Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 34


__ADS_3

Mia terbangun dan kaget saat menyadari dirinya tidak tidur dikamarnya, melainkan dirumah kakaknya. Ia sama sekali tidak ingat kejadian setelah mereka keluar dari bar, hal terakhir yang diingatnya adalah saat Sean menarik mereka kedalam mobil pria itu. Jantung Mia berdegup kencang saat membayangkan betapa mabuknya mereka semalam, rasa takut langsung menyerangnya seketika. Ia ingin keluar dan melihat keadaan Franda, Ia sangat yakin kakaknya pasti sudah habis oleh suaminya sekarang, apalagi jam sudah menunjukkan pukul 10.25.


Dengan perlahan Mia tirun dari ranjang, berjalan dengan sangat pelan seperti maling yang menyelinap kerumah seseorang, padahal tidak akan ada yang mendengar langkahnya dikamar itu. Mia membuka pintu, mengintip keluar dengan kepalanya apakah ada orang diluar. Kosong. Tidak ada siapapun disana, Ia berjalan dan menurunkan pandangannya kebawah, hanya terlihat Mbak Ika yang sedang mencuci piring didapur. Mia berjalan lagi dan berhenti sebentar didepan kamar Franda, menempelkan telinganya ke pintu namun tidak terdengar suara apapun, hatinya sedikit tenang. Setidaknya Franda baik-baik saja, begitu pikirnya.


"Mbak, kemana semua orang?" tanyanya pada Mbak Ika setengah berbisik. Suaranya mengagetkan Mbak Ika yang tidak menyadari keberadaannya.


"Astaga!" ucap Mbak Ika yang terkejut, Ia mengelus dadanya sebentar.


"Ibu sama Bapak belum turun dari tadi, Non!" jawab Mbak Ika.


"Dari pagi?" tanya Mia lagi.


"Iya, Non."


"Apakah terjadi sesuatu tadi malam? Aku tidak bisa mengingat apapun saat pulang dan sampai kesini." Mia penasaran bagaimana reaksi Nino saat melihat mereka pulang dalam keadaan mabuk.


"Bapak sangat marah tadi malam, Non... Bahkan memukul laki-laki yang mengantar Non sama Ibu." kata Mbak Ika, membuat Mia membelalakkan mata.


"Hah? Mereka berkelahi? Terus bagaimana? Apa yang terjadi lagi?" ucap Mia terus bertanya, Ia benar-benar menyesal karena tidak bisa menahan diri semalam.


"Bukan berkelahi, Non. Hanya Bapak yang memukul, Mas yang antar Non sama Ibu tidak melawan sama sekali. Setelah itu saya tidak tahu, karena Bapak langsung membawa Ibu masuk, dan Mas itu yang mengantar Non kekamar. Saya tidak keluar lagi, jadi tidak tahu." jawab Mbak Ika menjelaskan.


"Non sarapan aja dulu, kalau menunggu Bapak sama Ibu mungkin lama." lanjut Mbak Ika sambil menyusun piring yang baru saja dicucinya.


"Nanti saja, Mbak." ucap Franda, Ia kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Dirumah Franda selalu ada pakaiannya yang sengaja ditinggalkan jika sewaktu-waktu Ia menginap disana.

__ADS_1


.


Dikamar utama, Franda terbangun dengan tubuh yang tidak bersemangat. Kemampuannya terhadap alkohol menurun jauh karena hampir tidak pernah meminumnya sejak menikah dengan Nino, hanya beberapa kali dan tidak pernah sampai mabuk. Terakhir Ia melakukannya adalah saat bersama Sean beberapa bulan lalu.


Franda membuka selimut lalu duduk ditepi ranjang, dirinya tidak menyadari suaminya sedang menatapnya tajam dari sofa. Franda merasakan mual saat duduk, dengan cepat Ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Nino tidak terlihat simpati sama sekali, Ia terus menatap tajam istrinya dari tempatnya duduk tanpa disadari wanita itu.


Franda keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat, memegang perut dan memijat tengkuknya perlahan sambil menepuk-nepuk.


Ia berhenti saat melihat suaminya yang duduk dengan tatapan membunuh. Franda tersenyum kikuk, Ia tahu suaminya akan memakinya habis hari ini. Franda berjalan mendekat dan bersandar manja sambil memeluk Nino.


"Sayang, maaf..." katanya dengan manja, berusaha mengambil hati suaminya.


Nino tidak menjawab.


"Sayang, aku minta maaf..." Franda menarik wajah Nino agar melihatnya, namun suaminya menolak dan justru berdiri.


Franda yang terbiasa dengan alkohol sangat mengetahui barang mahal itu, Ia penasaran bagaimana bisa suaminya memiliki wiski dengan edisi terbatas itu.


Nino membuka botol dan menuang kedalam gelas.


