Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
The show about to start


__ADS_3

"Sean?" Ini untuk yang ke empat kali aku memanggil namanya dan dia tidak menoleh. Pandangannya tertuju pada laptop di hadapannya. Jika dia sedang tidak merajuk kupastikan laptop itu akan hancur, dia tahu aku tidak suka urusan pekerjaan masuk ke dalam kamar.


Aku membuang napas berat sambil memijat pangkal hidungku. Dia sedang marah karena aku tidak memberitahunya tentang Nino. Well, lebih tepatnya belum memberitahunya.


Setelah sampai di apartemen Nino tadi siang, kami langsung membawanya ke rumah sakit. Aku menelepon mamanya dan mengatakan kalau Nino pingsan dan aku membawanya ke rumah sakit, tapi mamanya sedang berada di luar kota, dan baru akan kembali besok pagi dan dia memintaku menjaga Nino untuk sementara. Well, aku tidak melakukan itu karena suamiku juga membutuhkanku. Lagi pula, ada wanita lain yang bisa menjaganya.


"Sean," Dia masih diam, tampak tidak peduli seakan aku tidak berada di dekatnya.


Menyadari Sean belum mau berbicara padaku, kulangkahkan kaki ke ruang ganti. Aku meraih jubah tidur dari dalam lemari dan mengenakannya, lalu berjalan keluar dari kamar. Tidak ingin membujuknya lebih lama, kuputuskan untuk melihat anak-anakku sebentar. Percayalah, berhadapan dengan orang yang sedang cemburu itu sangat melelahkan.


Aku tidak bisa percaya ini. Setelah begitu banyak hal yang sudah kami lalui, Sean masih cemburu pada mantan suamiku yang bahkan tidak pernah kulirik sedetikpun. Aku sudah mengubur dalam-dalam masa laluku dengan Nino, tidak ada yang tersisa selain kenyataan dia merupakan ayah kandung dari anakku.


Tanganku bergerak memutar kenop pintu kamar Ben. Aku melongokkan kepala dan melihat dia masih tertidur dengan posisi yang sama sejak sejam yang lalu aku meninggalkannya. Ben sangat ketakutan, tubuhnya tidak berhenti gemetar selama kami berada di rumah sakit dan baru tenang saat Nino sadar, dan aku pun merasa lega ketika dokter mengatakan tidak ada penyakit yang serius. Nino pingsan karena tekanan darahnya yang berubah secara tiba-tiba.


Setelah memastikan Ben baik-baik saja, aku beralih ke kamar Lily. Ternyata dia juga tidur dengan tenang sementara Miss Darla tampak sedang merapikan meja ganti popok. Aku menutup pintu kamar Lily tanpa mengatakan apa-apa, lalu turun ke bawah dan langsung ke dapur. Tidak ada siapa-siapa disana.


Aku meraih satu cup besar es krim dari dalam kulkas, lalu bergeser untuk mengambil sendok di meja dapur dan berbalik melangkah ke ruang keluarga. Aku duduk sendiri disana selama beberapa jam, awalnya berteman dengan es krim lalu berakhir dengan sebotol wine yang kini isinya hanya tersisa sedikit. Aku mabuk. Oh, ya... Sean membuatku kehilangan akal menghadapi kecemburuannya.


Setelah merasa cukup ringan untuk tidur, aku pun kembali ke kamar. Sean masih duduk di sofa bersama laptopnya. Tidak terganggu dengan kehadiranku. Perlahan kututup laptop di hadapannya. "Aku mengantuk." kataku, lalu mendaratkan bokongku di sampingnya. Aku memeluk lengannya dan menutup mata.


Sean tidak mengatakan apapun, hanya suara hembusan napas berat yang bisa kudengar hingga saat aku nyaris terlelap, aku merasakan dia mengangkat tubuhku dan menurunkanku di ranjang. Kemudian dia mematikan lampu lalu ikut berbaring memelukku dan menarik selimut. "Good night, husband." Seketika aku merasa nyaman berada di tempat yang paling kuinginkan dan langsung terlelap. Itulah yang seharusnya terjadi.


***


"Bangunlah, pemabuk!" Aku menggeliat tak senang saat Sean menarik selimut dengan satu gerakan cepat, membuatku terganggu oleh sapuan cahaya matahari pagi. Aku meraih satu bantal dan menutup wajahku.


"Ah, kau menggangguku, Sean!" gerutuku dari balik bantal. "Bangunkan aku setengah jam lagi." Aku baru akan melanjutkan tidurku, namun mendadak ingatan tentang semalam melintas di pikiranku.


