Prancis yang letaknya tidak jauh dari resort, kami sengaja memilih tempat itu sebagai puncak perayaan ulang tahun Maggie, karena ibuku dan yang lainnya sedang berada di resort.


Menyenangkan rasanya melihat teman-temanku santai dan gembira. Begitu kami selesai makan, Maggie sudah memekik saat membuka kotak berisi hadiah-hadiah dari kami yang sengaja kami kumpul menjadi satu.


Matthew, yang sibuk mengetuk gelas, botol wine, dan vas kaca biru bulat di meja, menuangkan air keluar-masuk untuk mendapatkan nada-nada yang tepat, dengan bangga memainkan lagu Happy Birthday untuk wanitanya yang kegirangan, diiringi kami semua yang menyanyikannya dalam harmoni empat suara, yang membuat para tamu lain ikut terhibur.


Satu momen ini dengan sempurna menyimpulkan segala sesuatu yang kusukai dari teman-temanku. Dan bisa dipastikan hanya satu kali ini saja lagu Happy Birthday diminta untuk dinyanyikan ulang di restoran itu.


Sementara Sean dan Jason menghitung tagihan, Maggie bertukar tempat duduk dengan Matthew agar bisa duduk bersebelahan denganku. "Asyik sekali hari ini, Franda. Terima kasih sudah menyiapkan semuanya. Dan untuk kadonya... Ya ampun, aku harus menyimpan seluruh gajiku setengah tahun agar bisa memberikan hadiah yang setara saat ulang tahunmu nanti." katanya dengan nada dramatis.


Aku diam-diam membelikannya tas ransel Gucci saat kami berbelanja tadi karena kupikir dia akan membutuhkannya saat bekerja. Omong-omong, Maggie adalah guru TK.


Aku menangkup tangan Maggie. "Mags, jangan seperti ini. Kau temanku dan aku senang mengenalmu. Aku tidak keberatan kalau harus membelikanmu sepuluh atau dua puluh tas lagi selama kau masih mau menjadi temanku. Kumohon, jangan sungkan memberitahuku atau Sean, atau Mia, jika kau membutuhkan sesuatu."


Mata Maggie mulai basah, lalu dia memelukku. "Terima kasih, girl. Semoga Tuhan selalu melimpahkan kebaikan dalam kehidupanmu dan keluargamu."


Aku mengangguk sambil mengusap punggungnya. "Amin. Doa yang sama untukmu dan keluargamu." Aku mengurai pelukan kami. "Sekali lagi, selamat ulang tahun, Mags!"


"Terima kasih."


Ketika Sean dan Jason kembali ke meja, kami langsung berpamitan satu sama lain dan pulang ke rumah masing-masing.


"Apa kau bersenang-senang, sayang?" Sean bertanya saat kami sudah berada di kamar kami di resort dan sudah berganti pakaian.


Aku tersenyum lebar, sambil membersihkan riasan aku menjawabnya. "Ya, aku sangat senang. Maggie benar-benar lucu seharian ini." kataku riang.


Aku tertawa. Memalingkan wajah menatapnya sambil menyipitkan mata, lalu mendekatinya dan langsung mencium bibirnya dengan serakah. "Apakah itu cukup?" Aku bertanya setelah ciuman kami terlepas.


Sean mengedikkan bahu. "Kupikir uang yang kau habiskan tidak sedikit, Franda..."


"Warner, kau benar-benar perhitungan!" Aku menggelengkan kepala bergurau. "Persiapkan dirimu untuk menerima bayaran, sugar daddy."


Mendadak senyumnya terkembang lebar dari telinga satu ke telinga lainnya, lalu buru-buru melepas piyama yang baru dikenakannya dan melompat kegirangan ke atas ranjang.


"Ya ampun, Sean! Ranjang itu akan hancur dengan tubuhmu yang besar dan aku tidak mau kalau harus bercinta di atas marmer." protesku.


"Kita masih punya sofa, Franda. Cepat selesaikan urusan wajahmu atau aku akan memulainya tanpamu."


Aku mendengus, meliriknya melalui pantulan cermin. "Oh, seolah kau bisa saja. Tangan dan mulutku lebih ahli dari apapun, Sean, kau sudah sering merasakannya, bukan?" kataku genit menantang.


Tak mau membuang waktu, dengan cepat dia menghampiriku dan menghempaskanku di ranjang. Aku tertawa sementara Sean menggerutu. "Kau terlalu cerewet! Aku sudah menunggumu seharian ini, Franda."


Aku bergerak dengan cepat hingga berdiri di tepi ranjang yang berlawanan saat dia mencoba meraihku. "Franda," geramnya, kedua tangannya bertumpu di pinggang sementara kejantanannya menari-nari memanggilku.


Aku tertawa seraya menggelengkan kepala. "Kau harus berusaha, Warner!" Aku menantangnya lagi.


Sean menyeringai nakal, sebelah lututnya naik ke tepi ranjang sementara aku mengambil ancang-ancang menghadapi serangannya. "Aku akan menangkapmu, Franda."


Aku menyibakkan rambut ke belakang bahu dan menaikkan lengan piyamaku. "Kau tidak tahu seberapa cepat gerakanku, Sean."


