
Aku tambahin extra part saat anak-anak Franda, Mia, dan Edward sudah besar-besar. Hanya sedikit untuk mengisi waktu luang. Love you, guys!😘
...Liliana Warner POV....
"Scarlett? Apa yang kau lakukan disini? Dimana Ben dan yang lainnya?" Aku bertanya kepada adik sepupuku yang tiba-tiba muncul di depan rumah.
Matanya merah dan sembab, menandakan dia baru saja menangis. Tidak... sepertinya dia sudah menangis semalaman karena matanya bengkak, nyaris terlihat seperti bisul.
Scarlett tidak menjawab pertanyaanku, sebagai gantinya dia malah bertanya balik. "Dimana mom? Aku ingin bicara dengannya." katanya sambil melihat ke dalam rumah.
Aku mengerutkan alis, namun tetap menggeser tubuhku dan membuka pintu lebih lebar agar dia bisa masuk. "Biar kulihat di ruang kerjanya."
Aku melangkah menuju ruang kerja mom di rumah dan mendapati dia sedang sibuk menggambar sesuatu di ipadnya. Dia selalu terlihat cantik, sekalipun wajahnya sudah mulai keriput. Tepat seperti yang selalu Dad bilang, kecantikan mom tidak akan pernah hilang meski kulitnya mengendur hingga wajahnya menyerupai anjing pug. Mom akan tetap cantik.
"Mom, Scarlett datang dan mencarimu."
Mom menoleh, meletakkan ipad lalu melepas kacamatanya. "Bukankah dia sedang di rumah danau bersama Ben?" tanyanya heran.
Ya, akupun merasa heran. Kemarin Scarlett, Ben, Theo, dan Karen pergi ke rumah danau dan akan menginap disana selama seminggu. Mereka mengajakku, tapi aku menolak karena masih banyak yang perlu kulakukan untuk mempersiapkan diri menjelang ujian masuk perguruan tinggi minggu depan.
"Aku tidak tahu. Dia terlihat seperti habis menangis." sahutku.
Alisnya berkerut, lalu dia berdiri dan berjalan menghampiriku, kemudian kami melangkah bersama menuju ruang keluarga. Disana Scarlett sudah duduk menundukkan kepala dan menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Scarlett? What happen?" tanya mom begitu dia duduk di samping Scarlett.
"Mom," Scarlett memeluk mom, isak tangis mulai terdengar dari mulutnya. "I'm... sorry. Aku... aku tidak sengaja melakukannya." Mom dan aku saling melempar tatapan bingung. Belum mengetahui maksud ucapannya.
"Mobil dad..."
"Oh, God!" gumamku tanpa sadar, dan tubuhku mendadak lemas.
Masalah besar. Bukan, ini bencana! Dad akan mengamuk dan itu bukan sesuatu yang bagus. Aku mulai cemas sementara Scarlett menjelaskan dengan terputus-putus. "Aku tidak sengaja menabrak pohon yang berada di samping garasi. Bagian depan mobil dad rusak. Aku takut, mom..."
Mom membuang napas berat. Aku tahu dia sedang menahan amarah. Hari ini, sudah dipastikan dad akan menghabisi kami semua dan mom harus bekerja keras menyelamatkan kami dengan membuatnya tenang. Itu bukan pekerjaan mudah, mengingat kelakuan dad yang semakin tua semakin sensitif. Apa lagi ini menyangkut mobil kesayangannya.
Ford Consul Capri, mobil klasik keluaran tahun 1961. Dad setengah mati menjaga barang itu, bahkan dia sengaja menyimpannya di garasi rumah danau agar tetap aman. Tapi Scarlett, yang entah kenapa mendadak kehilangan pikiran warasnya dan berani menggunakan mobil itu. Percayalah, menyentuh mobil itu saja merupakan suatu dosa besar yang tak seorangpun akan melakukannya jika masih ingin menyaksikan matahari terbit besok pagi.
