Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
It suck's again.


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Aku berjalan bersama ibu mertuaku, Edward, dan ibu kandung Franda menuju ke ruang perawatan bayi, dan disana kami melihat anakku untuk pertama kalinya. Dari dinding kaca aku bisa melihat dia sangat mungil dan cantik. Kulitnya putih bersih, wajahnya persis sepertiku.


Aku merasakan kebahagian meluap dalam hatiku, menjalar hingga ke setiap sel-sel dalam tubuhku. Terlepas dari usianya yang belum cukup untuk lahir, dia telihat mengagumkan. Aku bangga dan terharu sekaligus. Ini kedua kalinya aku melihat wajah anakku, tapi perasaan bahagia yang kurasakan lebih besar dari sebelumnya. Bukan berarti aku tidak bahagia menyambut anakku bersama Ashley dulu, hanya saja ini berbeda.


"Liliana Warner." gumamku tanpa sadar.


"Jadi, apakah kita akan memanggilnya Lily?" Aku mendengar suara Edward bertanya padaku, aku mengangguk. "Nama yang indah, kuharap dia tumbuh menjadi gadis yang kuat seperti ibumu. Kau mengambilnya dari nama ibumu, bukan?" Dia bertanya lagi.


"Ya, kuharap juga begitu. Dia pasti akan menjadi gadis yang luar biasa, seperti mommy dan granny-nya." balasku tersenyum bangga.


"She's co cute." ibu mertuaku berbicara, aku menoleh dan bisa melihat genangan air mata yang memenuhi matanya. Kemudian dia bersuara lagi. "Lihatlah, Bianka... apa kau tidak ingin menggendong cucumu?"


Ibu kandung Franda hanya diam, kedua tangannya yang gemetar menempel pada dinding kaca. Dia tampak begitu emosional dan aku yakin jauh di dalam hatinya dia juga ingin mencium cucunya. Terlepas dari kesalahan yang pernah dilakukannya, dia tetap seorang ibu yang akan selalu menyayangi anaknya, dan akan selalu begitu.


Aku tidak berhak menghakimi perbuatannya karena itu sama sekali bukan urusanku, hanya saja aku tidak mengerti kenapa dia harus meninggalkan Franda dengan cara seperti itu. Tapi semua itu sudah berlalu dan Franda juga sudah mendengar semuanya, yang harus kami lakukan sekarang adalah bagaimana caranya menghadapi Franda saat dia sadar nanti.


Aku sama sekali tidak memiliki gambaran akan reaksinya. Sebagian dari diriku yakin bahwa ada kemungkinan Franda akan senang dengan kenyataan bahwa ibu kandungnya ternyata masih hidup, tapi ada juga ketakutan yang kurasakan mengingat dia berakhir di rumah sakit saat mendengar pembicaraan kami.


Tapi di luar semua itu, aku patut bersyukur ada kebahagiaan yang muncul di tengah-tengah kami, yaitu Lily, putri kami yang cantik, yang sedang kupandangi dengan perasaan bahagia saat ini.


"Apakah aku boleh menemuinya nanti?" Tiba-tiba ibu kandung Franda bertanya dengan suara bergetar, berusaha terdengar tenang namun dia tidak berhasil.

__ADS_1


Ibu mertuaku mengalihkan pandangan ke arahnya. "Bianka, dia putrimu. Kau tidak butuh izin dari siapapun untuk menemuinya."


"Tapi kau yang menjaganya selama ini, Marissa. Aku tidak mau merebut..."


"Hentikan omong kosongmu!" kata ibu mertuaku memotong ucapannya. "Kau bisa menemuinya, tapi tentu saja setelah Panda mau dan siap bertemu denganmu." Ibu kandung Franda mengangguk lemah.


Setelah itu tidak ada suara lagi yang terdengar di antara kami. Kami hanya berdiri di sana selama lebih dari lima belas menit dengan pandangan menuju ke arah yang sama. Mungkin perasaan kami juga sama saat ini, bahagia, bingung, cemas, dan takut. Kemudian kami kembali ke depan ruang perawatan Franda.


Tepat saat kami tiba di koridor ruang perawatan, seorang suster keluar dari dalam dengan membawa sebuah baki stainless yang berisi beberapa peralatan rumah sakit. "Istri anda sudah sadar, sir." katanya sambil tersenyum padaku.


Aku mengangguk cepat, merasa senang mendengar ucapannya. Lalu aku pun bergegas masuk bersama ibu mertuaku dan Edward. Aku melihatnya sedang terbaring lemah di ranjang, wajahnya menghadap ke seorang dokter yang sedang berbicara padanya. Dia melirik ke arah kami sekilas, lalu aku mendengar suaranya yang menghantamku.