Apakah aku pantas mengacuhkan Sean seperti itu? Atau apakah dia pantas marah padaku? Tapi, biar bagaimanapun aku tidak suka sikapnya yang berlebihan setiap kali nama Nino masuk ke dalam kehidupan kami, Sean selalu menganggap Nino sebagai ancaman yang mungkin akan merusak hubungan kami. Meskipun dia sendiri sebenarnya tahu aku bisa menjaga diri.


Aku suka caranya mencintaiku. Dia menunjukkan kepedulian dan kasih sayang, tapi ada saat-saat dimana aku tidak mengerti jalan pikirannya. Seharusnya dia paham hubunganku dengan Nino tidak mungkin bisa terputus begitu saja. Sekali lagi, ada Ben di antara kami. Dan topik ini sudah sering masuk dalam obrolanku bersama Sean.

__ADS_1


Aku menarik bantal dari wajahku dan melihat Sean sedang berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. "Apa yang kau lakukan?" tanyaku bingung. Dia tampak tenang dengan seringai nakal di sudut mulutnya seolah tidak terjadi apa-apa semalam.


"Harusnya aku yang bertanya, Franda. Apa yang kau lakukan padaku semalam?"


Alisku bertaut, sama sekali tidak mengerti maksud ucapannya. Seingatku aku tidak melakukan apapun semalam, selain mabuk lalu tidur bersamanya. Oh, God! Itu kata kuncinya. Mabuk.


Aku menurunkan pandangan ke bawah, memandangi tubuhku yang berada di balik selimut dan seketika aku melemas. Kenapa aku melakukan itu lagi? Ya Tuhan...


"Apa kau mengingat sesuatu?" Mendadak pipiku terasa panas menahan malu, sementara Sean tersenyum penuh kemenangan. "Kurasa aku perlu menyingkirkan wine-wine itu dari ruang seni."


Aku berdeham, berusaha menepis rasa malu yang meliputi diriku. "Bisakah kau menjelaskan apa yang terjadi? Semalam aku masih sadar saat kembali ke kamar, dan aku ingat kau memelukku sampai aku tertidur." gumamku jujur. Memang itu yang ada di ingatanku tentang semalam. "Lagi pula, sebotol wine tidak akan membuatku mabuk sampai tidak sadar." sambungku membela diri.


Sean mendengus. "Itu sebelum kau terbangun jam dua pagi dan melepas seluruh pakaianku. Apa kau sudah gila?" Dia tampak protes, tapi kilatan senang terlihat sekilas di matanya saat kami bertatapan.


Aku mengedikkan bahu. "Maaf, aku tidak ingat." ucapku cuek. Aku beringsut turun dari ranjang, berderap mengambil jubahku yang tergeletak di ranjang lalu melanjutkan langkahku ke kamar mandi. Sean mengikutiku.


"Kau benar-benar liar, Franda. Hukuman akan menyusul begitu matahari terbenam." katanya dengan semangat berlebih, aku bisa melihat mulutnya tersenyum saat berbicara.


Tawa mengejek keluar dari sela-sela bibirnya. "Franda, kau memang tidak sadar saat kau membuka pakaianku, tapi kau sadar saat menuangkan wine ke gelasmu, dan kau tahu apa yang akan terjadi jika kau mabuk."


"Tidak." sergahku. "Aku tidak tahu. Sumpah deh!" Dua jariku mengacung ke udara. Aku memang tidak tahu, dan aku tidak berbohong soal itu. "Yang kutahu hanya kau marah karena aku tidak sempat memberitahumu soal Nino dan kau tidak mau berbicara padaku. That's all!" Aku melangkah ke kamar mandi, sementara Sean masih mengikutiku.


Selagi aku menggosok gigi, dia berbicara lagi. "Kau melupakanku tiap kali kau bertemu dengannya." Aku menggeleng keras, menatapnya dari pantulan cermin. "Ya, kau melupakanku, Franda. Jangan mengelak."


Aku membiarkannya mengoceh selagi menyelesaikan urusan sikat gigiku. "Kau bisa meneleponku atau mengirimiku pesan dan aku bisa menemuimu di rumah sakit, tapi kau tidak melakukan itu. Aku bahkan tidak akan tahu jika bukan Black yang mengabariku. Kau membuat semuanya..."


"Stop!" Aku mulai kehilangan kesabaranku. Buru-buru kuselesaikan kegiatanku dan berbalik menatapnya. "Kau tahu? Kau yang bersikap seperti anak kecil sekarang." kataku, kemudian melangkah melewatinya sambil mengusap mulutku dengan handuk kecil yang kutarik dari dalam laci konter di kamar mandi.


"Franda, aku tidak suka kau berhubungan dengannya, bisakah kau mengerti maksudku?"


"Sean! Tidak ada yang berhubungan dengan Nino," Aku menarik napas dalam sebelum melanjutkan kembali kata-kataku. "Aku tidak percaya kau bertingkah seperti ini, bahkan setelah apa yang kita lalui dan kau masih meragukanku. Kita sudah sering membahasnya, apa kau tidak muak membicarakan hal yang sama berulang kali? Apa yang kau takutkan sebenarnya?"

