Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 54


__ADS_3

Franda sudah berada di ruang operasi, ditemani Nino yang terus setia disampingnya. Rasa sakit yang menjerat tubuhnya hilang seketika begitu seorang ahli anestesi memberikan suntikan epidural, membuat bagian tubuhnya mati rasa dari batas dada hingga kaki.


Nino yang duduk di belakang Franda, tak henti menciumi puncak kepala istrinya, menggumamkan kata cinta sebanyak mungkin, tangan kirinya menggenggam tangan Franda, sementara tangan kanannya mengusap pipi mulus sang istri, sesekali mencubit gemas.


Pandangan Nino fokus pada istrinya, tak jarang keningnya berkerut kala mendengar obrolan santai dokter dan perawat yang membicarakan beberapa topik berbeda, mulai dari ojek online hingga berakhir dengan mengejek satu sama lain, tampak tak ada beban diwajah mereka.


"Kita mulai ya, Bu. Doa dulu, yuk!..." ucap dokter Clara yang sudah siap disamping Franda, namun tentu saja tak bisa dilihatnya karena ada kain yang menghalanginya.


Dokter Clara mulai bekerja dibantu beberapa perawat, membelah perut Franda lapisan demi lapisan untuk mengeluarkan kehidupan baru yang akan menambah warna dalam rumah tangga Franda dan Nino.


"Sayang, kau mau hadiah apa setelah ini?" ucap Nino, berusaha mengalihkan perasaan gugup istrinya.


Franda menggeleng. "Aku sudah mendapatkannya." jawabnya singkat.


Nino paham istrinya sudah bahagia dengan kehadiran anak mereka, namun Ia tetap ingin memberikan sesuatu pada Franda, "Yang lain, aku akan memberikan apapun." Nino kembali menawarkan.


Franda diam sejenak, memikirkan harus meminta apa pada suaminya, "Apapun? Kau yakin?" Franda balik bertanya.


"Hmm." Nino mengangguk.


"Aku ingin mencari tante Lucy..." ucap Franda, sontak membuat Nino menyatukan alisnya.


"Tante Lucy? Adik Mamamu?" tanya Nino memastikan.


Franda sempat memberitahu Nino bahwa Ia memiliki seorang tante yang tidak pernah di ketahui keberadaannya. Dulu, Ibu pernah bercerita sedikit mengenai wanita itu, namun hanya sebatas nama dan pekerjaannya yang saat itu menjabat sebagai wakil direktur di perusahaan Papanya. Tidak ada foto atau informasi lain yang bisa disampaikan Ibu, karena dulu mereka tinggal terpisah jauh, sejak menikah Ibu dan Ayah tinggal di jerman selama 6 tahun, dan kembali ke Indonesia saat kedua orangtua Franda mengalami kecelakaan.


Mulai saat itu Ayah mulai mengambil alih perusahaan Papanya, karena tidak ada lagi yang bisa menjalankannya, termasuk tante Lucy. Berkali-kali Ayah mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan disana dan memaksa tante Lucy untuk melanjutkannya, mengingat jabatannya kala itu sebagai wakil direktur, sudah pasti Ia paham mengenai perusahaan. Namun, tante Lucy menolak, Ia mengatakan akan menikah dan ikut suaminya pindah ke Amerika, dan sejak saat itu tidak pernah lagi menghubungi mereka.

__ADS_1


"Ya, aku ingin mencarinya. Dia satu-satunya keluargaku yang tersisa selain Ayah. Aku berharap bisa melihatnya sekali saja, setidaknya pasti ada kemiripan antara dia dan Mama. Kau tahu, aku bahkan tidak ingat wajah Mamaku, semua foto Mama dan Papa sudah disingkirkan oleh Ayah untuk menghilangkan rasa traumaku dulu." ucap Franda santai. Jika dulu Ia histeris kala mengingat orangtuanya, sekarang sudah tidak lagi. Rasa traumanya hilang perlahan dengan bantuan Edward dan Mia, tentu saja Ayah dan Ibu juga berperan disana yang dengan sabar memintanya untuk ikhlas dan melupakan kejadian buruk yang menimpa kedua orangtuanya.


"Tapi, itu sulit, Sayang! Kita bahkan tidak memiliki fotonya, hanya nama. Kau tahu ada berapa banyak manusia yang bernama Lucy, tidak mungkin menemukannya dengan cepat." ucap Nino.


"Ya, setidaknya kita bisa mempersempitnya dengan nama panjangnya. Lucia Kailolo, pasti tidak banyak yang memiliki nama itu, Kailolo adalah nama keluarga Mama. Kurasa masih ada kesempatan untuk menemukannya."


Nino menghela napas, "Baiklah, kita bisa mencobanya nanti, tapi aku tidak bisa berjanji, Sayang. Aku juga tidak menjamin akan menemukannya dengan cepat, tapi aku akan berusaha." janji Nino.


Franda mendongak untuk menatap suaminya, lalu mengangguk sembari tersenyum, "Terimakasih..." ucapnya tulus, mengeratkan genggaman tangannya dan Nino.


