Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Girls Night Out


__ADS_3

Aku, Denise, dan Mia melangkah masuk ke dalam sebuah bar di tengah kota. Kami bertiga akan menghabiskan waktu untuk bersantai sejenak setelah penat seharian bekerja. Belakangan bisnis kedai kopi Mia menunjukkan kemajuan yang pesat dan itu membuatku bangga padanya. Adikku yang manja dan pemalas kini berubah menjadi wanita yang gila kerja, meninggalkan kebiasaan lamanya dengan sesuatu yang lebih di gemarinya sekarang. Bekerja dan menghasilkan uang lalu menghabiskannya lagi dengan cara yang lebih gila menggunakan ponselnya; berbelanja online! Aku sama sekali tidak keberatan atau merasa perlu mengingatkannya, karena dia pasti tahu bagaimana cara mengatur keuangan sebab Sean sendiri yang mengawasinya melalui Dave.


Masuk ke dalam bar, kami disambut dengan riuh alunan musik yang cukup keras dan tak tahu aturan mengingat jam baru menunjukkan angka sembilan malam. Biasanya mereka akan memutar musik dengan keras saat waktu menunjukkan mendekati tengah malam.


Kami menatap ke sekeliling untuk mencari meja kosong dan mataku tertuju pada satu meja di sudut ruangan. "Disana." seruku pada Mia dan Denise sambil menunjuk ke arah meja itu. Mereka mengangguk lalu mengikutiku dari belakang.


Mia dan Denise mengobrol sementara aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas untuk melihat apakah Sean menghubungiku atau tidak. Aku sudah mengiriminya pesan sebelum keluar dari butik tadi, mengatakan bahwa aku akan pulang terlambat bersama Mia. Sebenarnya aku ingin langsung meneleponnya tapi aku teringat dia sempat mengatakan akan mengecek proyek pembangunan mall bersama Dave. Jadi, kuputuskan untuk mengabarinya melalui pesan saja.


Setelah melihat tak ada pesan masuk balasan dari Sean, aku memasukkan kembali ponsel ke dalam tas lalu mengangkat pandangan saat Mia bertanya ingin minum apa. "Margarita." kataku. Mia mengangguk, aku melirik pelayan yang berdiri itu menulis pesananku dan juga pesanan Mia dan Denise yang hanya memesan bir.


"Kau sudah memberitahu, Sean?" Mia bertanya sementara mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Aku mengangguk menanggapinya.


Mataku menatap sekeliling dan mendapati wajah orang-orang yang sedang menghabiskan waktu di akhir pekan seperti kami. Meja-meja di bagian dalam terlihat penuh namun tidak sesak. "Yola." Aku bergumam pelan sambil menyipitkan mata. Menajamkan penglihatanku, aku yakin gadis yang duduk tak jauh dari meja kami adalah Yola. Dia duduk bersama beberapa teman perempuannya.


"Aku kesana sebentar." ucapku pada Mia dan Denise. Mereka mengalihkan pandangan mengikuti arah telunjukku lalu kemudian mengangguk tanpa bertanya lebih jauh.


Kakiku berderap mendekati Yola dan teman-temannya dan ketika aku tepat berada disampingnya, tanganku terangkat untuk menepuk pundaknya. Yola menoleh, dia tampak terkejut namun segera berdiri menyapaku. "Kak, kau disini?"

__ADS_1


Bibirku melengkung tinggi lalu mengangguk. Tanganku mengusap lengannya sementara mataku menatap matanya. "Ya. Aku baru saja datang bersama adik dan asistenku." Aku menelengkan bahu ke samping, melihat Mia dan Denis yang melambai dari seberang. "Itu mereka." lanjutku. Yola mengangkat tangan dan balas melambai.


Yola kembali menatapku, kemudian mulutnya terbuka untuk bertanya. "Kak Sean?" Alisku terangkat sebelah dan aku tertawa halus. Sean bukan tipe pria yang akan duduk dan menghabiskan waktu berjam-jam di bar. Dia tentu saja lebih memilih bekerja, atau kalau pun dia ingin minum, dia lebih memilih minum di rumah. Suasana bar yang ramai memang tak cocok dengan Sean yang menyukai ketenangan.


"Ayolah, kau mengenalnya, Yola. Dia tidak mungkin memiliki waktu untuk bersenang-senang seperti kita."


Yola mengerjap. "Ah, ya. Dia memang tidak memiliki waktu selain untuk bekerja. Demi Tuhan, aku senang kau menikah dengannya, Kak. Jadi aku tidak harus terjebak dengan pria sepertinya." Bahu Yola terangkat, bergidik ngeri seakan dia baru selamat dari kematian. Tetapi aku tahu dia sedang bercanda dan aku pun membalasnya.


"Kau menyakiti hatiku, Yola." cetusku ringan tanpa bersungguh-sungguh dengan ucapanku.