"Dok, tolong jangan biarkan siapapun masuk kesini selain perawat dan anakku. Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun. Bisakah kau melakukan itu?" nadanya tegas dan tajam, namun bergetar.


Aku menatap Franda yang membuang wajahnya dariku, dalam hati memohon agar dia mau melihatku sebentar saja. Tapi dia tidak mau.


"Aku minta maaf, kurasa dia masih membutuhkan waktu sendiri." gumam dokter itu. Kemudian dia menggiring kami keluar dari ruangan dan menutup pintu di belakangnya. "Jangan khawatir, sir. Dia baik-baik saja, hanya sedikit syok dengan kejadian yang menimpanya." Dia berbicara lagi seraya menepuk lenganku.


Aku mengangguk putus asa. Tidak ada yang bisa kulakukan selain mengikuti kemauan Franda, setidaknya untuk sekarang. Sejujurnya aku ingin marah tapi tidak tahu kepada siapa harus kulampiaskan semua perasaan itu. Apakah Franda pantas untuk melarangku menemuinya? Kurasa, ya. Dan apakah aku pantas untuk menolak itu? Kurasa juga, ya.


Aku masih kalut dalam pikiranku saat tiba-tiba aku mendengar suara Mia. Aku tersentak dan langsung memutar kepala mencari wujudnya, lalu aku melihatnya berjalan tergesa-gesa, setengah wajahnya tertutup oleh scarf dan setengahnya lagi tertutup oleh kacamata hitam dan bucket hat berwarna tosca. Dia sedang menyamarkan diri agar tidak dikenali oleh orang-orang.


Dibelakangnya tampak Samantha, rautnya tampak cemas. Aku baru teringat kalau seharusnya sore ini aku harus menyambut Sam dan memberi kejutan kepada Franda dengan kedatangannya, tapi semuanya percuma sekarang. Franda sudah lebih dulu marah.

__ADS_1


"Mom." Mia dan ibunya berpelukan, keduanya terlihat seperti berusaha menguatkan satu sama lain.


Aku membiarkan mereka dan berpaling menatap Sam, dia maju beberapa langkah untuk memelukku. "She'll be fine." katanya dengan pelan padaku sambil mengusap punggungku.


"I hope so." balasku. "Aku minta maaf karena kau harus menyaksikan ini, Sam. Kejadiannya sangat cepat."


"Oh, come on... kalian bukan orang lain bagiku." Sam menatapku dengan sorot mata sedih. Aku tahu dia sangat peduli pada Franda, dan aku sangat menghargai itu.


Aku mengenalkan Sam pada yang lainnya sementara Mia melangkah mendekati pintu ruang perawatan Franda. "Apa dia baik-baik saja?" tanyanya sambil melihat ke dalam melalui kaca yang menempel pada daun pintu.


"Ya, dia baik-baik saja." sahut Edward, ikut berdiri di samping adiknya, menatap ke dalam.


"Sam," panggilku, dia menoleh. "Apa menurutmu kejiwaannya akan kembali terguncang setelah akibat masalah ini?" tanyaku hati-hati, sedikit takut jika jawaban Sam tidak sesuai dengan yang kuharapkan.


Sam menarik napas panjang dan berat, bahunya turun seiring dia menghembuskan napasnya. Untuk beberapa saat dia hanya terdiam, berusaha menyusun kalimat yang pas untuk di ucapkan. "Well," suaranya ragu-ragu. "Aku tidak bisa mengatakannya secara pasti. Aku perlu berbicara langsung untuk melihat bagaimana reaksinya, maksudku, berdasarkan kondisi mentalnya saat terakhir kali aku bertemu dengannya, seharusnya dia bisa mengatasi ini," Sam menarik napas lagi, aku menyadari dia sedang mencemaskan sesuatu.


"Tapi dia tidak bisa di tebak, Sean. Istrimu tidak seperti pasienku yang lain. Kejadian yang memicu traumanya terlalu keras menghantam mentalnya, dan yang membuatnya semakin sulit melupakan itu adalah dia mengalaminya saat masih kecil."


"Ya Tuhan, apakah kondisinya memang separah itu?" Ibu kandung Franda tiba-tiba membuka mulut dari sisi tempat duduk di seberang kami. Rasa bersalah dan putus asa sangat jelas terdengar di nadanya.


Sam mengangguk lemah. "Aku minta maaf, tapi itu kenyataannya." balas Sam dengan sopan.


Dia menangis sambil menggelengkan kepala tak percaya, kemudian ibu mertuaku mengambil tempat duduk di sebelahnya. Dengan lembut ibu mertuaku memeluk wanita itu, menggumamkan sesuatu yang bisa kudengar di telinganya.

__ADS_1


"Ya, Tuhan... maafkan aku, Franda."


__ADS_2