"Kau merasakan sesuatu, Sayang?" tanya Nino, dirinya penasaran dengan apa yang dilakukan oleh dokter pada perut istrinya.


Franda menggeleng, "Tidak. Hanya saja seperti ada yang menekan, namun tidak sakit sama sekali." jawab Franda.


"Can you sing?" lanjut Franda.


"No, you know I can't do that!" tolak Nino.


"Big No!"


"Please..."


Belum sempat Nino menjawab, suara bayi dibawah sana langsung mengejutkan mereka. Sontak keduanya terdiam, dengan mulut terbuka dan mata saling menatap.


"There, you are! Happy birthday, Boy!" ucap dokter Clara, sembari memberikan bayi yang menangis itu ke salah satu perawat untuk dibersihkan.


Nino dan Franda masih terdiam, suara keduanya seolah tertahan di tenggorokan kala mendengar tangisan anak mereka, hanya airmata yang mulai menggenang, dan genggaman tangan yang semakin erat. Franda terpejam, menikmati suara tangisan bayi mungil yang memanjakan pendengarannya, suara yang begitu ingin didengarnya. Senyumnya tidak memudar sedikitpun di sudut bibirnya. Sementara Nino belum beranjak dari tempat duduk, reaksinya tak jauh berbeda dengan sang istri.

__ADS_1


Selang beberapa menit, seorang perawat membawa bayi mungi yang sudah dibersihkan itu pada mereka, dan langsung mendaratkannya di dada sang Ibu. Tangis Nino dan Franda pecah seketika, mereka tidak perduli pada beberapa pasang mata yang menatap haru pada keduanya. Berkali-kali Nino mencium puncak kepala istrinya sembari mengucapkan terimakasih.


"Selamat, Pak, Bu! Bayinya laki-laki, lahir sehat dan sempurna dengan berat badan 3,75 kg." ucap sang perawat, setelah memberikan waktu untuk Franda dan Nino menikmati rasa bahagia mereka sejenak.


Franda dan Nino mengangguk tanpa mengalihkan pandangan mereka dari sang bayi.


"Terimakasih, Sayang! Kau begitu hebat!" kata Nino diiringi ciuman hangat di pipi istrinya.


Franda mengangkat tangannya yang bergetar untuk menyentuh bayi merah yang berlabuh di dadanya itu, "Hai, baby! Happy birthday!..." ucapnya pelan sambil tersenyum dan air mata bahagia yang terus mengalir.


Nino mengikuti Franda, menyentuh pipi anaknya yang masih merah dengan telunjuknya, "Look, he is so cute, and also charming! Thank's for coming, baby!" kata Nino dengan bangga.


"Ya, dia sangat tampan, Sayang..." jawab Franda.


Mereka terus larut dengan rasa bahagia atas kelahiran putra mereka, acuh pada dokter dan perawat yang masih sibuk menjahit luka bekas operasi Franda.


"Pak, Bu, adiknya saya bawa lagi, ya. Nanti akan diantar ke ruang perawatan Ibu." ujar sang perawat, dan langsung mengambil bayi mungil itu. Franda mengangguk, meskipun belum rela terpisah dari anaknya.


Franda dan Nino masih menangis haru, menatap putra yang mereka nantikan selama delapan tahun lamanya kini berpindah ke gendongan sang perawat. Genggaman tangan keduanya tidak mengendur sedikitpun, menyatukan sengatan rasa bahagia yang membuncah diantara mereka, mengalirkan kehangatan, kekuatan, dan perasaan cinta yang dalam.


Delapan tahun lamanya mereka menunggu dengan sabar, dengan segala usaha dan keyakinan besar bahwa Tuhan akan memberi mereka semua yang mereka butuhkan disaat yang tepat, hingga mengantarkan mereka pada kepasrahan, hidup dengan memiliki anak atau tidak seharusnya bukan penghalang bagi mereka. Begitu banyak kerikil yang menyandung mereka, tapi tak satupun yang mampu menjatuhkan. Keduanya saling merangkul, menyelamatkan satu sama lain, membuktikan bahwa pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipermainkan, pernikahan butuh tanggungjawab, dan kesiapan didalamnya.


Banyak yang menilai Franda bodoh karena memilih memaafkan dan menerima kembali suaminya, bukankah memang seharusnya begitu? Jika tidak peduli adalah level tertinggi dari kebencian, maka penerimaan adalah puncak tertinggi untuk mencintai. Menerima dengan hati yang lapang, ikhlas akan apa yang Tuhan berikan, dan menjalaninya dengan baik.


"Sayang, aku mengantuk..."


***

__ADS_1


Lanjutkan gak? Masih ada kekacauan besar nanti, tapi komen dulu! Kalau komennya mencapai 10 baru aku up lagi ya, hehehe...


Biar gak sepi2 amat hidupku, cuma nulis tapi gak ada feedback, aku juga butuh sesuatu untuk memperbaiki moodku, sayangs!😘


__ADS_2