
Seperti yang sudah kurencanakan tadi pagi, yang ini aku pergi belanja bersama Miss Diana. Dia berjalan di depan sementara Kamila mengekor di belakangku. Kami berjalan mengitari satu per satu lorong supermarket untuk membeli semua kebutuhan rumah, tetapi tentu saja bukan aku yang mengisi troli-troli kami. Aku bahkan tidak tahu harus mengambil apa selain kebutuhanku sendiri. Hanya Miss Diana yang tahu semua keperluan rumah kami.
"Miss, bisakah kau mengisi troli untuk ibuku juga?" Aku bertanya padanya saat kami berdiri di lorong bagian tepung dan semacamnya.
"Oke, kalau begitu kita kekurangan troli."
Aku menoleh Kamila yang berdiri di belakangku. "Katakan pada Black untuk membawa troli tambahan." gumamku padanya, dia mengangguk, mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan langsung menghubungi Black yang menunggu di mobil.
Selagi menunggu Kamila menelepon Black, aku kembali beralih pada Janda Genit di hadapanku. "Miss, aku dan Kamila akan melihat-lihat, tunggu disini sampai Black datang dan dia akan membantumu."
Tanpa mengatakan apapun lagi, aku berjalan meninggalkannya, diikuti Kamila yang terus menempel padaku. Sejujurnya aku sedikit risih dengan penampilannya yang menurutku agak berlebihan, dia mengenakan setelan blazer resmi berwarna hitam yang dengan jelas menunjukkan profesinya. Belum lagi didukung oleh tampangnya yang kaku, membuat orang-orang menatapku seakan aku adalah istri seorang mafia.
"Ya Tuhan, apakah itu istri pengusaha tampan itu?" Aku mendengar seseorang berbicara tak jauh dari tempatku. Bisa kulihat dari sudut mataku dua orang gadis remaja sedang memperhatikanku, lalu salah satu dari mereka mengeluarkan ponsel.
Aku berpura-pura tidak mendengar ucapan mereka dan terus berjalan, namun beberapa detik berikutnya dua gadis itu memotong jalanku dan berdiri tepat di hadapanku. "Ma'am, boleh kami berfoto denganmu?" Gadis dengan rambut hitam sebahu bertanya padaku, rautnya riang dan penuh harap.
Aku mengernyit keheranan, kemudian Kamila dengan sigap menjawab permintaannya. "Maaf, tidak bisa." katanya tegas dengan satu tangan berada di tengah-tengah antara aku dan kedua gadis itu.
Mendadak wajah mereka berubah sedih, membuatku ikut merasa buruk. Aku menyunggingkan senyum pada mereka sebelum menoleh Kamila. "Tidak apa-apa." Pandanganku kembali pada kedua gadis itu. "Apa kalian hanya akan menatapku?" kataku setelah beberapa saat mereka hanya memandangiku dengan tatapan bingung.
Kedua gadis itu mengerjap, lalu buru-buru membuka menyiapkan kamera ponsel merek. Aku bergeser hingga berdiri ditengah-tengah keduanya. "Terima kasih, ma'am. Anda sungguh baik." kata gadis berambut panjang padaku, dia tampak benar-benar senang. Ekspresi yang sama juga terlihat di wajah temannya.
"Sama-sama." balasku sambil tersenyum, lalu berderap melewati mereka. Aku masih sempat mendengar celotehan mereka selama beberapa detik sebelum akhirnya jarak kami semakin jauh.
Ini bukan pertama kalinya ada orang yang ingin berfoto denganku. Sejak menikah dengan Sean kegiatan itu sudah menjadi salah satu aturan tak tertulis yang tidak ingin kulanggar. Publik mengenal suamiku, dan aku tidak mau citranya menjadi buruk hanya karena aku menolak berfoto dengan orang-orang. Well, meskipun terkadang aku tidak ingin melakukannya.
Selesai memasukkan barang-barang yang kubutuhkan ke dalam troli, aku dan Kamila kembali ke mobil lebih dulu sementara Miss Diana dan Black masih mengantri untuk menyelesaikan pembayaran.
__ADS_1
Aku menghembuskan napas lega begitu masuk ke dalam mobil. Agak merasa lelah karena berjalan dengan perut yang besar. Dengan sebelah tangan aku meraih sebotol air mineral yang disodorkan Kamila padaku. "Thank you." ucapku padanya.
Kuraih ponselku dari dalam tas dan langsung mendapati notifikasi dari Instagram tampak di layar beranda. Aku mengangkat alis terkejut, lalu membuka Instagram-ku.
Bibirku melengkung indah saat melihat dua gadis yang berfoto denganku tadi rupanya menandaiku di postingan mereka. Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa tahu nama pengguna akun Instagram-ku karena aku tidak memakai nama asli, nama penggunaku adalah @lapanda dan aku tidak pernah menaruh wajahku pada postinganku.
Lupakan soal dari mana mereka mengetahui akun Instagram-ku, itu tidak penting sama sekali. Tiba-tiba aku terlintas dikepalaku untuk mengejutkan kedua gadis itu, dan aku pun mengomentari postingan salah satu dari mereka.
@momosky & @debbygrace senang berjumpa dengan kalian❤️
Tak berselang berapa lama setelah itu, ponselku tak berhenti berbunyi. Puluhan pemberitahuan masuk dari akun instagram-ku. Sepanjang perjalanan ke rumah kakakku kuhabiskan dengan membaca balasan orang-orang pada komentarku. Beberapa komentar membuatku tersenyum geli.