Yola tertawa menanggapi balasanku. Kemudian dia mengenalkanku pada teman-temannya. Aku menyalami mereka satu per satu mulai dari gadis berambut sebahu bernama Theodora yang terlihat modis dengan setelan kasualnya, lalu beralih ke gadis di sebelahnya yang tak kalah keren dengan gaun hitam selutut. Gadis itu bernama Sheril. Kemudian tanganku berpindah pada gadis terakhir yang terasa tak asing bagiku, aku tidak terlalu ingat tapi cukup yakin bahwa aku pernah melihatnya di suatu tempat.


Aku memeluknya. Membuat tiga temannya yang lain saling memandang, heran melihatku yang tiba-tiba memeluknya. Entah kenapa aku merasa dekat dengan gadis itu sejak pertama kali aku melihatnya, rasanya seperti aku memiliki ikatan dengannya selain tentu saja namanya yang sama dengan nama mamaku.


Setelah beberapa saat, aku melepas pelukan dan menatap wajahnya yang bingung. Dia pasti tidak mengenalku. Bekerja di rumah sakit, sudah pasti dia menemui banyak orang setiap hari dan mana mungkin dia mengingat pertemuan kami yang hanya sebentar. "Aku Franda, pasien yang pernah memelukmu di rumah sakit Batavia Medical Centre kalau kau masih ingat. Kau bekerja disana, bukan?" Dia mengangguk ragu.


Mata Bianka mengecil menatapku, berusaha mengingat kejadian yang baru saja kukatakan. Kemudian wajahnya mendadak berubah cerah. "Ya, aku mengingatnya. Astaga, aku tidak menyangka kita bertemu lagi seperti ini. Bagaimana kabarmu, Ma'am?"

__ADS_1


Aku tersenyum. "Baik. Luar biasa baik." jawabku.


"Kalian saling kenal?" Aku dan Bianka menoleh Yola yang berbicara lalu mengangguk bersamaan.


"Tidak sengaja. Dia salah satu pasienku dulu, dan, hei... bagaimana ceritanya kalian bisa kenal? Yola, aku tidak tahu kalau kau memiliki teman selain aku, Sheril, dan Theodora."


Yola berdecak, matanya memandang ketiga temannya bergantian. "Terlalu memalukan untuk di ceritakan." Aku sontak tertawa mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya sementara teman-temannya menatapnya bingung, menuntut untuk segera di beri jawaban yang seharusnya.


Aku berdeham. Dengan suasana hati yang masih merasa geli dengan reaksi Yola, aku mencoba membantunya. "Dia keluarga jauh suamiku." gumamku, membuat tiga gadis lain di dekat kami mengangguk. Tapi aku tahu mereka belum yakin dengan kata-kataku, menyadari itu, aku pun dengan segera menambahkan. "Sempat terjadi kesalahpahaman dalam keluarga kami, tapi semuanya baik-baik saja sekarang." Aku berpaling pada Yola. "Bukankah begitu, Yola?"


Yola terkesiap. "Ya. Begitulah kira-kira."


Untuk beberapa waktu aku mengobrol dengan mereka. Bercerita tentang bermacam-macam hal yang ringan dan sepele tapi penuh dengan candaan sampai-sampai lupa bahwa aku datang bersama Mia dan Denise. Merasa cukup, aku ingin pamit dan kembali ke mejaku. Tetapi Yola dan teman-temannya menawarkan untuk bergabung bersama mereka mengingat kami semua saling kenal. Aku tak menolak, dan langsung memanggil Mia dan Denise untuk datang bergabung bersama kami.


Malam kami penuh dengan tawa. Aku seperti kembali di tarik pada masa-masa ketika aku masih seusia mereka. Masa dimana aku menyelinap diam-diam keluar dari kamar untuk bersenang-senang bersama teman kuliahku dulu yang sekarang entah dimana. Aku merindukan kehidupan penuh drama itu, dan mengobrol dengan bocah-bocah kecil di dekatku saat ini sedikit mengobati rasa rinduku. Mereka gadis-gadis yang ramah, ceria, dan penuh semangat. Aku sebagai yang paling tua di antara kami mulai mendapatkan ledekan tetapi aku tidak merasa tersinggung sedikitpun.


Kami terus bertukar cerita, sahut-menyahut satu sama lain sampai tanpa kami sadari waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam dan kami sudah menghabiskan berbotol-botol bir. Kemudian, aku dengan sisa-sisa kesadaran, mengajak mereka semua untuk pulang sebelum kami terkapar di tempat itu.

__ADS_1


Mereka menurut. Kami saling berpamitan dan membuat janji untuk bertemu lagi yang entah akan kami ingat atau tidak. Kami sudah terlalu mabuk, dan aku yakin tidak satupun di antara kami yang akan sadar dengan janji temu berikutnya itu.


__ADS_2