
"Nino tidak bisa... bukan, Nino sulit memiliki anak. Dia memalsukan hasil tes kami selama ini. Aku baru mengetahuinya sebulan lalu, dan aku juga mengetahui kalau Nino selingkuh dengan sekretarisnya diwaktu yang sama.". Franda berhenti sejenak, menahan sakit didadanya yang sejak tadi dirasakannya. Air matanya mulai menetes.
"Aku sudah mencari tahu semuanya. Hubungan mereka sudah terjalin selama 2 tahun tarakhir, dan aku baru mengetahuinya. Hah! Lucu, bukan?" Franda tersenyum getir sambil menatap semua orang disana.
"Aku tidak menyangka kisahku dengannya akan berakhir seperti ini, bahkan lebih menyedihkan daripada novel-novel tentang pernikahan seorang wanita dan CEO kejam yang disukai oleh banyak orang. Aku tidak akan penasaran dengan novel-novel itu karena karakter tokohnya sudah ketahuan diawal. Tapi, Nino tidak! Dia hebat sekali memainkan perannya didepanku, tidak ada celah sedikitpun bagiku untuk mencurigainya. Sampai akhirnya Dhea memberitahuku..." Franda memejamkan matanya dengan kuat sambil menelan ludah. Merasakan kepahitan yang dalam.
"Aku heran, bagaimana bisa aku tidak mengenal suamiku sendiri setelah hampir 7 tahun menikah dengannya. 7 tahun! Bisa kalian bayangkan berapa banyak waktu yang kami habiskan bersama, dan kami tetap bertahan selama itu. Kehidupan kami tidak selalu mudah, banyak masalah yang kami alami, tapi aku selalu bertahan, kami berdua selalu mampu melewatinya. Bahkan saat mengetahui kebohongannya tentang hasil tes itu aku merasa masih bisa memaafkannya..." Franda berhenti saat Ibu memegang tangannya, merasakan kasih sayang yang mengalir dari sentuhan itu, lalu Ia melanjutkan lagi.
"Aku masih bisa menerima jika Ia hanya berbohong masalah itu, tapi aku tidak bisa memaafkan hal yang berbau pengkhiatan. Aku tidak bisa memaksakan diri untuk melanjutkan pernikahan kami karena keadaan tidak akan pernah sama seperti sebelumnya. Aku tidak mau terjebak dalam penikahan yang hanya akan menyakiti kami berdua, tidak akan ada yang menang dalam hal ini, kami berdua sudah kalah..." bahu Franda bergetar, isak tangisnya terdengar sangat memilukan. Ia menunduk dalam.
Ayah, Ibu, Mia, dan Edward hanya terdiam mendengar cerita Franda, mereka juga tidak menyangka Nino akan tega melakukan hal seperti itu padanya. Selama ini mereka melihat Nino sangat mencintai Franda, pria itu selalu lembut ketika berhadapan dengan Franda, rasanya sulit bagi mereka mempercayai cerita Franda, tapi tidak mungkin juga wanita itu berbohong.
"Aku minta maaf jika ini juga menyakiti kalian, tapi aku mohon jangan melakukan apapun padanya! E**specially you, Ed! I know what you are gonna do, and you better stop it now!" kata Franda dengan tatapan mengancam yang ditujukan pada Edward, kakaknya.
Edward hanya diam, Ia tampak seperti pencuri yang tertangkap basah.
"Jangan khawatir padaku, aku akan baik-baik saja. Aku hanya butuh waktu untuk menerima semuanya, aku pasti bisa melaluinya walau sesulit apapun. Aku tidak ingin melihat kalian mengasihaniku." Franda menyelesaikan ceritanya.
Mereka semua terdiam selama beberapa saat, menikmati keheningan diruang tamu yang saat ini terasa dingin.
__ADS_1
"Ayah tidak akan menghentikan apapun yang sudah kau putuskan. I believe you can handle it!. Kami hanya bisa berharap semoga keputusanmu untuk berpisah adalah pilihan terbaik untukmu dan Nino." kata Ayah Satya, Ia menatap Franda sambil ternyenyum, berusaha menguatkan anak perempuannya.