"Minumlah... Aku mendapatkan ini tahun lalu dari lelang. Edisi terbatas, hanya diproduksi sebanyak 12 botol. Aku yakin kau menyukainya." kata Nino tersenyum, lalu meminum habis wiski digelasnya dalam sekali teguk.


"So nice! Tidak sia-sia aku mengeluarkan banyak uang untuk ini." lanjutnya sambil mengisi kembali gelasnya.


Franda terdiam. Ia menatap bingung pada suaminya yang terlihat biasa saja setelah menghabiskan tegukan pertamanya. Untuk orang yang jarang meminum alkohol itu tidak mungkin terjadi, Nino tampak tidak merasakan panas pada tenggorokannya, suaminya seperti peminum profesional.

__ADS_1


"Apa kau hanya akan melihatku minum? Ayolah, temani aku. Bukankah tadi malam kau minum seperti orang kehausan dipadang pasir sampai tidak sadar..." ucap Nino menyindir Franda.


Franda menunduk, tak mampu melihat tatapan tajam suaminya. Ia sadar dengan sikap cerobohnya, apalagi teringat dengan Sean yang menariknya masuk ke mobil pria itu, Franda yakin Sean yang mengantarnya pulang karena Ia tidak mengingat apapun lagi setelahnya dan Nino pasti sangat marah dengan itu, Ia merutuki kebodohannya sendiri.


Nino mengangkat gelas Franda dan memberikan pada istrinya. Franda hanya menggeleng tanpa mengangkat kepalanya.


"Kenapa? Kau lebih senang minum dengan orang lain? Perlu aku panggil dia untuk menemani kita? Aku akan memintanya datang kalau kau mau." ucap Nino sambil mendengus.


Franda menggeleng lagi dengan cepat, tapi kali ini Ia menatap suaminya. "Aku minta maaf, aku tidak akan melakukannya lagi. Aku tidak tahu kenapa bisa mabuk semalam padahal aku hanya minum bir..." kata Franda.


Prang!!!


Nino membanting gelas ditangannya ke lantai sampai hancur berkeping-keping. Dirinya benar-benar tidak suka dengan alasan Franda yang sangat tidak masuk akal. Sementara Franda, jangan ditanya lagi. Wanita itu hampir saja melompat.


"Well, you can even die if you drink a gallon of water! And what do you think gonna happen when you got an alcohol?" bentak Nino dengan keras membuat Franda menutup matanya.


"Aku minta maaf..." ucap Nino lirih, kembali menundukkan kepalanya sambil meremas kedua tangannya yang mulai gemetar.


Nino terdiam sebentar, Ia memegang kepala dan meremas rambutnya. Berusaha menurunkan emosinya. Ia sadar istrinya sangat ketakutan sekarang. Ini pertama kalinya Ia sangat marah dengan Franda.


"You know what, I was an alcoholic. I'm stop when we're married. Aku tidak mau merusakmu dengan kebiasaan burukku walaupun aku tahu kau juga terbiasa dengan itu, apa jadinya kita jika terus hidup seperti itu?" ucap Nino setelah merasa sedikit tenang.


Franda terdiam, Ia terkejut saat Nino mengatakan bahwa dirinya pernah menjadi pemabuk, namun Ia tidak berani menanyakan apapun.


"Aku mulai minum saat Papa meninggal, dan semakin menggila saat Mama menikah lagi dengan suami barunya. Aku tidak bisa menerima kenyataan dan melarikan diri dengan mabuk setiap hari sampai Mama memaksaku untuk melanjutkan kuliahku dan disitu aku bertemu denganmu..." Nino berhenti sebentar dan meminum habis wiski yang tadinya untuk Franda.

__ADS_1


"Perlahan aku mulai mengurangi kebiasaanku, aku berusaha dengan keras meskipun belum bisa berhenti sepenuhnya. Setiap hari aku menahan keinginanku untuk minum, namun masih saja sulit karena sudah terbiasa. Kau adalah alasanku satu-satunya untuk berhenti, aku benar-benar berjanji pada diriku tidak akan melakukannya lagi saat menikah denganmu, dan aku membuktikannya... Aku berhenti, meskipun sesekali masih melakukannya saat ada acara tertentu tapi tidak mabuk sepertimu!" ucap Nino, Ia melirik Franda dari sudut matanya yang tampak masih ketakutan.


Franda hanya diam menyimak apa yang dikatakan suaminya, ini adalah fakta yang baru diketahui olehnya. Kenyataan bahwa Nino memutuskan berhenti minum alkohol karena dirinya semakin membuat rasa bersalahnya bertambah. Ia sudah mengetahui bahwa Papa yang sekarang bukanlah Ayah kandung Nino, namun yang mengejutkannya adalah cerita tentang Nino yang menjadi pemabuk saat kehilangan ayah kandungnya.


__ADS_2