"Baiklah," balasnya percaya diri, kami sama-sama tahu dia tetap akan mendapatkanku. Matanya menggelap antusias.


"Haruskah aku melepas bra untuk mengalihkanmu?" gumamku seksi, kemudian tertawa geli menyaksikan perubahan ekspresinya.

__ADS_1


"Sial, kau tahu kelemahanku!" Sean menggeleng kecewa, tapi sebaris senyumnya muncul saat aku tertawa lagi.


"Apa kau yakin bisa menangkapku sekarang?" Aku menaikkan alis menggodanya. Ini benar-benar menyenangkan!


Sean menyeringai. "Tentu saja. Kau yakin ingin lari dariku?"


Perlahan aku melepas bra-ku lalu melemparkan padanya dan mulai berlari ke arah ruang ganti sambil memekik kencang. Tapi aku kalah cepat, dia berhasil menangkapku tepat sebelum aku berhasil melewatinya "Aku menang." katanya. "Kau lambat, Franda."


Aku terengah-engah dan berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya, yang membuat Sean memelukku lebih erat di depannya dadanya yang keras. "Ini tidak adil! Kau beruntung karena begitu dekat dengan pintu... jika tidak, kau tidak akan bisa menangkapku."


"Omong kosong!" Dia protes, membekap mulutku dengan mulutnya.


Aku balas menciumnya sembari memikirkan ide untuk melepaskan diri darinya. Kemudian aku meremas kejantanannya yang sudah mengeras. "Aku menginginkanmu, Sean. Please..." bisikku seliar mungkin di bibirnya.


Sean menciumku lebih keras, lebih serakah dan lebih lapar... terpancing dengan tipuanku. Lalu kurasakan cengkeraman tangannya mulai melemah, lalu aku menggunakan kesempatan itu untuk mendorongnya dan berlari menjauh.


"Maafkan aku, Warner." Bibirku melengkung tinggi, sementara jantungku berdegup kencang menghadapi serbuan matanya.


"Kau curang!" katanya seraya mendekatiku.


Aku berdiri di ujung sofa, mengawasi setiap gerakannya. "Aku hanya berusaha bersaing." balasku santai.


Sean tertawa, menggoyangkan kepalanya beberapa kali, yang membuat kejantanannya ikut bergerak liar. Aku menelan ludah, berjuang susah payah agar tidak menyerahkan diri padanya. "Sejak kapan? Kau satu-satunya wanita yang tidak mengenal persaingan, Franda."


"Oke, mungkin kau benar. Tapi aku sangat ingin menang kali ini." Aku tersenyum bangga pada tekadku sambil memikirkan langkah untuk lari darinya.


Sean menantang balik. "Aku pun begitu." Dia menyeringai. "Apa kau tahu? Aku sudah membuat akun instagram seperti yang kau minta." Sean meraih ponselnya dari atas meja sofa. "Aku sudah mengikutimu, tapi kau tidak mengikuti balik. Sial!"


Aku melongo dengan mata dan mulut terbuka lebar sebelum akhirnya melompat dan memekik kegirangan. "Benarkah?" tanyaku memastikan. Bibirnya yang tersenyum licik membuatku berpikir ulang untuk percaya padanya. "Kau berbohong, Sean."


Sean menaikkan kedua alis dan mengangkat kedua tangan tanda menyerah. "Tidak. Sumpah, deh!" Dia berusaha meyakinkanku, tapi aku ragu. Bisa saja ini taktiknya untuk menipuku. "Kau mau melihatnya?"


"Ya, lemparkan ponselmu."


"Tidak bisa begitu, Franda. Kau yang harus datang padaku."


"Sean..." Aku memasang wajah cemberut, berharap dia mau melempar ponselnya. "Sekarang kau yang curang!"


Dia mengedikkan bahu cuek, berbalik lalu melangkah ke arah ranjang. "Aku tidak akan memaksa kalau kau tidak mau melihatnya."


"Tidak, aku mau..." sahutku cepat. Mulai melangkah mendekatinya, memohon dengan mataku agar dia menunjukkan akun instagram-nya.


Sean mengarahkan layar ponselnya padaku. Dia benar-benar membuatnya! Belum ada postingan apapun, tidak ada pengikut, dan hanya mengikuti satu orang, yang kutebak itu adalah akunku. Lalu tawaku meledak saat melihat nama penggunanya.


"'@fansfrandawarner789' sangat tidak keren, sayang..."


"Angka selain 789 sudah digunakan." gumamnya bergurau.


Aku tertawa. "Warner..." Aku menciumnya. Tidak bisa menahan senyumku meskipun mulut kami sudah beradu. "Aku benar-benar menginginkanmu sekarang." bisikku di sela-sela ciuman.


"Kau yakin?"


"Sangat yakin." Kulempar ponselnya ke ranjang lalu aku melompat ke tubuhnya. Dengan jemari meremas rambutnya, bibirku semakin panas menciumnya sementara Sean menahan bokongku dengan kedua tangannya. "Aku mencintaimu, Sean."


***


Siapa yang senyum-senyum di chapter ini? Hayoo... komen dong, detik-detik menuju tamat nih. Love you, guys!😘

__ADS_1


__ADS_2