__ADS_1


Sean terdiam, mengusap kasar wajahnya dengan sebelah tangan. Kemudian aku melanjutkan lagi. "Ben meneleponku dan menangis ketakutan, kau pikir apa lagi yang ada di kepalaku selain berusaha menolong anakku? Sudah kubilang tidak ada kesempatan untukku kembali bersama Nino, sekalipun kita berpisah. Aku tidak akan kembali dengannya." Aku melempar handuk ke ranjang lalu mendekatinya.


Dengan lembut kuangkat kedua tanganku menangkup wajahnya, dia masih terlihat tenang tapi matanya menggelap. "Kumohon, percaya padaku. Saat itu hanya Ben yang ada di pikiranku."


Sean masih diam, hingga beberapa saat kemudian dia mengangguk lemah. "Aku percaya padamu, tapi aku tidak bisa percaya padanya. Aku bahkan mengira dia berpura-pura pingsan agar kau datang."


Aku tidak tahu bagaimana harus merespon ucapannya selain tertawa geli. Tidak masuk akal. "Lihat, cemburu membuatmu tampak seperti orang bodoh. Kalaupun Nino sengaja pingsan, kenapa dia tidak melakukannya sejak dulu? Kau benar-benar lucu." Aku tertawa lagi melihat wajahnya yang frustasi.


Sean Warner, suamiku yang luar biasa itu akan berubah kacau saat sedang cemburu. Dia bisa menghadapi apa saja dan siapa saja, tapi langsung menciut ketika berurusan dengan Nino yang bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dirinya. Sean tidak sadar sebesar apa pengaruhnya dalam hidupku, aku tidak akan meninggalkannya demi seseorang seperti Nino. Itu mustahil.


"Pergilah mandi, kau sudah terlambat." kataku setelah mencium bibirnya.


"Kau lupa aku bosnya." gumamnya menyombongkan diri dengan kedua tangan melilit pinggangku.


Aku menyeringai padanya. "Ya, tapi aku bos di rumahmu." Kalah telak, dia mendengus kasar.


"Ada sesuatu yang ingin kulakukan bersamamu. Ayo, kita harus mandi dan bersiap-siap." Tanpa menunggu jawaban dariku, Sean membawaku ke kamar mandi. Menggendongku di pundaknya seperti sekarung beras.


Tidak ada kegiatan panas dan menguras keringat selama kami mandi. Kupikir dia sudah kelelahan akibat serangan tak sadar yang kulakukan padanya kemarin. Aku serius, aku tidak mengingat apapun tentang itu. Tapi aku percaya setelah melihat titik-titik merah di dadanya, yang sebagian sudah membiru. Sean benar-benar membuatku gila, bahkan dalam keadaan tak sadarpun aku masih menginginkannya. Aku tidak pernah membayangkan hal ini terjadi dalam hidupku.


Betapa kejam dirinya dalam menarik perhatianku. Sikap Sean yang tanpa ampun membuatku berubah liar dan tak terkendali, kepuasan yang kudapatkan selama bersamanya jauh lebih besar dari yang pernah kurasakan sebelumnya. Sentuhan tangannya saja bisa membuat sekujur gemetar mendamba. Aku sangat bersyukur memiliki Sean dalam hidupku, selain tampan dan memiliki gairah yang tidak ada habisnya, dia juga kaya. Hm... poin plus? Tentu saja.


Tapi meskipun seandainya Sean tidak sekaya dirinya yang sekarang, mungkin aku tidak akan keberatan jika harus membiayai hidupnya. Well, semua yang ada dalam dirinya patut untuk dihargai dengan nilai yang sangat tinggi.


"Jadi, kemana kau akan membawaku kali ini sugar daddy-ku?" tanyaku bercanda ketika mobil yang kami tumpangi sudah melaju meninggalkan gedung tempat tinggal kami.


Hari ini Sean menyetir sendiri. Aku belum tahu kemana dia akan membawaku, tapi sepertinya kami akan mengunjungi suatu tempat yang berhubungan dengan olahraga, mengingat pakaian yang kami kenakan hari ini lebih sporty. "Kau akan segera mengetahuinya, Sayang. Tenang dan nikmati perjalananmu." sahurnya santai.


Aku menurut, melemparkan pandangan keluar dan menikmati perjalanan seperti yang dikatakannya. Lalu tanpa sadar aku tertidur, hingga suara Sean mengusikku. "Sayang, kita sudah sampai."


"Hm?" Aku menegakkan tubuh dan memperhatikan sekeliling. "Dimana kita?"

__ADS_1


__ADS_2