Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Through the Darkness


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Aku agak kurang yakin dengan chapter ini, tapi kuharap ceritanya gak bikin nyesek yaa.


***


"Apa kau bisa mendengarku?"


"Sebentar," Aku membenarkan letak speaker earphone yang terletak di sudut atas saku jaketku agar suara Erick terdengar lebih jernih. "Aku berada di kawasan bangunan tua, gedung-gedung besar yang terbengkalai dan sejenisnya, persis seperti yang kau katakan."


"Apalagi yang kau lihat? Apa kau menemukan mereka?"


Aku melajukan mobilku lebih cepat menyusuri jalan berbatu diantara bongkahan bangunan yang teronggok dan berjajar di salah satu bahu jalan. Pemandangannya benar-benar seperti kota mati, tidak mengherankan jika Syaiful dan komplotannya memilih lokasi ini sebagai tempat persembunyian.


"Tidak..." ucapan ku terhenti saat aku membelokkan mobil memasuki area tanah lapang yang lebih luas dan aku melihat sekumpulan pria berseragam militer berdiri menyebar di sekitar tempat itu.


Aku mengenali Syaiful yang berada di depan, di tengah-tengah barisan, dan juga... Franda? Seorang pria berbadan tegap sedang mencengkram lengan Franda, menahannya tetap berada di belakang Syaiful.


"Brengsek!" umpatku.


"Ada apa?" suara Erick terdengar dari earphone.


Aku mengertakkan rahang. "Mereka menahan istriku."


"Dengar, sir. Tim bantuan sudah berada di dalam perjalanan. Tolong jangan melakukan sesuatu yang bodoh, kau mengerti?"


"Aku harus menyelamatkan istriku sekarang."


"Aku tahu, tapi cobalah untuk mengulur waktu, mereka akan segera tiba. Dua kilometer, hanya lima menit, kau harus..."


Aku memutuskan sambungan earphone dan melepaskan semua perangkat itu dariku. Aku tidak ingin mengambil resiko dengan Syaiful jika dia mengetahui aku memakai alat penyadap. Kumatikan mesin mobil lalu dengan cepat melangkah keluar.


Begitu aku berderap menghampiri mereka dua orang pria berjalan ke arahku lalu masing-masing mencekal kedua lenganku dan menyeretku mengikuti mereka. Aku ingin sekali mengajar keduanya, namun aku tahu itu akan mengancam keselamatan Franda.


Franda menatapku sambil menggelengkan kepala. Kedua mata cokelat-nya dipenuhi oleh air mata, dan aku tahu saat ini dia pasti sangat ketakutan.

__ADS_1


Seharusnya aku bisa menyadari sesuatu saat melihat kilatan di mata Syaiful yang mengisyaratkan sesuatu. Tapi semuanya terjadi begitu cepat dan aku belum memiliki persiapan apa-apa, sekaligus sekolah aku berada dalam mode slow motion ketika akhirnya aku menyadari apa yang akan menimpaku. Aku melihat Syaiful mengangkat pistol yang ada di genggamannya dan mengarahkannya padaku.


"NO!"


Teriakan Franda menggema di udara. Kedua mataku membuka dengan lebar dan merasa ngeri ketika melihat dia berlari ke arahku, sebelah tangannya terulur seakan ingin meraihku.


Tapi semuanya sudah terlambat, dan yang terjadi berikutnya adalah terdengar suara letusan senjata yang memekakkan telinga. Sekujur tubuhku menegang ketika menatap ekspresi nanar di wajah Franda serta noda merah gelap yang menyebar luas dengan cepat di pakaiannya.


"Tidak," bisikku tercekat.


***


Bunyi derap langkah kaki para polisi yang berlarian menyerbu dari segala arah bercampur dengan teriakan hiruk-pikuk komplotan Syaiful. Suara sirine yang meraung dari kejauhan perlahan mulai mendekat. Aku mendengar seseorang menyerukan bahwa paramedis telah tiba, dan juga mengingatkan betapa genting situasi setelah baku tembak antara polisi dengan kelompok Syaiful terjadi.


"Satu korban terjatuh." Kudengar seseorang berseru.


Kemudian aku melihat dari sudut mataku sebuah mobil ambulan berhenti sekitar seratus meter dari tempatku berada. Beberapa petugas medis keluar dari dalamnya sambil menarik brankar bersama mereka.


Aku mempererat pelukanku pada tubuh Franda. Satu-satunya yang dapat kurasakan saat ini adalah ketakutan yang menguasai diriku, tidak bisa kugambarkan dengan kata-kata. Aku berlutut dengan memeluk erat tubuh Franda yang tidak bergerak di pangkuanku sambil menekan punggungnya yang terus mengucur kan darah dengan jaketku. Wajahnya pucat, dan kedua kelopak matanya tertutup, rambut bergelombangnya yang terurai berubah warna menjadi pekat karena darah.


Semua pertahananku runtuh saat aku merasakan tubuhnya yang berada di pelukanku perlahan semakin dingin dan aku mulai kehilangan kendali. "Kumohon, sayang... buka matamu." bisikku putus asa di depan wajahnya.


Tidak. Ini tidak nyata. Aku hanya bermimpi.