"Thank's, Dad!" jawab Franda lalu menarik naik kedua ujung bibirnya, tersenyum tulus kepada pria tua itu.
.
Lain Franda, lain pula Nino. Jika Franda saat ini sedang berkumpul dengan keluarganya dirumah, Nino justru terlihat sebaliknya. Saat ini Ia berada dirumah yang Ia tempati bersama Franda selama mereka menikah. Nino tidak keluar dari rumah sama sekali setelah Franda meninggalkannya, Ia hanya berdiam diruang kerjanya dan memikirkan banyak hal. Terutama kesalahannya pada istrinya.
Nino sangat menyadari kesalahannya, bahkan jauh sebelum Franda mengetahuinya. Nino sudah menduga kalau suatu saat Franda akan meninggalkannya, dan sebenarnya Ia sudah bersiap menyambut hari itu. Namun tetap saja, rasanya tidak semudah yang dibayangkannya.
Nino mengingat kembali kisah mereka, memutar kembali ingatannya ke masa-masa awal bersama Franda, saat mereka berkenalan dikampus, semakin dekat seiring berjalannya waktu, hingga akhirnya menikah. Sulit bagi Nino menyetujui permintaan Franda untuk berpisah. Terlalu banyak hal baik yang terjadi dalam pernikahan mereka, dan Ia masih menginginkan lebih banyak lagi kedepannya.
Nino mengusap kasar wajahnya, seharian ini Ia tidak melakukan apapun selain duduk dan merenung dimeja kerjanya, makanan yang seharian ini diantar oleh Mbak Ika ke ruang kerjanya juga belum disentuh sama sekali. Ia tidak merasakan lapar sama sekali.
Nino melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 11.18 malam. Lalu berjalan keluar dan menuju kamarnya.
Ia terdiam ketika memasuki kamar yang terasa kosong tanpa istrinya, kepergian Franda sangat menyakitkan bagi Nino, dan terasa lebih sakit lagi karena Ia yang membuat Franda melakukan itu. Ia sangat ingin menemui istrinya dan mengajaknya pulang, namun urung dilakukannya. Nino ingin memberikan waktu pada Franda, berharap wanita itu merubah niatnya setelah beberapa waktu berpikir.
Dering ponselnya menyadarkan Nino tang termenung dipintu kamar. Ia melihat ponsel yang sejak tadi ditangannya dan mendapati nama Jenny yang menelepon.
__ADS_1
"Ya?" kata Nino singkat setelah menggeser tombol hijau keatas. Nino tidak berbicara apapun pada Jenny setelah Franda meninggalkan mereka di apartment kemarin.
"Aku minta maaf, Mas!" sahut Jenny dari seberang.
"Sudahlah, aku yang salah karena mendekatimu" ucap Nino.
"Aku juga salah, Mas! Aku ingin menemui Franda dan meminta maaf padanya". kata Jenny terdengar tulus.
"Tidak usah, biar aku yang menyelesaikan ini, kau tidak perlu menemuinya" Nino tidak ingin Jenny memperkeruh suasana dengan menemui Franda.
"Tapi aku benar-benar ingin meminta maaf, aku tidak ingin kau yang menanggungnya sendiri, Mas!" Jenny meminta lagi, berusaha meyakinkan Nino.
"Tidak perlu, Jenny! Tolong jangan memaksaku, biarkan aku yang berbicara padanya, aku tahu bagaimana menghadapi istriku" kata Nino yang mulai kesal dengan Jenny.
"Baiklah, tapi sampaikan maafku untuknya" Jenny mengalah. Sadar Ia tidak akan bisa membantah kata-kata bos sekaligus pria yang dicintainya itu.
"Ya, kau tidak perlu kekantor lagi mulai besok. Aku akan membantumu sampai kau mendapat pekerjaan ditempat lain" kata Nino, membuat Jenny terdiam beberapa saat diujung telepon.
"Baiklah!" jawabnya singkat. Ia sadar tidak mungkin kembali kesana setelah Franda menangkap basah mereka berdua.
__ADS_1
Nino langsung mematikan sambungan telepon setelah mendengar jawaban Jenny.