"Dimana Ben?" tanya mom.
__ADS_1
"Di bengkel, sedang berusaha..."
"You die." potong mom, tubuhnya lemas dengan cara yang amat dramatis. "Maaf, aku tidak tahu melakukan apa untuk membantu kalian kali ini. Scarlett, kesalahanmu sudah fatal hanya dengan menyentuh barang terkutuk itu, lalu kau merusaknya dan sekarang Ben membawanya ke bengkel? Sempurna, sweetheart!"
"Mom, please..."
"Mom, Scarlett menghancurkan mobil dad!" kami bertiga serentak menoleh ke arah pintu.
Karen, adik sepupuku yang lain yang berusia dua belas tahun mulai mengoceh dengan raut bangga seakan dia membawakan berita besar. Well, ya... itu memang berita besar. Terima kasih kepada aunty Mia karena sudah melahirkan anak yang persis seperti dirinya.
Dibelakang Karen, Theo tampak santai berjalan, seolah tidak terjadi apa-apa di rumah ini. Lalu kakakku, Ben, juga terlihat sama santainya. Apa mereka belum mendengar alarm peringatan di kepala mereka?
Mom berdiri. "Ben, dimana mobilnya?"
Ben tersenyum ceria. "Sudah beres, mom. Tenang saja, dad tidak akan menyadari apapun." Dia beralih menatap Scarlett yang bingung. "Lettie, calm down. Aku baru saja berhasil menyelamatkan hidupmu dan kau harus membayarnya."
"Apa maksudmu?" kata Scarlett.
"Mobilnya baik-baik saja,"
"Mobil siapa yang baik-baik saja?" Oh, sempurna!
Oh Tuhan, terkutuklah engkau Karen!
Wajah dad langsung merah padam, sudah siap menyemburkan serangkaian makian tanpa ampun. Dad memandangi Scarlett dengan sorot tajam. "Scarlett?"
Scarlett menundukkan kepala. Kedua tangan gemetar di pangkuannya. "I'm sorry..."
Seolah menyadari bahaya yang mengancam keselamatan anak-anaknya saat rahang dad mengeras, mom langsung mendekati pria tua pujaan hatinya itu sementara kami semua terdiam menunggu mom beraksi. "Honey, don't." gumamnya lembut. "Mereka hanya anak-anak. Lagi pula, Ben sudah memperbaiki mobilmu."
"Franda, kau tahu bagaimana aku menjaga mobil itu,"
"Ya, aku tahu," potong mom. "Tapi itu tidak ada apa-apanya dibanding anakmu. Kau tidak mungkin lebih mencintai mobil dari pada anakmu, bukan?"
"Kau salah, mom. Dad lebih mencintai mobilnya. Aku tahu itu."
Ya ampun, Karen! Kumohon siapa saja tolong singkirkan anak itu dari hadapan kami. Kehadirannya sungguh tidak sangat tidak menguntungkan sekarang.
"Karen," sergah mom, menggelengkan kepala. "Go to your room, kids. Let me talk to daddy." kata mom kepada kami semua.
__ADS_1
"No, diam di tempat kalian."
"Sean?"
"Tidak kali ini, Franda. Mereka sudah keterlaluan. Ini bukan pertama kalinya mereka menghancurkan barang-barangku. Mau sampai kapan kau akan bersikap begini?"
Baiklah. Tampaknya mom benar-benar tidak bisa membantu kami. Ketika mom akhirnya menghembuskan napas pasrah, aku memandang satu per satu saudaraku yang mulai gemetaran. Termasuk kakakku, Ben. Dia yang paling tua, jadi dad akan menuntut tanggung jawab lebih darinya.
"Bennet, bisa kau jelaskan apa yang terjadi dengan mobilku? Kenapa Scarlett bisa sampai menghancurkannya?" tanya dad dengan nada sedingin es.