Woii, dibalas tuh! @momosky ajak nongkrong di kemang🤭
@momosky mimpi apa semalam? bisa ketemu, foto bareng, plus dikomentari pake emot ❤️ sama istri om tampan.
Tapi selain komentar-komentar lucu seperti itu, ada juga beberapa komentar sarkas dan menggelikan, seperti...
@lapanda kapan cerai dengan suamimu? Aku siap tampung bekasmu. Oops!
@lapanda sharing kasur yuk!! disebelahku masih lebar nih❤️
@lapanda adikmu ngilang kemana? dicariin tuh sama pak walikota #pelakor
Tepat setelah membaca komentar terakhir, aku langsung memasukkan ponselku ke dalam tas. Tidak mau membaca lebih jauh lagi karena akan banyak racun disana. Inilah salah satu alasanku tidak ingin terlalu dikenal oleh publik.
Orang-orang tidak mau tahu apa yang terjadi di dalam rumahku, mereka hanya tahu apa yang tampak di depan mereka. Tidak peduli apakah bagaimana perasaanku. Aku tentu senang jika membaca komentar yang baik, tapi satu saja komentar buruk cukup membuatku merasa sedih dan aku tidak ingin membaca lebih banyak lagi yang seperti itu.
__ADS_1
Aku memandang keluar jendela, dan menyadari bahwa mobil yang dikendarai oleh Black sudah memasuki kawasan kompleks rumah kakakku. Ketika mobil benar-benar sudah berhenti di depan rumah, aku menyipitkan mata, merasa heran karena mobil suamiku terparkir disana bersebelahan dengan mobil kakakku dan satu mobil lain yang tidak kukenali.
Apa yang dilakukan Sean disini? Aku tidak memberitahunya bahwa aku akan mampir ke rumah kakakku. Aku keluar dari dalam mobil dan langsung melangkah masuk ke dalam rumah, diikuti Black yang membawa barang-barang belanjaan, sementara Miss Diana dan Kamila menunggu di mobil karena aku hanya ingin mampir sebentar.
Begitu aku membuka pintu, aku terlonjak saat mendengar seseorang berbicara dari dalam. Aku menahan Black dengan sebelah tangan agar tidak masuk, dia mengangguk lalu mundur beberapa langkah sementara aku tetap berdiri di ambang pintu.
"...Marissa, jangan memberitahunya. Dia tidak perlu mengetahui bahwa aku masih hidup. Franda tidak akan memaafkanku, dan aku yakin dia tidak mungkin bisa menerimaku kembali." Suara seorang wanita terdengar berbicara pada ibuku. "Kesalahanku terlalu besar. Tidak hanya membunuh suamiku, aku bahkan menelantarkan putriku satu-satunya. Tidak ada alasan apapun yang bisa membenarkan perbuatanku. Aku tahu apa yang dilaluinya selama ini, dia menderita karena kematianku dan papanya. Tapi sekarang dia sudah baik-baik saja, setidaknya aku bersyukur dengan kenyataan itu."
Seketika aku merasakan sesak di dadaku. Apa yang baru saja kudengar adalah hal yang paling menyakitkan sepanjang hidupku. Aku mencoba mengatur napas selagi mendengar suara ibuku membalas perkataan wanita itu.
"Bianka, Panda berhak tahu bahwa kau masih hidup, tidak peduli bagaimana reaksinya nanti. Aku bisa mengerti alasanmu membunuh suamimu, dan aku yakin Panda juga akan paham jika kau memberitahunya. Hanya saja aku tidak tahu kenapa kau harus bersembunyi selama ini, kau bisa membawanya bersamamu kalau memang kau menyayanginya."
"Itu tidak mungkin kulakukan. Waktu itu Franda masih terlalu kecil, dan aku tidak bisa membawanya sementara aku berada dalam pelarian. Kumohon, Marissa, biarkan dia tetap menganggap bahwa aku sudah mati."
Sesak di dadaku terasa semakin menyakitkan. Aku belum mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, tapi aku cukup yakin bahwa yang berbicara dengan ibuku adalah mamaku, yang entah kenapa tiba-tiba muncul di rumah ibuku.
Bukankah dia sudah mati? Lalu, apa maksud pembicaraan mereka? Apakah dia dibangkitkan kembali? Tidak, dia mengatakan biarkan aku menganggap bahwa dia sudah mati. Itu artinya... Ya Tuhan, apa-apaan ini?
Dengan susah payah aku mencoba menenangkan diri, berusaha untuk tidak panik dengan melakukan trik yang sudah diajarkan oleh Sam. Namun aku tidak bisa melakukannya. Sekujur tubuhku mendadak gemetar, kepalaku terasa berputar, sementara napasku tersangkut di tenggorokan. Aku mencoba lagi sekuat tenaga, namun yang terjadi adalah...
"Ah," Aku merasakan seseorang menahan tubuhku, lalu tanpa kusadari tanganku mencengkeram sesuatu. Aku ingin membuka mata, tapi sakit di sekujur tubuhku sangat menyiksa.
"Ma'am!" Black. Itu suara Black.
"Franda?" Sean? Apakah itu dia?
"Ahh."
__ADS_1