"Sir, kami perlu mengevakuasinya."


Aku mendongak dan mendapati beberapa petugas medis tengah mengerumuni kami. Mereka berlutut di dekatku kemudian dengan perlahan memindahkan tubuh Franda ke atas brankar. Salah satu dari petugas medis itu menjaga tubuh beranda dalam posisi miring selagi memeriksa luka di punggungnya. Dia mengembalikan jaketku lalu menyusupkan kain tebal ke dalam baju Franda sebagai gantinya.


Kemudian ketika melihatnya hendak melilitkan turniket ke tubuh Franda, tanganku sontak terulur menahannya. "Apa yang kau lakukan? Dia akan kesakitan jika kau mengikatnya."


Petugas medis itu menatapku heran. "Dia kehilangan banyak darah, tidak ada cara lain untuk dilakukan atau dia bisa kehabisan darah sebelum sampai dirumah sakit. Tidak seorangpun yang menginginkan itu terjadi, kan?" gumamnya tegas, kemudian dia berpaling pada rekan-rekannya. "Analisis."


"Tekanan darah 145, dan terus menurun." salah satu dari mereka menjawab seraya memasukkan selang pernapasan melalui mulut Franda, sementara yang lain memasang infus di tangannya.


Petugas medis yang baru selesai memasangkan turniket di tubuh Franda sekarang membuka kelopak matanya untuk memeriksa pupilnya. "Tanda-tanda vital, krisis."

__ADS_1


" tekanan darahnya menjadi 140, dia perlu plexus block secepatnya, dan sedative. Dia bisa kolaps kapan saja selama perjalanan ke rumah sakit."


Mereka beranjak, memegangi tubuh Franda kemudian berjalan dengan cepat seraya menarik brangkar kembali ke arah mobil ambulan.


"Suhu tubuhnya rendah sekali, cepat!" petugas medis berbicara lagi. "Kita harus segera sampai di rumah sakit dalam sepuluh menit meski kau harus mengemudi seperti setan. Dia tidak akan bertahan jika kita tidak berhasil menstabilkan tekanan darahnya sebelum mencapai rumah sakit."


"Apa maksudmu dia tidak akan bertahan?" Aku berlari mengikuti di belakang mereka, memegangi besi brankar selagi mereka melipat brangkar itu dan mendorongnya ke dalam ambulan.


"Aku akan bersamanya." ujarku tegas ketika raut wajah mereka mendadak berubah terkejut saat melihatku hendak masuk ke dalam ambulan. "Apa maksudmu dia tidak akan bertahan?" aku bertanya lagi setelah mobil ambulans melaju dengan kecepatan penuh, bunyi sirine-nya meraung membelah jalanan.


"Pendarahan tingkat tiga," seorang petugas medis wanita setengah baya yang sedang menahan saluran selang pernapasan yang terhubung dengan tabung oksigen berkata padaku. "Saat ini mungkin dia sudah kehilangan nyaris 40 persen volume darahnya, melihat suhu tubuh dan tekanan darahnya yang begitu rendah, dan itu sangat berbahaya. Semoga saja tidak ada pembuluh arterinya yang robek karena pecahan proyektil peluru, kebanyakan korban luka tembak biasanya mengalami masalah yang sama."


Aku mendengus keras. "Berhenti bicara omong kosong dan lakukan apapun untuk menolongnya." geramku sambil menggenggam erat tangan Franda, membawanya ke bibirku dan mencium ruas-ruas jemarinya.


Ketakutan kembali menggerogotiku ketika aku melihat kukunya kini mulai membiru. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku berdoa.


Sampai di rumah sakit, mereka membawa Franda ke ruang ICU di trauma centre, beberapa dokter sudah bersiap menyambutnya. Semuanya berlangsung begitu cepat saat mereka segera menyiapkan ruang operasi.


"Dimana keluarganya?" Seorang dokter pria berkacamata dengan setelan hijau dan memakai penutup kepala menjumpaiku di ruang operasi.


"Aku suaminya."


"Kami akan segera mengoperasinya." ujarnya sebelum berbalik menuju kamar operasi.


"Dokter," Dia berhenti di pintu lalu berpaling melihatku, tapi aku tidak sanggup untuk mengatakan apa yang ada dipikiranku.


Dokter itu mengangguk. "Kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk menolongnya. Berdoa saja."


Aku mengangguk, kemudian melangkah setelah dokter itu menghilang di balik ruang operasi.


Aku tidak tahu berapa lama aku berjalan namun ketika aku menyadarinya, aku sudah berhenti di depan kapel kecil yang berada di sisi utara bagian rumah sakit. Pikiranku berlarian kesana kemari dan aku merasa ketakutan seolah aku sedang berjalan di atas lapisan es tipis yang bisa hancur kapan saja.


Perlahan aku memajukan langkah masuk ke dalam kapel itu. Tidak ada seorang pun yang terlihat di dalam sana. Deretan lilin berukuran sedang yang menyala diletakkan sejajar di atas rak susun pada kedua Sisi mimbar. Cahaya keemasan yang memantul dari lilin-lilin itu menerangi sekeliling dinding kapel, seketika membuatku merasa teduh.


***

__ADS_1


Please, komen guys!


__ADS_2