Ben terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya menjawab. "I'm sorry. Ini salahku, dad. Aku tidak mengawasinya." jawabnya gugup.
Dad mulai mengeluarkan tatapan mautnya. "Bagus kalau kau tahu kesalahanmu. Sekarang, kau yang harus bertanggung jawab," Dad berjalan mengitari sofa lalu duduk disana. "Bagaimana aku harus menghukummu, Ben?"
"Mudah saja, dad...".
"Karen, please... tahan mulutmu, sayang. Kau juga tidak akan selamat setelah ini." kata mom sambil mengeleng tak percaya.
"Aku hanya berusaha mempercepat ini, mom." sahutnya cuek. "Dad selalu menghukum Ben dengan cara yang sama. Membosankan."
Dad tertawa pelan. "Mia benar-benar berhasil mendidiknya." gumamnya lalu mengulurkan tangan. "Kemarilah, Karen..." Karen menurut, dan duduk di atas pangkuan dad. "Kau tahu, aku sangat menyayangimu, Karen. Tapi bukan berarti aku tidak akan menghukummu kalau kau terus bersikap seperti ini. Bukankah kau sendiri yang berjanji akan menjadi anak yang manis selama berada disini? Atau kau sudah bosan dan ingin kembali ke Jakarta? Aku yakin mommy dan daddy-mu akan senang mendengar itu."
Karen menciut, memasang wajah anak anjing andalannya. Berusaha membujuk dad dengan gaya pura-pura manis. "Dad, maafkan aku," katanya dengan manja sambil mencium pipi dad beberapa kali, membuat kami semua tertawa geli melihat tingkahnya yang berubah seratus delapan puluh derajat.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aunty Mia berada disini sekarang. Dia dan Karen akan menjadi tim yang hebat dalam hal membuat orang lain kesal dengan mulut mereka. Aku sendiri sudah bosan mendengar ocehan aunty Mia tiap kali dia mengunjungi kami atau ketika kami ke Jakarta. Satu-satunya orang yang bisa bertahan menghadapi ketajaman mulut aunty Mia hanyalah suaminya, uncle Jason, yang selalu menurut pada apa saja yang dikatakan aunty Mia.
"Ben dan Scarlett, kalian tidak boleh keluar rumah selama seminggu," Ben membulatkan mata hendak protes, tapi dad menggeleng tegas. Sementara Scarlett pasrah karena menyadari kesalahannya. "Itu hukuman untuk kalian. Selama libur kalian tetap berada di dalam rumah dan membantuku memperbaiki pagar halaman belakang."
"Honey," mom berusaha membela anak-anaknya, namun lagi-lagi dad menggelengkan kepala. Tak ingin di bantah sedikitpun.
"M-m, aku sudah cukup baik tidak memblokir kartu mereka. Jadi, jangan menawar lagi." katanya tegas.
Theo, anak uncle Ed yang pendiam mendadak bersuara membela kakakku, Ben, alih-alih menyelamatkan Scarlett, kakak kandungnya. "Itu terlalu kejam, dad. Kau tidak bisa mengurung laki-laki selama seminggu."
Oops, wrong move! Poor Theo...
"Theo!" seru dad, "Aku hampir melupakanmu, son. Baiklah, karena tampaknya kau sangat menyayangi saudaramu, bagaimana kalau kau ikut bergabung bersama kami, he? Tenagamu akan sangat berguna."
Theo mengangkat bahu cuek. "Tidak masalah."
__ADS_1
Dan begitulah hukuman yang mereka dapatkan pada akhirnya karena sudah berani bermain-main dengan dad. Beruntung aku tidak berada disana, jadi aku selamat dari kegiatan melelahkan itu. Aku yakin memperbaiki pagar 'ala dad' tidak akan sesederhana mengangkat kayu, pasti akan ada drama trik-trik tersembunyi yang diselipkannya dalam tiap kesempatan. Dan percayalah, trik itu tidak mungkin membuatmu bahagia.